
YA ampum Mas Mail berjalan di arak warga tampa alas kaki,bertelanjang dada dan badan bau bensin, sedang kan Jum masih sedikit memberontak dan mengomel, mintak di lepaskan borgol nya.sepanjang jalan raya Mas Mail hanya menunduk, untung saja masih subuh kalau tidak sudah jadi tontonan warga yang akan lalu lalang di jalan.
Sampai di aula balai desa, kami menunggu cukup lama, aku pergunakan waktu untuk memintak ampun dan memohon kepada sang pencipta agar di beri ke ikhlasan di hati ini,tak beberapa lama aku kembali ke aula terlihat di sana sudah hadir pak lurah dan jajaran tetua di kampung.
Pak lurah memintak dua orang untuk menjelaskan kronologi permasalahan ini, salah satu nya iyalah pak RT, pak RT menjelaskan dengn rinci apa yang terjadi saat ini, dan pak lurah memintak ku untuk menceritan sesuai versi ku.
Dari hasil sidang yang kami jalani selama dua jam, Mas Mail harus bersedia meninggalakan kampung Cilandak,dan sebagai hukaman nya rumah tersebut harus di jual dan Mas Mail dan Jum tak di perboleh kan menginjak kan kaki di kampung Cilandak lagi untuk selama-lama nya.
setelah sidang warga dan para jajaran desa, kak Fahri memintak izin kepada pak lurah untuk meminjam aula sebentar untuk rembukan keluarga, pak lurah mengizin kan karena emang ada yang harus di musyawarahkan oleh keluarga.
"Oke semua ya, Assalamualaikum semua, mumpung dua keluarga mengumpul di sini lebih baik kita bahas masalah ini, mungkin di lain waktu tidak ada waktu lagi"ucap papa ku.
"Jadi papa baru tau sore ini kejadian yang seperti ini, papa pikir rumah tangga Mail dan Lina baik-baik saja selama ini, namun papa baru tahu permasalahan nya sudah sejauh ini, dan bahkan papa sesalkan sudah jadi tontonan halayak publik,jujur saja sebenar nya papa schok berat dengan kejadian ini,mau gimana lagi nasi sudah bubur, sekarang tugas kami hanya mengarahkan dan memberi saran kepada kalian saja, ambillah tindakan yang baik meski sekarang dalam keadaan terpuruk pun"ujar papa sedikit bijak.
Papa behenti berbicara sebentar dan menghela nafas nya dengan kasar.
__ADS_1
"Jujur sebenarnya papa kecewa sekali dengan apa yang kamu lakukan Mail, ternyata kamu tidak bertanggung jawab dengan kebahagian anak papa,cucu papa, malah kamu berselingkuh dengan ART kamu sendiri".
Ku lihat Mas Mail wajah nya sedih luar biasa, aku tau mungkin dia merasa malu di pertontokan di halayak ramai atas kejadian ini,tapi ini memang salah mu mas.
"Bagaimana Mail? pertanyaan papa,Mas Mail sedikit termenung sesaat.
"Oke baiklah, Assalamualaikum pertama tak ada yang patut Mail ucapakan pa, selain kata maaf sedalam-dalam ya kepada papa, mama dan keluarga besar terutama kepada Lina sendirinya, karena telah membuat keadaan ricuh dan membuat malu keluarga, Mail tak bisa mengelak ini semua karena salah Mail,Mail mintak maaf sedalam-dalam nya mungkin masih ada pintu maaf untuk Mail, dan minta maaf sedalam-dalam nya kepada Lina karena sudah membuat malu memiliki suami yang seperti ini".
Dia menarik nafas sedalam-dalam nya lalu menghembuskan nya.
"Ya kamu harus ikhlas menerima semua nya, Lina pasti ceraikan kamu, mana mungkin dia balik lagi sama kamu!"ucap kakak Hesti istri Mas Fahri.
"Oke, sekarang kita dengarkan dulu penjelasan dari Lina, silahkan Lina berbicara"sahut papa mempersilahkan aku berbicara.
Aku menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Assalamualaikum,terutama Lina mengucapkan terima kasih ke pada papa, mama, papa Heri dan mama Indah, dan keluarga besar karena sudah meluangkan waktu untuk membantu Lina dalam masalah ini, jadi pertama Lina mau mintak maaf kalau masalah ini muncul tiba-tiba dan baru di ketahui oleh keluarga,tadi nya Lina pikir masalah ini masih bisa Lina hadapi sendiri dan menyelesaikan nya sendiri".
Aku menjeda kataku.
"Tapi tampa Lina sadari ternyata masalah ini sudah sejauh ini,ternyata hubungan mereka sudah sejauh ini,dengan fakta yang sudah Lina lihat sekarang ini, tak ada keraguan dalam hati lina untuk bercerai dari Mas Mail, itu saja yang ingin Lina sampaikan"
"Owh iya kalau menurut kakak memang harus cerai, ngapain di lanjut kan lagi hidup dengan laki-laki seperti ini"kata mbak Mita istri dari mas Liam,yang penuh dengan emosi.
"Oke, kamu sudah merenung dan benar-benar sudah siap Lina?" tanya papa.
Aku menarik nafas dalam.
"Sudah siap pa".
Ya aku bisa berkata siap, siap sekali karena tidak ada kata-kata untuk saat ini selain siap, dalam artian, siap dalam konsekuensinya,sakit, marah,kecewa,hancur,semua sudah di wakilkan dengan kata siap.
__ADS_1