EAGLE LADY

EAGLE LADY
Bab 38. Syarat Stella Untuk Yuri


__ADS_3

Tetzuya dan Natasha berjalan masuk ke dalam toko tersebut dimana saat itu Anggara masih ada disana bersama dengan pasangan pura-puranya.


"Bos Anggara?"


Sapanya. Dan, Anggara terkejut menyadari Tetzuya disana bersama dengan Natasha.


"Eh? Tuan Tetzuya?"


Ucap Anggara.


"Tidak kusangka...ternyata bos Anggara sangat suka berakting dan menyakiti perasaan pasangan."


Ucap Tetzuya.


"Bu...bukan seperti itu, tuan Tetzuya...saya hanya bermain-main saja."


Ucap Anggara.


"Bermain-main? Kalau, begitu bos Anggara ada waktu luang...ayo, temani kami berbelanja oleh-oleh di sini."


Ucap Tetzuya.


"Berbelanja oleh-oleh? Apakah, tuan akan segera kembali?"


Ucap Anggara.


"Ya, sudah cukup lama meningglkan Jepang...tidak tahu gejolak apa yang terjadi di Jepang."


Ucap Tetzuya.


"Oh, tampaknya masalah anda dengan kelompok mafia Korea Selatan belum berakhir."


Ucap Anggara.


"Ya, mereka masih saja mencari masalah denganku."


Ucap Tetzuya.


"Aku yakin...masalah tersebut...tuan, pasti dapat menyelesaikannya."


Ucap Anggara.


"Kuharap juga begitu."


Ucap Tetzuya.


"Kalau begitu...jika, tuan membutuhkan bantuanku...maka aku akan ada untuk, tuan."


Ucap Anggara.


"Terima kasih, bos Anggara...nanti, jika aku membutuhkannya aku pasti akan menelepon anda."


Ucap Tetzuya.


"Baiklah, ayo kutemani berbelanja oleh-oleh...di mall ini ada banyak sekali."


Ucap Anggara.


"Bos Anggara, pilihkan saja oleh-oleh yang terbaik...pasti istriku akan sangat menyukainya."


Ucap Tetzuya.


"Iya, bos Anggara? Pilihkan saja, yang terbaik."


Ucap Natasha.


"Baik...ayo kesana, disana banyak sekali menjual oleh-oleh khas Indonesia."


Ucap Anggara mengajak Tetzuya beserta istrinya berbelanja oleh-oleh khas Indonesia. Sedangkan, di sisi lain Stella benar-benar sangat marah dengan perlakuan Anggara kepadanya.


Bisa-bisanya, Anggara dalam satu hari berani mengencani dua wanita yang berbeda. Dan, hal tersebut berlangsung di hadapannya.


"Apa itu? Dasar, buaya darat! Dia berani berkata-kata hal menjijikkan seperti itu kepadaku...benar-benar."


Sungutnya kesal.


"Dan, rubah itu juga...ia sangat menyebalkan...bagaimana, bisa ia tersenyum seperti itu tanpa rasa bersalah sedikit pun!"


Ucapnya emosi. Dan, Yuri melihat Stella sedang kesal karena ulahnya. Ia tersenyum sendiri melihat raut wajah Stella yang sedang kesal.


Hihihi...kakak? Rencanamu berjalan dengan lancar...dan, hasilnya sungguh luar biasa...kak Stella benar-benar kesal karenamu.


Ucap bathin Yuri.


"Lebih baik aku hampiri saja, kak Stella."


Ucap Yuri sambil berjalan mendekati Stella yang sedang kesal.


"Kak Stella?"


Sapa Yuri dari belakang.


"Yuri?"

__ADS_1


Ucap Stella.


"Kak, aku mohon maaf kak atas perbuatan kak Anggara kepadamu."


Ucap Yuri dengan raut wajah bersalah.


"Yuri? Mengapa, kau meminta maaf? Yang bersalah bukan dirimu...yang bersalah adalah kakakmu...yang seharusnya meminta maaf adalah kakakmu bukan kau."


Ucap Stella lembut.


"Tetapi, dia kakakku...bukankah aku juga sama bersalahnya dengan dia bukan kakak?"


Ucap Yuri.


"Yuri? Bagaimana, menjelaskannya kepadamu."


Ucap Stella.


"Kakak tidak perlu menjelaskan apa-apa kepadaku...aku lapar...mari ikut aku untuk membeli makanan."


Ajak Yuri sambil menarik tangan Stella dan membawanya ke salah satu restoran favoritnya yang ada di dalam Mall tersebut.


"Di sini, kakak? Disini ada banyak makanan favorit aku."


Ucap Yuri bersemangat.


"Ya, mari kita masuk ke dalam."


Ucap Stella. Yuri dan Stella segera masuk ke dalam restoran tersebut. Yuri memesan seluruh makanan favoritnya. Dan, Stella hanya diam memperhatikan.


"Wah, banyak sekali yang kau pesan...apa, tidak sekalian dengan restorannya saja."


Ucap Stella setelah mendengar Yuri memesan seluruh makanan yang ada di restoran tersebut.


"Haha...kakak? Kau berlebihan...ini pesanan yang biasa saja...belum lagi termasuk restorannya."


Ucap Yuri.


"Oh, jadi apakah kau juga memiliki rencana untuk membeli restorannya?"


Ucap Stella.


"Um? Kakak...saat itu kak Anggara marah kepadaku...sebab, aku melakukan bisnis dengan pemilik toko ponsel...dan, aku menggunakan namanya."


Ucap Yuri sambil berpikir.


"Lalu, apa yang terjadi kemudian? Apa, kakakmu yang menyebalkan itu...marah kepadamu?"


"Ya, dia tidak hanya marah kepadaku...bahkan dia tidak memperbolehkan aku keluar dari rumah."


Balas Yuri.


"Wow, kejam sekali...dia mengurungmu di rumah...ck...ck...ck."


Ucap Stella.


"Tetapi, sekarang aku sudah merdeka."


Ucap Yuri.


"Ya, aku melihatnya...saking merdekanya...kau bahkan membantunya untuk berakting dengannya."


Ucap Stella tiba-tiba membuat Yuri menjadi terkejut.


"Um? Kakak! Bagaimana, kakak mengetahuinya?"


Ucap Yuri.


Hegh! Aku seorang pembunuh bayaran...hal apa yang tidak aku ketahui...memang pura-pura...tetapi, berhasil membuatku benar-benar kesal.


Ucap Stella dalam hati.


"Tentang itu adalah ra...ha...sia."


Ucap Stella tersenyum.


"Oh."


Ucap Yuri pendek. Lalu, tidak lama kemudian makanan pesanan Yuri sudah tiba di hadapan mereka. Yuri menatap makanan tersebut sampai air liurnya menetes. Stella yang melihat hal tersebut reflek memberikan tissue kepada Yuri.


"Pakai itu! Kau meneteskan air liurmu sendiri."


Ucap Stella.


"Eh? Terima kasih, kak Stella."


Ucap Yuri sambil menerima tissue dari Stella.


"Huh! Dasar!"


Ucap Stella dan Yuri hanya tersenyum saja. Yuri segera menyantap makanan tersebut. Ia mempersilahkan Stella juga untuk mencicipinya tetapi Stella sedang tidak berselera makan.


"Kakak? Ayo, kita cicipi makanan ini kakak?"

__ADS_1


Ucap Yuri.


"Kau saja yang makan, Yuri! Kakak, sedang tidak berselera makan."


Ucap Stella menolak.


"Oh, apakah karena kejadian tadi kakak?"


Ucap Yuri langsung menebak.


"Bukan hanya itu, tetapi karena kau juga...untuk apa kau ikut-ikutan dalam sandiwara palsu tersebut."


Ucap Stella kesal.


"Kakak? Soal itu, bisakah kakak kesampingkan terlebih dahulu."


Pinta Yuri.


"Boleh saja? Tetapi, ada syaratnya."


Ucap Stella.


"Eh? Syarat? Apa, syaratnya kakak."


Ucap Yuri.


"Setiap hari kau harus bangun pagi."


Ucap Stella.


"Hah? Untuk apa, kakak?"


Ucap Yuri.


"Apa lagi? Kalau bukan untuk mengantarku pergi bekerja setiap hari."


Ucap Stella akhirnya.


"Apa! Kakak? Apa, kau bercanda."


Ucap Yuri.


"Aku tidak bercanda! Siapa, yang menyuruhmu untuk mengikuti kata-kata kakakmu."


Ucap Stella.


"Ya, baiklah kalau begitu kakak?"


Ucap Yuri.


"Ya sudah, cepat habiskan makananmu...sebelum keburu dingin."


Ucap Stella. Yuri menatap mata dengan wajah yang memberengut kesal. Sedangkan, Stella hanya tersenyum saja melihatnya.


Haha...dia sangat lucu ketika ia sedang marah.


Ucap Stella dalam hati.


"Tidak perlu, tertawa! Sama sekali tidak lucu."


Ucap Yuri senakin kesal.


"Hahaha...sudahlah, jangan marah terus! Nanti, kulit wajahmu akan cepat keriput."


Ucap Stella.


"Huh, kalau kulit wajahku keriput...aku akan meminta kompensasi dari kakak!"


Ucap Yuri.


"Kompensasi? Ya, nanti bisa dibicarakan...itu pun kalau kulit wajahmu memang keriput."


Ucap Stella tidak mau kalah.


"Ihh...kakak? Mengapa, kau tidak mau mengalah?


Ucap Yuri.


"Untuk apa aku harus mengalah dengan seorang adik dari, pak Anggara!"


Ucap Stella.


"Kakak?"


Ucap Yuri. Stella tertawa terbahak-bahak melihat Yuri tidak dapat membalas kata-katanya. Dan, Yuri memang mengakui kalau memang dia tidak akan bisa mengalahkan Stella dalam hal perdebatan. Akhirnya, Yuri mengaku kalah dan menyesal sudah membuat Stella terluka dalam urusan menyangkut dengan kakaknya.


Bersambung...


EAGLE LADY



"

__ADS_1


__ADS_2