Dungeon Demon Hunters

Dungeon Demon Hunters
Bab 15. Perkelahian


__ADS_3

****


Dominic merupakan salah satu Demon Hunter yang memiliki kekuatan angin. Dia merupakan pria yang berambisi dalam membasmi dan memusnahkan iblis serta monster yang ada agar tidak menyerang para manusia. Dia merasa kalau Jack sama sekali tidak pantas menjadi Demon Hunter dan juga mendapatkan senjata legendaris dalam waktu yang singkat. Dia mencoba untuk menghasut beberapa Demon Hunter yang lain.


“Tahu soal Jack, kan?” Dominic berdiri sambil bersandar di dinding bangunan sebuah gang sepi bersama dengan kedua kawannya.


“Kenapa lagi dia?” tanya salah satu kawan Dominic yang tidak suka dengan Jack.


“Dia mendapatkan senjata legendaris dari pak tua Jenox. Aku rasa ini tak adil. Kita lebih dulu jadi Demon Hunter.” Dominic mulai mencekoki kedua temannya dengan perkataan demi perkataan yang menghasut demi mendapatkan dukungan untuk menggusur Jack dari Demon Hunter. Dia benar-benar ingin melukai Jack.


“Ha ha ha ... Sebenarnya mudah saja, kalau kita bersatu pasti bisa menyingkirkan pria itu,” ujar kawan Dominic yang berambut biru muda.


“Ide bagus. Aku akan ikut,” sahut kawan yang berambut cokelat.


Dominic tersenyum menatap kedua kawannya. Hasutan yang dia ucapkan ternyata benar-benar mempan. Kedua kawannya juga benci kepada Jack dan setuju dengan perkataan Dominic untuk menyingkirkan Jack dari Demon Hunter.


Beberapa jam kemudian, saat Jack sedang menikmati sepotong roti, Dominic dan kedua kawannya muncul. Lilian dan Jim tidak bersama dengan Jack waktu itu. Menjadi sebuah kesempatan bagi Dominic untuk melancarkan aksinya tanpa ada Demon Hunter lain yang menghadang.


“Hai, anak baru!” seru Dominic sambil mendekat ke arah Jack.


Jack menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan kalau dirinyalah yang diajak bicara. Dia mengacungkan jari telunjuk ke arah wajahnya sendiri.


“Iya, kau itu!” Pria berambut biru muda itu jadi kesal karena Jack seperti berpura-pura bodoh.

__ADS_1


“Ada apa?” Jack bertanya karena tidak mengenal ketika pria itu dan tidak tahu apa yang ingin mereka lakukan. Meski sesama Demon Hunter, belum tentu semuanya saling mengenal satu dengan yang lain karena memiliki level yang berbeda-beda.


“Sial! Kamu terlihat seperti ini karena dekat dengan para senior, kan?” Dominic mencengkeram erat kerah Jack dan ingin memukul wajahnya. Namun, hal itu terhenti karena ada sesuatu hal terjadi.


Saat yang bersamaan, di Dungeon terlihat cahaya dan asap hitam dalam waktu bersamaan. Iblis berbentuk campuran hewan dengan tubuh seperti manusia, kepala lalat, dan kaki seperti laba-laba itu muncul begitu saja. Suara berdebum membuat Dominic, Jack, dan dua pria lainnya menatap ke arah suara itu. Iblis yang seperti monster bermutasi itu sedang mencari mangsa. Semakin banyak manusia yang dimangsa, akan semakin kuat dirinya.


“Sialan! Iblis itu ... Lihat angka di dahinya,” kata pria berambut cokelat yang merasa khawatir melihat angka tujuh di dahi monster itu.


“Ckkk, kita serang saja sebelum bikin masalah. Oh iya, tenang, ada Jack yang super hebat. Lawan dia, aku ingin tahu seberapa kuat kamu,” ujar Dominic ingin membuat gara-gara pada Jack.


“Aku tidak mengenal kalian tetapi kenapa kalian bertingkah laku menyebalkan seperti ini? Huh! Aku tanpa disuruh oleh kalian pun pasti akan melawan iblis itu! Monster yang muncul di Dungeon maupun dunia manusia harus dimusnahkan sebelum memangsa manusia lebih banyak lagi dan tambah kuat!” Jack merasa heran dengan ketiga pria yang merupakan Demon Hunter juga tetapi seolah-olah begitu membenci dirinya padahal tidak saling kenal.


Jack langsung meraih kapak yang dia letakkan di punggung. Dia berlari menuju monster tersebut. “Hadapi aku dulu!”


Kakinya yang seperti laba-laba membuat gerakan monster itu sangat gesit. Jack terkejut karena monster itu dengan mudah menghindari serangan kapaknya. Bahkan saat ini monster itu sudah berada di belakangnya.


“Cepat sekali,” gumam Jack yang terbelalak saat monster itu langsung menyerangnya balik.


Dominic dan kedua kawannya tertawa. Mereka berpikir kalau iblis itu tidak akan menyerang mereka bertiga, tetapi pemikiran itu dipatahkan begitu saja saat monster itu dengan langkah yang cepat menghampiri ke arah mereka bertiga dan segera menyerang.


“Kalian juga ingin menjadi santapanku, huh?” Monster itu menyeringai memperlihatkan giginya yang berderet runcing, tidak seperti gigi lalat.


Dominic langsung menghindar, sedangkan kedua kawannya terkena serangan. “Sial! Aku kira dia akan melawan Jack saja,” kata Dominic yang paham kalau dirinya saat ini juga berada dalam bahaya.

__ADS_1


“Aaaaarrrgggrhhh! Kakiku!” pekik pria berambut cokelat yang kaki kanannya diinjak oleh iblis berkaki empat pasang atau delapan kaki karena seperti laba-laba.


“Dominic! Tolong!” Pria berambut biru muda meminta bantuan Dominic yang lebih kuat dari mereka berdua.


Dominic justru tidak menolong kedua kawannya saat ini sedang dalam kesulitan. Sedangkan Jack langsung membantu dengan menebas salah satu kaki monster tersebut yang menginjak kaki dari pria berambut coklat. Kapak Jack mengenai kaki monster itu dan dengan cepat salah satu kaki monster itu langsung putus begitu saja.


“Terima kasih, Jack,” ucap pria berambut cokelat yang kesulitan bergerak karena kakinya luka.


Dominic merasa Jack hanya sedang pencitraan. Dia tidak merasa Jack tulus menolong.


Monster itu marah karena merasa sakit salah satu kakinya putus. Dia pun mengamuk dan menyerang secara intens. Dominic memanggil pria berambut biru muda untuk pergi dari tempat itu. “Pergi saja! Iblis itu bukan tandingan kita! Kalau dipaksakan, kita akan mati konyol!”


“Bagaimana ini? Tolong aku! Aku tidak bisa berjalan dengan cepat,” kata pria berambut cokelat yang tertatih-tatih berjalan.


Jack juga merasa kalau monster yang dihadapi saat ini bukan monster biasa dan kekuatannya jauh lebih besar dari yang sebelumnya. “Bantu aku untuk membawa kawanmu! Kita pergi dari sini!” seru Jack meminta Dominic dan pria berambut biru muda untuk membantu membawa pria berambut cokelat yang kakinya luka dan berdarah-darah untuk pergi dari tempat itu.


Namun, Dominic mengabaikan begitu saja dan mengajak kawannya untuk meninggalkan tempat itu. Jack mencoba membantu pria berambut cokelat itu, tetapi monster yang marah karena kakinya putus satu langsung meraih pria berambut cokelat itu untuk dimangsa.


“Tidaak!” Pria berambut cokelat itu berteriak saat tubuhnya menjadi santapan iblis.


“Lari!” Dominic mengajak kawannya yang tersisa lari meninggalkan tempat itu.


Jack terbelalak melihat kejadian itu dan tubuhnya juga terkena darah yang muncrat. Dia tahu kalau berdiri di sana hanya akan setor nyawa, dengan berat hati Jack kabur meninggalkan salah satu Demon Hunter yang dimangsa oleh iblis monster mutasi tersebut. Rasa bersalah membuat Jack menangis. Dia pun menyusul Dominic dan meluapkan emosi. Jack menganggap kematian pria berambut cokelat tadi karena Dominic tidak mau membantu menyelamatkan.

__ADS_1


...****...


__ADS_2