
Terdengar anak-anak sudah pulang sekolah, mereka berhamburan memelukku.
"Mama kenapa nangis? ".
"Mama gak apa-apa cuman kelilipan aja".
"Mama jangan bohong, mama habis berantam ya, sama papa? "tanya si sulung mulai kritis.
"Ma, sebenarnya aku tau apa yang terjadi? "si sulung menunduk.
DEG!!! jantung ku mulai berdebar.
"Tahu apa nak? ".
"Sebanarnya aku tau apa yang terjadi antara papa dan mbak Jum,tapi aku gak berani cerita ke mama, aku takut mama sedih".
Aku terhenyak, YA ALLAH, jadi Sifaya sudah mengetahuinya, ini yang paling aku takutkan.
"Jadi ma, aku pernah lihat papa dan mbak Jum, masuk ke kamar mama, lama di sana,pintunya di kuci ma".
Astagfirullah,apakah anak-anak ku sudah mendengar, hal yang tak seharus nya di dengar nya?.
"Aku cuman dengar mbak ketawa-ketawa di kamar sama papa, habis tu sunyi, lama gak keluar".
__ADS_1
Hati rasanya teriris saat ini.
"Aku juga sering lihat mbak dan papa sering ketawa di mobil, aku nggak suka ma, atau kadang-kadang mereka bermanja-manja,semua itu terjadi kalau gak ada mama di rumah, setiap kali mbak Jum bermanja-manja sama papa seperti mama bermanja ke papa, aku langsung pura-pura tidur, aku gak mau lihat, nggak suka ma, Karena kalau aku lihat itu semua sama seperti mama yang lihat, aku takut mama sedih, jadi aku memilih untuk menutup mata ma".
"Aduhhh Faya sayang"aku memeluk anak sulung ku dengan erat.
Hati ku menangis mendengar kata-kata anak se lugu ini.
"Apakah benar ma? mbak Jum akan jadi bunda kita ma?, akan melahirkan adek kecil?, nah kalau mbak Jum melahirkan dedek bayi,ini aku suka ma, aku pengen banget punya adek ma, tapi aku sebenarnya ingin adek yang lahir dari perut mama, cuman mama bilang gak mau punya adek lagi, jadi aku senang saat mbak Jum mau kasih aku adek ma, aku rela di panggil mbak dengan sebutan bunda ma, asal aku di bolehin main sama dedek nya".
Hatiku miris mendengarnya, YA ALLAH, air mataku kembali berjatuhan, aku gagal menahan diri untuk tidak menangis di hadapan anak ku.
'
Dan sekarang pun mama gak mungkin kasih kalian adek, karena mama gak hamil, dan mungkin akan segera mengajukan perceraian ke pengadilan nak'bisik ku dalam hati.
"Bu maaf,saya mau melapor".
Mbak Nana tiba-tiba sudah berada di samping ku dengan wajah pias.
"Ya mbak, ada apa? ".
"Mbak Jum kabur bu, tadi dia keluar rumah membawa tas besar!".
__ADS_1
"Apa?,Jum kabur? ".
"Iya bu, saya kaget, saya tanya mau kemana mbak?, dia gak jawab bu".
"Saya cek ke dalam kamarnya, separuh isi kamar nya sudah tidak ada bu? ".
"Saya mau ngadu ke ibu, saya lihat ibu sedang nangis,jadi nggak berani bu".
Hhhhmmmm, jadi perempuan itu kabur tampa ijin aku lagi.
"Ya, nggak apa-apa mbak, biarkan saja dulu mbak, kalau itu ke inginan nya sementara masih sanggup kan buat momongan dua anak saya".
"Oohh, kalau itu tenang bu, dengan senang hati saya lakukan bu".
"Besok saya kan memintak mbak baru dari
yayasan lagi, biar mbak Nana tidak kuwalahan"
"baik bu".
Aku menuju kamar Jum, dalam kondisi terburu-buru untuk kabur,ku rasa dia hanya membawa barang-barang yang sangat di perlukan saja.
entah kenapa saat masuk ke kamar ini ada perasaan berat, tapi ku paksakan, ku bongkar semua barang-barang yang terserak di sudut ruangan.
__ADS_1
Sayangnya saat aku hendak membuka lemari,ada suara-suara aneh yang membuat ku ngeri dan sedikit takut, alisku berkerut suara apa itu?, suara gaduh seperti sapuan angin yang menggesekkan daun-daun bercampur dengan suara-suara sedikit mistis, lalu terdengar suara hempasan nafas yang kasar, lalu di bawah kolong kasur seperti suara orang yang berbisik-bisik, aneh padahal ini rumah ku sendiri, tapi kenapa aku seperti tak mengenali ruangan ini, layaknya ruangan asing yang baru aku kenal, apa yang ku alami?seketika bulu kuduk ku merinding.
Kenapa aku yang selama ini tak takut dengan setan, seperti merasakan aura yang aneh di kamar ini, kamar yang pengap, bau mungkin anyir, seperti ada sebuah mata yang mengawasiku, kemarin masih terlihat baik-baik saja, Jum, apa yang kamu lakukan dengan kamar ini?.