
"Belum tentu, yang lahir anak laki-laki mas, kalau perempuan lagi apa mas mau?, aku sudah malas hamil mas, pekerjaan ku juga semakin menyita waktu sekarang mas, di tambah akhir tahun ini aku akan di angkat jadi kepala cabang,pasti nya semakin sibuk mas".
Mas Mail menghela nafas dengan kesar, mungkin kesal.
"Kayak nya aku akan mengambil dua orang pengasuh dari yayasan yang berpenglaman mas, kan penghasilan kita sudah cukup, mungkin Jum kita pulangkan,biar anak-anak makin pintar kalau yang jaga orang yang pintar, merawat dan juga mendidik".
Mas Mail sedikit beraksi, mungkin dia kaget dengan keputusan yang ku ambil.
"Mas pikir Jum cukup pintar mendidik anak-anak,dek kasihan kalau dia gak salah apa-apa di pulangkan, kalau mau cari, cari satu lagi aja yang seperti Jum,tapi yang pulang pergi, kalau ini mas setuju dek".
"Kenapa mas, mas keberatan Jum aku pulangkan"aku menatap dia, dia nya gemetaran sendiri karna tatapan ku.
"Ya bukan gitu dek, Jum kan sudah lama di sini,sudah cocok dengan anak-anak, kasian kan kalau mereka harus pisah".
"Kamu yakin sekali kalau Jum cocok dengan anak kita?, anak-anak aja ditelantar kan saja di arena bermain kemeren, dia berani nya nitip kan anak-anak ku dengan orang lain yang nggak aku kenal,dan itu lama, kamu gak cek mas?,kemana saja dia, atau jangan-jangan pergi sama kamu?"
Aku menatap tajam ke Mas Mail, ku tatap lama dan ku cecar berbagai pertanyaan seperti tadi, Mas mail gugup dia lekas membuang mungka ke tv di hadapan kami.
__ADS_1
"Kan sudah mas bilang, mas nya meeting dengan rekan bisnis, ya, mungkin dia benar dek, mau ke toilet, nama nya juga orang sakit perut kan?".
"Kamu yakin dia pergi ke toilet,?nggak ke tempat lain mas?"pertanyaan ku bukan lagi untuk menekan nya, melain kan mengitimidisi nya.
"Kamu ini kenapa sih dek, kok marah-marah"
Mas Mail penuh emosi.
"Ya jelas marah lah, kata kamu Jum gak salah,ya jeles-jelas salah, nggak tanggung jawab dengan tugas nya, udahlah mas, aku akan pulangkan dia! ".
Prengg suara benda jatuh dari belakang, sontak aku langsung menyibak kain dari balik tirai kaca,Jum sudah berdiri di belakang kami berjarak dua meter,lalu dia berlari masuk ke kamar dan menutup pintu kamar dengan keras.
"Maksud kamu kalau Jum marah gimana? kamu kok kayak takut mas?, aneh kamu mas".
Aku terus mencoba memancing reaksi laki-laki ini.
Aku tau dia sudah tidak fokus, pertama dia emosi tidak dapat jatah dari ku malam ini, kedua dia kaget melihat gelagat Jum marah, karena pasti nya dia juga tidak dapat jatah lagi dari Jum, sementara aku bukan hanya kali ini saja tidak memberi jatah kepada nya, mungkin selama nya sampai aku berhasil mengumpulkan bukti-bukti,lalu menggugat cerai.
__ADS_1
Ya, untuk apa meladeni lelaki pezina yang hukum Islam jelas dirajam seratus kali sampai dia mati,aku ingin lihat bagaimana nanti reaksi nya, karana aku tau persis dia lelaki yang selalu mintak tiap malam.
Aku sudah hilang selera untuk menonton tv, kumatikan televisi lalu masuk kamar tidur sambil memeluk anak-anak ku.
Pukul satu malam aku terbangun lagi-lagi terdengar suara yang membukakan mata tiba-tiba, entah belakangan ini aku kurang tidur, sehingga mudah sekali terbangun,aku terbangun dan berjalan menuju kamar mandi untuk membuang air kecil,ku lirik kasur sebelah ku, tak ada Mas Mail, tidak ada atau memang sedari tadi tidak masuk kamar.
Aku keluar kamar sampai di pintu terdengar samar-samar suara tangisan, siapa tengah malam begini menangis?,ku tajamkan pendengarkan, seperti arah dari ruang makan, Jum kah yang menangis?lekas ku berjalan menuju suara, benar,suara itu dari kamar Jum.
Jum sedang menangis, ada suara seorang lelaki yang sedang menenangkan nya, Deg!! jantung ku berdenyut kuat, aku tak harap itu suara Mas Mail.
Kulangkahkan kaki perlahan, di depan pintu Jum yang terbuka sedikit, dan lampu masih menyala, ku tajamkan kembali pendengaran.
"Kamu yang sabar dulu Jum, hentikan tangisan mu, mas kan juga sedang berusaha, berusaha kan gak langsung jadi,butuh waktu, jangan sampai kamu nangis, nanti ada yang terbangun".
Itu suara Mas Mail yang menenangakan Jum di antara tangisan nya.
"Pokok nya, aku tidak mau kalau harus pulang kampung, mas!, lekas akui aku di depan istri dan orang tua mu, kalau aku juga istri mu, aku nggak mau kalau terus begini mas! ".
__ADS_1
Apa Jum memintak pengakuan kepada Mas Mail sebagai istri nya, jadi Jum sudah menikah dengan Mas Mail.