Dungeon Demon Hunters

Dungeon Demon Hunters
Bab 44. Kau mencintainya


__ADS_3

Melihat Jake berpelukan dan menghibur wanita lain, sontak saja membuat Lilian merasa aneh. Ya, dia merasakan debaran dan rasa sakit didalam hatinya. Ia merasakan sesak yang sulit di definisikan oleh kata-kata. Sedari awal, Lilian selalu bersikap cuek pada Jack. Lantas kenapa sekarang dia tampaknya peduli saat melihat Jack dekat dengan wanita lain.


Tanpa Lilian sadari, seseorang memerhatikannya dari belakang. Ya dia adalah Jimmy. Wanita yang menyimpan rasa terhadap Lilian selama ini, namun dia tidak pernah berani mengungkapkannya. Jim, terlalu jaim untuk mengutarakan perasaannya.


'Apa kau begitu peduli padanya Lilian? Atau apa dugaan ku benar, kau sudah jatuh cinta kepadanya?' Kata Jimmy perih di dalam hatinya, melihat Lilian memperhatikan Jack sampai segitunya. Bahkan Lilian menatap Jack dan Jane dengan sayu.


"Menangislah sepuasnya, agar hatimu tenang Jane! Senior Aaron tidak melarangmu untuk menangis, hanya saja setelah ini....janganlah pernah menangis karena dirinya. Dia akan sedih melihatmu begini!" cetus Jack seraya mengelus-elus rambut Jane. Gadis itu masih terisak di dalam pelukan Jack.


"Huah...kakak...kenapa kau meninggalkanku? Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain kakak!" Jane mengeratkan pelukannya, ia menumpahkan segala emosi dan kesedihannya kepada Jack.

__ADS_1


Jack mungkin tidak benar-benar paham dengan apa yang Jane rasakan, kehilangan orang-orang terkasihnya dan hanya tersisa dirinya di dunia ini seorang diri. Sebab, ia sendiri berasal dari panti asuhan dan tidak pernah merasakan bagaimana kasih sayang keluarga. Sedangkan di panti asuhan itu, kasih sayang pasti terbagi dan memang harus berbagi dengan yang lain. Jack, tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan.


"Aku tak pernah tahu rasanya kehilangan orang yang aku sayangi, ataupun merasakan kasih sayang keluarga sama seperti yang kau rasakan. Tapi sepertinya aku paham saat melihatmu, bahwa ditinggalkan oleh keluarga rasanya sakit dan menyakitkan dibandingkan dengan aku yang tidak punya keluarga," tutur Jack yang membuat Jane mendongakkan kepalanya dan menatap Jake dengan tatapan yang sulit diartikan.


Tanpa sadar air mata Lilian menetes melihat pemandangan yang menyayat hatinya. Lantas, ia pun membalikkan badannya dan melangkah pergi menjauh dari sana dengan hati yang sakit.


"Ada apa denganku ini? Kenapa aku harus merasa seperti ini? Kenapa?!"


Buk!

__ADS_1


Berulang kali Lilian menepuk-nepuk dadanya agar rasa sakit dan sesak di sana menghilang. Akan tetapi rasa sakit itu masih ada, percuma saja memukul-mukul dadanya sendiri.


"Sial! Apa obat dari semua ini? Menyebalkan sekali, sangat menyebalkan! Jack si bodoh, Jack sialan!" gadis itu mengumpati Jack yang bahkan tidak tahu apa-apa soal rasa sakit yang dialami oleh Lilian saat ini.


"Tidak ada obat untuk itu, Lilian!" celetuk seseorang yang tidak asing sedang berdiri dibelakangnya. Sontak saja Lilian menoleh ke arah belakang. Terlihat sosok Greg di sana sedang berjalan mendekat padanya, pria itu tersenyum pada Lilian.


"Rasanya sesak bukan? Seperti ditusuk-tusuk pedang dan rasanya sakit, tapi tidak terlihat, bahkan tidak berdarah. Aku tau benar bagaimana rasanya itu, sebab aku pernah merasakan itu sebelumnya!"


"Apa maksudnya senior? Memangnya rasa apa itu?" tanya Lilian penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Greg. Sebab ia juga tidak memahami rasa ini, ia ingin tau rasa apa ini?

__ADS_1


"Kau sudah jatuh cinta padanya Lilian, Jack...kau mencintainya."


...***...


__ADS_2