EAGLE LADY

EAGLE LADY
Bab 19. Ayolah, Sayang?


__ADS_3

Markas besar Raymond...


Ponsel Raymond berbunyi nyaring sekali. Raymond mengangkat ponselnya segera setelah ia mengenal nomor ponsel yang menghubunginya.


🎶🎶🎶


"Bos!


Sapa seorang anak buah disana.


"Ya, apakah ada berita bagus."


Balas Raymond.


"Benar, bos!"


Ucap anak buah Raymond.


"Kalau begitu, katakan kepadaku."


Ucap Raymond.


"Aku sudah menemukan, Yuri."


Ucap anak buah.


"Bagus! Dimana!"


Ucap Raymond.


"Sebuah apartemen, Selasih kota."


Ucap anak buah.


"Kumpulkan, anak buah kita segera kesana!"


Perintah Raymond.


"Tunggu dulu, bos!"


Ucap anak buah.


"Ada, apa!"


Ucap Raymond.


"Kudengar, Anggara pergi kesana...untuk membawa Yuri kembali...akan tetapi, dia kembali dengan tangan kosong!"


Ucap anak buah memberi tahu.


"Apa!"


Ucap Raymond terkejut.


"Kemungkinan, Yuri sudah pindah ke apartemen lain."


Ucap anak buah tersebut.


"Ck, ini semakin menemui jalan buntu."


Ucap Raymond.


"Lalu, bagaimana bos!"


Ucap anak buah.


"Tetap kau ikuti jalur...siapa tahu kita akan menemukan Yuri sebelum Anggara."


Perintah Raymond.


"Baik, bos!"


Ucap anak buah dan memutuskan sambungan teleponnya. Raymond terduduk dengan mimik wajah serius.


Sungguh aku tidak menyangka...jika, Yuri adiknya Anggara tidak jauh berbeda dengan kakaknya...dia pintar bermain strategi...padahal ia hanya gadis biasa saja.


Ucap Raymond dalam hati.


"Aku harus bagaimana, mengatasi hal ini...sementara, dendam Lucky belum aku balaskan."


Ucap Raymond memikirkan masalahnya sendiri. Sedangkan, di tempat lain disaat bersamaan. Anggara sedang duduk di kursi kebesarannya.


Ia menatap kosong di kejauhan, memikirkan Yuri adiknya. Yang telah berani bermain strategi dengannya.


"Tampaknya, adikku tidak ingin kembali...malahan, ia bermain segudang trik bersamaku."


Ucap Anggara.


"Masalah, si Yuri ini benar-benar membuatku frustasi."


Ucap Anggara. Leo yang ada di sisinya pun ikut bicara.


"Bos! Bagaimana, jika aku mencarinya kembali...aku akan menyambung benang merah yang sempat terputus...mudah-mudahan saja masih dapat menemukan jejak nona."


Ucap Leo memberi saran.


"Apa, kau pikir adikku itu bodoh? Tidak dapat berpikir dengan jernih?"

__ADS_1


Ucap Anggara.


"Maaf, bos! Aku hanya ingin membantu, bos."


Ucap Leo.


"Membantu, ya?"


Ucap Anggara.


"Lebih baik, kau membantuku membereskan ketegangan di otot-ototku yang kaku."


Ucap Anggara.


"Apa, bos! Apa, bos ingin wanita dari rumah hiburan nyonya Ling Hao?:


Ucap Leo.


"Tidak! Aku sudah bosan dengan wanita-wanita disana...semuanya sudah kucicipi."


Ucap Anggara.


"Lalu, bos?"


Ucap Leo.


"Hehe...kucing liar!"


Ucap Anggara sambil tersenyum licik.


"Bos? Apa, bos tidak takut dia akan mencabik-cabik tubuh berharga milik bos?"


Tanya Leo.


"Memangnya, mengapa? Dia hanya kucing liar, mudah ditaklukkan."


Ucap Anggara.


"Kalau begitu, bos...selamat bersenang-senang."


Ucap Leo kemudian pergi meninggalkan Anggara. Lalu, tidak lama kemudian Anggara pun segera pergi dari markas besarnya menuju apartemen Selasih kota. Tempat Stella tinggal.


Dalam hati ia bernyanyi-nyanyi kecil sambil mengemudikan mobilnya. Ia tidak pergi bersama supir sebab ia tidak ingin urusan pribadinya diketahui oleh orang lain.


Hanya Leo saja yang diperbolehkan untuk mengetahui kehidupan pribadinya. Selebihnya, tidak. Anggara sangat hati-hati, karena ia tidak ingin jatuh di tangan siapa pun.


Sesampainya di apartemen Selasih kota. Anggara segera menuju ke lantai atas dimana apartemen tempat tinggal Stella berada. Anggara melewati apartemen kemarin yang sempat ia hancurkan pintunya.


Sudah diperbaiki dan dipasang dengan pintu yang baru. Anggara melihat-lihat nomor apartemen dan ternyata apartemen Stella berada di sebelah apartemen milik adiknya sebelumnya. Anggara merasa heran dan ia berpikir satu kemungkinan Stella mengenal adiknya.


Aku merasa ini semua suatu kebetulan ataukah memang hanya perasaanku saja...jika, Stella mengenal adikku yang pembangkang itu...ah...tetapi rasanya itu tidak mungkin!


Anggara yang merasa ragu kemudian memencet bel berulangkali. Stella yang saat itu baru saja selesai mandi merasa heran ada orang yang bertamu di tengah malam.


"Apakah, mereka sudah mengetahuiku?"


Ucap Stella.


"Ck, kubuka saja pintunya."


Ucap Stella sambil membuka pintu apartemennya. Dan, alangkah terkejutnya ia ketika pintu sudah dibuka ternyata Anggara sudah ada di hadapannya.


"Kau?"


Ucap Stella sambil menutupi bahagian atas tubuhnya dengan kedua tangannya. Anggara yang melihat hal tersebut hanya tersenyum saja.


"Mau apa kau kesini."


Ucap Stella ketus.


"Kau tidak menyuruhku masuk? Malah mempertanyakan sesuatu yang lucu seperti itu...atau apakah kau juga ingin mengundang banyak pasang mata untuk melihat tubuh sexymu itu?"


Ucap Anggara tanpa malu.


"Ck, siapa juga yang mengundang banyak pasang mata untuk melihatku? Masuklah!"


Ucapnya kesal. Dan, Anggara semakin tersenyum nakal sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Itu baru kucing liarku!"


Ucap Anggara sambil mencubit pipi Stella.


Aish...orang ini!


Bathin Stella. Stella menutup pintu kembali dan segera berlari masuk ke dalam kamarnya. Melihat hal tersebut membuat Anggara menjadi bersemangat. Ia mengejar Stella sampai ke kamarnya dan memeluknya. Stella terkejut.


"Mengapa, terburu-buru?"


Ucap Anggara.


Sial! Aku telah mengundang bahaya masuk ke dalam rumah.


Bathin Stella.


"Lepaskan!"


Ucap Stella memberontak.

__ADS_1


"Jangan, memberontak! Atau, handuknya akan terlepas."


Goda Anggara.


"Kau memang lelaki yang tidak tahu malu! Atau, kau memang lelaki yang tidak memiliki sopan santun!"


Ucap Stella marah. Anggara tertawa.


"Hahaha...hei, ingat! Bukankah kau yang mengundangku?"


Ucap Anggara.


"Bukankah kau yang memintanya?"


Ucap Stella mengembalikan kata-kata Anggara.


"Oh, jadi begitu? Atau, kau memang senang mengundang banyak pasang mata untuk melihatnya? Hm...


Ucap Anggara sambil melepas pelukan dan membalikkan tubuh Stella sehingga mereka berdua berhadapan. Anggara menatap wajah cantik Stella.


"Kau sangat cantik, ketika kau habis mandi...apa, kau tahu itu?"


Ucap Anggara. Stella diam.


"Dan, apakah kau tahu? Sejak pertama bertemu denganmu, kau menarik perhatianku."


Ucap Anggara dan Stella tetap diam. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa senang sebab Anggara kembali menganggu dirinya.Dan, Stella hanya berpura-pura marah dan kesal kepada Anggara. Semua hanya demi menutupi perasaannya yang sebenarnya.


"Mengapa, kau hanya diam?"


Ucap Anggara dan Stella masih saja diam.


"Baiklah, kalau begitu!"


Ucap Anggara sambil menjatuhkan tubuh Stella ke tempat tidur empuk. Stella terkejut.


"Ah...


"Kau? Apa, yang kau lakukan?"


Ucap Stella.


"Apa, yang kulakukan? Tebaklah!"


Ucap Anggara sambil mengunci kedua pergelangan tangan Stella.


"Jangan, bilang kalau kau akan...


Ucap Stella dan ucapannya terpotong.


"Tepat sekali! Aku menginginkannya lagi, ayolah sayang?"


Ucap Anggara.


"Aku tidak mau!"


Ucap Stella menolak.


"Jangan, membantah! Memangnya, apa yang bisa kau lakukan?"


Ucap Anggara sombong.


"Aku bisa melakukan apa pun, Anggara! Cepat, hentikan!"


Ucap Stella.


"Oh, ya? Kalau begitu, memberontaklah...aku ingin melihat keluatanmu."


Pancing Anggara.


"Kau memang lelaki menyebalkan!"


Stella memaki Anggara.


"Ya, itulah aku! Lebih baik kau diam dan nikmati saja...seperti malam itu."


Ucap Anggara.


"Apa!"


Ucap Stella. Dan, Anggara kini sudah mulai bertindak jauh. Dan, ia menyibak handuk yang dipakai oleh Stella.


"Wow, sungguh pemandangan yang sangat indah."


Ucapnya.


"Kau memang keterlaluan!"


Ucap Stella dan Anggara tidak peduli. Ia pun mencium bibir manis itu. Terdengar nafasnya mulai memburu. Malam itu, tidak tahu entah keberapa kalinya Anggara melakukannya kepada Stella.


Stella hanya bisa pasrah sebab ia pun tidak dapat melawan Anggara. Sosok lelaki yang sangat kuat yang berhasil meluluh lantakkan hatinya. Padahal, dalam kehidupan seorang pembunuh bayaran. Tidak boleh memiliki perasaan terhadap lelaki.


Atau ia akan menjadi lemah dan tidak berdaya. Dan, sialnya ternyata Stella pun sudah mulai jatuh cinta terhadap Anggara. Dan, ia sudah terbiasa dengan rayuan kata-kata dari Anggara serta sentuhannya. Inilah sebenarnya akibat fatal yang suatu saat nanti akan membuat dirinya berada di dalam dilema.


Bersambung...


EAGLE LADY

__ADS_1



__ADS_2