
***
"Bodoh! Kau bilang apa? Asap itu terputus dan tidak memiliki asal? Hey, ada sebab ada akibat. Tidak mungkin ada asap tanpa adanya api. Apa jangan-jangan kau memang tidak bisa melihatnya? Kau pura-pura memiliki mata langit kan?" tanya Dominic sinis kepada Jack. Dia terus menerus mencari kesalahan Jack, padahal Jack tidak mengusiknya. Diam salah, bicara juga salah kepada pria ini.
"Terserah kau saja senior." ucap Jack yang tidak mau berdebat, ia malas bicara dengan orang yang selalu julid padanya.
"Sudahlah Dominic! Tidak bisakah kau berhenti mengoceh? Kita harus mencari iblis itu sekarang!" ujar Aaron kesal karena Dominic yang terus menerus bicara.
Mereka bertiga pun berjalan menyusuri dungeon dengan perlahan-lahan, sembari melirik kesanakema. Mencari sesuatu disana. Konon, monster atau iblis yang berada di dungeon yang satu ini pintar bersembunyi.
"Jack, coba kau gunakan mata langitmu dengan fokus!" ujar Aaron pada Jack. Pria itu satu-satunya disini yang memiliki kemampuan spesial mata langit.
"Baiklah senior, akan aku coba lihat lagi. Mungkin tadi aku kurang fokus!" ucap Jack dengan wajah polosnya. Pria itu kemudian menutup matanya, ia berusaha memfokuskan dirinya untuk membuka mata langit. Terkadang mata langit itu tidak terlihat karena Jack tidak fokus.
Selagi Jack sedang membuka mata langitnya, Dominic melihat sinis ke arah Jack. Dominic merasa Jack adalah orang yang sombong dan diberkahi menjadi demon Hunter legendaris. Padahal dia hanya seorang pengecut dan pria culun.
Wush~
Jack merasakan hembusan angin yang kuat menerpa tubuhnya. Seketika matanya terbuka lebar, memancarkan sinar berwarna biru. Warna matanya juga berubah menjadi warna biru langit.
__ADS_1
Dalam penglihatannya, Jack melihat bayangan tiga kepala iblis dalam satu tubuh sedang berada di bawah kakinya dan memakan sesuatu. Tercium bau anyir darah yang menyengat, akan tetapi hanya Jack yang bisa merasakannya.
"Senior! LOMPAT!" teriak Jack panik. Sontak saja dengan gerakan gesit, Aaron dan Dominic langsung lompat seperti intruksi dari Jack. Dan pria urus sendiri juga ikut lompat.
Tiba-tiba saja lantai dibawah mereka berubah menjadi kobaran api membara yang muncul tanpa diduga.
"Ada apa ini Jack?"tanya Aaron tidak paham.
"Iblisnya, dia berada di bawah! Mereka disana..." ucap Jack dengan wajahnya yang meyakinkan.
"Jurus darah, menghindar!" ujar Jack tiba-tiba dan membuat Aaron juga Dominic terkejut. Muncullah sebuah cambuk api merah membara dari bawah sana. Mereka seperti pecut listrik yang siap menyerang siapa saja disana.
Ctas!
Ctas!
"Akkhh!" pekik Dominic saat ia terkena salah satu serangan dari jambuk itu. Tangannya terluka dan luka itu membakarnya.
"Dominic hati-hati, fokuslah!" ujar Aaron pada temannya itu. Aaron dan Jack masih berada di atas menghindari cambuk api itu.
__ADS_1
"Aku tau, bodoh! Jangan sok tau, sialan!" Dominic malah mengumpat, saat Aaron berusaha menyuruhnya untuk berhati-hati.
Ctas!
Ctas!
"Cambuk itu tidak akan berhenti sebelum melukai atau bahkan membunuh kita. Kita harus pergi ke sumbernya dan menghentikannya," ucap Aaron dengan kening berkerut.
"Tapi bagaimana caranya ke bawah?" tanya Jack bingung.
"Mari kita--"
Sret!
Jleb!
Belum sempat Aaron menyelesaikan ucapannya, Aaron dan Jack melihat Dominic dililit cambuk itu dan dibawa ke bawah lantai.
"Senior!"
__ADS_1
"Jack! Ayo!" Jack menganggukkan kepalanya, lalu ia pun mengikuti Aaron untuk masuk ke dalam lantai itu