
Apartemen Selasih kota...
Pembicaraan panjang masih saja terjadi diantara dua orang penghuni dunia hitam.
"Katakan, tuan Tetzuya...apa sebenarnya tujuan tuan datang kemari."
Ucap Stella.
"Nah, ini yang aku suka dari pembunuh bayaran sepertimu...Eagle Lady."
Ucap Tetzuya.
"Langsung ke intinya, tuan Tetzuya."
Ucap Stella tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Tetzuya Takamoto sebab sebentar lagi Anggara akan segera sampai disana.
"Kau terburu-buru sekali, nona Stella."
Ucap Tetzuya.
"Aku bukannya terburu-buru, tuan Tetzuya...tetapi, aku ada janji dengannya."
Ucap Stella.
"Oh, janji dengan bos Anggara?"
Ucap Tetzuya.
"Ya."
Ucap Stella pendek.
"Baiklah, kalau begitu setujuilah...kalau kau akan menjadi pengawal pribadi istriku."
Ucap Tetzuya.
"Apa! Pengawal pribadi?"
Ucap Stella.
"Ya, pengawal pribadi...bagaimana, apakah kau bersedia."
Ucap Tetzuya.
"Tuan Tetzuya, saat ini banyak sekali hal yang belum aku selesaikan."
Ucap Stella.
"Apa masalah mengenai adikmu yang menghilang itu?"
Tebak Tetzuya.
"Apa! Bagaimana, tuan mengetahuinya."
Ucap Stella.
"Apa ada hal, yang tidak aku ketahui?"
Ucap Tetzuya.
"Baiklah...selesaikan saja urusanmu terlebih dahulu...setelahnya, baru kau datang kepadaku...ini nomor ponselku...hubungi aku jika kau memang bersedia."
Ucap Tetzuya sambil bangkit berdiri dan segera pergi meninggalkan apartemen Stella. Kebetulan, disaat yang sama Anggara pun tiba di tempat tersebut. Akan tetapi, ia dan Tetzuya tidak bertemu. Sebab, Tetzuya pergi melewati pintu belakang.
Itulah Tetzuya Takamoto, selalu memperhitungkan segalanya. Ia tidak ingin urusannya diketahui oleh Anggara. Maka dari itu, ia pun memilih jalan lain agar urusannya tidak terendus oleh Anggara.
Sebab, ia mengetahui bagaimana temperamen Anggara tersebut. Meskipun, belum lama menjalin kerjasama dengan Anggara. Tetapi, sebelumnya Tetzuya sudah mempelajari tentang Anggara secara detail sebelum membina hubungan kerjasama dengannya.
"Ting...tong."
Suara bel pintu kembali berbunyi nyaring. Stella sudah menduga jikalau kali ini yang datang adalah Anggara. Segera saja, ia membuka pintu. Benar saja, Anggara sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum.
"Apa, kau sudah lama menungguku?"
Ucap Anggara.
"Menurutmu?"
Ucap Stella dingin.
"Baru sekitar 25 menit yang lalu aku meneleponmu."
Ucap Stella.
"Oh, ya? Baru 25 menit? Pak Anggara yang terhormat apakah menurutmu 25 menit itu tidak lama?"
Ucap Stella memojokkan Anggara.
"Hehe...begini, Sayang?"
Ucap Anggara.
"Tidak perlu menjelaskannya lagi, huh!"
__ADS_1
Ucap Stella sambil menjatuhkan bokongnya di sofa.
Sialan! Jika, bukan karena ulah Yuri...mana mungkin aku akan terlambat sampai disini.
Ucap Anggara dalam hati.
"Sayang? Kau menunggu itu tidak lama...tetapi, untukku menunggu itu adalah yang terbaik untukmu."
Ucap Anggara seenaknya.
"Ck, pak Anggara...apakah, kau tidak mengetahui sesuatu?"
Ucap Stella.
"Apa?"
Ucap Anggara.
"Menunggu itu adalah sesuatu hal yang membosankan...dan, jikalau lebih baik...bukankah aku bisa pergi dengan lelaki lain?"
Ucap Stella kesal.
Apa? Coba saja kalau kau berani...bukan hanya lelaki itu yang akan hancur bahkan keluarganya pun tidak akan aku ampuni.
Ucap Anggara dalam hati.
"Coba saja jika kau berani!"
Ucap Anggara sambil berjalan menuju Stella dan duduk di sebelah Stella.
Ap...apa...yang mau dia lakukan? Tiba-tiba duduk di sisiku.
Ucap Stella dalam hati. Lalu, Anggara menyentuh wajah cantik Stella.
"Percayalah, tidak akan ada satu pun lelaki yang mau dekat denganmu...jika tidak, maka aku akan melakukan itu di hadapannya denganmu."
Ucap Anggara dengan sorot mata tajam.
"Agar dia tahu, bahwa kau hanya milikku...tidak ada yang boleh menyentuh dirimu...kecuali aku."
Ucap Anggara sambil melepaskan kedua tangannya dari wajah Stella.
"Kau egois sekali."
Ucap Stella.
"Tentu saja...jika tidak egois...bagaimana, bisa mendapatkan wanita tangguh seperti dirimu, sayang?"
"Muach."
Stella terkesiap kaget mendapati serangan tiba-tiba dari Anggara.
"Kau!"
Ucap Stella.
"Mengapa? Tidak boleh, kau kan milikku?"
Ucap Anggara.
"Sejak kapan aku menjadi milikmu?"
Ucap Stella.
"Sejak saat itu dan berlanjut sampai detik ini."
Ucap Anggara sambil menatap mata Stella lekat. Stella tidak tahan ditatap seperti itu oleh Anggara. Lalu, ia pun memalingkan tatapan matanya ke arah lain.
Ck, dia malu? Masih saja mencuri gaya anak SMA...benar-benar kucing liar.
Ucap Anggara dalam hati. Stella memang tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi terhadap Anggara. Memang harus ia akui, hanya Anggaralah sosok lelaki yang sanggup mencuri hatinya. Jauh, disana di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia tersenyum penuh kegembiraan. Tidak tahu, sampai kapan ia akan menyembunyikan perasaannya tersebut.
"Sudah pukul 7 malam, aku sangat lapar...apakah, kita akan berdiam di sini saja...tidak makan?"
Ucap Stella.
"Kau lapar, sayang...kalau begitu...ayolah...
Ucapan Anggara pun terputus manakala Stella menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya.
"Aku tidak lapar yang itu...tetapi, perutku yang lapar."
Ucap Stella tersenyum.
"Oh, begitu ya?"
Ucap Anggara tersenyum malu dengan wajah merah.
"Dasar, lelaki."
Ucap Stella.
Padahal aku sudah bersiap-siap dengan segala aksi nakalku...tetapi ternyata gagal karena rasa lapar.
__ADS_1
Ucap Anggara dalam hati.
"Jadi?"
Ucap Stella.
"Baiklah, karena kau lapar...mari kita pergi berkencan di luar saja...sekaligus menghabiskan waktu."
Ajak Anggara dan Stella pun menyetujuinya. Akhirnya, mereka berdua pun pergi ke luar apartemen. Mencoba sesuatu yang berbeda dari yang lain.
Mobil mewah Anggara meluncur di jalanan yang ramai. Malam baru saja tiba dan malam itu adalah malam minggu. Waktunya malam bagi kawula muda untuk berkencan bersama pasangannya masing-masing.
"Suasana di jalanan sangat ramai, ya?"
Ucap Stella.
"Ya, sebab malam ini adalah malam minggu."
Ucap Anggara.
"Oh, begitu rupanya...pantas saja, jalanan sangat ramai."
Ucap Stella sambil memperhatikan jalanan yang ramai dan ia melihat ada sepasang muda mudi berpelukan mesra dengan kekasihnya di atas motor.
"Lihat, itu!"
Serunya kepada Anggara. Dan, Anggara pun hanya tersenyum saja.
"Sayang? Apakah, kau ingin aku memelukmu seperti itu?"
Ucap Anggara menggodanya.
"Cih, siapa juga yang mau dipeluk olehmu seperti itu...aku kan bukan ABG labil."
Ucap Stella.
"Oh, benarkah? Jadi, kau tidak mau?"
Ucap Anggara.
"Atau, ah...mungkin wanita-wanita nyonya Ling Hao mau kupeluk seperti itu."
Ucap Anggara tersenyum nakal.
"Ya, mungkin saja mereka mau dipeluk begitu olehmu."
Ucap Stella kesal.
Merusak suasana hatiku saja.
Ucap Stella dalam hati. Anggara melirik Stella yang duduk di sebelahnya. Terlihat raut wajah Stella yang tidak enak dilihat oleh Anggara. Dan, Anggara tersenyum saja melihatnya.
"Mengapa, kau tersenyum?"
Ucap Stella.
"Apakah, salah jika aku tersenyum?"
Ucap Anggara.
"Senyum itu tidak salah...yang salah adalah senyummu itu...seakan-akan kau sedang mengejekku."
Ucap Stella semakin kesal. Anggara mengetahui api kecemburuan sedang bergejolak di hati Stella. Ia pun segera memarkirkan mobilnya di sebuah cafe gaul anak muda.
Disana banyak terparkir banyak sekali kendaraan sepeda motor. Anggara turun dari mobil dan Stella tidak mempedulikannya sama sekali. Tidak lama kemudian, Anggara membukakan pintu mobil untuk Stella dan menyuruhnya turun dari mobil.
"Ayo, turunlah...ada sepasang muda mudi ingin berkencan dengan mobilku."
Ucap Anggara.
"Apa? Lalu, kita bagaimana?"
Ucap Stella.
"Kita naik itu, kita berdua akan berkeliling layaknya ABG labil zaman anak SMA."
Ucap Anggara sambil menunjuk sepeda motor milik pasangan muda mudi tersebut.
"Baiklah."
Ucap Stella tersenyum.
Akhirnya, ia tersenyum lagi...dasar kucing liar memang merepotkan...tetapi, aku senang karenanya.
Ucap Anggara dalam hati. Lalu, Stella dan Anggara menaiki sepeda motor tersebut berkeliling layaknya pasangan muda mudi ABG labil anak SMA. Stella memeluk pinggang Anggara dari belakang dengan erat.
Sedangkan, Anggara ia merasa senang dapat mencairkan suasana hati Stella yang sempat membatu tadi. Sekaligus, dapat merasakan sapuan angin menerpa wajah tampannya yang sangat mempesona malam itu.
Bersambung...
EAGLE LADY
__ADS_1