EAGLE LADY

EAGLE LADY
Bab 34. Aku Akan Memberimu Hukuman!


__ADS_3

Setelah, peristiwa penghancuran sarang eksklusif tersebut Stella kembali bekerja di perusahaan Cipta Prima. Sudah dua hari ia libur bekerja dan ia juga tidak meminta izin dari Anggara. Hal tersebutlah, yang saat ini sedang dibicarakan oleh mereka berdua.


"Kemana saja, kau pergi selama dua hari ini."


Tanya Anggara.


"Aku pergi menemui nenek di daerah gunung."


Balas Stella berbohong.


"Owh? Kau pergi menemui nenekmu."


Ucap Anggara.


"Iya."


Ucap Stella pendek.


"Lalu, mengapa kau tidak meminta izin dariku."


Ucap Anggara.


"Soal itu...jika, aku meminta izin...kau pasti tidak akan mengizinkannya."


Ucap Stella.


"Oh, apakah kau berpikir aku sepelit itu kepadamu?"


Ucap Anggara.


"Mungkin saja, bukan? Sebab, kau adalah orang yang tidak ingin rugi sedikitpun."


Ucap Stella.


"Jadi, begitu ya anggapanmu...hm, sayang?"


Ucap Anggara sambil menyentuh dagu Stella. Dan, Stella menepis sentuhan tersebut.


"Cih! Tidak usah menyentuhku, pak Anggara? Aku sudah puas merasakannya."


Ucap Stella.


"Merasakan, apa? Apa, kau jangan-jangan disana bersama dengan lelaki lain?"


Ucap Anggara.


"Kalau iya, memangnya mengapa? Apakah, pak Anggara ingin membunuhnya?"


Ucap Stella sambil kemudian bangkit berdiri dari duduknya lalu berjalan keluar dari ruangan Anggara. Tinggallah, Anggara disana dengan sejuta rasa cemburu memenuhi ruang dadanya. Ia pun segera mengambil ponselnya dan menelepon Leo yang saat itu sedang menemani Yuri berbelanja.


🎵🎵🎵


Leo melihat layar ponselnya dan ia melihat kalau Anggara sedang meneleponnya. Ia pun dengan terburu-buru menerima panggilan tersebut.


"Halo, bos!"


Sapanya.


"Leo! Keasyikan apa yang membuatmu begitu lama menerima panggilanku."


Balas Anggara.


"Tidak ada, bos! Hanya menemani nona Yuri berbelanja, bos!"


Ucap Leo.


"Oh, rupanya kau lebih mendengar perintah Yuri daripada aku...padahal aku yang menggajimu."


Ucap Anggara.


"Eh? Bukan begitu, bos! Bukankah, bos yang menyuruhku untuk menemani nona berbelanja?"


Ucap Leo.


"Pandai bersilat lidah juga, kau!"


Ucap Anggara.


"Bukan begitu, bos? Bos jangan marah...nanti, aku akan segera kembali bos bersama nona."


Ucap Leo.


"Tidak perlu! Kau segera selidiki kemana Stella pergi selama dua hari ini."


Perintah Anggara.


"Baik, bagaimana dengan nona bos!"


Ucap Leo.


"Antarkan saja, dia ke kantorku...nanti dia akan pulang bersamaku."


Ucap Anggara.


"Baiklah, bos!"


Ucap Leo lalu segera memutuskan panggilan teleponnya. Ia pun menghampiri Yuri yang saat itu sedang berbelanja pakaian.


"Nona?"


Sapanya kepada Yuri.


"Apa!"


Balas Yuri dingin.


Benar-benar adik bos!


Ucap Leo dalam hati.


"Apakah, nona sudah selesai berbelanja?"

__ADS_1


Tanya Leo.


"Kau lihat saja sendiri...aku sudah selesai atau belum?"


Balas Yuri ketus.


"Hehe, nona kulihat kau sedang berbelanja."


Ucap Leo dan ia pun hanya berdiri saja memperhatikan Yuri yang sedang sibuk berbelanja pakaian untuk dirinya.


Huh! Wanita sangat merepotkan...kalau sudah berbelanja...satu mall akan mereka kelilingi secara keseluruhan...seperti ingin mencari sesuatu yang tidak ada di dunia ini saja.


Ucap Leo dalam hati.


"Mengapa, kau hanya berdiri saja dan diam bagaikam patung disana...ayo, cepat bantu aku berbelanja...kau pilihlah pakaian disana yang sesuai dengan selera kakakku."


Ucap Yuri tiba-tiba kepada Leo.


"Iya, baiklah."


Ucap Leo segera menjalankan perintah Yuri.


"Nona, apakah nona yakin aku dapat memilihkan pakaian untuk bos?"


Ucap Leo.


"Mengapa? Sepertinya kau ini sedang memikirkan sesuatu?"


Ucap Yuri.


"Nona mengetahuinya?"


Ucap Leo.


"Tentu saja, terlihat dari wajahmu...kakakku, meneleponmu bukan."


Tanya Yuri.


"Iya, nona...ada sesuatu hal yang harus aku lakukan."


Ucap Leo.


"Hmph! Kakakku memang tidak pernah membiarkan aku bersenang-senang."


Ucap Yuri.


"Nona, tentu lebih hafal sifat bos daripada aku."


Ucap Leo.


"Ya, berdasarkan sifat kakakku...jika, kau tidak segera melakukan perintahnya...kau akan mendapatkan hukuman!"


Ucap Yuri.


"Hukuman?"


Ucap Leo berkeringat dingin.


Ucap Yuri semakin menambah rasa takut di dalam hati Leo.


"Kalau begitu, nona...kita berangkat sekarang!"


Ucap Leo sambil menarik tangan Yuri segera pergi meninggalkan mall tersebut. Yuri berteriak kesal kepada Leo.


"Eh...belanjaan aku...baju-baju aku...Leo, sialan! Lepaskan tanganku! Dasar, brengsek!"


Ucap Yuri mengumpat penuh kekesalan kepada Leo. Tetapi, Leo tidak peduli dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Yuri. Tujuannya hanya satu segera menyelesaikan urusannya yang diperintahkan oleh Anggara kepadanya.


Leo segera menstarter mobil dan meluncur di jalanan yang mulai padat. Sedangkan, Yuri yang sedang duduk di sebelahnya hanya duduk diam dengan mimik wajah cemberut.


Ia benar-benar sangat kesal dengan tingkah laku Leo. Yang menarik paksa tangannya hingga menyebabkan bekas disana.Leo memahami hal tersebut. Ia pun meminta maaf kepada Yuri.


"Aku minta maaf...telah menyebabkan bekas disana."


Ucap Leo.


"Huh! Kau dan kakakku sama kasarnya...tidak dapat memperlakukan wanita dengan lembut...benar-benar menyebalkan."


Ucap Yuri.


"Oh, apa bos juga merupakan orang yang kasar?"


Ucap Leo.


"Tentu saja."


Ucap Yuri.


"Dia bahkan tega mengusir sekretarisnya dari kantor Cipta Prima selamanya...bukankah dia sangat tidak adil."


Ucap Yuri.


"Tentang masalah itu...aku mengetahuinya...wajar saja sebab, sekretaris tersebut yang lebih dahulu merayunya."


Ucap Leo.


"Apa! Jadi, begitu."


Ucap Yuri terkejut.


"Ya, kau tentu tahu bukan? Bos, memiliki segudang wanita cantik di dalam hidupnya...tetapi, hanya satu wanita saja yang sanggup membuatnya hilang akal."


Ucap Leo.


"Ya, kalau soal itu aku juga mengetahuinya."


Ucap Yuri.


"Kak Stella memang cocok menjadi calon pendamping kakak...bagaimana, menurutmu?"


Ucap Yuri.

__ADS_1


"Ya, menurutku juga begitu...tetapi, kedepannya aku akan menghadapi hari-hari yang sulit nantinya."


Ucap Leo.


"Itu bagus! Sebagai hukuman karena kau sudah menindasku...membuat bekas di tanganku."


Ucap Yuri.


"Bukankah, aku sudah meminta maaf?"


Ucap Leo.


"Kalau maaf berguna untuk apa ada polisi...aku bersumpah kau akan menanggung hukumannya...huh!"


Ucap Yuri kembali memberengut.


Aduh! Kakak dan adik ini benar-benar tidak bisa tenang sedikit saja...mereka selalu saja meledak-ledak...hidupku benar-benar sulit.


Ucap Leo dalam hati. Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya mereka berdua pun sampai di perusahaan Cipta Prima. Leo mengantar Yuri kepada Anggara dan Yuri tiba-tiba menangis sambil memeluk kakaknya.


"Hu...kakak...hiks...hiks..."


Tangis Yuri.


Ah, drama baru sudah dimulai...kali ini habislah aku.


Ucap Leo dalam hati.


"Yuri, ada denganmu...mengapa, kau menangis?"


Tanya Anggara.


"Kakak? Kak Leo...dia sudah menindasku."


Balas Yuri.


"Apa! Leo menindasmu?"


Ucap Anggara. Dan, Yuri menganggukkan kepalanya saja.


"Leo! Apa, yang kau lakukan kepada Yuri!"


Ucap Anggara.


"Eh? Aku bos tidak melakukan apa-apa kepada nona."


Ucap Leo.


"Dia berbohong kakak...dia...dia...menindasku...hu...hiks."


Ucap Yuri lagi.


"Leo! Apa ini! Yuri tidak mungkin berbohong...katakan dengan jelas...apa yang sudah kau lakukan kepadanya!"


Ucap Anggara dengan suara meninggi.


"Bos, aku tidak berbohong bos! Sungguh, aku tidak menindas nona...aku hanya menarik lengannya saja tadi...karena efek, aku ketakutan bos!"


Ucap Leo membela diri.


"Yuri? Apakah, benar yang ia katakan?"


Ucap Anggara.


"Itu benar kakak? Lihat! Bekas ini...dia menarikku dengan paksa tadi...hu."


Ucap Yuri memperlihatkan bekas di tangannya.


"Oh, Leo! Beraninya kau meninggalkan bekasmu di lengan adikku...aku pasti akan memberimu hukuman."


Ucap Anggara marah.


"Ma...maaf, bos! Aku tidak sengaja bos...ampuni aku, bos!"


Ucap Leo.


"Maaf? Boleh saja...lakukan tugasmu sekarang! Nanti, akan aku mempertimbangkan hukumannya untukmu."


Ucap Anggara.


"Ba...baik, bos!"


Ucap Leo segera pergi meninggalkan ruangan tersebut. Leo segera menjalankan perintah dari Anggara. Sedangkan, Anggara melihat Yuri dan melepaskan pelukan Yuri.


"Apa, iblis kecil Yuri sudah puas bermain-main?"


Ucap Anggara.


"Ah, kakak mengetahuinya?"


Ucap Yuri.


"Tentu saja, bagaimana kakak tidak mengetahuinya...kau hanya bermain dan membuat Leo ketakutan...jangan kau ulangi lagi."


Ucap Anggara.


"Siap, bos!"


Ucap Yuri.


"Mari, kakak lihat tanganmu yang berbekas itu."


Ucap Anggara.


"Ini kakak!"


Ucap Yuri. Anggara memperhatikan bekas tersebut lalu Anggara mengoleskan obat disana. Stella memperhatikan apa yang terjadi disana dari balik pintu. Tadinya ia ingin menyerahkan berkas penting kepada Anggara. Akan tetapi, ia mengurungkannya. Sebab, ia menyaksikan fenomena langka terjadi di hadapannya saat ini.


Bersambung...


EAGLE LADY

__ADS_1



__ADS_2