Dua Garis Muncul

Dua Garis Muncul
masih dalam sidang


__ADS_3

Kali ini pertanyaan untuk Mas Mail oleh papa.


"Nah Mail sudah siap untuk bercerai dengan Lina dan berpisah dari anak-anak".


Seperti nya Mas Mail lebih lama, aku tau bahwa dia tak bisa menjawab siap walau katanya akan menerima apapun keputusan nya,apa lagi sudah berbicara soal anak-anak.


"Apa yang Mail katakan tadi, Mail harus ikhlas,adalah bentuk, dari menerima hukaman yang apa telah Mail lakukan,tapi kalau di tanya siap atau tidak,Mail tak akan pernah siap untuk berpisah pa".


"Bagaimana Mail siap berpisah dari Lina dan anak-anak pa, karena kesalahan yang Mail lakukan saat ini pun untuk menjaga agar rumah tangga Mail adem, tak ada keributan, Mail hanyalah lelaki lemah yang tak mampu melawan naluri, sementara Lina jarang di rumah, ini yang membuat Mail tergelincir ke jalan yang salah, tapi jujur Mail tak siap untuk bercerai".


Wajah Jum sedikit memerah mungkin dia mulai marah dengan apa yang di ucapkan oleh Mas Mail.


"Mail juga nggak ngerti kenapa Mail seperti ini, begitu mudah nya Mail tergoda oleh Jum,mungkin karena serumah atau sering bertemu saja, Mail gak bisa jelaskan dan lama-lama menjadi terbiasa,sementara Lina jarang di rumah mungkin sudah menjadi suatu kebutuhan buat Mail, Lina sibuk kerja, kerja dan kerja,jarang pulang,Mail tidak menyalahkan. Lina, karena Mail lah yang mengizin kan dia untuk bekerja".


"Dan setelah terlanjur mengalami dengan Jum, Mail merasa menjadi laki-laki tak bertanggung jawab kalau membiarkan Jum seperti itu, hanya Mail manfaatkan untuk seperlu nya saja, terlebih dia sudah hamil, dan akan semakin membesar Mail tak mau anak nya lahir tampa sosok seorang ayah dan butuh pengakuan siapa ayah nya sejak dalam kandungan".


"Tapi apa kamu tau mas, apa yang telah Jum perbuat selama ini untuk menggoda mu".


Mas Mail menatap ku sangat lama.

__ADS_1


"Maksudmu? "


Aku menatap mata Jum,ada api di dalam mata nya, aura nya sama seperti yang aku rasakan saat berada di kamar Jum yang di rumahku.


"Maksud nya,kamu sudah di bohongi habis-habisan oleh nya"


Kini giliran Jum yang menatap ku dengan sedikit tajam.


"Di bohongi apa bu"ucapnya sedikit lantang.


"Banyak, perlu saya jelaskan secara detail di sini".


Jum berkata bagai kan petasan yang meledak-ledak tampa di bendung lagi.


"Eeh Jum kamu jangan kurang ajar nya!kalau ngomong gak perlu teriak-teriak apalagi sampai melotot"ujuar kak Mita.


"Wow mulut kamu merepet gitu Jum, pake titik, koma, kalu bicara kita ini lagi musyawarah,tau gak kamu arti musyawarah itu gantian berbiacara, ada saat nya kamu untuk ngomong",kak Farah berkacak pingggang.


"Tahu itu, sampel saja mulut nya pake sambal nggak peke sandal biar diam"ucap kak Hesti.

__ADS_1


"Owh Jum, uwong iki diapiki balas ngapaki, nek wes ngapaki, malah ngalarani, iku berarti gudu uwong,reti ra kowe?"ujar mama Indah bersuara.


Kakak-kakak perempuan ku mulai bersahutan,mungkin kesal atas ucapan Jum.


"Sudah jangan rame dulu, mari lanjut lagi, Lina atau Mail yang mau menjelaskan? ",


ucap papa.


Aku kagum dengan papa selalu bijak dan tenang meski hati nya saat ini sedang terluka, dia tetap santun terhadap Mas Mail dan Jum.


"Silahkan kalau Mas Mail mau melanjutkan,aku nanti setelah ini"tutur ku.


"Ya Mail, mari di lanjut kan lagi"ucap papa.


"Baik pa, jadi seperti itu keadaan nya, Mail membeli rumah tersebut untuk Jum tinggalin,ya sebagai bentuk pertangung jawaban Mail terhadap anak yang di kandung Jum, nanti pelan-pelan akan Mail sampaikan dan jelaskan kepada Lina dan keluarga meski Mail tau ini sebuah kesalahan, namun kesalahan yang di biarkan akan sangat berbahaya, jadi harus mengambil tindakan apapun resikonya".


"Tapi Mail terlalu bodoh pa, Mail lupa kalau Lina itu orang ya pintar dan tenang, Lina tenang saja seperti tidak terjadi apa-apa, Mail kira ya Lina belum tau sampai kejadian seperti ini".


Raut wajah Mas Mail menunjukkan kesedihan, sesekali darah masih menetes dari hidung dan bibirnya, sesekali dia merentakkan leher kekiri dan kekanan, mungkin bagian lehar nya ada yang geser akibat di injak dan di tonjok oleh papa Heri, jujur aku sedih melihat ke adaan nya seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2