EAGLE LADY

EAGLE LADY
Bab 22. Tetzuya Takamoto


__ADS_3

Setelah meruntuhkan kekuasaan Raymond. Dunia hitam menjadi heboh. Sebab, hal tersebut menjadi perbincangan hangat di seluruh dunia hitam.


Apalagi, adanya campur tangan seorang pemunuh bayaran handal dan berbahaya, Eagle Lady. Membuat kelompok mafia kecil lainnya menjadi ketakutan.


Dan, tidak ingin ikut campur dalam urusan mafia yang diketuai oleh Anggara. Selain itu, permusuhan antara Eagle Lady dan Anggara tampaknya untuk sementara waktu telah berakhir.


Sebab, Anggara tidak ingin mempermasalahkan hal tersebut. Yang terpenting bagi Anggara adalah Yuri telah kembali ke kediaman keluarganya dalam keadaan selamat.


Dan, itu sudah cukup bagi Anggara. Ditambah, saat ini ia sedang memberi hukuman kepada Yuri. Yuri tidak diizinkan keluar dari kediaman. Apalagi, hanya sekedar untuk berbelanja saja. Yuri sangat kesal kepada kakaknya itu.


Kediaman keluarga Anggara...


"Kakak! Kau tidak adil kepadaku!"


Ucap Yuri kesal dan memberengut.


"Apanya, yang tidak adil?"


Ucap Anggara.


"Bukankah, kau sudah cukup bersenang-senang...dan, menghabiskan uangku?"


Ucap Anggara dengan tatapan tajam.


"Huh! Bukankah, hal itu wajar...aku menghabiskan uangmu!"


Ucap Yuri.


"Ya, itu wajar jika kau hanya berbelanja untuk dirimu sendiri...aku tidak heran! Akan tetapi, kau juga memakai uangku untuk berbelanja hal yang lain."


Ucap Anggara.


"Katakan kepadaku, selebihnya dari hasil belanjaanmu tersebut...kau berbelanja hal lain apalagi? Atau, siapakah orang yang kau ajak untuk menghabiskan uangku."


Ucap Anggara mulai perhitungan.


"Kakak? Bukankah, uangmu juga uangku...jadi, bukankah aku juga boleh memakai uangmu dan menghabiskannya."


Ucap Yuri asal.


"Ya, tetapi tidak termasuk orang lain ikut menghabiskannya."


Ucap Anggara kesal.


"Kakak? Kau perhitungan sekali...yang ikut menghabiskan uangmu juga bukan orang lain."


Ucap Yuri. Dan, kata-kata Yuri kali ini membuat Anggara berpikir.


Sesungguhnya kemana arah pembicaraan Yuri ini.


Ucap Anggara dalam hati.


"Apa, maksudmu?"


Ucap Anggara.


"Kekasihmu juga ikut menghabiskan uangmu denganku...apakah, kau menghitungnya juga?"


Ucap Yuri menyudutkan.


"Kekasih? Kekasih, yang mana yang kau maksud! Aku memiliki banyak kekasih!"


Ucap Anggara.


"Aku tahu, kakak memiliki banyak kekasih...dan, kakak Stella merupakan kekasih kakak juga, bukan?"


Ucap Yuri langsung ke inti pembicaraan membuat Anggara menelan ludah beberapa kali dengan ekspresi wajah terkejut.


Gawat! Darimana,Yuri mengetahuinya? Hubunganku dengan Stella sebenarnya...apa saja yang sudah dilakukan oleh Yuri...sampai-sampai urusan pribadiku dia juga mengetahuinya.


Ucap Anggara dalam hati.


"Melihat ekspresi kakak, sepertinya hal tersebut benar...apa, kakak ingin menyangkalnya?"


Ucap Yuri lagi. Anggara terbatuk-batuk.


"Uhuk...uhuk...Si...siapa yang mengatakannya? Dia hanya pegawai di perusahaan...itu saja."


Ucap Anggara menyangkal.


"Pegawai? Benarkah? Kemarin, itu aku melihat kakak keluar dari apartemen kak Stella di pagi hari...apakah, itu termasuk urusan antara pegawai dan atasan?"


Ucap Yuri. Lalu, akhirnya Anggara pun menyerah.


"Ck, sudahlah Yuri! Tidak perlu berbicara omong kosong...kau ingin berbelanja, bukan? Pergilah."


Ucap Anggara sambil memberikan izin.


Yes! Akhirnya, berhasil!


Ucap Yuri dalam hati.


"Yeay! Terima kasih, kakak!"


Ucap Yuri sambil berlalu pergi dari hadapan Anggara. Ia pergi berbelanja dengan ditemani Leo. Sekaligus, Yuri ingin menemui Stella di apartemennya.


Ternyata, adikku dan Stella memiliki hubungan pertemanan yang lumayan dekat...Kucing liarku ini benar-benar luar biasa.


Ucap Anggara dalam hati.


"Leo juga sudah pernah mengutarakan pendapatnya...tetapi, ketika itu aku tidak percaya."


Ucap Anggara dan tidak lama kemudian ponselnya berbunyi. Dan, seseorang yang tidak terduga menelepon dirinya.


🎶🎶🎶

__ADS_1


Ia pun segera menerima telepon tersebut. Ketika, ia tahu bahwa seseorang tersebut adalah orang yang telah menjalin kerjasama dengan dirinya.


"Halo, tuanTetzuya Takamoto."


Sapanya.


"Halo, bos Anggara."


BalasTetzuya.


"Bagaimana, kabar anda tuan?"


Ucap Anggara.


"Aku sangat baik, dan bagaimana dengan kabar anda bos Anggara?"


Ucap Tetzuya.


"Aku juga, sangat baik."


Ucap Anggara.


"Sepertinya, hari-hari anda sangat beruntung belakangan ini...sampai-sampai berita tentang anda pun mengguncang dunia hitam."


Ucap Tetzuya.


"Itu tidak benar, tuan...itu adalah berita yang dibesar-besarkan."


Ucap Anggara merendahkan diri.


"Oh, benarkah? Anda terlalu merendahkan diri bos Anggara...bagaimana pun, anda hebat...aku tidak salah menjalin kerjasama dengan anda."


Ucap Tetzuya.


"Terima kasih, atas pujiannya kalau begitu tuan."


Ucap Anggara.


"Oh, ya? Dalam beberapa hari ke depan aku dan istriku akan datang ke Indonesia."


Ucap Tetzuya.


"Apa! Benarkah, tuan? Anda sudah menikah?"


Ucap Anggara.


"Ya, baru saja beberapa hari yang lalu."


Ucap Tetzuya.


"Kalau begitu, selamat untuk pernikahan anda...sesampainya di Indonesia saya akan menjamu anda beserta istri, tuan?"


Ucap Anggara.


Ucap Tetzuya.


"Lalu, apakah anda tidak akan singgah ke kota Medan?"


Ucap Anggara.


"Aku akan singgah...ada hal menarik yang membuatku berminat."


Ucap Tetzuya.


"Kalau boleh tahu, apakah hal yang anda maksud tuan?"


Ucap Anggara penasaran.


"Saatnya tiba kau akan tahu, bos Anggara!"


Ucap Tetzuya.


"Baiklah, kalau begitu...sampai nanti tuan."


Ucap Anggara memutus teleponnya.


Mafia Jepang itu menyembunyikan sesuatu dariku...sebenarnya, apa sesuatu yang begitu menarik perhatiannya.


Ucap Anggara dalam hati. Anggara terus berpikir sehingga ia melupakan waktu. Bahwa, waktu untuk Yuri berbelanja telah habis. Yuri menyempatkan diri untuk mengunjungi Stella di apartemennya.


Awalnya, Leo sebagai bodyguard Yuri sudah mengingatkan akan segera kembali ke kediaman. Akan tetapi, Yuri tidak mau. Yuri bersikeras untuk menemui Stella terlebih dahulu sebelum pulang.


Dan, Leo terpaksa mengalah. Sebab, Yuri mengancam dirinya. Jadilah, Leo menuruti kemauan Yuri. Meskipun, ia tahu ia sudah melanggar perintah Anggara.


"Kakak Stella!"


Ucap Yuri sambil memencet bel. Tidak lama kemudian Stella pun membukakan pintu.


"Yo, kakak Stella."


Ucap Yuri sambil memeluk Stella.


"Ah, kau datang kesini...kau baru saja lepas dari bahaya, bukan?"


Ucap Stella.


"Iya, kakak."


Ucap Yuri.


"Yuri, kau datang kesini bersama siapa?"


Ucap Stella sambil menutup pintu dan menyebabkan kepala Leo terbentur pintu.


"Bam."

__ADS_1


"Aduh! Kejamnya, calon istri bos!"


Ucapnya seraya mengusap keningnya yang terbentur pintu.


"Bersama dengan kak Leo, orang kepercayaan kakak."


Ucap Yuri.


"Lalu, dimana dia?"


Ucap Stella.


"Itu, tadi sewaktu kakak menutup pintu dia ingin masuk kesini bersamaku...kepalanya mungkin terbentur pintu."


Ucap Yuri.


"Ow, benarkah? Mengapa kau tidak bilang, Yuri?"


Ucap Stella.


"Hihihi...aku sengaja, kakak? Ingin memberi pelajaran kepadanya."


Ucap Yuri. Dan, Stella hanya menggelengkan kepalanya saja sambil berjalan dan membuka pintu untuk Leo.


"Masuklah!"


Ucap Stella.


"Terima kasih, calon nyonya?"


Ucap Leo.


"Apa!"


Ucap Stella sambil menatap tajam Leo. Leo menelan air liurnya sendiri.


"Glup."


"Sa...salah, ya?"


Ucap Leo.


Tidak bos...tidak calon nyonya bos...mereka berdua sama saja...mereka benar-benar memiliki tatapan mata mengerikan...seakan-akan ingin mengulitiku hidup-hidup.


Ucap Leo dalam hati. Stella tersenyum.


"Tidak salah...ulangi sekali lagi, maka kau akan mati!"


Ancam Stella. Lagi, Leo berada dalam keadaan yang mengenaskan.


"Glup."


"Tidak, calon nyonya? Eh, salah...tidak, nona Stella."


Ucap Leo dan Yuri hanya tersenyum saja. Setelahnya, Yuri dan Stella mengobrol berdua. Dan, Leo hanya bisa menjadi pendengar yang baik bagi Yuri dan Stella.


Sebab, kedua wanita tersebut tidak memberinya izin untuk berbicara. Leo bagaikan patung di hadapan Yuri serta Stella. Sampai akhirnya, satu telepon dari Anggara membuatnya terkejut.


🎶🎶🎶


"Telepon dari, bos!"


Ucap Leo.


"Nona Yuri, telepon dari bos."


Ucap Leo memberitahu.


"Angkat saja."


Ucap Yuri.


"Tetapi, nona? Bos terlihat seperti singa lapar ketika ia sedang marah...dan, aku takut berbicara dengannya."


Ucap Leo.


"Apa sudahnya berbicara dengan, kakak! Mengapa, kau begitu takut terhadapnya."


Ucap Yuri.


"Nona Yuri, kau tahu bukan kakak nona...dia akan mengulitiku hidup-hidup...jadi, tolonglah aku nona."


Ucap Leo.


"Ck, kau sangat menyebalkan! Berikan, ponselnya."


Ucap Yuri.


"Biar aku saja yang berbicara."


Ucap Stella sambil mengambil ponsel Leo dari tangan Yuri. Leo dan Yuri menjadi terkejut. Mereka tidak tahu hal apa yang akan terjadi selanjutnya. Apabila Stella yang menerima telepon dari Anggara.


Akan tetapi, mereka berdua pun tidak dapat berbuat apa-apa. Sebab, Stella sudah memulai pembicaraannya dengan Anggara melalui ponsel Leo.


Aduh, mampus aku.


Ucap Leo dalam hati. Leo berkeringat dingin. Sedangkan, Yuri ia pun tampak tidak tenang. Karena, Stella sedang berbicara dengan Anggara dengan mengggunakan ponsel Leo.


Yuri sangat mengenal siapa itu kakaknya. Anggara seorang lelaki pencemburu. Ia tidak akan melepaskan siapa pun yang berani berdekatan dengan wanita miliknya. Yuri dan Leo berharap cemas tidak akan terjadi sesuatu yang membuat Leo kehilangan nyawanya.


Bersambung...


EAGLE LADY


__ADS_1


__ADS_2