
"Lina masih ada lagi yang mau di sampaikan"ucap papa kepada ku.
"Lina sudah sampaikan semua ya pa, cukup itu saja dulu pa,masih ada yang harus Lina simpan sendiri pa,atau bisa saja suatu saat Lina ungkapkan bila itu di perlukan pa, untuk mas Mail saat ini keputusan Lina masih sama, Lina ibu dari anak-anak kita tapi mungkin sudah tidak bisa menjadi istri nya mas lagi, sekali nya sudah berkhianat lina tidak bisa memaafkan nya apapun itu alasannya,karena Lina gak bisa menerima itu semua saat ini pun".
Kali ini aku menangis, nah entah mengapa mungkin terasa berat harus mengatakan ini di depan papa Heri dan mama Indah, tertama di hadapan keluarga besar.
"Soal Jum, itu semua terserah mas, mau lanjut sama dia atau tidak nya, silahkan selesai kan sendiri, karena bayi yang di perut jum butuh pengakuan siapa ayahnya, untuk kamu Jum jadi kan ini pelajaran, dan berubah lah menjadi orang yang lebih baik, dan jangan menghalalkan segala cara untuk mendapat keinginan mu,saya masih simpan video-video mesum mu, dan kamu mencuri perhiasan ku di kamar, jadi kalau kamu macam-macam itu semua barang bukti yang sama saya,akan saya laporkan ke polisi sehingga hukuman mu lebih berat lagi".
Kali ini Jum tak berkutik, aku tahu dia akan melakukan perlawanan,sayang nya di sudah tidak punya amunisi lagi, semua kebusukkan nya sudah terbuka mau melawan pun takut terjerat hukuman,sekarang kamu mau apa Jum, aku sudah banyak ngasih kamu kelonggaran!!
tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara seorang wanita.
"Oohh, iyo iku wes ketemu,wes enek uwonge,pak......!"Suara itu histeris.
Cepat dia berlari menuju Jum dan aku duduk.
"Yongalah,yongalah,Jum,Jum,kowe ki ngelakokne opo?, kok yo tegelll,men....."Lalu diarahakan pandangannya kepada ku.
__ADS_1
"Bu Linaaa, saya mintak maaf atas kejahatan dan salah anak saya bu,hu.....hu.... hu.... hu...".
Wanita tua berpakian sederhana ini berlutut di kaki ku dengan derai air mata, dari luar ayah nya jum berdiri mematung tampa berkata,
Jum aku tak pernah ingin menyampaikan ini kepada orang tua mu, tapi ALLAH punya cara nya sendiri Jum.
Aku segera mengakat tubuh mbok Marni.
"Mbok bangun mbok, mbok duduk di kursi saja mbok,di sebelah saya".
Dia hanya mengeleng-geleng kan kepala nya sambil menangis.
Aduhhh aku orang yang tak bisa mendengar orang menangis karena air mata ku juga ikut mengalir.
Getir kurasakan dari tangisan wanita uzur ini, aku yang jadi korban,malah si mbok yang merasakan pahit dan sakit hati yang ku rasa.
Akhir nya aku ikut duduk di bawah karena mbok Marni tak kunjung mau duduk di kursi.
__ADS_1
"Sudah mbok, sudah, nggak apa-apa semua nya sudah baik mbok".
"Sudah baik gimana to, ibu kok diam saja selama ini, nggak pernah bicara sama saya di telepon mengenai kelakuan Jum, ndak segera di pulangkan saja Jum nya,atau bilang sama bapaknya, Ya ALLAH,bu kasihan banget bu".
Dia Mengusap air mata ku, aku pun menatapnya.
"Mbok, kok mbok bisa kesini, mbok tau dari mana? ".
"Perasaan saya sudah seminggu ini tak enak bu, Jum sudah sebulan gak menghubungi saya, saya telepon juga gak bisa, jadi saya ingin mendatangi ke rumah ibu,tapi nyampai di rumah malah saya dapat cerita yang seperti ini bu, saya dapat kabar dari orang yang jaga kakak dan adek bu, lalu saya telepon Anto yang biasa ngasih kabar Jum kepada saya dan bapak Jum, dari Anto tambah lebih jelas lagi ceritanya, mangka nya saya buru-buru ke sini naik taksi bu, saya terkejut sakali Jum di gerebek buk apalagi sama bapak, kok tega sekali Jum ingin merebut bapak dari ibu,ini sudah keterlaluan, YA ALLAH, saya sedih sekali bu,keinget banyak sekali bantuan ibu terhadap saya dan keluarga saya bu".
Kemudian dia berbalik menatap Jum.
"Jum, Jum, koe rusak yo orak usah ngerusak bos mu, Nduk, Nduk, tak kiro koe bedo ro mbak mu seng liar kae, kok yo jebule kelakauanmu, podo wae".
Panjang lebar mbok Marni bebicara kepada Jum, seperti nya Jum tak menanggapi nya, entah apa yang di pikir kan Jum saat ini, apa kah ada rencana atau niat yang tersembunyi lagi.
"Mbok apa kabar? "ucap papa ke mbok Marni.
__ADS_1
"Walah maaf pak, malah saya belom salaman dengan yang lain sangking schok nya,Pak,Maaf ya pak, Alhamdulillah kabar saya baik pak, bapak semoga sehat selalu".
Mbok Marni menyalami satu persatu keluarga, termasuk suami nya mengikuti dari belakang kemana mbok Marni berjalan.