
Anggara sedang berada di dalam ruangan kantornya. Tiba-tiba, saja ponselnya berdering dan ia pun melihat layar ponsel serta menerima panggilan tersebut.
🎶🎶🎶
"Halo, bos!"
Sapa Leo.
"Bicara!"
Ucap Anggara.
"Bos, aku sudah mendapat berita mengejutkan."
Ucap Leo.
"Seberapa mengejutkannya itu sampai kau mengganggu pekerjaanku!"
Ucap Anggara.
"Hehe, bos! Ini ada hubungannya dengan si kucing liar milik bos itu."
Ucap Leo.
"Jangan, cengengesan Leo!"
Bentak Anggara kesal.
"Maaf, bos!"
Ucap Leo.
"Jika, dia sudah tahu maka aku tidak akan sungkan lagi "
Ucap Anggara.
"Baik, bos!"
Ucap Leo sambil memutuskan sambungan teleponnya. Anggara pun tersenyum licik sambil menekan nomor ponsel Raymond. Sepertinya kali ini Anggara akan mencari masalah dengan Raymond.
Tidak lama kemudian, ponsel Anggara kembali berdering. Anggara melihat layar ponselnya dan disana tertera nomor tidak dikenal. Anggara menggerutu kesal.
🎶🎶🎶
"Nomor tidak dikenal?"
Ucapnya.
"Siapa, yang meneleponku dengan nomor baru?"
Ucap Anggara mengabaikan telepon tersebut. Ia membiarkannya saja sampai ponselnya berhenti berdering. Anggara merasa lega setelah ponselnya berhenti berdering. Akan tetapi, tidak lama kemudian ponselnya kembali berdering. Dan, kali ini mau tidak mau Anggara pun menerima telepon tersebut.
"Halo!"
Sapanya dengan nada tinggi.
"Pak...pak Anggara?"
Ucap satu suara di seberang sana.
"Ya, bicara!"
Ucap Anggara emosi.
"Pak Anggara, jangan marah dulu...saya menelepon bapak karena saya ingin mengajukan kerjasama dengan perusahaan, bapak."
Ucap suara tersebut yang tidak lain adalah pemilik toko ponsel yang berbicara hal penting dengan Yuri kemarin.
"Kau ini siapa? Beraninya, kau bicara bisnis denganku...padahal aku tidak mengenalmu!"
Ucap Anggara kesal.
"Bapak memang tidak mengenal saya...tetapi, saya mengenal adik bapak."
Ucap pemilik toko ponsel.
Adik? Apa, Yuri yang dimaksud orang ini? Apalagi yang dilakukan adik nakalku itu.
Ucap Anggara dalam hati.
"Adik?"
Ucap Anggara.
"Ya, pak Anggara...adik bapak...nona Yuri."
Ucap pemilik toko ponsel.
"Apa! Yuri!"
Ucap Anggara terkejut.
"Ya, nona Yuri...kemarin, ia datang ke toko ponsel saya untuk membeli ponsel."
Ucap pemilik toko ponsel.
"Apa! Datang ke toko ponsel?"
Ucap pemilik toko ponsel.
__ADS_1
Ya, pak! Dan, kemarin ia sempat ribut dengan seseorang pembeli di toko ponsel saya."
Ucap pemilik toko ponse membeberkan semua kejadian yang berlangsung di tokonya kemarin. Sampai akhirnya menawarkan kerjasama dengan Yuri untuk berbisnis ponsel.
"Oh, jadi begitu? Ya, sudah! Berikan alamat bisnis toko ponselmu...aku akan segera datang kesana."
Ucap Anggara dengan mimik wajah kesal.
"Baik, pak!"
Ucap pemilik toko ponsel dan memutuskan sambungan teleponnya.
Si adik nakal Yuri ini semakin banyak tingkah lakunya...dia sengaja melakukan semua ini...agar aku sibuk sepanjang waktu dan tidak sempat melakukan sesuatu yang lain.
Ucap Anggara dalam hati.
"Saatnya menangkap si adik nakal dan membawanya pulang!"
Ucap Anggara segera keluar dari ruangan kantor. Sebelumnya, ia menitipkan pesan kepada Stella untuk mengurus sementara urusan perusahaan. Dan, Stella pun menyanggupinya.
Dia mau pergi kemana? Terlihat terburu-buru sekali...dan biasanya dia suka menggangguku...tetapi, hari ini tidak...apa, ada masalah?
Ucap Stella dalam hati.
"Ck, apa sih yang kupikirkan? Untuk apa peduli dengan lelaki menyebalkan itu."
Ucap Stella. Kemudian, bekerja kembali sesuai dengan instruksi dari Anggara. Sedangkan, Anggara pergi bersama Leo untuk mengurus masalah yang ditimbulkan oleh Yuri.
"Berani sekali, adik nakalku berbuat begini kepadaku!"
Ucap Anggara kesal.
"Nona Yuri adalah adikmu, bos! Tentu saja, hanya dia yang berani melakukan hal ini kepadamu, bos!"
Ucap Leo.
"Ya, dia memang adikku! Dia memang suka melakukan hal ini untuk menarik perhatianku sekaligus membalas dendam kepadaku!"
Ucap Anggara.
"Nona pasti sangat mendendam kepada, bos! Sebab, bos tidak memberinya izin untuk keluar dari kediaman."
Ucap Leo.
"Itu sudah pasti! Cepat mengemudinya, Leo! Aku ingin segera menangkap adik nakalku itu!"
Perintah Anggara.
"Baik, bos!"
Ucap Leo menuruti kata-kata Anggara untuk mempercepat laju kendaraannya.
"Lalu, bos! Bagaimana urusan dengan Raymond."
Ucap Leo.
Ucap Anggara.
Yuri ini, benar-benar membuat masalah...sebelum dia semakin menambah masalah untukku di kemudian hari...alangkah baiknya jika aku segera membawanya kembali pulang ke kediaman.
Ucap Anggara dalam hati.
......................
Apartemen Selasih kota...
Yuri sedang berada di dalam apartemennya. Ia tersenyum sendiri ketika ia mengingat kejadian kemarin saat ia berada di toko ponsel.
Ia tidak menyangka jika, pemilik toko ponsel ingin menjalin kerjasama bisnis dengannya. Yuri menyetujui kerjasama bisnis dengan pemilik toko ponsel.
Akan tetapi, ia malah mengalihkan urusan bisnis tersebut kepada kakaknya, Anggara. Yuri sengaja melakukan hal tersebut untuk membalas Anggara.
"Hihihi...kakak, pasti sedang kesal sekarang! Bagaimana, tidak? Urusan perusahaan belum selesai ditambah dengan urusan lain yang sedang menunggu."
Ucap Yuri.
"Ah, senangnya hatiku."
Ucap Yuri.
Kakak? Inilah balasanku, nikmatilah.
Ucap Yuri dalam hati. Ketika, Yuri sedang senang dengan keberhasilannya bermain trik dengan kakaknya. Anggara, telah sampai di depan apartemen tempat tinggal Yuri selama ini.
"Bos! Ini apartemen yang menjadi tempat tinggal nona Stella juga, bos!"
Ucap Leo.
"Oh, iya kau pernah mengatakannya kepadaku!"
Ucap Anggara.
"Apa, nona Stella mengenal nona Yuri bos!"
Ucap Leo.
"Dengan wataknya yang begitu angkuh serta suka meninggikan dirinya...mana mungkin, adikku mau berhubungan dengan kucing liarku?"
Ucap Anggara tidak percaya.
__ADS_1
"Oh, iya...benar juga, bos!"
Ucap Leo.
"Naik dan temukan adikku!"
Perintah Anggara.
"Kalian dengar! Cepat, bertindak!"
Ucap Leo meneruskan perintah Anggara kepada seluruh anak buah yang dibawa oleh Anggara. Lalu, semuanya pun segera pergi naik ke lantai atas.
Anggara mengikuti mereka dari belakang bersama dengan Leo. Sesampainya, di depan pintu apartemen Yuri. Anggara memerintahkan mereka untuk mendobrak pintu apartemen tersebut.
"Dobrak!"
Perintah Anggara. Lalu, mereka semua pun mendobrak pintu apartemen tersebut. Tidak lama, pintu itu terbuka. Dan, Anggara masuk ke dalam apartemen tersebut yang ternyata sudah kosong.
Hanya terdapat beberapa perabotan yang masih lengkap disana. Anggara menarik nafas lelah, sekaligus bercampur rasa kesal. Sebab, Yuri memang sudah memperhitungkan segalanya.
"Bos!"
Ucap Leo.
"Apartemennya kosong."
Ucap Anggara.
"Lalu, bos!"
Ucap Leo.
"Kita kembali."
Perintah Anggara.
Yuri benar-benar adik nakalku yang pintar...sangat pintar bermain strategi denganku...dia pasti sudah merencanakan semuanya dengan matang...dia memang pantas sebagai adik mafia kelas atas Internasional.
Ucap Anggara dalam hati. Lalu, Anggara pun kembali bersama dengan anak buahnya ke markas. Anggara tidak kembali ke perusahaan. Karena, hari sudah sore dan jam kerja kantor pun sudah selesai.
Dan, Stella pun sudah kembali ke apartemen. Ia sangat terkejut ketika ia melihat pintu apartemen Yuri rusak parah. Ia masuk ke dalam dan memeriksa. Dan, ternyata di dalam kosong tidak ada Yuri di dalam sana.
Apa, dia diculik orang? Gadis muda itu, kasihan sekali...aku harus mencarinya.
Ucap Stella berbalik arah untuk mencari Yuri. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering.
🎶🎶🎶
Stella segera menerima telepon tersebut.
"Halo?"
Sapanya.
"Kakak? Ini aku, Yuri."
Ucap Yuri.
"Eh? Ini dirimu? Kau dimana, aku tidak melihatmu disini...dan, pintu apartemenmu rusak...apa kau diculik?"
Ucap Stella panik.
"Hum? Tidak kakak! Aku baik-baik saja, aku pindah apartemen...lihat! Aku di sebelah apartemenmu!"
Ucap Yuri sambil melambaikan tangannya dan mematikan ponselnya.
"Hai, kakak!"
Ucap Yuri.
"Syukurlah! Aku mengira kau diculik."
Ucap Stella dan Yuri menggeleng pelan.
"Lalu, itu ulah siapa?"
Tanya Stella.
"Siapa lagi? Kalau bukan ulah, kakakku...dia pasti sedang kesal sekarang!"
Ucap Yuri.
"Kakakmu? Bukankah, hal itu berlebihan?"
Ucap Stella.
"Kakak? Bagi, kakakku tidak ada yang berlebihan...semua terlihat tidak ada apa-apanya bagi dirinya."
Ucap Yuri.
"Dia pasti orang yang sangat hebat...sehingga dia tidak takut untuk menghancurkan harga diri orang lain."
Ucap Stella.
"Hehe...kakak? Kau benar sekali...sudahlah, tidak perlu memikirkan dia...mari kita makan perutku sangat lapar."
Ucap Yuri mengajak Stella untuk mengisi perut. Stella pun mengiyakan ajakan Yuri. Stella sangat nyaman saat bersama dengan Yuri. Dan, ia sudah mengaggap Yuri sudah seperti adiknya sendiri.
Bersambung...
__ADS_1
EAGLE LADY