EAGLE LADY

EAGLE LADY
Bab 32. Sarang


__ADS_3

Stella merasa senang dan puas sekali malam itu. Dibawa Anggara berkeliling kota Medan di malam hari. Anggara benar-benar memanjakan Stella. Dan, Stella merasa sangat bahagia. Akan tetapi, rasa bahagianya itu terusik oleh nasib sang adik yang tidak jelas dimana keberadaannya sekarang.


Oleh sebab itu, ia pun segera bergerak dan menyelidiki jaringan dua nama yang telah membawa adiknya pergi dari panti asuhan. Ia pun segera bergerak menuju satu tempat yang telah ia hancurkan sebelumnya. Ia menuju puing-puing panti asuhan tersebut untuk mencari sebuah petunjuk dimana keberadaan sarang yang diketuai oleh dua nama tersebut.


"Aku harus bisa menemukan dimana sarang mereka...agar bisa menyelamatkan adikku."


Ucap Stella.


"Akan tetapi, rasanya ini sangat rumit sekali...sepertinya, aku harus menjadi salah satu anggota mereka...untuk menemukan adikku."


Ucap Stella.


"Rubella mengatakan kepadaku...mereka sedang merekrut anggota baru...kebanyakan anggota yang direkrut adalah remaja."


Ucap Stella.


Untuk itu aku harus menyamar...kebetulan aku dapat menyamar menjadi seorang gadis remaja.


Ucap Stella dalam hati. Stella melakukan rencananya, ia pun menyamar dan mengubah penampilannya menjadi seorang gadis remaja berusia 17 tahun.


Wow! Penampilan menipu ini benar-benar bagus...siapa yang menyangka jika ini adalah gadis dewasa berusia 20 tahun lebih sedikit.


Ucapnya lagi dalam hati takjub.


"Saatnya masuk ke dalam sarang."


Ucap Stella sambil menemui seseorang lelaki berusia 20 tahun yang bertugas merekrut anggota baru dari dua nama tersebut. Terjadi, perbincangan kecil diantara mereka berdua. Dan, Stella diterima oleh seorang lelaki tersebut. Sejak itu, dimulailah petualangan kecil Stella di sarang musuh tersebut.


"Kalau dilihat tempat yang disebut "sarang" tersebut berhubungan dengan penelitian para ilmuwan...mereka adalah orang-orang bayaran dua nama itu."


Ucap Stella.


"Apakah, mereka sengaja membawa anak-anak panti ke sarang...demi menjadikan mereka objek penelitian?"


Ucap Stella.


"Ya, kau benar!"


Ucap lelaki yang menerima Stella menjadi anggota.


"Kau?"


Ucap Stella terkejut.


"Ya, aku? Mengapa, kau begitu terkejut."


Ucap lelaki tersebut.


"Tidak? Hanya saja kau muncul tiba-tiba."


Ucap Stella.


"Aku memang suka muncul tiba-tiba...apa, kau penasaran dengan "sarang?"


Ucap lelaki tersebut.


"Tentu saja, aku penasaran dan ingin tahu."


Ucap Stella.


"Bingo! Mari, aku tunjukkan."


Ucap lelaki tersebut. Stella dan lelaki tersebut berjalan menyusuri lorong demi lorong. Langkah kaki lelaki tersebut membawa Stella ke sebuah ruangan rahasia milik lelaki tersebut.


Tempat apa ini?


Ucap bathin Stella.


"Ini adalah tempat rahasiaku."


Ucap lelaki tersebut.


"Tempat rahasia? Ini malah terlihat seperti tempat persembunyian."


Ucap Stella.


"Ya, kau benar! Disini adalah merupakan tempat...dimana aku menyembunyikan anak-anak panti...yang akan dijadikan subjek penelitian."


Ucap lelaki tersebut.


"Maksudmu?"


Tanya Stella tidak mengerti.


"Aku akan jujur kepadamu...setiap sebulan sekali mereka selalu membutuhkan satu anak...untuk dijadikan subjek penelitian."


Ucap lelaki tersebut.


"Agar mereka tidak menjadi korban...aku menyembunyikan mereka semua disini...lalu aku membawa mereka keluar dari sini."


Ucapnya.

__ADS_1


"Dan, kau tahu tempat ini sangat buruk untuk mereka."


Ucap lelaki tersebut.


Tidak kusangka, ternyata lelaki ini masih memiliki hati.


Ucap Stella dalam hati.


"Lalu, selama aksimu itu...apa, kau pernah ketahuan?"


Tanya Stella.


"Pernah satu kali...dan itu hampir saja."


Balas lelaki tersebut.


"Hampir saja?"


Ucap Stella.


"Ya, jika bukan aksi seorang remaja yang menyelamatkanku...mungkin, aku sudah mati sekarang."


Ucap lelaki tersebut menjelaskan.


"Remaja? Siapa, dia? Apa, kau mengenalnya."


Ucap Stella.


"Ya, aku sangat mengenalnya...dan, dengar-dengar...dia adalah subjek penting penelitian."


Ucap lelaki tersebut.


Mengapa, aku merasa kalau remaja yang dikatakannya itu adalah adikku.


Ucap Stella dalam hati.


"Lalu, dimanakah remaja itu sekarang...apa dia ada disini."


Tanya Stella.


"Dia tidak ada disini...dia ada di "sarang eksklusif."


Jawab lelaki tersebut memberitahu.


"Sarang eksklusif?"


Ucap Stella.


Ternyata masih ada "sarang" lain selain sarang ini rupanya...aku harus bisa masuk ke "sarang eksklusif" tersebut...agar aku dapat memastikan jika remaja tersebut...benar adalah adikku.


Ucap Stella dalam hati.


Tanya lelaki tersebut dan Stella terkejut mendengar kata-kata lelaki tersebut. Segera, saja ia langsung bergerak. Stella mengambil pisau yang terselip di pinggangnya dan ia pun mengancam lelaki tersebut.


"Kau ini terlalu banyak bicara...serta terlalu tahu maksudku...apa, kau cari mati!"


Jawab Stella.


"Hei...hentikan! Jangan, bunuh aku...aku bisa membawamu masuk ke "sarang eksklusif."


Ucap lelaki tersebut.


"Oh, benarkah? Haruskah, aku mempercayaimu?"


Ucap Stella sambil menggoreskan pisau tajamnya di leher lelaki tersebut dan menekan tubuhnya ke dinding. Lelaki tersebut merasakan sakit di bagian lehernya yang tergores pisau Stella.


"Tolong lepaskan, aku...kau bisa mempercayaiku."


Ucapnya meyakinkan Stella.


"Percaya tidak, dengan satu gerakan saja...maka sedari tadi kau sudah mati."


Ucap Stella.


"Ah, sangat bagus jika kau tidak melakukannya."


Ucap lelaki tersebut sambil melihat Stella yang masih menekannya di dinding.


"Hmph! Baiklah, aku melepaskanmu!"


Ucap Stella.


"Sebagai gantinya, tunjukkan jalan menuju sarang eksklusif."


Ucap Stella.


"Bagus sekali...aku juga ingin kesana."


Ucap lelaki tersebut.


"Kau, mau apa kesana?"

__ADS_1


Tanya Stella.


"Apalagi, kalau bukan menjadi penyelamat anak-anak itu."


Ucap lelaki tersebut.


"Kau bukan menjadi penyelamat mereka...malah kau akan menjadi beban bagi mereka."


Ucap Stella.


"Wah, kau belum tahu saja...tentang keahlianku...nanti, setelah kau melihatnya...maka persepsimu tentangku akan berubah."


Ucap lelaki tersebut.


"Kalau begitu berusahalah."


Ucap Stella.


"Ayo, jalan! Tunjukkan kepadaku."


Ucap Stella.


"Kita bergerak malam hari saja...tengah hari begini...jika kita bergerak...maka, akan mudah terlihat oleh pasukan pengintai mereka."


Usul lelaki tersebut.


"Baiklah, terserah kau saja."


Ucap Stella akhirnya menyetujui usulan dari sang lelaki. Stella tidak paham dengan lelaki tersebut. Apa motifnya, ia menyelamatkan para anak-anak panti. Akan tetapi, kenyataannya dia juga merekrut para orang baru untuk memperkuat basis pertahanan dua nama itu.


Dan, lagi asal usul lelaki tersebut pun tidak jelas. Lelaki itu tampaknya bukan orang sembarangan menurut Stella. Karena, disaat ia dibawah ancaman pisau Stella. Ia masih dapat bersikap tenang. Meskipun tadi sempat pisau Stella mengiris bagian lehernya. Tetapi, lelaki tersebut dengan berani bermain kata-kata dengan Stella.


......................


Dis sisi lain, perusahaan Cipta Prima...


Anggara sedang berjalan kesana kemari. Sebab, ia merasa bingung Stella tidak masuk kerja hari ini. Ia berpikir apakah kemarin ada kata-katanya yang salah. Sehingga, menyebabkan Stella marah dan tidak masuk kerja.


"Ck, kemana si kucing liar itu...dia tidak masuk kerja hari ini?"


Ucap Anggara. Tiba-tiba, seseorang masuk ke dalam runagan kantornya.


"Bos Anggara?"


Ucap Tetzuya.


"Tuan Tetzuya?"


Ucap Anggara terkejut.


"Mengapa, bos Anggara terkejut seperti itu?"


Tanya Tetzuya.


"Ah, tidak apa-apa tuan?"


Balas Anggara.


"Kelihatannya bos Anggara sedang memikirkan sesuatu."


Ucap Tetzuya.


"Tidak, tuan..aku tidak sedang memikirkan sesuatu."


Ucap Anggara mengelak.


"Benarkah? Jikalau, begitu bisakah kita membicarakan masalah bisnis kita?"


Ucap Tetzuya.


"Bisa, mengapa tidak?"


Ucap Anggara. Akan tetapi, tiba-tiba saja ponsel Tetzuya bergetar.


"Drrt."


Ada pesan masuk dari seseorang. Tetzuya melihat isi pesannya.


"Bos! Eagle Lady bersamaku...rencananya sudah matang...malam ini...menghapuskan dua nama."


Isi pesan tersebut. Dan, Tetzuya pun membalas pesan tersebut.


"Hancurkan!"


Isi pesan Tetzuya kepada anak buahnya tersebut. Anggara terdiam sejenak ketika Tetzuya sedang mengurus urusannya.


"Nah, bos Anggara! Bagaimana, dengan urusan bisnis kita saat itu."


Ucap Tetzuya memulai pembicaraan bisnis dengan Anggara. Dan, Anggara untuk sementara waktu harus mengesampingkan urusan asmaranya terlebih dahulu. Bagaimana pun urusan bisnis lebih penting sebab untuk menjalin kerjasama dengan Tetzuya Takamoto tersebut tidaklah mudah. Mengingat Tetzuya merupakan mafia Jepang nomor satu di negaranya.


Bersambung...

__ADS_1


EAGLE LADY



__ADS_2