
Apartemen Selasih kota...
Stella sedang duduk di meja ruangan tamu. Dengan secangkir teh hangat dan sebungkus roti disana. Stella duduk sambil melamun. Ia sedang memikirkan sesuatu.
Sesuatu yang sudah beberapa hari ini telah mengganggu pikirannya. Sejujurnya, ia sangat rindu dengan adik lelakinya yang ia titipkan di panti asuhan.
Ia ingin sekali mengunjungi adiknya disana. Dan, ingin sekali menyapa dan berbicara dengannya. Akan tetapi, ia takut jika adik lelakinya tidak mengenalinya lagi.
"Mungkin saja, dia tidak mengenaliku lagi...sudah lama...semenjak, saat itu...terakhir kali aku bertemu dengannya dan membawanya ke tempat itu."
Ucap Stella.
"Atau mungkin, dia akan sangat membenciku...sebab, aku telah meninggalkan dia disana."
Ucapnya.
"Huft! Hidup itu berat...meskipun begitu aku tidak akan menyerah dan berputus asa...keputusanku sudah tepat...menyembunyikan dia disana...agar dia selamat dan tidak menjadi incaran para orang-orang dunia hitam."
Ucap Stella lagi.
Tetapi, bagaimanapun juga dia adalah adikku...besok aku akan mengunjunginya.
Ucap Stella dalam hati. Akhirnya, Stella memutuskan akan menemui adiknya di sebuah yayasan panti asuhan besok hari.
Keesokan harinya...
Pagi yang cerah dan matahari bersinar terang. Stella sedang dalam perjalanan menuju sebuah yayasan yatim piatu dimana ia menitipkan adiknya disana. Tidak lama, Stella pun sudah sampai disana. Ia menemui kepala yayasan yatim piatu tersebut.
"Halo, selamat pagi Bu Kepala Yayasan?"
Sapa Stella.
"Ah, halo? Panggil saja Bu Nirmala."
Balas Nirmala.
"Oh, baiklah! Bu Nirmala...saya ingin menemui adik saya, bu."
Ucap Stella.
"Nama adik, nona...
Ucap Nirmala.
"Nama saya, Stella dan nama adik saya adalah Evan."
Ucap Stella.
"Evan?"
Ucap Nirmala sambil mengerutkan dahinya.
"Ya, Evan?"
Ucap Stella.
"Tunggu sebentar."
Ucap Nirmala sambil berlalu dan memanggil seseorang. Stella menunggu disana. Nirmala tampak panik sebab ia telah menyembunyikan kejadian tentang hilangnya Evan.
"Bagaimana, ini? Kakaknya sudah datang kesini...tetapi, dia sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi disini."
Ucap Nirmala sambil berjalan kesana kemari. Dan, seorang pengasuh anak-anak disana pun menghampirinya.
"Bu Nirmala, anda terlihat sangat gusar sekali."
Ucap pengasuh tersebut.
"Ya, kakak dari Evan sudah datang kesini...dan, ia datang untuk menemui Evan...tetapi, kau mengetahuinya sendiri...sejak, beberapa minggu yang lalu dia menghilang."
Ucap Nirmala.
"Situasi ini sangat sulit sekali, Bu...sebaiknya, kita berterus terang saja kepadanya."
Ucap pengasuh.
"Tetapi, bagaimana jika dia nanti menuntut kita atas kecerobohan kita."
Ucap Nirmala.
"Bu? Apa, yang sudah terjadi tidak bisa kita kembalikan lagi...jujur lebih baik daripada kita menyembunyikan ini dari keluarganya."
__ADS_1
Ucap pengasuh.
"Ya, kau benar...tolong, dampingi aku."
Ucap Nirmala.
"Baiklah, bu."
Ucap pengasuh kemudian mendampingi Nirmala untuk menyampaikan sesuatu kepada Stella perihal hilangnya Evan.
"Nona Stella?"
Panggil Nirmala.
"Ya, bu...dimana adik saya...saya ingin bertemu dengannya."
Ucap Stella penuh harap.
"Begini, nona Stella saya ingin menyampaikan sesuatu kepada nona."
Ucap Nirmala tiba-tiba.
"Sesuatu? Apa?"
Ucap Stella.
"Nona Stella harus kuat, ya?"
Ucap Nirmala.
"Apa, maksud kalian? Dimana, adik saya."
Ucap Stella tidak mengerti.
"Adik anda, Evan sudah beberapa minggu ini menghilang dari panti."
Ucap Nirmala akhirnya.
"Apa!"
Stella terkejut.
"Evan hilang?"
Ucap Stella.
Ucap Nirmala.
"Bagaimana, hal ini bisa terjadi bu?"
Ucap Stella.
"Kami pun tidak mengerti...satu-satunya hal yang dapat kami temukan...hanya ini."
Ucap Nirmala sambil menyerahkan topi milik Evan.
"Ini milik Evan."
Ucap Stella sambil menerima topi milik Evan.
"Ya, adik nona sangat suka sekali memakai topi."
Ucap Nirmala.
"Jadi, kalian tidak tahu dimana Evan?"
Ucap Stella. Dan, Nirmala menggeleng lemah. Stella pun merasa kecewa.
Ini tidak benar...sepertinya, ada yang sengaja menculik adikku...serta, mereka juga tidak ada yang memberitahuku tentang ini...sebab, aku pun selalu menghilang dan menghindari mereka yang mencoba membunuhku.
Ucap Stella dalam hati.
Aku akan mencari adikku sampai bertemu...dan, aku akan menyelidiki siapa orang yang sedang bermain di belakang layar.
Ucapnya lagi dalam hati. Lalu, tanpa basa basi lagi Stella pun pergi meninggalkan yayasan panti asuhan tersebut dengan perasaan yang tidak menentu.
"Dan, ketika aku menemukannya...akan aku hancurkan mereka sampai tidak bersisa."
Ucap Stella penuh dengan dendam kesumat.
Membunuh atau dibunuh!
__ADS_1
......................
Sebuah tempat di jauh dari pemukiman...
Tempat rahasia yang dibangun oleh Angela dan Simon yang sudah beroperasi sekian tahun. Di dalamnya terdapat kegiatan yang tidak biasa. Dimana banyak melibatkan ilmuwan untuk melakukan sesuatu terhadap seorang anak lelaki yang berusia sekitar 17 tahun.
Anak lelaki tersebut tampak tidak sadarkan diri. Sebab, sudah berulangkali mengalami penurunan kesadaran karena percobaan demi percobaan yang dilakukan oleh para ilmuwan tersebut atas perintah Angela dan Simon.
"Dia sudah seperti ini berulangkali...tidak tahu apakah ia masih dapat bertahan atau tidak."
Ucap sang ilmuwan.
"Apa, boleh buat semua itu sudah menjadi takdirnya...dia yang seharusnya bergembira bersama dengan teman sebayanya...malah harus berakhir di ranjang penelitian."
Ucap asisten ilmuwan.
"Dan, kita banyak melakukan penelitian terhadap tubuhnya...tidak tahu apakah tubuhnya dapat menerima atau tidak...itu semuanya tergantung kepada dirinya sendiri."
Ucap ilmuwan.
"Anda benar sekali, pak! Dan, ini penelitian yang terakhir...jika, dia terus begini...maka sama saja dia dengan barang rusak dan tidak dapat dipakai...sia-sia saja kita melakukan penelitian ini."
Ucap asisten ilmuwan sambil menarik nafas lelah.
"Lalu, dimana Angela dan Simon?"
Tanya ilmuwan.
"Seperti biasa mereka selalu melakukan hal yang lain...mereka sedang membangun pasukan khusus...hanya demi seorang pembunuh bayaran."
Balas asisten ilmuwan.
"Mereka berdua adalah orang-orang yang berbahaya...kita harus tetap berhati-hati dalam bertindak dan bertingkah laku di hadapan mereka."
Ucap ilmuwan.
"Ya, pak!"
Ucap asisten ilmuwan.
"Sudahlah! Kau urus dulu bagian ini disini...aku akan mengecek sesuatu disana...dan, menambahkan dosisnya jika masih memungkinkan."
Ucap ilmuwan.
"Baik, pak!"
Ucap asisten ilmuwan tersebut menuruti perintah dari sang ilmuwan. Sedangkan, Angela dan Simon sedang memperhatikan pekerjaan para ilmuwan tersebut dari kamera pengawas.
"Huh! Lama-lama, mendengar percakapan mereka membuatku menjadi ingin melubangi kepala mereka."
Ucap Angela.
"Sabar, Angela...bila semua sudah usai...maka kau bisa membunuh mereka semua satu per satu."
Ucap Simon.
"Dan, tidak meninggalkan bukti apa pun."
Sambung Angela.
"Ya, kau benar...sebab, mulut para ilmuwan tidak dapat dipercaya sama sekali."
Ucap Simon.
"Mereka ibarat sebuah bom yang dapat meledak sewaktu-waktu."
Ucap Angela.
"Melenyapkan barang bukti adalah pilihan yang tepat."
Ucap Simon tersenyum dan Angela pun juga tertawa bahagia. Sebab, rencana mereka setelah menggunakan jasa para ilmuwan akan segera dilaksanakan.
Angela dan Simon akan menghilangkan seluruh barang bukti hasil kejahatan mereka. Sebab, mereka tidak ingin meninggalkan jejak apa pun setelah rencana mereka rampung.
Agar kejahatan mereka tidak terendus oleh siapa pun, maka semua yang berkaitan dengan rencana mereka harus meninggalkan dunia ini.
Memang, dunia hitam itu sangat kejam. Diantara para orang kejam tersebut. Mereka dapat melakukan apa saja untuk membunuh seseorang, bahkan yang paling berjasa sekali pun dalam dunia mereka.
Bersambung...
EAGLE LADY
__ADS_1