
****
Jack membawa kapak yang katanya legendaris itu menuju ke tempat teman-temannya berada. Dia merasa penasaran dan ingin tahu siapa yang memiliki kapak itu sebelumnya.
Lilian menatap Jack dengan heran saat melihat kapak legendaris di tangan kanan Jack. “Jack, senjata itu ....”
“Ya, aku mendapatkan ini di tempat pak tua Jenox. Dia mengatakan kapak ini adalah senjata legendaris dan sudah memilihku sebagai pemilik,” ucap Jack dengan bangga hati sambil tersenyum menatap Lilian. Seolah dirinya ingin mengatakan kepada gadis di hadapannya, kalau dia sudah tidak lemah seperti awal pertemuan mereka yang memalukan.
“Bagus kalau mendapatkan itu. Sepertinya akan cocok dan membebani,” pungkas Jim sambil tersenyum menyindir. Dia merasa kalau Jack tidak pantas mendapatkan senjata bagus tersebut.
“Jangan saling berdebat! Dia mendapatkan senjata itu karena kekuatannya. Lagi pula, Jack sudah naik ke level A dalam waktu cepat. Tidak heran kalau dia mendapatkan senjata itu,” ungkap Abraham dengan tenang. Dia tahu kalau ada maksud tertentu dengan kehadiran Jack. Apalagi Jack memiliki darah yang spesial.
“Wah, itu berarti, aku memang cocok menggunakan ini, kan? Setidaknya, kini aku bukan pecundang,” kata Jack sambil tersenyum senang. Bukan berarti dia ingin menyombongkan diri, tetapi dia berkata seperti itu untuk memperlihatkan kalau dirinya yang dikatakan sebagai pecundang saat ini sudah menunjukkan perubahan besar.
“Ya, ya, terserah!” Jim tidak terlihat tertarik membahas hal itu sama sekali.
Kekuatan Jack yang semakin besar, tentu membawa tanggung jawab yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Jack dituntut siap tidak siap untuk bisa menjadi Demon Hunter yang profesional.
Mereka pergi kembali berburu saat malam tiba untuk mencegah para iblis dan monster naik ke dunia atas. Jack sebenarnya masih tidak menyangka dengan kekuatan yang dia miliki dan juga bertemu dengan orang-orang yang dahulu menghinanya justru saat ini terlihat begitu lemah di hadapannya. Betapa Erick, Fred, dan Danny pernah membuat Jack merasa terhina dan terluka hatinya, tetapi secara menakjubkan saat ini justru mereka bertiga yang terlihat pengecut dan memalukan.
“Jack, apakah tiga manusia yang tadi itu adalah teman baikmu?” tanya Lilian membuat Jack mengingat semua hal buruk yang terjadi dalam hidupnya.
__ADS_1
“Mungkin dahulu mereka bertiga tidak pernah menganggapku sebagai teman atau bahkan tidak menganggapku layak sebagai manusia. Namun, berbeda dengan sekarang. Mereka justru terlihat jauh lebih lemah dari padaku. Mungkin dengan begini, mereka akan menganggapku sebagai teman.” Jack merasa kalau dirinya tidak kuat seperti saat ini, tak mungkin Erick, Fred, dan Danny menganggapnya ada.
“Jack, kamu ini orang yang baik. Pantas saja kekuatanmu juga melonjak pesat,” kata Lilian terlihat kagum.
Tiba-tiba saja, terdengar suara teriakan. Suara dari seorang wanita yang saat ini sedang dicengkeram oleh monster mengerikan berwujud kelelawar besar yang memiliki mulut lebar dan gigi tajam. “Aaaa! Tolong aku!”
“Di sana!” Jim menunjuk ke arah wanita yang melayang dengan cengkeraman monster kelelawar di bahu.
“Kita bantu dia,” kata Lilian segera melepaskan busur panahnya mengenai salah satu sayap kelelawar yang kemudian menjerit kesakitan. Busur panah itu mengeluarkan api dan membuat kelelawar itu melepaskan cengkeraman kakinya dari bahu wanita yang sejak tadi berteriak dan meronta.
“Aku akan menangkapnya,” ujar Jack yang berlari, berusaha secepat mungkin untuk bisa menangkap wanita yang terjatuh dengan luka menganga di bagian bahu karena cengkeraman kaki monster kelelawar.
Jack meletakkan kapaknya di punggung dengan tali perekat. Kemudian mengulurkan tangannya menangkap wanita yang teriak ketakutan tersebut. “Dapat!”
“Fire Arrow – panah api!” Lilian belum menyerah. Dia segera melesatkan busur panah ke arah sayap kelelawar sebelah kiri karena sayap yang sebelah kanan sudah terkena busur panah dan terbakar terlebih dahulu.
“Dasar! Kalian tidak akan bisa mengalahkan aku!” Kelelawar itu membuka mulutnya dan mengeluarkan suara yang sangat nyaring membuat para Demon Hunter menutup telinga.
Suara yang memekakkan telinga itu merupakan salah satu keahlian monster kelelawar untuk melemahkan buruannya. “Aaaaaaaaaa!”
Jack tidak bisa tinggal di jam begitu saja dengan kejadian ini karena monster kelelawar itu bisa saja menyerang secara mendadak setelah membuat para Demon Hunter kesulitan atas suara memekakkan telinga itu. Jack melepaskan tangannya dari telinga. Dia mencoba melawan meski tubuhnya terasa begitu sakit saat digerakkan. Dia memegang kembali kapak legendaris yang baru saja dia dapat. “Aku ... Aku tidak akan menyerah!”
__ADS_1
Jack secara ajaib bisa melawan suara memekakkan telinga itu dan berhasil menggerakkan tubuhnya. Dia berlari ke arah kelelawar dan melompat tinggi sambil mengayunkan kapaknya dengan cepat menebas kelelawar itu secara horizontal. Darah langsung memercik ke mana-mana. Monster kelelawar itu langsung jatuh setelah terbelah menjadi dua.
Pada Demon Hunter yang lain melepaskan tangan dari telinga mereka. “Bakar dia, Lilian!” Jim memerintahkan Lilian yang langsung tanggap dan menganggukkan kepalanya.
Lilian tak membutuhkan waktu lama untuk membuat monster kelelawar itu menjadi abu.
Jack menatap tangannya yang gemetar memegang kapak yang berlumuran darah monster kelelawar tadi. “Aku berhasil. Aku bisa melenyapkan monster itu!”
“Selamat, Jack. Itu adalah iblis level menengah. Kamu bisa menghadapinya dengan baik,” sanjung Jim yang tidak menyangka Jack bisa melampaui kemampuan dan menerjang suara memekakkan telinga itu.
“Aku ternyata bisa mengalahkannya,” kata Jack masih tak percaya dengan apa yang dia perbuat.
Lilian tersenyum dan menepuk bahu Jack sambil berkata, “Kamu memang hebat. Kelelawar tadi memiliki kekuatan yang cukup besar. Saat kami tak berkutik dengan suara ultrasonik tadi, ternyata kamu bisa menembus dan mengalahkan kelelawar itu sendiri.”
“Aku tidak akan bisa melakukan ini semua tanpa dukungan kalian.” Jack paham kalau dirinya bukan siapa-siapa beberapa hari yang lalu dan saat ini bisa menjadi bagian dari Demon Hunter, bahkan bisa melampaui batas kekuatan.
“Kapak milikmu memang legendaris. Bahkan iblis level menengah pun bisa dibunuh dengan sekali ayun. Bagus sekali, Jack,” ujar Abraham yang menerawang kejauhan.
Masih banyak iblis dan monster yang harus dimusnahkan. Para Demon Hunter makin yakin bisa melawan semuanya. Apalagi Jack yang memiliki darah spesial sudah mulai menunjukkan kekuatan dalam dirinya yang selama ini terpendam.
Dari kejauhan, salah satu Demon Hunter menatap ke arah Jack dengan rasa amarah yang meluap-luap. Cemburu, iri hati, dan tidak setuju dengan kehadiran Jack membuat pria itu mengepalkan tangannya. Dia berjanji dalam hati akan menyingkirkan Jack dari kawanan Demon Hunter. “Awas saja kau, Jack. Sampah akan kembali pada tempat sampah! Dasar busuk!”
__ADS_1
...****...