Dungeon Demon Hunters

Dungeon Demon Hunters
Bab 7. Hunter Medis


__ADS_3

Monster ular itu tersenyum saat ia melihat Jack, hanya dengan mencium wangi tubuhnya saja monster itu sudah tau bahwa Jack sangat wangi. Apalagi kalau dia memakannya, pasti sangat enak.


Edgar dan Abraham mulai panik saat Jack dan monster itu kini tidak berjarak lagi. Namun mereka terkejut saat melihat Jack mengiris tangannya sendiri. Hingga darah mengucur dari tangannya.


'Aku mohon, darah ini harus menjadi racun memabukkan untuknya' Jack membatin.


Monster yang akan melahap Jack itu tiba-tiba terdiam mematung. Dalam penglihatannya, ada asap berwarna merah dari tubuh Jack dan darah yang mengucur darinya itu.


"Darah ini...sangat enak. Aku ingin menikmatinya! Aku ingin...aku INGIN!" suara keras monster ular yang bernafsu itu tidak membuat Jack takut. Ia yakin darahnya bisa melindungi dirinya. Dia tidak punya kekuatan apapun, hanya mengandalkan darah. Bertarung pun dia tidak bisa.


Monster ular itu melemah, lidahnya menjulur keluar dan mengeluarkan air liur. Dia jatuh terduduk di hadapan Jack.


"Edgar! Sekarang!" ujar Abraham pada Edgar. Pria itu menganggukkan kepalanya, lalu menyerang bagian kepala monster ular itu saat dia lengah. Dia mengunci tubuh monster dengan panah airnya, lalu menebas leher monster itu dengan belati yang dibawanya.


Jleb!


"AAARGHHH!" teriak makhluk itu saat dia kehilangan kepalanya.


Kepalanya menggelinding tepat ke bawah Jack. Jack beringsut mundur saat melihatnya. Sial, dia menjadi pengecut saat ini. Dia belum bisa bertarung seperti demon Hunter yang lainnya.


"Kenapa...kenapa aku harus mati ditangan demon Hunter? Kenapa aku harus melihat demon Hunter si penakut ini sebelum aku mati? Ini sangat membuat harga diriku terluka... menyebalkan!" umpat kepala ular itu seraya menatap Jack dengan meremehkan. Lalu kepalanya menghilang jadi abu dalam sekejap mata


Edgar dan Abraham menghampiri Jack yang masih terduduk di atas tanah. Mereka berdua menatap Jack dengan tajam. Tindakan Jack memang membantu mereka, tapi bisa membahayakan nyawanya sendiri. Saking marahnya, Abraham sampai tidak mengatakan apapun kecuali menyuruh Jack pergi dari sana.


"Aku paham kau ingin membantu, tapi tidak seperti ini juga Jackson. Kau terlalu membahayakan dirimu," Edgar terlihat membungkus luka-luka ditangan Jack dengan kain.


"Maaf, aku tidak tahu kalau darahku juga bisa membuat diriku dalam bahaya! Aku..." Jack tidak tahu harus bicara bagaimana lagi. Ia baru tau bahwa jika kehilangan banyak darah, bisa membuat Jack mati dan juga para iblis semakin menggila.


"Pergilah dari sini!" usir Abraham kesal.


"Tidak tuan, aku bisa membantu kalian. Aku bisa!" cetus Jack yang tidak mau pergi dari sana.


"Kau belum siap young man. Setidaknya kalau kau mau membantu, jangan gunakan darahmu.Gunakan kelebihan dan kemampuan yang kau miliki!" tunjuk Abraham kesal dengan Jack.


"Aku tidak akan mengulanginya lagi, aku akan belajar tuan!"


"Semua demon Hunter bahkan tingkat bawah juga bisa bertarung. Tapi kau tidak bisa. Kau bahkan tidak bisa memegang belati dengan baik. Lupakan! Tidak usah jadi demon Hunter kalau kau tak bisa," ketus Abraham lagi.


Wajah Jack berubah menjadi pani, dia kembali memohon pada Abraham untuk memberikannya kesempatan. Tapi sayangnya Abraham tetap pada keputusannya untuk mengirim Jack ke markas demon Hunter dan tidak melanjutkan ekspedisi di pintu dungeon.

__ADS_1


"Edgar, pergilah bawa dia pada Greg!" usir Abraham kesal.


"Senior, kita berikan dia kesempatan sekali lagi!" Edgar yang kasihan pada Jack, akhirnya mencoba bicara dengan Abraham.


"Aku tidak mau berdebat denganmu, Edgar. Tapi jika anak ini membuat ulah lagi, atau menjadi beban. Kau yang bertanggungjawab," ucap Abraham lalu melangkah pergi dari sana. Sebab ia masih mencium aroma kuat monster di sekitar sana.


"Terimakasih tuan!" seru Jack sambil tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Panggil dia senior, bukan tuan." Edgar meralat ucapan Jack perihal panggilan untuk Abraham.


"Ya senior Edgar, senior Abraham. Terimakasih, saya akan berusaha!" kata Jack yang lalu berdiri dari tanah.


Jack, Abraham, Edgar dan dua anggota level E lainnya pergi memasuki gedung tua yang disebut sebagai gerbang dungeon. Disana mereka menemukan banyak jejak darah, bahkan ada potongan-potongan tubuh manusia disana. Belum lagi ada bau busuk mayat dan anyir yang pekat memenuhi depan gedung seperti gedung kuno itu.


Salah satu anggota level E yang ikut bersama mereka, tidak tahan dengan bau mual itu hingga muntah-muntah.


"Huwek...huwek..."


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Jack yang peduli pada salah satu rekannya yang berada di level bawah itu.


"Bagaimana bisa kau menjadi demon Hunter bila kau saja takut dengan darah? Tidak bisa tahan mencium bau anyir dan bau busuk," cetus Abraham ketus, namun tegas. Semua nasihat yang dia berikan adalah untuk kebaikan semuanya.


"Sepertinya kita harus mengadakan seleksi demon Hunter nanti," Edgar buka suara. Para demon Hunter yang sekarang sangat berbeda dengan demon Hunter dulu. Setidaknya walaupun tak bisa bertarung, mereka tidak penakut dan berusaha untuk menjadi lebih baik.


"Fuckk! Padahal aku ingin pensiun!" umpat Abraham dengan raut wajahnya yang selalu tampak marah. "Tapi melihat generasi sekarang, aku jadi ragu!" tatapan Abraham melayang tajam pada Jack dan kedua anak level E itu.


"Senior! Lihat patung itu!" ujar Edgar seraya menunjuk ke arah patung laki-laki yang sedang duduk di kursi. Mata dari patung itu mengeluarkan darah.


"Mundur!" teriak Abraham pada semuanya, lalu ia pun menghancurkan patung itu dengan palu yang dibawanya.


BRAK!


Patung itu tidak hancur, melainkan berubah menjadi sosok pria dengan taring panjang. Wajahnya hitam seperti gosong. Iblis itu, adalah iblis bawah dan tidak memiliki peringkat.


"Senior! Makhluk ini, dia yang sudah memakan teman-teman kami!" ujar seorang demon Hunter level E pada Edgar dan Abraham.


"Pantas saja aku mencium bau yang sangat kotor. Bau yang cocok untuk neraka!" dalam sekali tebasan, Abraham dengan mudahnya mengalahkan iblis itu.


Darah iblis itu muncrat kemana-kemana, namun sama sekali Abraham dan Edgar tidak merasa risih. Mereka sudah terbiasa dengan darah dan kematian. Setelah berhasil memusnahkan iblis di sekitaran portal itu, meskipun ada satu yang kabur. Mereka kembali ke tempat demon Hunter.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Jack tidak sadarkan diri. Tubuhnya pucat dan juga dingin. Jack dibawa ke tempat perawatan demon Hunter.


"Apa yang terjadi pada si bodoh ini?" tanya Abraham pada Greg yang notabenenya adalah seorang Hunter Medis.


"Banyak luka goresan di tangannya. Apakah itu karena dia menggunakan darahnya untuk memancing iblis yang bersembunyi di dungeon? Dia sampai jatuh tidak sadarkan diri." Greg menjelaskan dengan analisisnya sendiri, melihat luka-luka goresan yang ada ditangan Jack.


"Iya, si bodoh itu menggunakan darahnya. Kau rawatlah dia!" ujar Abraham lalu pergi meninggalkan ruangan yang tidak seberapa luasnya itu.


Tak lama kemudian, Jack mulai siuman dan melihat ada Greg disisinya. Greg terlihat ramah, berbeda dengan demon Hunter lainnya.


"Aku dimana?"tanya Jack lirik seraya melihat dinding-dinding diatasnya dan ruangan bercat biru.


"Oh kau sudah siuman, jagoan? Ini markas demon Hunter, kau berada di ruang medis." Kata Greg dengan senyuman ramahnya.


"Senior Greg, sepertinya kita akan akrab."


"Apa?" Greg menatapnya dengan terheran-heran. Apa maksudnya akrab?


Di dunia atas, dunia manusia. Seorang pria dengan topi fedora hitam di kepalanya sedang berjalan mendekati seorang wanita yang terlihat ketakutan.


"Tidak! Saya mohon, jangan sakiti saya tuan! Sa-saya berjanji akan--"


"Pengecut, kau kabur dari demon Hunter itu?" pria itu menebas leher wanita dengan mata berwarna merah terang itu. Dia adalah salah satu iblis yang kabur dari Abraham dan Edgar di portal dungeon.


Tanpa perasaan pria yang terlihat seperti manusia itu, menghancurkan si wanita dengan menjentikkan jarinya saja. Darah wanita itu muncrat kemana-mana.


"Tidak berguna...iblis dan monster yang aku ciptakan tidak boleh takut pada demon Hunter!" kata pria itu dengan wajah marahnya.


Tak lama kemudian, seekor burung gagak besar berwarna hitam berada dihadapannya. Pria itu menatapnya dengan tajam.


"Yang Mulia, berita tentang pemilik darah spesial itu bukanlah rumor semata. Itu adalah fakta! Beberapa iblis dan monster mati karena pemilik darah itu." Burung gagak hitam itu bicara pada si pria bertopi fedora.


"Apa?!" pria itu kaget.


"Jadi dia sudah terlahir kembali. Baguslah, seorang fokuskan serangan pada pemilik darah spesial itu."


"Baik Yang Mulia!"


***

__ADS_1


__ADS_2