
Apartemen Selasih Kota...
Setelah Yuri dan Stella menyelesaikan sarapan pagi mereka. Yuri dan Stella pun segera pergi menuju perusahaan Cipta Prima. Yuri mempersiapkan segala sesuatunya di dalam tasnya untuk menyamar.
"Kau menyiapkan segala alat penyamaran...apa, kau tidak ingin ketahuan!"
Ucap Stella.
"Tentu saja, kakak? Jika, mereka tahu kalau ini adalah aku...pasti mereka akan segera melapor kepada kakakku...lalu, kakakku akan membawaku pulang ke rumah."
Ucap Yuri.
"Memangnya mengapa, jika kakakmu membawamu pulang?"
Tanya Stella.
"Aish, kakak...jika, dia membawaku pulang...lalu, bagaimana dengan balas dendamku kepadanya...tidak akan seru, bukan?"
Balas Yuri.
"Oh, begitu? Ya, sudah cepatlah! Aku tidak memiliki waktu banyak."
Ucap Stella.
"Baiklah, ayo kita berangkat!"
Ucap Yuri sambil menggandeng tangan Stella.
Saatnya membalas dendam kepada kakak, melalui kakak Stella...haha.
Ucap Yuri dalam hati sambil tersenyum. Stella melihat sesuatu yang tidak benar pada diri Yuri. Stella merasa kalau Yuri akan memanfaatkan dirinya. Akan tetapi, Stella berpura-pura tidak tahu karena ia ingin tahu apa motif sebenarnya Yuri begitu peduli padanya.
Dari apartemen Selasih Kota mereka menaiki taksi. Di dalam taksi, Yuri memakai semua alat penyamarannya. Stella acuh dan tidak mempedulikannya. Setelah, selesai memakai semua alat penyamarannya.
Mereka pun sampai di perusahaan Cipta Prima milik Anggara. Yuri segera masuk ke dalam perusahaan milik kakaknya tersebut. Dan, menemui resepsionis yang bekerja disana. Ia membujuk sang resepsionis tersebut agar menerima Yuri masuk dan bekerja di perusahaan tersebut.
"Tolonglah, nona resepsionis?"
Ucap Yuri memohon.
"Tidak bisa, nona? Perusahaan sedang tidak menerima pegawai baru!"
Ucap sang resepsionis itu.
"Ow, jadi kau tidak mau?"
Ucap Yuri. Resepsionis tersebut menggeleng kepalanya.
"Kalau begitu, aku akan menyuruh kakakku untuk memecatmu."
Ancam Yuri.
"Apa! Jadi, anda nona Yuri?"
Ucap resepsionis tersebut.
Nona Yuri adalah adik kesayangan pak Anggara...jika nona Yuri meminta sesuatu maka pak Anggara akan mengabulkannya...wah, ini benar-benar masalah.
Ucap resepsionis tersebut dalam hati.
"Iya...mengapa? Mengapa, wajahmu pucat?"
Ucap Yuri.
"Tidak apa-apa, nona...nona, saya mohon jangan pecat saya!"
Ucap resepsionis tersebut.
"Wah, itu bukan urusanku!"
Ucap Yuri sinis.
"Nona, saya mohon...hak penerimaan pegawai tidak ada pada saya nona? Tetapi, ada pada pak Anggara sendiri...nona, langsung saja menemuinya di lantai atas."
Ucap resepsionis tersebut.
Apa! Jadi, aku harus langsung menemui kakak...eh, bukan jadi aku harus membawa kak Stella naik ke lantai atas? Dan, bertemu dengan kakak?
Ucap Yuri dalam hati.
"Itu tidak mungkin!"
Ucap Yuri sambil melirik Stella. Stella yang paham akan kondisi Yuri pun akhirnya segera pergi sendiri naik ke lantai atas sebelumnya ia bertanya dulu kepada resepsionis di lantai berapa Anggara berada.
"Baiklah, di lantai berapa aku harus menemuinya."
Tanya Stella.
"Lantai 40, nona."
Ucap resepsionis tersebut.
"Kak Stella, aku tunggu kakak di apartemen ya?"
Ucap Yuri menyela pembicaraan Stella dengan resepsionis tersebut. Stella mengangguk lemah. Setelah, itu Stella naik segera naik ke lantai atas untuk menemui Anggara.
Kebetulan saat itu Anggara, sedang berada di dalam ruang kantornya. Anggara terlihat sedang bekerja keras memeriksa beberapa file. Lalu, ketukan di pintu membuyarkan konsentrasinya.
"Tok...tok...tok."
"Ya, masuk."
Ucapnya. Dan, seorang sekretaris berwajah cantik dan seksi masuk ke ruangannya.
"Pak, ada seorang wanita ingin bertemu dengan bapak...katanya, dia ingin wawancara kerja pak?"
Ucap Sekretaris tersebut.
"Wawancara kerja? Tetapi, perusahaan kita sedang tidak membutuhkan pegawai."
Ucap Anggara.
"Saya sudah menjelaskan kepadanya, Pak? Tetapi, ia bersikeras hendak menemui bapak."
__ADS_1
Ucap sekretaris tadi.
"Ow, begitukah? Apakah, dia sangat cantik dan sexy?"
Ucap Anggara.
"Ya, tetapi dia tidak lebih sexy dariku...juga, tidak lebih cantik dariku."
Ucap sekretaris tersebut merayu Anggara.
"Oh, jadi kau ingin mengatakan kepadaku kalau dia tidak memenuhi standar?"
Ucap Anggara.
"Kita akan melihatnya, nanti...apakah, dia memenuhi standar atau tidak...sekarang, kau pergi temui dia dan wawancarai dia...aku akan keluar sebentar."
Ucap Anggara memberi instruksi.
"Baiklah, pak! Akan segera saya laksanakan!"
Ucap sekretaris tersebut sambil tersenyum dan keluar dari ruangan Anggara. Sekretaris tersebut mewawancarai Stella.
"Nona Stella!"
Panggil sekretaris tersebut.
"Ya."
Ucap Stella pendek.
"Pak Anggara sedang keluar...jadi, saya akan mewawancarai nona hari ini."
Ucap sekretaris tersebut.
"Baiklah."
Ucap Stella tersebut. Kemudian, sekretaris tersebut mewawancarai Stella. Banyak sekali pertanyaan yang diajukan oleh sekretaris tersebut. Sehingga, membuat Stella merasa kalau setiap pertanyaan yang diajukan oleh sekretaris tersebut adalah sesuatu hal yang tidak ada hubungannya dengan wawancara kerja.
"Maaf, nona sekretaris! Aku merasa kalau pertanyaanmu tersebut sudah keluar dari jalur."
Ucap Stella tegas.
"Oh, ya? Begitukah."
Ucap sekretaris tersebut.
"Seharusnya nona, memberikan pertanyaan yang sesuai dengan peraturan perusahaan! Ini sudah tidak benar."
Ucap Stella.
"Hei, nona sopanlah sedikit...ini adalah pertanyaan yang biasa saja."
Ucap sekretaris tersebut.
"Oh, pertanyaan yang biasa...maaf, kalau begitu aku tidak tertarik....dan, jika kau ingin memiliki bosmu itu maka lakukan saja!"
Ucap Stella kemudian pergi dari tempat itu.
Oh, satu calon penghalang sudah kusingkirkan...enak saja dia ingin bekerja disini dan menarik perhatian pak Anggara...tidak akan kubiarkan!
Stella adalah Eagle Lady sang wanita kuat yang tidak bisa dianggap remeh dan lemah. Stella memiliki prinsip dalam hidupnya. Membunuh atau dibunuh. Maka, dia lebih baik membunuh daripada dibunuh terlebih dahulu oleh orang lain.
Baginya kehidupan perusahaan tidak cocok dengan dirinya. Oleh sebab itu, ia ingin meniti jalan lain dalam hidupnya yaitu ia lebih suka menjadi pengawal seseorang. Daripada bekerja di perusahaan dan berusaha merayu sang bos pemilik perusahaan untuk menunjang hidupnya.
Dan, Stella memiliki sifat dan sikap dalam hidupnya. Meski ia pernah jatuh dalam pelukan lelaki namun hal tersebut ia jadikan pelajaran hidup dan ia tidak akan menyerah kepada nasib begitu saja. Karena, harapannya pupus untuk dapat bekerja di perusahaan.
Stella memutuskan untuk kembali ke apartemen. Akan tetapi, tiba-tiba ia melihat Yuri sedang berurusan dengan beberapa orang pemuda yang mengganggunya. Dan, Stella tidak tahan untuk tidak menghajar lelaki yang berani mengganggu wanita lemah.
Kebetulan tanganku sudah gatal ingin menghajar orang...sudah terlalu lama pensiun...saatnya menghajar lelaki busuk.
Ucap Stella dalam hati.
"Apa, kau pikir mudah untuk menjatuhkanku hah!"
Ucap Yuri marah.
"Sudahlah, Yuri...kau itu hanyalah boneka kecil saja bagi kami...ayolah, kami sudah tidak sabar lagi."
Ucap salah satu dari pemuda tersebut.
"Hentikan! Jangan, berbicara kurang ajar! Aku akan memanggil kakakku, dan dia akan memukul kalian sampai babak belur."
Ucap Yuri.
"Oh, ya? Dimana, kakakmu? Bukankah kau kabur dari rumah?"
Ucap salah satu dari pemuda tersebut.
Ini, sialan! Bagaimana, mereka tahu kalau aku kabur dari rumah...kakak? Hu...kau benar...diluar banyak orang jahat.
Ucap Yuri dalam hati.
"Jadi, kami bisa berpuas-puas bermain denganmu...hahaha."
Ucap salah satunya lagi.
"Ow, empat pemuda dan gadis muda sedang berdiskusi?"
Ucap Stella sambil melipat tangan di dada. Yuri terkejut ketika ia melihat Stella sudah ada disana.
Kak Stella? Sudah keluar dari kantor kakak? Apa dia sudah diterima bekerja oleh kakak?
Bathin Yuri.
"Hahaha...hari ini kita beruntung teman-teman...hari ini kita dapat dua wanita cantik untuk bersenang-senang."
Ucap salah seorang pemuda tersebut tertawa.
"Kak Stella! Cepat pergi, ini bukan urusan kakak! Kakak tidak akan bisa menangani mereka...aku bisa menghadapi mereka, kakak?"
Ucap Yuri khawatir.
"Tidak perlu khawatir, Yuri..aku bisa mengatasi hal ini."
__ADS_1
Ucap Stella.
"Wah, wanita ini kelihatan percaya diri sekali teman-teman."
Ucap pemuda yang merupakan ketua dari tiga pemuda lainnya.
"Nah, bukankah kalian ingin bermain-main? Aku bisa menemani kalian bermain...kebetulan aku sedang butuh pelampiasan."
Ucap Stella sambil melepaskan gulungan rambutnya dan melepas dua kancing pakaian kerjanya. Yuri yang melihat hal tersebut ia sampai membelalakkan kedua bola matanya. Dan, para tersebut sampai meneteskan air liur mereka masing-masing.
Kak Stella? Kau benar-benar ingin memenuhi keinginan mereka...aduh, hancurlah sudah.
Bathin Yuri lagi.
"Wow, bos! Lihat, dia menawarkan dirinya sendiri...hahaha."
Ucap pemuda bertubuh kecil.
"Ini baru benar dan bagus sekali."
Ucap sang pemuda ketua.
"Sepertinya, kalian sudah tidak sabar! Ayo, kita tuntaskan di tempat sepi."
Ucap Stella melangkah maju menuju gang sempit diantara gedung-gedung yang menjulang tinggi disana. Stella menuntun keinginan para empat pemuda tersebut. Akan tetapi, apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Stella menghajar 4 pemuda sampai babak belur.
"Kau ingin, menikmatiku hah! Terima ini!"
Ucap Stella marah.
"Buk...bak...buk...bak."
"Bugh."
"Aww, sakit sekali...sudah hentikan, kakak?"
Ucap bos para pemuda tersebut.
"Kakak, kepalamu! Apa, aku terlihat seperti kakakmu, hah!"
Ucap Stella mulai memukul, melayangkan tinju dan menendang keempat pemuda tersebut habis-habisan.
"Bugh...bak...buk."
"Dess."
"Argh! Sakit kakak! Ampun, kakak? Kami tidak berani lagi mengganggu!"
Ucap keempat pemuda tersebut.
"Ow, masih bisa bicara ya?"
Ucap Stella.
"Tidak, kakak! Ampun, kakak!"
Ucap keempat pemuda tersebut sambil bersujud di kaki Stella.
"Cih! Jangan, sentuh kakiku! Dengar, jika sekali lagi aku melihat kalian mengganggu wanita maka, saat itu juga kalian semua akan aku habisi!"
Ucap Stella memberi peringatan dan ketua dari para pemuda tersebut pun menggangguk menyetujuinya.
"Bagus! Oh, lega rasanya setelah menghajar orang!"
Ucap Stella kemudian meninggalkan gang sempit tersebut. Yuri yang ternyata sejak tadi mengintip kejadian yang terjadi di gang sempit tersebut ia merasa senang.
"Uh, ternyata kak Stella sangat kuat...aku harus belajar darinya...dan dapat menunjukkannya kepada kakak bahwa aku tidak lemah!"
Ucap Yuri yang kemudian langsung muncul dan langsung menggandeng tangan Stella. Stella paham jika sudah begitu, pasti Yuri akan menginginkan sesuatu darinya.
"Kau terlihat sangat senang."
Ucap Stella.
"Yah, begitulah."
Ucap Yuri.
"Apa, kau ingin mengucapkan terima kasih?"
Tanya Stella.
"Ya, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kak Stella yang sudah menolongku."
Balas Yuri dengan senang.
"Maksudku, bukan ucapan terima kasih yang itu."
Ucap Stella.
"Jadi?"
Ucap Yuri bingung.
"Sesuatu yang tersenbunyi di dalam hatimu, katakan padaku terus terang...jangan sembunyi-sembunyi."
Ucap Stella lagi.
"Oh, itu? Hehe...bisakah kakak mengajariku teknik kakak menghajar orang?"
Ucap Yuri.
"Tidak bisa."
Ucap Stella.
"Kau tidak memenuhi syarat!"
Ucap Stella sambil melepaskan gandengan tangan Yuri. Dan, Yuri pun melamun sendiri apa yang dikatakan oleh Stella baru saja. Yuri heran dengan jalan pemikiran Stella yang dinilainya serba terlalu hati-hati. Lalu, Yuri pun berjanji akan terus berusaha mengambil hati Stella. Agar Stella mau mengajarinya sesuatu hal yang dapat melindungi dirinya tersebut.
Bersambung...
EAGLE LADY
__ADS_1