
***
"Lawanmu aku, dasar monster sialan!" Jack muncul tiba-tiba dan memotong benang si Monster yang akan menjerat ketiga temannya itu.
Jack mematahkan benang tersebut dengan pedang pinjaman dari Greg. Pedang yang memiliki warna perak dan sekarang dipakai Jack jadi berwarna merah.
Fred, Erick dan Danny lantas menoleh para pria yang menolong mereka. Mereka terperangah bukan main saat melihat Jack berada di depan mereka dengan tampilan berbeda. Jack terlihat badas dan kuat.
Mereka tidak percaya, bahwa mereka diselamatkan oleh Jack si pecundang yang selalu mereka ganggu di tempat kerja dulu.
"JACKSON?" ujar Fred, Erick dan Danny bersamaan.
"Pergi! Tempat ini bukan tempat yang aman untuk kalian!" ujar Jack menyuruh pergi tanpa menimpali panggilan dari ketiga rekan kerjanya di cafe dulu.
"Jack, kau masih hidup? Aku pikir kau--"
"Pergi!" ujar Jack dengan suara yang meninggi, sorot matanya terlihat berapi-api. Hingga ketiga temannya berfikir bahwa Jack mungkin kesurupan iblis yang ada disana.
"Erick! Ayo kita pergi dari sini!" ajak Danny akhirnya, seraya memegang tangan Erick. Disisi lain Fred juga memegang tangan Erick.
"Mau pergi hah? Apa kalian pikir kalian bisa?" tanya monster yang tampak seperti vampir dan tidak berbentuk hewan itu. Dia tersenyum meremehkan, kemudian tangannya mengarah pada ketiga orang dibelakang Jack.
"Tanganku! Kenapa dengan tanganku?" Fred panik manakala tangannya bergerak sendiri ke atas, seolah ada yang mengendalikannya.
"A-aku juga...tidak bisa mengendalikan tubuhku!" Erick juga turut merasakan hal yang sama. Sekarang ketiga orang itu melangkah semakin masuk ke dalam rumah kosong itu.
Jack mengayunkan pedangnya untuk menebas benang yang terhubung pada tubuh ketiga temannya. Akan tetapi perkataan sang monster itu membuatnya bingung dan mengurungkan niat untuk menebas benangnya.
"Kali ini, kalau kau menebas benangnya...ketiga manusia lemah itu akan mati," ucap monster itu lalu tertawa cekikikan.
"Kau..." Jack menatap salah satu mata si iblis itu yang memiliki angka 6. 'Monster tingkat atas enam? Bagaimana bisa dia keluar dari Dungeon dan datang kemari?'
Jack berpikir, bagaimana caranya agar ketiga temannya bisa bebas dari jeratan monster tingkat 6 itu. Kini ketiga pria itu berjalan sendiri menuju ke arah ruang bawah tanah disana.
"Jack! Tolong kami! Tolong!" seru Danny meminta tolong pada Jack.
"Lepaskan mereka!" ujar Jack yang tidak bisa menyentuh benang itu, dia takut bila menyentuh benangnya. Maka ketiga temannya akan mati.
"Khik khik....khik.."
Monster enam itu memainkan tangannya dengan lihai dan cepat, saat itu pula tangan Danny, Fred dan Erick terpelintir ke belakang. Mereka bertiga menjerit bersamaan.
__ADS_1
"AKHHH TANGANKU PATAH!"
'Sial! Aku harus bagaimana?'
Dengan cepat monster enam itu membawa Danny, Fred dan Erick ke dalam ruang bawah tanah. Jack juga mengikutinya, ia menaiki tangga menuju ke bawah tanah sambil berlari. Ia mencium bau darah yang pekat disepanjang perjalanan ke ruang bawah tanah. Tidak hanya itu, Jack juga merasakan ia menginjak daging dan sesuatu yang lengket disana. Jack terbelalak manakala ia melihat apa yang diinjaknya. Ada potongan tubuh manusia yang tidak utuh, bahkan ada bagian organ dalamnya terburai dimana-mana.
"Monster sialan! Kau harus mati! Harus!" kemarahan Jack semakin membara karena melihat semua itu. Di dalam hati nuraninya, Jack tidak tega melihat manusia mati dengan cara mengenaskan seperti ini oleh monster.
Ini semua salahku, kalau bukan karena diriku. Monster dan iblis tidak akan bebas berkeliaran di luaran sana. Jack membatin, teringat penyebab semua ini.
"AAKHH!! TIDAK!!" suara Erick terdengar keras dan menggema. Jack terus berlari mengikuti arah suara itu, dia harus menyelamatkan semua temannya. Walaupun mereka selalu membully Jack di masa lalu, tapi Jack tidak mau temannya terluka.
Tibalah Jack disebuah pintu yang di depannya terpajang kepala seorang pria. Jack terkejut bukan main saat melihat kepala itu bergerak dan bibirnya bicara kepadanya.
"Mati...kau akan mati... kau tidak akan bisa keluar dari sini!" suara dari kepala seorang pria yang menyeramkan itu, tidak membuat Jack takut. Sebab selama beberapa hari ini, Jack sering berhadapan dengan iblis yang bahkan lebih menyeramkan. Tapi yang lebih menyeramkan adalah saat dia tidak bisa menyelamatkan orang lain dan melihat orang lain mati dihadapannya.
Jack tidak memedulikan suara-suara yang menakutinya. Bahkan ada suara yang memintanya mati sebelum dibunuh oleh iblis tingkat 6.
"Pergilah...kau tidak akan selamat, dia kuat..." lirih seorang pria yang membuat langkah Jack terhenti. Sontak saja Jack menutup mulutnya yang menganga, dia melihat pemandangan yang menyayat hatinya. Dimana seorang pria tergantung di jaring laba-laba, dengan tangan dan kaki yang terpisah. Namun pria itu masih hidup dan mengeluarkan banyak darah, hingga darahnya memenuhi lantai.
Betapa teganya mahluk itu menyiksa pria itu, Jack bersumpah dia akan membunuh monster tingkat enam ini. "Keluarlah nak...sebelum dia....uhuk....uhuk..." pria itu muntah darah dan seketika jantungnya berhenti berdetak. Jack meringis lihat nasib pria yang tergantung di jaring laba-laba itu. Ia pun membantu untuk menurunkan si pria itu, bahkan Jack juga mengambil potongan tubuhnya yang lain.
Dia membaringkan tubuh tersebut di atas karpet, bersama mayat yang lainnya. Lantai ruang bawah tanah itu, penuh dengan darah. Banjir dengan darah.
****
Disisi lain, Jim dan Lilian sedang mencari keberadaan Jack. Jim yang memiliki indra penciuman bagus, mencium bau Jack di dalam sebuah rumah yang terbengkalai.
"Aku mencium bau si Jack, bau darah, seperti ada pembantaian dan juga bau iblis yang kotor, pekat!" ujar Jim yakin.
"Baiklah,ayo kita masuk ke dalam sana. Aku yakin Jack punya alasan kenapa dia pergi kesini!"
"Kau selalu saja membelanya Lilian! Saat pertama kali bertemu pun, kau melindunginya!" ujar Jim marah, ia cemburu saat Lilian membela Jack.
"Jim, jangan mulai lagi. Aku bukan membelanya," ucap Lilian kesal. Terkadang Jim membuat Lilian tidak nyaman dengan sikap posesifnya.
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah itu dengan gerakan cepat, namun hati-hati. Jim masih tampak kesal karena Lilian yang peduli pada Jack.
****
Jack sampai di ruangan, dimana monster itu tengah mengurung ketiga teman Jack. Jack terkena benang itu dan beberapa kulit tubuhnya berdarah karena benang tersebut. Sedangkan sang monster berada di atas jaring laba-laba. Tengah asik menyiksa mangsanya sebelum ia memangsanya.
__ADS_1
"Darahmu...sangat menggoda demon Hunter. Aku harus mendapatkanmu, tapi setelah aku menyelesaikan mereka!" tunjuk monster tingkat 6 itu pada ketiga teman Jack yang tergantung diatas. Mereka bertiga tidak berdaya karena serangannya.
Demon hunter? Jack seorang pemburu iblis? Kata Fred dalam hatinya.
"Tidak! Aku yang akan menghabisimu lebih dulu!" Jack bersiap-siap dengan kekuatannya. Tubuhnya di selimuti kobaran api membara. Dengan instingnya, dia tau titik lemah monster itu.
Terjadilah pertarungan antara Jack dan monster tingkat 6 itu, tidak mudah bagi Jack untuk mengalahkannya. Selagi bertarung, Jack memperingatkan teman-temannya yang sudah bebas dari jeratan benang iblis, untuk pergi dari sana.
"Pergi! Cepat!"
"Tapi kau bagaimana?" tanya Erick yang menyiratkan bahwa dia peduli pada Jack.
"Aku akan baik-baik saja," jawab Jack yang terus menangkis serangan dari monster tingkat 6 itu.
Saat ketiga temannya akan membuka pintu, pintu itu sulit terbuka karena benang laba-laba yang berada disana. "Bagaimana ini Erick?" tanya Danny pada Erick.
"Coba dobrak!" titah Erick pada kedua temannya. Mereka bertiga pun mencoba untuk mendobrak pintunya bersama-sama.
BRAK!
BRAK!
Pintu itu tak kunjung terbuka, bahkan knop nya sudah hancur. Tapi tetap saja pintu itu tertutup rapat. Bahkan sekarang pintu itu mengeluarkan cahaya merah seperti darah.
"I-itu...darah!" Fred terkejut saat melihat banyaknya darah di pintu.
Danny dan Erick juga sama terkejutnya dengan Fred. Darah itu kini mengalir deras dari sana.
"Khik khik khik...kalian tidak akan pernah bisa keluar dari pintu itu, kecuali bila aku mati atau kalian mati! Haha..." Monster tingkat 6 itu tertawa, di tengah pertarungannya dengan Jackson. Ketiga pria itu menjadi panik dengan ucapan monster tingkat 6.
Tiba-tiba Jackson menundukkan kepalanya, ia memegang bagian tajam pedangnya dengan tangan kosong. Hingga darahnya bercucuran memenuhi pedang itu.
"Darah...Darah..." Monster itu mengeluarkan air liurnya saat mencium bau darah Jack yang sangat menggoda. Seketika kabut asap merah muncul dengan misterius.
Fred, Erick dan Danny tercengang melihat kekuatan Jack. Mereka tidak percaya dengan hal yang baru saja mereka lihat.
"Jurus darah aktif!!" Jack mengayunkan pedangnya yang mengeluarkan sinar merah. Lalu mendekat ke arah si monster itu dan sedetik kemudian.
SRET!
BUK!
__ADS_1
****