EAGLE LADY

EAGLE LADY
Bab 25. Kedatangan Tetzuya Takamoto


__ADS_3

Seperti yang dbicarakan antara Anggara danTetzuya Takamoto. Mafia nomor satu di Jepang itu pun turun ke Indonesia bersama Natasha. Sosok wanita Indonesia yang baru saja ia nikahi.


Maksud kedatangan Tetzuya Takamoto bersama istri ialah untuk menemui keluarga besar Natasha yang ada di Indonesia. Tetapi, tujuan sebenarnya Tetzuya Takamoto ialah Eagle Lady.


Tetzuya Takamoto bermaksud ingin merekrut Eagle Lady untuk menjadi pengawal pribadi Natasha, istrinya. Tetzuya Takamoto sangat mencintai istrinya. Oleh, sebab itu Tetzuya Takamoto selalu mengedepankan istrinya terlebih dahulu dibandingkan dirinya sendiri.


Begitulah, nilai Natasha di mata Tetzuya Takamoto yang sudah menjalin hubungan selama satu tahun lebih. Tetzuya sudah memahami Natasha sebagaimana Natasha memahaminya.


Dan, Tetzuya Takamoto pun kembali menelepon Anggara ketika ia sudah menjejakkan kakinya dibandara kota Jakarta. Tetzuya saat itu sedang menggandeng tangan istrinya.


"Halo, bos Anggara?"


Sapa Tetzuya.


"Halo juga, tuan Tetzuya."


Balas Anggara.


"Bos Anggara, aku sudah sampai di bandara kota Jakarta."


Ucap Tetzuya.


"Oh, benarkah? Cepat, sekali...padahal baru beberapa hari yang lalu kau meneleponku."


Ucap Anggara.


"Ya, sebab istriku sudah tidak sabar lagi untuk segera kembali ke Indonesia...jadi, jadwal keberangkatan dipercepat."


Ucap Tetzuya.


"Oh, begitu?"


Ucap Anggara.


"Ya."


Ucap Tetzuya pendek.


"Oh, ya...bos Anggara! Seminggu kemudian aku akan segera tiba di kota Medan...setelah, semua urusanku di kota Jakarta telah selesai."


Ucap Tetzuya.


"Kalau begitu, aku akan sangat menantikan kedatanganmu tuan!"


Ucap Anggara dan percakapan itu pun segera berakhir. Apa, yang dikatakan oleh Tetzuya Takamoto memang menjadi kenyataan. Seminggu kemudian, ia datang ke kota Medan untuk menemui Anggara.


Sekaligus, mencari keberadaan Eagle Lady dan meminta kesediaannya untuk menjadi pengawal pribadi Natasha. Tetzuya belum mengatakan kepada Anggara tentang hal lain yang ia urus di kota Medan.


Karena, Tetzuya sudah sampai di kota Medan. Maka, Anggara pun menyeret Stella untuk menemaninya menjemput Tetzuya Takamoto di bandara International Airport Kualanamu, kota Medan.


"Ayolah, sayang? Temani aku menjemput seseorang yang sangat berharga."


Rayu Anggara.


"Pak Anggara? Pekerjaanku sangat banyak sekali...dan, kau masih menyuruhku untuk melakukan hal yang lain?"


Ucap Stella mengatakan banyak alasan.


"Stella sayang, aku akan memberikanmu bonus dan aku akan memberikan cuti selama dua minggu...bagaimana?"


Ucap Anggara. Stella menolak.


"Pak Anggara, kau memiliki banyak kekasih...mengapa, kau tidak meminta bantuan mereka?"


Ucap Stella.


"Aku sudah lama tidak berhubungan lagi dengan mereka."


Ucap Anggara.

__ADS_1


"Oh! Mengapa?"


Ucap Stella. Anggara berjalan dan ke arah Stella yang masih sibuk dengan file-file di tangannya. Lalu, kemudian ia pun memeluk tubuh Stella dari belakang. Stella pun terkejut karenanya.


"Kau pasti sudah mengetahuinya."


Ucap Anggara.


"Oh, aku tidak mengetahuinya."


Ucap Stella.


"Sayang? Jangan, bercanda! Sudah beberapa bulan ini aku sama sekali tidak tertarik dengan wanita yang lain."


Ucap Anggara dan kata-kata Anggara baru saja membuat pipi Stella menjadi merona.


"Oh, ya? Aku tidak percaya kepadamu!"


Ucap Stella.


"Sayang? Percayalah, kepadaku."


Ucap Anggara.


" Apa kau mengetahui sesuatu, pak Anggara? Dulu aku pernah mempercayai seseorang...tetapi, kemudian seseorang tersebut mengkhianatiku...jadi, aku tidak akan terjebak lagi untuk kedua kali."


Ucap Stella sedikit curhat.


"Apa! Jadi, menurutmu aku ini orang yang seperti itu?"


Ucap Anggara dengan nada kecewa sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Stella.


"Siapa tahu, kau juga sama seperti orang itu."


Ucap Stella lagi yakin.


Ucap Anggara kecewa dan meninggalkan Stella disana yang sedang duduk mengerjakan banyak pekerjaan yang diberikan oleh Anggara kepadanya.


Mengapa, kau menyamakan aku dengan orang yang telah mengkhianatimu Stella...tidakkah kau tahu bahwa aku sudah berubah? Dan, untukmu aku rela melakukan apa pun...aku lelaki normal, Stella? Aku juga bisa jatuh cinta...meski kuakui bahwa diriku ini memang bukanlah orang yang baik.


Ucap Anggara dalam hati. Anggara sangat kecewa dengan kata-kata Stella. Akhirnya, ia pun segera menelepon nyonya Ling Hao untuk mencarikannya pasangan untuk menjemput Tetzuya Takamoto.


"Halo, tuan Anggara?"


Sapa nyonya Ling Hao.


"Halo, nyonya Ling Hao?"


Balas Anggara.


"Sudah lama, tuan tidak menelepon! Kukira, tuan sudah lupa denganku dan bisnisku."


Ucap nyonya Ling Hao.


"Ya, nyonya Ling Hao...tidak mungkin aku melupakan wanita-wanita dari rumah hiburanmu itu."


Ucap Anggara sengaja berbicara dengan nada tinggi untuk memancing emosi Stella. Stella, yang mendengar kata-kata Anggara tersebut ia tidak tetap peduli dan bersikap acuh.


"Wah, mereka sangat energik sekali ketika melayaniku."


Ucap Anggara dibarengi dengan tawa khasnya.


"Oh, tentu saja tuan? Mereka adalah wanita terbaik yang sudah teruji oleh anda sendiri, bukan?"


Ucap nyonya Ling Hao.


"Ya, nyonya Ling Hao...mereka sangat pandai sekali dan gerakan mereka sangat emh...mantap sekali."


Ucap Anggara sambil melirik Stella yang masih fokus bekerja. Stella yang sedari tadi hanya diam saja dan tidak peduli dengan percakapan telepon antara Anggara dan nyonya Ling Hao. Seketika, perasaannya dilanda api cemburu yang sangat membara.

__ADS_1


Sudah cukup.


Ucap hatinya.


Stella pun berjalan mendekati Anggara dan langsung merampas ponsel milik Anggara lalu melemparnya ke luar jendela.


"Prakk."


Ponsel itu hancur berkeping-keping. Anggara yang melihat hal di luar dugaan tersebut seketika saja menjadi terkejut.


"Stella sayang? Itu ponselku...mengapa, kau membuangnya?"


Ucap Anggara.


"Pak Anggara? Kau bertanya, mengapa?"


Ucap Stella.


"Sebelum, kau bertanya kepadaku mengapa...maka, sebaiknya kau mengetahui terlebih dahulu mengapa aku melakukan hal tersebut."


Ucap Stella.


"Oh, ya? Jadi, begitu ya? Bukankah, semua hal ini terjadi karenamu."


Ucap Anggara dan Stella mengangguk.


"Lalu, mengapa kau memberikan hukuman kepada ponselku? Ponsel tersebut salah apa, sayang?"


Ucap Anggara.


"Ponselnya tidak bersalah...tetapi, kau yang bersalah pak Anggara."


Ucap Stella sambil menunjuk ke arah wajah Anggara.


"Hei, jangan tunjuk-tunjuk wajahku seperti itu sayang?"


Ucap Anggara.


"Itu terserahku! Oh, ya...aku akan ikut denganmu menjemput orang yang katakan itu."


Ucap Stella.


"Baguslah! Akhirnya, kau setuju juga."


Ucap Anggara dengan wajah gembira.


"Tetapi dengan hal yang baru saja kau katakan tadi kepadaku...bonus serta cuti selama dua mingguku...berikan kepadaku!"


Ucap Stella.


"Baiklah, sayang?"


Ucap Anggara.


Sejujurnya, aku ingin fokus untuk mencari dalang dibalik penculikan adikku...tetapi, apa boleh buat! Lelaki ganas ini memaksaku untuk melakukan hal yang lain bersamanya...benar-benar, aku berada di antara pilihan yang sulit.


Ucap Stella dalam hati.


Urusan untuk mencari adikku menjadi tertunda karena ulah si lelaki ganas ini...ditambah lagi dengan teka-teki yang terdapat di topi milik adikku...sebenarnya itu lambang apa?


Ucap Stella lagi dalam hati. Sejak Stella meninggalkan panti asuhan tempat ia menitipkan sang adik. Stella sangat merindukan adiknya tersebut bahkan ia sampai memeluk topi milik adiknya itu.


Saat itulah, ia melihat ada sebuah lambang yang tertinggal di dalam topi tersebut. Ia sudah memeriksanya dengan seksama, akan tetapi ia tidak menemukan apa-apa. Selain hanya kebuntuan saja yang dapat ia temukan.


Bersambung...


EAGLE LADY


__ADS_1


__ADS_2