EAGLE LADY

EAGLE LADY
Bab 28. Penculikan Anak Perempuan


__ADS_3

Setelah acara makan malam bersama tersebut selesai. Sesuai janjinya, Stella mengantar Yuri kembali ke kediaman. Sedangkan, Stella tidak ingin kembali ke apartemen. Ia masih penasaran dengan dua nama yang menjadi dalang dibalik hilangnya sang adik.


Maka, ia pun segera menghubungi seseorang yang sebenarnya tidak boleh ia hubungi. Seseorang, yang pekerjaannya menjual informasi dan bertukar informasi dengan dirinya dahulu. Sewaktu ia masih menjadi salah satu anak buah Peter.


Calling...


Dan, tidak lama kemudian terdengar suara seseorang di seberang sana.


"Halo?"


Sapanya.


"Rubella, ini aku."


Balas Stella.


"Aku tahu."


Ucap Rubella.


"Bagaimana, kau bisa tahu kalau ini aku?"


Ucap Stella.


"Seseorang yang memiliki kebiasaan meneleponku tengah malam...adalah dirimu...bukan orang lain, Stella atau lebih tepatnya...Eagle Lady."


Ucap Rubella.


"Ya, kau benar...ini aku."


Ucap Stella.


"Sudah kuduga! Kau adalah orang yang sulit mengatur jadwal tidur ketika kau...sedang mengalami kesulitan dalam menjalankan misimu."


Ucap Rubella.


"Ya, kau sudah tahu kebiasaanku."


Ucap Stella.


"Katakan! Informasi apa yang kau inginkan."


Tanya Rubella.


"Informasi tentang dua nama."


Balas Stella.


"Siapa, dua nama itu?"


Ucap Rubella.


"Simon dan Angela."


Ucap Stella.


"Apa! Simon dan Angela?"


Ucap Rubella terkejut.


"Ya, mengapa kau terkejut?"


Tanya Stella.


"Dua nama itu, informasi mereka berdua sangat rahasia."


Balas Rubella.


"Sangat rahasia, katakan kepadaku...serahasia apa informasi tentang mereka."


Ucap Stella.


"Hoi, Stella! Apa, kau yakin kau ingin bermain api."


Ucap Rubella.


"Sudah kepalang basah, bukankah harus mandi sekalian?"


Ucap Stella.


"Akan aku berikan informasi tentang mereka...tetapi, ini tidak semudah itu."


Ucap Rubella.


"Aku tahu, katakan berapa uang yang kau minta."

__ADS_1


Ucap Stella.


"500 juta rupiah."


Ucap Rubella.


"Apa! Mengapa, begitu mahal...hanya untuk informasi kedua cecunguk sialan itu!"


Ucap Stella.


"Tentu saja, sebab informasi mereka akan kau dapatkan secara akurat...lagipula uang tersebut akan gunakan sebagai jaminan untuk nyawaku."


Ucap Rubella akhirnya.


"Baiklah, beri aku waktu satu minggu."


Ucap Stella.


"Oke!"


Ucap Rubella sambil memutuskan sambungan teleponnya. Setelah, selesai menelepon Rubella tersebut. Stella menjadi pusing, sebab ia harus mendapatkan uang sebanyak 500 juta rupiah hanya demi informasi kedua nama tersebut.


"Masalah memang tidak pernah selesai...darimana aku harus mendapatkan uang?"


Pikirnya.


"Dahulu, uang begitu mudah kudapatkan dengan menjalankan misi membunuh...coba, aku brosing dahulu di internet...mungkin aku akan mendapatkan sesuatu yang berharga disini."


Ucap Stella. Lalu, Stella pun berselancar di dunia maya. Ia mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mendapatkan uang. Akan tetapi, setelah sekian jam ia berselancar di dunia maya tersebut.


Tidak ada hal menarik yang bisa ia dapatkan disana. Kecuali, hanya iklan-iklan berbagai macam produk rumah tangga. Stella pun dibuat frustasi dan ia pun melempar ponselnya begitu saja.


"Seharusnya aku tahu bahwa dunia maya hanya berlaku...bagi para remaja...bukan bagiku yang seorang pembunuh profesional."


Ucap Stella lagi.


"Akh, sudahlah! Lebih baik kembali ke apartemen...besok aku harus masuk kerja lagi."


Ucap Stella akhirnya kembali ke apartemen dengan wajah kusut. Ia harus bekerja keras agar mendapatkan informasi dari Rubella sang pencari informasi yang sudah berkeliaran di dunia hitam.


Namun, Stella tidak mau terburu-buru dalam mengambil setiap langkah penting dalam hidupnya. Stella selalu berusaha untuk tidak salah melangkah dalam menganbil satu keputusan.


"Apa, aku harus kembali ke dunia hitam sekali lagi?"


"Jika, aku kembali maka sudah tidak ada lagi jalanku untukku kembali...demi adikku...aku rela mempertaruhkan hidupku."


Ucapnya gamang. Stella terus berpikir keras apakah ia harus kembali atau tidak ke dunia hitam yang begitu penuh dengan darah dan api dendam. Kemungkinan, setelah ia kembali maka ia akan menerima dendam dari golongan hitam yang pernah ia usik.


Dan, memang mau tidak mau ia harus menghadapinya. Dan, sekali lagi ia pun kembali terjun ke dunia hitam yang penuh dengan deru api senjata yang terus berdesing seiring waktu.


......................


Kediaman tuan Wijaya di Medan...


Tuan Wijaya adalah seorang pebisnis handal di daerah Jawa. Ia adalah orang kaya nomor 1 di Jawa. Ia datang ke kota Medan untuk berlibur sekaligus mengunjungi sanak keluarganya di kota Medan.


Akan tetapi, tidak disangka kedatangannya ke kota Medan menjadi bencana bagi dirinya beserta keluarganya. Sebab, anak perempuannya yang masih berusia 10 tahun diculik oleh sekelompok penculik terkenal di kota Medan.


Dan, kelompok tersebut menginginkan uang tebusan sebesar 1 milyar untuk nyawa anak dari tuan Wijaya tersebut.Tentu saja tuan Wijaya menjadi panik karena hal tersebut.


"Apa! 1 milyar?"


Ucapnya terkejut.


"Ya, bukankah kau ingin anak perempuanmu selamat? Jadi, uang bukankah masalah bagimu?"


Ucap penculik.


"Ba...baiklah, aku setuju...aku akan memberikan uang tebusannya."


Ucap Wijaya.


"Hahaha...baguslah, kalau begitu tuan Wijaya...nanti tempat penyerahannya uangnya akan aku kabari lagi."


Ucap penculik.


"Ingat! Jangan, menelepon polisi."


Ucap penculik tersebut mengingatkan tuan Wijaya. Kemudian, memutuskan sambungan teleponnya. Dan, istri beserta anggota seluruh keluarganya menjadi penasaran. Lalu, bertanya kepada dirinya.


"Bagaimana, mas Wijaya?"


Ucap sang kerabat tersebut.


"Penculiknya minta tebusan 1 milyar."

__ADS_1


Ucap Wijaya lemas.


"Apa! 1 milyar? Itu uang yang sangat banyak, mas?"


Ucap kerabatnya lagi.


"Ya, mau bagaimana lagi...demi nyawa anak perempuanku...aku rela kehilangan apa pun...asalkan nyawanya selamat."


Ucap Wijaya.


"Hu...hiks...Icha...anakku Icha."


Ucap istri Wijaya terisak.


"Sudahlah, bu! Do'akan anak kita baik-baik saja."


Ucap Wijaya.


"Berdo'a katamu? Salah siapa, sehingga anak kita diculik?"


Ucap istri Wijaya marah.


"Jika, kau tidak sibuk dan mempedulikan perempuan itu...nasib Icha tidak akan begini...dia tidak akan diculik!"


Ucapnya lagi semakin marah.


"Bu, kuakui itu salahku...tetapi, tidak baik jika kau mengatakannya di hadapan keluarga kita...aku malu, bu?"


Ucap Wijaya.


"Biar saja kau malu, agar kau mengerti apa itu tanggung jawabmu terhadap keluargamu...jangan, hanya karena dia hidupku dan putriku menjadi menderita."


Ucap istri Wijaya.


"Sudah, mbakyu! Istighfar, mbak...sing sabar."


Ucap kerabatnya.


"Mas, sebaiknya urusan ini jangan dibiarkan berlarut-larut...jika, urusan Icha sudah selesai...maka, mas harus menyelesaikan urusan yang ada di rumah tangga, mas."


Ucap kerabatnya lagi mengingatkan.


"Iya, dik."


Ucap Wijaya.


"Ya sudah, kapan penculiknya telepon lagi mas?"


Ucap kerabatnya.


"Tidak tahu, dia bilang akan mengabariku."


Ucap Wijaya.


"Masalah, jadi semakin rumit seperti ini."


Ucap kerabatnya lagi.


"Istirahatlah! Tidak perlu kau pikirkan...ini masalahku sendiri."


Ucap Wijaya.


"Bukankah, mas saudaraku...masa aku diam saja, sih mas?"


Ucap kerabat Wijaya.


"Sudah, aku bisa mengatasi semua ini."


Ucap Wijaya.


"Baiklah, kalau begitu mas."


Ucap sang kerabat segera pergi dan masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Di dalam kamar sang kerabat tersebut tidak bisa tidur. Ia terusik dengan masalah yang dihadapi oleh tuan Wijaya. Ia berharap dapat membantunya sebisa mungkin.


Oleh sebab itu, secara diam-diam ia menghubungi satu organisasi yang berhubungan dengan dunia hitam. Ia pun meminta jasa dari orang tersebut untuk menyelamatkan Icha dari tangan sang penculik.


Tetapi, ternyata mereka menolaknya mentah-mentah. Sebab, mereka merupakan organisasi pembunuh bayaran. Bukan, organisasi penyelamatan yang seperti ada di dalam pikiran sang kerabat tersebut.


Akhirnya, sang kerabat pun putus asa dan tidak tahu lagi cara apa yang digunakan untuk menolong keponakannya itu.


Bersambung...


EAGLE LADY


__ADS_1


__ADS_2