
...****...
"Lilian, apa yang dia katakan barusan?" tanya Edgar pada Lilian.
"Dia...dia berbisik nama Aragon."
Jawaban Lilian sontak saja membuat Edgar dan Jimmy terkejut bukan main. Aragon adalah nama dari Raja iblis dan dia yang menciptakan monster-monster itu.
"Sial! Kekuatannya bangkit! Ini tidak baik, kita harus menghentikannya!" ujar Edgar gelisah dan cemas pada Jack.
"Salah satu dari kita harus pergi kesana. Jimmy, kau pergi!" titah Edgar pada Jimmy. Sontak Jim memberikan reaksi penolakan.
"Kenapa aku?" Jim menunjuk pada dirinya sendiri seolah enggan pergi
"Lalu apa harus aku yang kesana? Kau tidak lihat aku sibuk disini?" sentak Edgar yang mulai emosi dengan Jim. Tatapan matanya juga tajam pada pria muda itu.
"Baiklah baik!" sahut Jimmy pada akhirnya.
"Lilian, kau juga pergi. Aku dan ketiga orang ini bisa menanganinya!" Tak hanya menyuruh Jim, Edgar juga memerintahkan Lilian untuk pergi bersama Jim. Lilian mengangguk patuh, dia membenahi anak panahnya.
"Berhati-hatilah, nanti aku akan menyusul kalian!" ujar Edgar pada kedua juniornya itu. Lilian dan Jim mengangguk paham, lalu mereka pun pergi ke dunia atas melalui lift ajaib yang selalu dilewati para demon Hunter.
Ting!
Mereka masuk ke dalam lift yang setiap lift itu bergerak, maka akan bercahaya. Gerakan lift itu juga cepat, meski jarak antara dungeon dan dunia atas cukup jauh.
"Kira-kira apa yang terjadi padanya Jim?"
__ADS_1
"Aku pikir dia ingin menyombongkan dirinya," ucap Jim asal. Lilian mendelik sinis pada temannya itu.
"Kau tidak lihat, dia kehilangan kendali? Bagaimana bisa kau sebut itu sebagai sombong?" Lilian menyanggah semua ucapan Jim yang menurutnya itu tidak benar. Jim pun berdecih, ia merasa bahwa Lilian terlalu membela Jackson. Hingga membuat Jim berpikir yang tidak-tidak.
****
Di jalan Stanvers, yang saat ini ditutup karena insiden pembunuhan yang dilakukan monster dan iblis dari dunia dungeon. Jalanan itu tampak sepi, 2 blok di wilayah itu seperti desa mati. Tidak ada tanda-tanda kehidupan disana, bahkan tidak ada penerangan sedikitpun kecuali sinar bulan. Udara malam semakin dingin dan menusuk ke dalam tulang, 3 orang pria yang saat ini sedang uji nyali ke tempat tersebut. Yakni, Fred, Erick dan Danny.
Mereka membawa alat perekam, senter, tali, bahkan senjata tajam, kalau-kalau ada yang menyerang mereka disana. Begitu mereka sampai di perbatasan jalan Stanvers dan jalanan lainnya yang juga kosong penduduk. Tiga orang penduduk itu melihat dari luar, pemandangan horor daerah tersebut.
"Ka-kau yakin akan masuk ke dalam wilayah ini?" tanya Fred terbata, ia memegang tangan Erick. Tanpa sadar tubuh Fred bergetar karena dia merasa takut.
"Kalau kau takut, kau tidak usah ikut!" ujar Erick dengan ketus, ia sangat membenci seorang penakut.
"Lebih baik kau diam di rumah saja seperti si Jackson culun itu!" ketus Erick pada Fred. Ia selalu saja menjelek-jelekkan Jack, betapa penakut dan pecundangnya pria itu. Dia belum tau saja, sekarang Jack sudah menjadi seperti apa.
"Aku bukannya takut, aku hanya merasakan firasat yang tidak baik tentang hal ini. Dan bukankah pihak berwajib sudah melarang siapapun masuk ke wilayah ini? Artinya memang ada bahaya di dalamnya bukan?" ucap Fred dengan wajah gelisah yang tidak dapat ia sembunyikan lagi.
Kedua temannya itu tidak mempedulikan Fred, mereka terus berjalan diam-diam menuju ke wilayah yang mungkin tidak berpenghuni itu. "Kenapa kalian selalu saja tidak mendengar ucapanku?" gumam Fred kesal.
Fred tidak punya pilihan lain selain mengikuti Danny dan Erick, lagipula dia sudah terlanjur datang kemari. Sekalian saja mengecek kebenaran tentang monster itu.
Danny mencium bau amis darah di depan sebuah rumah dipinggir jalan. "Tercium bau amis disini, bukankah ini tandanya..."
"Kita masuk!" ujar Erick yang memotong ucapan Danny.
Kini perasaan Danny mulai tidak nyaman, apalagi mencium bau amis darah yang masih baru itu. Fred juga terlihat gelisah, hanya Erick saja yang berada di paling depan. Dia semakin masuk ke dalam rumah kosong terbengkalai itu.
__ADS_1
"Darah!" teriak Fred saat ia melihat banyak darah yang masih basah di dalam tembok. Mulutnya menganga, matanya terbelalak melihat itu semua.
Sontak saja Erick dan Danny juga menghentikan langkah mereka. Mereka bertiga terbelalak manakala melihat didepan mereka ada sesosok makhluk duduk jongkok diatas meja sambil memakan daging manusia.
"HAH!"
"Kalian datang sendiri rupanya?" sambut monster dengan wujud manusia seperti vampir itu. Dia mengusap darah dibibirnya dan memakan limpa milik manusia yang menjadi mangsanya.
"A-apa dia memakan limpa?" tanya Fred terbata dengan suara pelan.
"Astaga!"
Mereka bertiga kini percaya bahwa monster itu ada. Sekarang waktunya bagi mereka untuk panik.
Saat mereka akan berlari, langkah mereka tiba-tiba terhenti dan tubuh mereka kaku tanpa alasan.
"Tubuh ku...kenapa..."
"Aku tidak bisa bergerak!" seru Danny panik.
Jari-jari tangan monster itu melayang-layang seperti mengendalikan tiga tubuh pria didepannya. Lalu ia pun mendekat pada Fred, Danny dan Erick.
Wush~
Tiba-tiba saja angin berhembus dan memutus benang tak terlihat yang ada ditubuh ketiga pria manusia itu. "Lawanmu aku, dasar monster sialan!"
"JACKSON?"
__ADS_1
...****...