Dua Garis Muncul

Dua Garis Muncul
mereka tampa busana


__ADS_3

Tampa di komando papa mertua langsung melangkah dengan gagah di barisan depan bersama satpam kompleks.


Sesampai nya di pintu, aku tak mengira action papa mertua secepat kilat.papa mertua yang bertubuh tinggi itu langsung menendang pintu tersebut.


DUBEM!!! GUBRAKKKK.


Sekali lagi di tendang oleh papa mertua.


DEBEM!! GUBRAKK terdengar jeritan dari dalam.


"Mail..... buka pintu" papa mertua berteriak.


"Buka pintunya atau saya dobrak paksa!! ".


Seluruh tubuh ku merinding menyaksikan keadaan ini, aku mengenal sekali watak papa mertua ku, kalau dia sudah marah waduhhh habis semuanya, apalagi beliau terkenal mantan preman di blok M waktu mudanya, tapi papa sangat setia ke pada pasangan nya, mangka nya papa marah sekali mendengar cerita ku ini.


Papa mengambil ancang-ancang lagi,mundur tiga langkah dan melompat tinggi menendang pintu.


Kali ini pintu terbuka, dengan cepat kilat papa langsung masuk tampa aba-aba.


Terdengar teriakkan lagi dari dalam dan suara tangisan seorang wanita, mendengar kegaduhan warga berbondong-bondong keluar rumah untuk menyaksikan.


Aku berlari masuk ke dalam di ikuti oleh mama dan mama mertuaku.


Dan apa yang aku lihat?.


Ada dua orang manusia sedang tampa busana!!!BAGUS!! BERHASIL!!, maaf kalau kali ini aku jahat mas.


Mama Indah(mama mertuaku) dan mamaku juga menjerit melihat pemandangan tersebut, mereka segera menutup wajah dengan tangan dan berbalik kekuar kamar, aku masih bertahan dan memandangi mereka denagn jijik.


Papa menendang tubuh Mas Mail tampa ampun, manampar dan juga menonjok di wajah nya, Mas Mail yang celana nya belum terpasang sempurna(baru nyakut di kaki satu nya) mungkin karena keburu di dobrak tadi,hanya mampu menutupi *********** sambil mengiris.

__ADS_1


"Ampun pa"berkali-kali ucap nya.


Semua keluarga sudah berkumpul di ruangan ini, mereka membiarkan apa yang terjadi, membiarkan papa mertua mengahajar anak nya sendiri, bahkan polisi yang akan bertindak di larang oleh Mas Fahri, memberi kode jangan melakukan apapun.


Hampir semua kakakku menvediokan kejadian tersebut, dari luar rumah sudah terdengar suara riuh warga yang berdatangan, kutatap tajam ke dua orang ini.


Air mata ku berjatuhan satu-satu tapi aku merasa tak menangis,aku merasa puas dendam ku terbalaskan.


Setelah puas menghantam anak nya berkali-kali papa berteriak kepada Mas Mail.


"Cepat pakai celana kamu".


Mas Mail terburu memakai celana nya untuk menutupi alat vital nya.


Setelah itu di tariknya lelaki itu ke ruangan tamu, lalu di lempar ke lantai, di pintu terlihat ramai, warga mulai berteriak.


"Huuuuuuuuuuuuu !!! bakar aja, bakar".


"Cari bensin".


Polisi langsung menghalau memecah kerumunan warga.


Pipi Mas Mail sudah memerah penuh darah, mungkin efek di tendang dan di pukul oleh papa, di ruang tamu papa masih tak berhenti memukul Masail tampa ampun.


"Keterlaluan kamu Mail...... berzina kamu!! ". Bertiriak sambil meninju.


"Pa,ampun,pa,tolong dengarkan Mail dulu pa".


Mas Mail memohon di antara pukulan demi pukulan, aku menyaksikan ini seperti sebuah pertandingan di arena tinju,di mana lawan sudah tak mampu lagi untuk bertarung, sayang sang juara masih tetap menghajar tampa ampun.


"Nggak perlu penjelasan,bagi ku lebih baik kamu mati, dari pada jadi penghianat, perusak!, nggak apa-apa aku di penjara lebih baik untuk harga diri ku".

__ADS_1


Papa terangah-angah berkata sambil menendangi anak nya,akhir nyaas Mail pasrah di bombadir dengan pukulan-pukalan papa, setalah di rasa anak nya tak berdaya lagi, papa menghentikan serangan nya.


"Apa? kamu mau melakukan pembelaan apa?kamu tahu kamu sudah mencoreng nama papa? menghinakan martabat papa? ".


"Maaf pa, maafin Mail pa".


Mas Mail terkulai di bawah sembari menyedakepkan tangan nya sambil memohon, darah mengucur dari hidung dan bibir nya.


Semua kakak ku geram dengan kelakuan Mas Mail namun membiarkan papa mertua menghajar nya terlebih dulu.


Sementera di dalam kamar, terdengar teriakan demi teriakan Jum, Jum rambut nya sudah di tarik dan di tampar oleh kakak ipar ku yang paling jutek yaitu HANI.


"Kamu sadar diri dong pembantu, kamu itu pembantu jangan berharap jadi nyonya besar".


Plakk!!!.


"Jangan sok kecantikan menggoda bosmu".


Plak!!!.


"Kamu tau nyonya kamu tu sudah baik-baik, biadab kamu Jum".


Plakk!!.


"Kamu punya rumah bagus di kampung,bapak,mamak,kamu sakit, adik kamu sekolah itu siapa yang bantu!!".


Plak!!.


Jum hanya mengaduh-ngaduh, menjerit-jerit, dan mintak maaf, untung tubuh nya sudah pakai bra dan celena dalam.


Sementara kakak-kakak ku yang lain tak kalah mencaci maki dan menunjuk-nunjuk wajah Jum, mama menasehati Jum panjang lebar, mama mertua ku tak kalah geram nya.

__ADS_1


__ADS_2