
***
Begitu memegang guci milik Igor, tiba-tiba saja Jack berada didunia lain dan asing. Dia berada di Padang rumput nan luas dan langit yang cerah kala itu, padahal jelas-jelas dia sedang berada di jalan Stanvers, pada malam hari. Lalu mengapa dia berada disini sekarang?
"Bagaimana ini? Aku dimana? Apa ini alam ilusi iblis? Aku tidak tahu bagaimana caranya keluar," gumam Jack bingung. Ia belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Iblis yang menggunakan ilusi, atau alam mimpi.
Pria itu pun memutuskan berjalan dengan membawa gucinya, sambil memikirkan jalan keluar dari alam yang ia anggap sebagai alam ilusi ini. Tak berselang lama kemudian, ia melihat sebuah rumah berbentuk kayu, seperti rumah zaman dulu berada di ujung Padang rumput itu.
"Rumah siapa itu?" tanya Jack yang entah akan dijawab oleh siapa. Mungkin dia bertanya pada dirinya sendiri. Kala dia mendekati rumah itu, Jack melihat seorang pria paruh baya mendorong seorang anak remaja keluar dari rumah sampai tersungkur. Bersama dengan beberapa keramik yang masih dalam masa pengerjaan. Semuanya pecah dan berhamburan di lantai.
Pria paruh baya itu terlihat marah kepada si anak laki-laki remaja, dia bahkan menghancurkan semua guci yang dibawanya hingga pecah.
PRANG!
PRANG!
"Ayah...kumohon jangan!" pinta anak remaja laki-laki itu kepada ayahnya. Tak peduli tangannya terluka karena pecahan guci guci itu, ia tetap berusaha untuk menghentikan ayahnya.
__ADS_1
"Lepaskan aku Erden, karena semua barang-barang ini kau tidak mau pergi bekerja!" sentak sang ayah murka, lalu dia kembali mendorong anak remaja bernama Erden itu.
"Ayah...ini adalah pekerjaanku. Nanti semua, guci ini akan menjadi uang, ayah..." pinta Erden memohon
"Aku tidak peduli! Aku tidak suka kau menjadi seniman, kau sama sekali tidak berbakat. Hentikan semua ini, atau aku tidak akan berhenti!" ancam ayah Erden dengan tegas dan beringas.
Ayahnya memukuli Erden habis-habisan, sampai Jack yang melihatnya pun menjadi tak tega. Jack ingin menolong Erden, tapi sayangnya disini ia hanyalah tamu dan tak terlihat oleh kedua orang itu. Jack juga tidak paham, siapa kedua orang didepannya ini.
"Aku yakin ini alam mimpi. Tapi alam mimpi siapa? Iblis Igor itu kah?" tanya Jack yang lagi-lagi bergumam sendiri.
Ayah Erden sangat kejam, bahkan berani menghukum Erden yang masih remaja dengan memukul, mengurung ditempat gelap, tak peduli dengan perasaannya. Ketika sebuah mahakarya dan jerih payah dihancurkan didepan mata. Ayahnya melarang Erden untuk menjadi seorang seniman.
Jack bisa merasakan aura jahat pria bertubuh tinggi dan berpakaian serba hitam itu. Meski ini adalah alam mimpi, namun pria misterius yang tidak terlihat wajahnya itu memiliki bau darah dan aura hitam yang kuat. "Siapa pria ini? Apa dia iblis? Tingkat apa?" gumam Jack pelan.
"Apa kau benci ayahmu?" suara bariton yang kuat itu bertanya kepada Erden.
"Si-siapa kau?" tanya Erden tergagap.
__ADS_1
"Aku merasakan aura kebencian didalam dirimu yang membara. Anggaplah aku sebagai malaikat penolongmu, sebab aku bisa membantumu balas dendam!" tawar pria misterius itu kepada Erden. "Bukankah ayahmu membencimu?"
"Tidak! Jangan! Jangan terima! Ayahmu tidak membencimu, dia hanya tidak mau kau menjadi seperti ibumu, Erden!" teriak Jack yang jelas sama sekali tidak terdengar oleh mereka berdua.
Lantas, Erden menerima tawaran pria misterius itu dengan senang hati. Ia yang sudah diliputi kemarahan dan dendam, akan membunuh ayahnya. Pria itu mengiris tangannya sendiri dengan pisau, kemudian mengucurkannya pada mulut Erden.
"Dengan darah ini! Kau akan menjadi kuat!" seru pria itu dan Erden terus meminum darahnya. Setelah meminum sekitar 5 tetes darah, tiba-tiba saja tubuh Erden mengejang. Tak lama setelah itu, dia berubah menjadi iblis Igor. Iblis dengan wujud seperti vampir.
Erden, dia adalah Igor! Teriak Jack dalam hatinya.
Lalu Jack melihat Erden dengan wujud iblisnya, membunuh sang ayah. Dia juga membunuh orang-orang disekitarnya. Setelah itu Erden berubah menjadi jahat. Setiap dia melakukan aksinya, dia selalu membawa guci itu. Guci tersebut bisa mengubah manusia menjadi monster sementara dan merebut jiwa mereka.
"Sudah puas melihatnya, JACKSON ALHARAZ?" sontak saja suara si pria misterius yang memberikan darah untuk Erden, menghentikan langkah Jack dan membuatnya terperangah.
Pria itu membalikkan badannya, ia menatap Jack dengan matanya yang berwarna merah menyala. Senyumnya menyeramkan, membuat bulu kuduk Jack berdiri.
Dia bisa melihatku? Astaga! Siapa dia sebenarnya?
__ADS_1
****