
Kediaman Angela dan Simon...
Angela selesai menelepon kekasihnya yang saat ini sedang berlibur di kota Medan. Angela dan kekasihnya itu sudah lama berhubungan. Akan tetapi, mereka tidak pernah sekali pun bertemu. Mereka berhubungan hanya melalui telepon seluler saja.
"Jadi, bagaimana dengan orang kaya tersebut."
Ucap Simon.
"Aku akan terus memperalatnya demi keberhasilan rencana kita."
Ucap Angela.
"Oh, begitu? Kabarnya putrinya baru saja selamat dari upaya penculikan."
Ucap Simon.
"Benar! Dan, seluruh anak buahku tewas karena ulah Eagle Lady itu...sekali lagi ia hadir....dan, membuat rencanaku hancur berantakan."
Ucap Angela.
"Jadi, sampai kapan kita akan berdiam terus...hanya menonton aksinya tanpa bertindak?"
Ucap Simon.
"Kita akan segera bergerak! Soon."
Ucap Angela kemudian meninggalkan ruangan tersebut.
Aku sudah tidak sabar...menunggu pertarungan hidup dan mati dua saudara kandung...Eagle Lady dan adiknya.
Ucap Simon dalam hati sambil memegang gelas anggur dan meneguk isinya sampai habis lalu melemparkan gelas tersebut ke lantai.
"Prangg."
Gelas tersebut pecah berserakan di lantai.
Demi dendam kakak yang belum usai...akan kubuat hidup wanita pembunuh tersebut menderita.
Ucap Simon penuh dengan api dendam terhadap Eagle Lady. Dendam yang membara seiring dengan berjalannya waktu terus memupuk dan menggunung di hatinya. Sementara itu, Stella sedang berada di apartemennya. Ia sedang menelepon seseorang di seberang sana.
"Oh, jadi kau sudah mendapatkan uangnya."
Ucap Rubella.
"Ya, dan akan kutransfer ke rekeningmu...begitu kau berikan informasinya."
Ucap Stella.
"Stella! Bukan, Eagle Lady...apa kau yakin dengan informasi yang kau butuhkan ini?"
Tanya Rubella.
"100 %."
Balas Eagle Lady pendek, jelas dan singkat.
"Baiklah! Aku akan berikan informasinya...kedua nama itu bukanlah orang biasa."
Ucap Rubella.
"Maksudmu?"
Ucap Stella.
"Mereka berdua merupakan mantan pembunuh bayaran di luar negeri...mereka berdua sangat terlatih dan berbahaya."
Ucap Rubella.
"Oh, begitu?"
Ucap Stella.
"Setelah lama mereka berdua berkecimpung di dunia hitam luar negeri...mereka kembali sebab mendengar kabar kakak mereka telah diserang."
Ucap Rubella.
"Dan, apakah kau tahu siapa kakak dua nama itu?"
Tanya Rubella.
"Siapa?"
Balas Stella.
"Peter!"
Ucap Rubella dan membuat Stella menjadi terkejut seketika.
"Apa! Peter!"
Ucap Stella.
"Jadi, mereka berdua adalah adiknya Peter?"
Ucap Stella.
"Ya, dan sepertinya saat ini mereka berdua sedang membuat rencana."
Ucap Rubella.
"Rencana? Renana apa?"
Tanya Stella.
"Aku tidak tahu...lebih baik kau berhati-hati...sebab, seluruh dunia hitam juga tahu siapa yang telah menghancurkan sarang Peter."
Ucap Rubella.
"Ya, aku akan berhati-hati."
__ADS_1
Ucap Stella lalu memutuskan panggilan telepon.
Simon dan Angela...tampaknya kedua nama ini akan membalas dendam kepadaku...oleh sebab itu...mereka berdua memindahkan adikku dari panti tersebut entah kemana.
Ucap Stella dalam hati.
"Awas saja, kalau mereka berbuat sesuatu yang tidak-tidak terhadap adikku...maka, aku pun juga tidak akan sungkan."
Ucap Stella sambil memegang topi milik adiknya itu dan meremasnya. Seakan, Stella ingin menghancurkan apa saja yang telah menyakiti adiknya.
......................
Kediaman Anggara, kamar Yuri...
Anggara dan Yuri tampak berbincang dengan serius disana. Yuri bercerita kepada Anggara tentang adik Stella. Anggara mendengarkannya dengan serius.
"Apa, kau tahu kakak? Kekasihmu itu, kak Stella."
Ucap Yuri.
"Ada apa dengan kucing liarku itu? Sehingga, kau sangat serius mengatakannya kepadaku?"
Tanya Anggara.
"Ternyata kak Stella memiliki saudara lelaki."
Jawab Yuri dengan bibir manyun.
"Apa! Adik lelaki?"
Ucap Anggara terkejut.
"Ya, apakah kak Stella tidak pernah menyinggungnya dengan kakak?"
Ucap Yuri mencari tahu.
"Tidak?"
Ucap Anggara.
"Malah, kakak baru tahu dari bibirmu."
Ucap Anggara.
"Berarti, kak Stella pun tidak pernah berkata apa pun tentang adiknya itu."
Ucap Yuri.
"Ya, dia memang tidak pernah mengatakannya."
Ucap Anggara.
Ini ada apa sebenarnya? Mengapa, banyak sekali jalur suram diantara aku dan si kucing liar...serta tingkahnya akhir-akhir ini benar-benar membuatku curiga.
Ucap Anggara dalam hati.
Tampaknya dia menyembunyikan sesuatu dariku.
"Yuri!"
Panggil Anggara.
"Ya, kakak?"
Ucap Yuri.
"Hari ini kau tidak boleh pergi kemana-mana...dirumah saja."
Perintah Anggara.
"Tetapi, kakak? Aku ingin bertemu dengan kak Stella."
Ucap Yuri.
"Tidak boleh, hari ini dia ada kencan dengan kakak!"
Ucap Anggara kemudian meraih ponselnya dan menelepon Stella. Ia meninggalkan kamar Yuri agar pembicaraannya tidak didengar oleh Yuri.
"Kemarin itu dia sengaja menghindariku! Dan, membuatku patah semangat...wanita-wanita nyonya Ling Hao...sama sekali tidak bisa dibandingkan dengannya."
Ucap Anggara kesal.
"Hari ini akan aku tunjukkan kepadanya tentang kekuasaan lelaki...terhadap wanita."
Ucap Anggara ingin membalas perbuatan Stella yang saat itu sudah menolak dirinya. Anggara ingin sekali memeluk Stella untuk kesekian kalinya. Agar rasa kecewa saat itu dapat terbayarkan.
"Halo?"
Sapa Stella di ujung sana.
"Apa, kau di apartemen sayang?"
Balas Anggara.
Dia mulai lagi.
Ucap Stella dalam hati.
"Ya, aku di apartemen...ada apa?"
Ucap Stella.
"Tunggu aku disana...aku akan menjemputmu."
Ucap Anggara.
"Hm? Apa! Kau mau datang."
Ucap Stella terkejut.
__ADS_1
"Tidak perlu terkejut begitu, sayang?"
Ucap Anggara.
"Tetapi? Aku...aku...akan pergi sebentar lagi."
Ucap Stella mencoba berbohong.
"Jangan, melarikan diri sayang? Atau, aku akan memberimu hukuman karena kau tidak patuh kepadaku."
Ucap Anggara.
Sialan! Laki-laki ini, dia berani mengancamku.
Ucap Stella dalam hati.
"Baiklah, aku akan patuh!"
Ucap Stella akhirnya terpaksa menerima kedatangan Anggara ke apartemennya. Padahal, Stella hendak pergi untuk menyelidiki tentang Angela dan Simon. Agar, ia bisa dengan segera menyelamatkan adiknya tersebut. Akan tetapi, niatnya tersebut terhalang oleh Anggara. Sosok lelaki yang telah mampu mengguncang hati serta perasaannya.
Dan, Stella duduk menunggu disana di dalam apartemen. Ia berjalan kesana kemari seperti orang yang sedang bingung memikirkan sesuatu. Ia benar-benar tidak sabar menunggu kedatangan Anggara.
Lelaki ini, kapan sih dia datang? Aku sangat benci menunggu.
Ucap Stella dalam hati. Baru saja Stella menggerutu kesal karena menunggu Anggara datang. Tidak lama kemudian bel apartemennya berbunyi.
"Ting...tong."
Terburu-buru, Stella membuka pintu apartemennya. Tetapi, yang diharapkan bukanlah Anggara melainkan seseorang yang baru saja dikenalnya.
"Halo, nona Stella?"
Ucap seseorang tamu tersebut.
"Tuan, Tetzuya?"
Seru Stella.
"Ya, ini aku! Apakah, aku boleh masuk."
Ucap Tetzuya sopan.
"Tentu saja, tuan?"
Ucap Stella.
Lalu, Tetzuya masuk ke dalam apartemen Stella.
"Wow, ruangan yang nyaman."
Ucap Tetzuya memuji.
"Terima kasih, tuan."
Balas Stella.
"Duduklah, tuan?"
Ucap Stella mempersilahkan.
"Baiklah, terima kasih."
Ucap Tetzuya.
"Apakah, kau tinggal disini sendiri?"
Tanya Tetzuya.
"Ya, aku tinggal disini sendiri."
Ucap Stella.
"Dan, tuan Anggara itu...dia tidak tinggal bersamamu?"
Tanya Tetzuya.
"Pak Anggara? Tentu saja tidak, tuan...untuk apa dia tinggal disini."
Balas Stella.
"Dia kekasihmu, bukan? Jadi, merupakan hal wajar jika kalian tinggal bersama."
Ucap Tetzuya.
"Menurutku tidak wajar, tuan? Seorang lelaki dan wanita tinggal satu atap sebelum menikah."
Ucap Stella.
"Ya, itu benar! Tetapi, itu hanya berlaku bagi orang yang tinggal di dunia yang berbeda dengan kita."
Ucap Tetzuya.
"Maksud, tuan?"
Ucap Stella.
"Maksudnya, hal tersebut hanya berlaku bagi orang baik-baik...dan, kita tidak termasuk orang baik-baik itu...kita orang dunia hitam...tidak memiliki peraturan...yang kita miliki hanyalah insting...untuk keberhasilan tujuan kita di dunia hitam."
Ucapan Tetzuya seketika menyadarkan Stella.
"Katakan, tuan Tetzuya...apa sebenarnya tujuan tuan datang kemari."
Ucap Stella langsung ke intinya.
"Nah, ini yang aku suka dari seorang pembunuh bayaran sepertimu...Eagle Lady!"
Ucap Tetzuya. Lalu, terjadilah segudang pertanyaan di dalam hati Stella terhadap Tetzuya Takamoto. Tentang siapa sebenarnya siapa Tetzuya Takamoto. Dan, mengapa ia dapat mengetahui identitas rahasianya dengan sangat jelas. Stella kini dihadapkan pada sesuatu yang bahkan tidak bisa ia bayangkan sebelumnya.
Bersambung...
__ADS_1
EAGLE LADY