EAGLE LADY

EAGLE LADY
Bab 14. Jadilah Sekretarisku Yang Baik


__ADS_3

Lobby apartemen Selasih kota...


Pagi-pagi sekali stella sudah bangun dari tidurnya. Segera ia mandi dan mempersiapkan diri untuk bekerja di hari pertama di perusahaan Anggara.


Ia bertemu dengan Yuri di lobby apartemen. Ia bertegur sapa sekedarnya dengan Yuri. Setelahnya, ia pun bergegas berangkat bekerja.


"Kakak! Semoga sukses ya, di hari pertama."


Ucap Yuri memberi semangat.


"Pasti!"


Ucap Stella segera berlalu dari hadapan Yuri untuk berangkat bekerja. Stella tidak gugup atau pun panik, sebab memang begitulah karakternya. Tetapi, ia terlalu dingin jika berhadapan dengan orang lain. Memang begitulah karakternya sebagai pembunuh bayaran. Tidak memiliki perasaan.


Namun, akhirnya ia harus dapat berbaur dengan dunia kerja yang berbeda. Jadi, ia harus belajar untuk bersikap lebih ramah dan terbuka dengan sesama rekan kerja dan juga pimpinan perusahaan. Sekarang, Stella sudah sampai di perusahaan Cipta Prima.


Ia segera menuju lantai 40 dimana ia akan ditempatkan sebagai sekretaris. Stella sudah sampai di lantai 40. Dan, tanpa ia sangka ia bertemu dengan Anggara disana dan ia pun terkejut. Stella sama sekali tidak tahu siapa itu Anggara di lingkungan perusahaan tersebut.


"Kau?"


Ucap Stella.


"Ya, aku! Mengapa, kau terkejut?"


Ucap Anggara sambil tersenyum manis.


"Bisa-bisanya aku selalu bertemu denganmu."


Ucap Stella kesal.


"Wah, kalau begitu ini yang dinamakan jodoh!"


Ucap Anggara dengan senyum di bibir manisnya.


"Jodoh kepalamu! Aku hanya sial jika bertemu denganmu."


Ucap Stella sambil berlalu dan segera masuk ke ruangan kerja Anggara.


Wah, kucing liarku sedang kesal.


Ucap Anggara dalam hati.


Kalau begitu, mari berikan ia kejutan yang akan membuatnya mengeluarkan cakar serta taringnya.


Ucap Anggara lagi dalam hati. Dan, menyusul Stella masuk ke dalam ruangan kerjanya. Alangkah terkejutnya Stella ketika ia sedang menunggu pimpinan perusahaan tersebut. Yang muncul adalah Anggara, sosok lelaki yang telah membuatnya sangat kesal.


"Kau? Mengapa, kau masuk kesini...ini ruang pimpinan."


Ucap Stella.


"Memangnya mengapa? Ini kan ruangan kerjaku?"


Ucap Anggara yang membuat Stella menjadi terkejut untuk ke sekian kalinya.


"Apa! Ruangan kerjamu? Berarti, kau adalah pimpinan perusahaan ini."


Ucap Stella.


"Ya."


Ucap Anggara.


"Kalau begitu, aku tidak jadi bekerja di perusahaan milikmu!"


Ucap Stella kemudian segera pergi dari sana. Akan tetapi, Anggara segera bertindak cepat. Ia menghadang langkah Stella untuk pergi dari ruangannya.


"Kau tidak boleh pergi."


Ucap Anggara.


"Kau tidak bisa memaksaku."


Ucap Stella.


"Oh, apa kau pikir aku tidak bisa memaksamu?"


Ucap Anggara.


"Coba saja!"


Ucap Stella sambil bersiap untuk menyerang Anggara. Melihat hal itu, maka Anggara pun meladeni Stella dengan memberikan syarat kepada Stella.


"Serius?"


Ucap Anggara.


"Tentu saja."


Ucap Stella.

__ADS_1


"Dengan syarat!"


Ucap Anggara.


"Aku tidak butuh syarat!"


Ucap Stella yang kemudian menyerang Anggara terlebih dahulu. Anggara pun menghindar dari serangan Stella. Hampir saja Anggara tidak dapat menghadapi Stella dengan mudah.


Tetapi, bagaimana pun hukum lelaki sebagai pemimpin bagi kaum wanita tetap berlaku. Anggara dapat mengimbangi kelincahan dan kecepatan Stella dalam bertarung. Sekaligus, ia juga dapat memukul mundur Stella.


"Dhuakk."


"Dess."


"Akh!"


Sayang sekali, aku memukulnya...dia memang kucing liar...tidak mudah ditaklukkan...inilah yang aku suka darinya.


Ucap Anggara dalam hati.


"Sialan!"


Ucap Stella.


"Bagaimana pun, dengan penampilan feminim mu ini bagaimana kau akan bisa mengalahkanku?"


Ucap Anggara dengan senyum bangga.


"Kurang ajar! Mulutmu memang perlu dirobek!"


Ucap Stella marah.


"Kalau begitu, seranglah aku!"


Ucap Anggara. Mendengar kata-kata Anggara yang semakin menganggapnya remeh. Stella semakin emosi. Ia pun menerjang Anggara dengan kakinya. Namun, serangannya tidak berhasil. Karena, Anggara menangkap kakinya.


"Kau! Lepaskan kakiku!"


Ucap Stella.


"kakimu ini mulus juga, masih sama dengan malam itu."


Ucap Anggara sambil mencium kaki Stella.


"Dasar! Kau pria mesum!"


Ucap Stella. Lalu, Stella pun mengeluarkan sesuatu dari saku baju kerjanya. Itu adalah cambuk khusus yang biasa ia gunakan saat ia bertarung dengan musuh-musuhnya. Ia melecutkan cambuknya, akan tetapi cambuknya pun berhasil ditangkap oleh Anggara.


Ucap Anggara.


"Jangan harap!"


Ucap Stella marah yang kemudian melepaskan kakinya dari tangkapan tangan Anggara. Namun, Stella masih kurang lincah dan gesit dari Stella. Melalui tali cambuk tersebut, Anggara menarik tali cambuk ke depan sehingga tubuh Stella menabrak tubuhnya.


"Brakk."


Anggara tersenyum.


"Apa, kau sedang menggodaku?"


Ucap Anggara.


"Siapa yang menggodamu! Minggir, dan biarkan aku pergi!"


Ucap Stella.


"Kalau begitu, mengapa kedua tanganmu memegangku?"


Ucap Anggara.


"Katakan saja! Jika, kau memang...


Ucap Anggara tidak melanjutkan kata-katanya sambil memeluk tubuh Stella secara tiba-tiba. Stella terkejut dan ia pun meronta minta dilepaskan.


"Lepaskan!"


Ucap Stella.


"Ssst! Diam! Ruanganku tidak kedap suara."


Ucap Anggara berbisik di telinga Stella sehingga membuat telinga Stella menjadi merah karena ulah Anggara. Untuk sementara Stella pun diam dan tidak bersuara.


"Nah, begitu baru bagus."


Ucap Anggara.


"Aku sudah diam sesuai dengan permintaanmu! Sekarang, bicaralah."


Ucap Stella ketus.

__ADS_1


"Em? Ternyata kau itu pemarah dan keras kepala, ya?"


Ucap Anggara.


"Jangan membuang waktuku!"


Ucap Stella lagi.


"Baiklah."


Ucap Anggara sambil melepaskan pelukannya.


"Duduklah dengan tenang, dan kita bicarakan semuanya...mengenai kontrak kerja yang telah kau tandatangani."


Ucap Anggara. Stella mendengarkan kata-kata Anggara. Ia duduk di hadapan Anggara.


"Memangnya, mengapa dengan kontraknya."


Ucap Stella.


"Disini tertulis dengan jelas, nona kucing liar yang ganas? Bahwa kau sepakat untuk bergabung dan bekerja di bawah naungan perusahaan Cipta Prima."


Ucap Anggara.


"Aku bukan kucing liar yang ganas! Lalu?"


Ucap Stella kesal.


"Apabila, kau selaku pihak kedua membatalkan kontrak kerja maka kau harus membayar kompensasi sebesar 10 milyar rupiah."


Ucap Anggara dengan senyum kemenangan terlukis di sudut bibirnya.


"Apa! Kompensasi 10 milyar rupiah? Apa, kau sudah gila!"


Ucap Stella.


"Terlihat sekali kalau kau sudah menjebakku!"


Ucap Stella.


"Siapa, yang menyuruhmu tidak mempelajari kontraknya terlebih dahulu...bukankah, aku sudah menyuruhmu untuk mempelajarinya?"


Ucap Anggara.


"Ck, kau sangat menyebalkan! Bisa dikatakan ini adalah rencanamu!"


Ucap Stella dengan sorot mata tajam.


"Itu benar!"


Ucap Anggara.


Kurang ajar! Dia menjebakku, seandainya saja saat itu aku mempelajarinya dulu...mungkin masalahnya tidak akan sampai seperti ini.


Ucap Stella dalam hati.


Tidak ada cara lain! Memang aku harus bekerja dengannya...lagipula aku tidak memiliki uang untuk membayar kompensasi tersebut...karena, semua uangku sudah habis dan hanya tersisa 50 juta rupiah saja.


Ucap Stella dalam hati.


"Mengapa, kau berpikir terlalu lama?"


Ucap Anggara sambil memperhatikan Stella yang sedari tadi hanya diam saja.


"Ck, baiklah...aku akan bekerja di perusahaanmu."


Ucap Stella akhirnya.


"Bagus, kalau begitu."


Ucap Anggara tersenyum.


Lihatlah senyumnya itu, benar-benar menyebalkan!


Ucap Stella lagi dalam hati.


"Dan, posisimu sekarang adalah sebagai sekretarisku...jadilah, sekretarisku yang baik dan menurut kata-kataku."


Ucap Anggara sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Hmph! Silahkan, bermimpi saja!"


Ucap Stella kemudian segera pergi dari ruangan Anggara sambil membanting pintu dengan keras.


"Brakk."


Anggara terkejut, kemudian akhirnya ia pun tertawa lebar melihat wajah Stella yang kesal luar biasa. Anggara merasa menang dengan permainan yang ia ciptakan sendiri. Dimana ia sanggup, membuat seorang Stella berada di dalam genggamannya.


Bersambung...

__ADS_1


EAGLE LADY



__ADS_2