
Stella mengambil ponsel Leo dan menerima telepon dari Anggara. Leo berharap cemas akan keadaan dirinya nanti setelah ia kembali dari apartemen stella.
πΆπΆπΆ
"Halo?"
Sapa Stella.
Suara wanita...bukan, ini suara kucing liarku...kurang ajar sekali si Leo...ada apa antara dia dengan wanitaku.
Ucap Anggara dalam hati.
"Sayang? Kau yang menerima teleponku?"
Ucap Anggara mencoba untuk tenang sementara hatinya bergejolak api cemburu.
"Ya, untuk mengatakan sesuatu kepadamu."
Ucap Stella.
Sesuatu apa? Tentang hubungan rahasianya dengan Leo...sialan, kau Leo...aku akan membunuhmu!
Ucap Anggara dalam hati.
"Sesuatu apa, sayang? Tentang perselingkuhanmu dengannya?"
Ucap Anggara cemburu.
Perselingkuhan? Siapa, yang selingkuh?
Ucap Stella dalam hati.
"Selingkuh? Pak Anggara? Apa, kau sudah tidak waras...apa, maksudmu bicara begitu."
Ucap Stella dengan nada tinggi.
"Apa, maksudku? Lalu, apa maksudmu kau menggunakan ponsel Leo untuk bicara denganku...apa, kau ingin melihatku mati!"
Ucap Anggara kesal.
"Pak Anggara, aku rasa kau memang sudah tidak waras lagi..pergilah ke psikiater dan periksakan diri anda! Huh!"
Ucap Stella akhirnya memutus telepon.
"Tut."
Apa? Dimatikan...aku belum selesai bicara dengannya...tetapi, dia sudah memutus teleponnya.
Ucap Anggara dalam hati.
"Ini sudah tidak benar...aku akan pergi kesana!"
Ucap Anggara segera pergi dari kediamannya menuju apartemen Selasih kota dimana saat ini Leo serta Yuri sedang berada disana.
Sedangkan, Leo ia menjadi berkeringat dingin serta ketakutan ketika ia melihat Stella memutus telepon dari Anggara dengan perasaan marah.
Aduh, calon nyonya...kau menambah beban hidupku 100%π
Ucap Leo dalam hati.
"Nona Stella, kau telah menciptakan neraka dalam hidupku."
Ucap Leo.
"Hihihi...sebentar lagi akan ada yang menjadi mayat."
Ucap Yuri terkekeh geli.
"Nona Yuri, kau kejam sekali...bagaimana, kau bisa bersikap seperti itu kepadaku...kau tahu, bukan kakak nona...huhu."
Ucap Leo.
"Cih! Memangnya, mengapa dengan dia?"
Ucap Stella.
"Nona Stella, tentu kau sudah tahu bagaimana itu bos Anggara...dia sangat tidak suka diremehkan...apalagi sesuatu yang sudah menjadi miliknya tidak bisa diabaikan begitu saja."
Ucap Leo.
"Oh, maksudmu kau takut...jika, dia akan membunuhmu?"
Ucap Stella.
"Ya, nona aku masih muda...ditambah lagi aku belum menikah dan memiliki keluarga...bagaimana, bisa aku mati di tangan bosku sendiri."
Ucap Leo.
"Kau tenang saja, jika dia mengamuk aku yang akan menenangkannya untukmu."
Ucap Stella.
__ADS_1
"Benarkah, nona?"
Ucap Leo.
"Tentu, saja benar...apa, kau tidak percaya?"
Ucap Stella.
"Aku percaya."
Ucap Leo.
"Cih! Dasar, penjilat!"
Ucap Yuri.
"Nona Yuri...aku tahu, kalau nona tidak akan menolongku...jadi, aku akan meminta bantuan nona Stella."
Ucap Leo dengan wajah memelas.
"Terserah kau saja, tetapi...sebentar lagi pasti akan terjadi keributan."
Ucap Yuri.
"Sebentar lagi, seekor singa pemarah akan segera datang dalam waktu 5 detik lagi."
Ucap Stella tenang.
"Hitung mundur!"
Ucap Stella.
"Lima...empat...tiga...dua...satu!"
Ucap Stella. Lalu, muncullah Anggara dengan wajah dipenuhi api amarah terhadap Leo.
"Brakk."
Anggara mendobrak pintu apartemen Stella. Yuri yang melihat hal tersebut sangat terkejut dan Leo segera bersembunyi di balik tubuh Stella. Sedangkan, Stella duduk dengan tenang.
"Ck, pak Anggara? Apakah, kegemaranmu suka merusak rumah orang lain?"
Ucap Stella.
"Wah, kakak! Akhirnya, kau datang."
Ucap Yuri. Anggara yang sedang diliputi api kemarahan dan kecemburuan tidak mendengar kata-kata Yuri.
"Kegemaranku yang sesungguhnya adalah menghilangkan nyawa orang lain, sayang? Akan tetapi, bila itu memang diperlukan untuk menyiksa seorang pengkhianat! Jangankan, satu pintu...ribuan pintu pun akan aku hancurkan!"
Ucap Anggara.
Panggil Anggara.
"Bos! Maafkan, aku."
Ucap Leo.
"Jangan! Lebih baik kau tetap berada di belakangku saja."
Ucap Stella.
"Oh, sayang? Apa, kau benar-benar sedang menguji kesabaranku?"
Ucap Anggara.
"Biarkan, selingkuhanmu datang sendiri dan aku akan mengulitinya di hadapanmu!"
Ucap Anggara.
"Pak Anggara! Tampaknya, tingkat kewarasanmu ini sudah di atas normal...apakah, kau tidak bisa melihat situasi?"
Ucap Stella.
"Situasi apa, yang harus kulihat sayang?"
Ucap Anggara.
"Adikmu ada disini sedari tadi bersamaku juga Leo...apakah, kau pikir Leo berani bertindak kurang ajar kepadaku apabila ada adikmu disini? Coba pikirkan!"
Ucap Stella menjelaskan. Anggara seakan tersadar.
Benar juga yang dikatakan oleh kucing liarku...haish...hari ini aku malah mempermalukan diriku sendiri.
Ucap Anggara dalam hati.
"Ck, sudahlah! Memang aku yang tidak tahu diri...Leo, segera kembali bersama dengan adikku!"
Perintah Anggara.
"Bos? Sudah tidak marah, bukan."
__ADS_1
Ucap Leo.
"Apa, kau pikir aku akan marah kepadamu disini? Aku akan memperhitungkannya denganmu nanti...sekarang bawa adikku pulang!"
Perintahnya.
"Baik, bos!"
Ucap Leo. Leo dan Yuri segera pergi dari apartemen Stella. Tinggallah Anggara dan Stella disana.
"Hehe...tinggal kita berdua disini?"
Ucap Anggara.
"Ck, aku tahu apa yang ada didalam pikiranmu."
Ucap Stella.
"Memangnya, kau tahu apa yang ada didalam pikiranku?"
Ucap Anggara.
"Ayolah, pak Anggara? Itu sudah terlihat dari wajahmu."
Ucap Stella.
"Oh."
Ucap Anggara pendek.
"Jika, kau menginginkannya...perbaiki dahulu pintu apartemenku."
Ucap Stella segera pergi meninggalkan Anggara disana dan masuk ke dalam kamar pribadinya.
"Baiklah! Hanya memperbaikinya saja...akan kuganti dengan pintu yang baru."
Ucap Anggara.
"Tetapi, harus kau sendiri yang menggantinya...tidak boleh orang lain."
Ucap Stella yang sudah bersiap-siap pergi dengan membawa tas mini kesayangannya.
"Baiklah, sayang? Aku akan mematuhi perintahmu."
Ucap Anggara.
"Aku pergi dahulu, berbelanja! Aku akan memasak untukmu...sementara, itu berusahalah!"
Ucap Stella segera keluar dari apartemennya. Dan, Anggara tampak kebingungan bagaimana cara memasang pintu apartemen yang baru.
Sementara, ia bukanlah seorang ahli bangunan. Ia pun dibuat kebingungan. Jadilah, ia disibukkan dengan aktifitas barunya tersebut.
......................
Kediaman Angela dan Simon...
Rencana yang telah mereka persiapkan untuk Stella akhirnya akan segera rampung. Simon memberi apresiasi kepada Angela. Karena, sebentar lagi mereka akan segera bergerak.
"Bagus sekali, Angela! Akhirnya, prosesnya akan segera selesai."
Ucap Simon.
"Ya, tinggal sedikit lagi...aku sudah menelepon mereka...boneka kekuatan sebentar lagi akan segera selesai...dan, Stella akan tamat kali ini."
Ucap Angela.
"Tetapi, kau tahu...dia bukan lawan yang mudah...dia itu benar-benar sangat kuat! Di dalam keluarga kita, kak Peterlah yang lebih kuat jika dibandingkan dengan kita berdua."
Ucap Simon.
"Ya, kak Peter telah membentuk harimau yang sangat menyeramkan! Ditambah lagi dia menanamkan senjata biologis mematikan di tubuh Stella...jika, tubuh Stella hancur maka bencana wabah penyakit mengerikan akan melanda seluruh pelosok dunia."
Ucap Angela.
"Aku tidak peduli dengan hal itu! Yang terpenting bagiku adalah balas dendam!"
Ucap Simon.
"Bersabarlah, kakak! Hanya tinggal sedikit lagi."
Ucap Angela.
"Baiklah! Aku akan menunggu!"
Ucap Simon sambil tersenyum penuh dengan kemenangan.
Stella! Tunggu saat kejayaanmu runtuh...sebab, aku telah mempersiapkan satu hadiah spesial untukmu.
Ucap Angela dalam hati. Dan, akhirnya mereka berdua pun tertawa dengan penuh rasa kebahagiaan. Sebab, mereka yakin seratus persen dengan rencana mereka akan berhasil.
Bersambung...
__ADS_1
EAGLE LADY