
Stella datang ke perusahaan Cipta Prima. Di lantai bawah ia menemui seorang resepsionis. Untuk meminta resepsionis tersebut mengkonfirmasi kehadirannya di perusahaan tersebut untuk wawancara.
"Nona?"
Sapanya kepada resepsionis.
"Ya, nona ada yang bisa aku bantu?"
Balas resepsionis.
"Aku Stella, aku datang kesini untuk wawancara kerja."
Ucap Stella.
"Oh, kau nona Stella ya? Silahkan, pak Anggara sudah menunggu anda di ruangannya...naik saja ke lantai 40 nona?"
Ucap resepsionis tersebut kaku.
"Baiklah, terima kasih."
Ucap Stella. Resepsionis tersebut hanya memandanginya saja ketika Stella membalikkan badannya dan berjalan menuju lift.
Apa dia calon nyonya besar? Mengapa, pak Anggara sangat peduli kepadanya...sampai beliau memberikan pesan kepadaku.
Ucap resepsionis tersebut dalam hati.
"Haish! Beginilah nasib bawahan, selau ditindas oleh bos pemilik perusahaan."
Ucap resepsionis tersebut dalam hati. Rupanya sebelum pukul 10 Anggara berpesan kepada resepsionis tersebut untuk mempersilahkan seorang pelamar kerja yang bernama Stella untuk segera menemuinya di ruangannya di lantai 40.
Resepsionis tersebut hanya bisa menyetujui keinginan Anggara karena ia pun tidak ingin diperlakukan tidak baik oleh Anggara. Sebagaimana, Anggara telah mengusir sekretarisnya Yuni dari perusahaan tersebut.
Juga, ia tidak ingin mengalami kejadian yang tidak menyenangkan tersebut. Dan, Stella kini sudah berada di lantai 40. Ia melihat kesana kemari, dan ia tidak melihat sekretaris kemarin yang bertingkah sombong di hadapannya.
"Disini aku tidak melihatnya lagi, apakah ia sedang pergi keluar?"
Ucap Stella. Leo yang saat itu melihat Stella tampak bingung pun segera menghampirinya.
"Selamat pagi, nona?"
Sapanya.
"Selamat pagi."
Ucap Stella.
"Apakah, kau nona Stella?"
Ucap Leo.
"Ya."
Ucap Stella.
"Oh, pas sekali...kalau begitu mari langsung saja aku antarkan kau kepada bos!"
Ucap Leo.
"Bos?"
Ucap Stella.
"Maksudku, pak Anggara."
Ucap Leo.
"Oh."
Ucap Stella pendek.
"Mari ikuti aku."
Ucap Leo. Stella pun segera mengikuti langkah kaki Leo membawanya pergi.
"Ke sebelah sini, nona."
Ucap Leo. Dan, Stella hanya mengangguk saja.
"Disini ruangan kantor pak Anggara, nona."
Ucap Leo. Lalu, Leo pun mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Tok...tok...tok."
Tidak lama terdengar suara dari dalam ruangan tersebut.
"Masuk!"
Ucap Anggara yang saat itu sedang duduk di kursi kebesarannya sambil memegang file.
"Pak! Ini nona Stella sudah datang."
Ucap Leo yang merasa segan memanggil pak kepada bos mafia tersebut.
"Baiklah, kau boleh pergi."
Ucap Anggara. Leo segera pergi dari ruangan tersebut dan menutup pintu. Ia meninggalkan Stella disana bersama dengan Anggara.
Stella sedari tadi hanya berdiri saja karena Anggara tidak mempersilahkan dirinya untuk duduk. Stella mengumpat karena ia merasa kakinya cukup pegal sebab high heels yang ia pakai.
"Sialan! Dia tidak memberikan kursi untukku."
Umpat Stella. Anggara mendengarnya dan ia hanya tersenyum.
__ADS_1
Ada masa disaat nanti kau akan merasa nyaman bersama dalam dekapanku...saat itu kau tidak akan merasakan pegal lagi di kedua kakimu itu, Stella.
Ucap Anggara dalam hati.
"Duduklah, nona Stella."
Ucap Anggara.
Akhirnya, dia mengerti juga.
Ucap Stella dalam hati.
"Terima kasih."
Ucap Stella.
"Nona Stella, aku sudah melihat surat lamaran pekerjaanmu...dan, menurutku kau sangat berkualifikasi untuk bekerja di perusahaan ini."
Ucap Anggara. Stella diam dan ia hanya fokus mendengarkan kata-kata Anggara.
"Di mejaku sudah ada kontraknya, dan kau akan menjadi sekretarisku menggantikan posisi Yuni...pelajari dahulu kontaknya dan segera tandatangani jika sudah selesai."
Ucap Anggara.
"Baiklah, pak."
Ucap Stella yang segera saja menandatangani kontrak kerja tersebut begitu saja tanpa membacanya terlebih dahulu. Anggara menunggunya.
"Sudah, pak!"
Ucap Stella.
"Cepat sekali? Apa, kau tidak mempelajarinya dahulu?"
Tanya Anggara.
"Tidak perlu, pak! Ini hanya kontrak kerja saja."
Balas Stella.
Ini hanya kontrak kerja biasa saja...seharusnya tidak ada yang aneh kan? Seperti...membunuh orang?"
Ucap Stella dalam hati.
Sepertinya ia yakin kalau kontrak tersebut tidak ada sesuatu yang janggal...padahal aku menyelipkan beberapa perjanjian yang menyenangkan disana.
Ucap Anggara dalam hati sambil bibirnya tersenyum nakal.
"Baiklah, kalau begitu...mulai besok kau sudah bisa bekerja."
Ucap Anggara sambil tersenyum puas dalam hati.
Kucing Liar kau masuk perangkap!
Ucap Anggara dalam hati.
Ucap Stella. Lalu, Stella berdiri dan ingin menjabat tangan Anggara. Akan tetapi, Anggara tidak mau berjabatan tangan dengannya. Sebab, Anggara tidak ingin Stella mengetahui tentang dirinya.
"Tidak perlu terlalu formal."
Ucap Anggara.
"Oh, kalau begitu aku permisi pak!"
Ucap Stella segera pergi dari ruangan tersebut.
"Dasar, laki-laki aneh."
Ucap Stella setelah keluar dari ruangan itu dan kembali ke apartemennya. Setelah, Stella pergi dari ruangannya Anggara tampak membalikkan badannya dan mengambil surat kontrak yang telah ditandatangani oleh Stella.
Senyum puas serta licik terukir di bibirnya. Leo segera masuk dan melihat bosnya sedang melihat memegang surat kontrak tersebut. Leo sudah menebak apa yang ada dalam pikiran Anggara.
"Pasti ada sesuatu yang tertinggal di dalam surat kontrak tersebut."
Ucap Leo.
"Ya, Loe...kau sngat jeli."
Puji Anggara.
"Kucing kecil sepertinya, tidak akan bisa lepas dari genggamanmu bos!"
Ucap Leo lagi.
"Itu sudah pasti Leo...sekarang pergilah, ikuti dia kemana ia pergi setelah dari perusahaan ini."
Perintah Anggara melihat dari cctv yang terhubung langsung dengan ruangan kantornya.
"Baik, bos!"
Ucap Leo.
"Sekalian, Leo...kau tetap mencari Yuri...kau paham!"
Ucap Anggara.
"Baiklah, bos."
Ucap Leo kemudian segera berlalu dari tempat hadapan Anggara. Untuk mengikuti Stella kemana Stella pergi setelah ia kembali dari perusahaan tersebut.
......................
Apartemen Selasih kota...
__ADS_1
Tampak disana di dalam lobby apartemen tersebut. Seorang gadis muda sedang duduk sambil membaca majalah dan secangkir kopi hitam terhidang di hadapannya.
Ia melihat kesana kemari seperti sedang menunggu kedatangan seseorang. Selang beberapa jam kemudian orang yang ia tunggu sudah berada di hadapannya.
"Kau terlihat duduk santai disini...tidak takut jika, nanti ada pria nakal datang dan menghampirimu."
Ucap Stella.
"Kak Stella."
Ucap Yuri senang. Ternyata, gadis muda tersebut adalah Yuri.
"Aku bosan di dalam apartemen, kakak?"
Ucapnya dengan bibir yang cemberut.
"Haish! Kalau kau bosan, pasti ada hal buruk yang akan terjadi...katakan!"
Ucap Stella.
"Aku ingin keluar malam ini bersama dengan kakak!"
Ucap Yuri.
"Kemana?"
Tanya Stella.
"Night Club!"
Balas Yuri.
"Tidak boleh!"
Ucap Stella.
"Ayolah, kakak? Temanku tadi meneleponku."
Ucap Yuri.
"Aku tidak peduli, Yuri! Siapa pun temanmu dan siapa pun yang meneleponmu."
Ucap Stella teguh pada pendiriannya.
"Please, kakak! Dia berulang tahun hari ini, kakak!"
Ucap Yuri.
"Pesta ulang tahun bisa diadakan di rumah bukan di night club, Yuri."
Ucap Stella cerewet seakan-akan ia tidak ingin jika Yuri menjadi seperti dirinya. Sungguh merupakan pengalaman yang sangat buruk baginya.
Aku tidak ingin ia mengalami masa sulit seperti yang kualami...itu benar-benar buruk.
Ucap Stella dalam hati.
"Tetapi, kakakku sering mengadakan pesta di night club...dan, dia tidak apa-apa."
Ucap Yuri.
"Itu adalah dua hal yang berbeda."
Ucap Stella.
"Berbeda, apanya?"
Tanya Yuri tidak mengerti.
"Kau seorang gadis dan kakakmu seorang laki-laki...sudah pasti, tingkat keselamatan dan kekhawatiran lebih tinggi dirimu jika dibandingkan dengan kakakmu."
Ucap Stella menjelaskan.
"Huh! Aku tidak peduli, aku akan tetap pergi...titik!"
Ucap Yuri keras kepala. Sementara, Yuri dan Stella sedang berbicara dengan serius. Diluar lobby apartemen terlihat Leo sedang mengintip. Dari sana ia dapat melihat Stella sedang berbincang dengan seseorang.
Akan tetapi, Leo tidak dapat melihat wajah seseorang yang sedang berbicara dengan Stella. Tidak lama, ponselnya pun berdering dan ternyata Anggara yang sedang meneleponnya.
🎶🎶🎶
"Ya, bos!"
Sapa Leo.
"Bagaimana, hasilnya."
Ucap Anggara.
"Aku sudah menemukan dimana ia tinggal, bos!"
Ucap Leo.
"Bagus! Kalau begitu, segeralah kau pergi mencari adikku...dan, nanti kau beritahu aku lokasi tempat tinggal Stella."
Ucap Anggara.
"Baik, bos!"
Ucap Leo sambil mematikan ponselnya. Dan, Leo masih memperhatikan Stella yang masih saja berbicara dengan seseorang yang tidak kelihatan wajahnya dengan jelas oleh Leo. Leo mencoba untuk melihatnya dengan jelas.
Namun, ternyata ia tidak bisa melihatnya dengan jelas karena terhalang oleh tubuh Stella. Dan, ia pun segera pergi dari sana karena ia masih memiliki satu tugas lain yang diberikan Anggara kepadanya.
Bersambung...
__ADS_1
EAGLE LADY