EAGLE LADY

EAGLE LADY
Bab 29. Aksi Penyelamatan


__ADS_3

Akhirnya, mau tidak mau Stella pun kembali berpetualang di dunia hitam. Ia menemui organisasi pembunuh bayaran. Tidak tahu karena ia sudah lama tidak berkecimpung lagi di dunia hitam. Membuatnya menjadi di remehkan oleh organisasi tersebut.


"Kau? Ingin bergabung dengan organisasi pembunuh bayaran kami?"


Ucap ketua organisasi.


"Iya, bos! Itu pun jika, bos menerimaku sebagai anggota organisasi ini."


Ucap Stella.


"Hem? Begini, kau dengan postur tubuh ramping begitu...apa kau yakin kau ingin bergabung dengan organisasi kami?"


Ucap ketua organisasi.


"Tentu saja, bos! Mengapa tidak?"


Ucap Stella.


"Kau tahu dunia hitam itu sangat kejam...tidak ada kata ampun bagi wanita di dunia kami...apa kau benar-benar tidak menyayangkan dengan potensi yang kau miliki?"


Ucap ketua organisasi. Kata-kata dari ketua organisasi seketika membuat Stella menjadi naik darah.


"Bos? Sesungguhnya, apa yang membuatmu menjadi terlalu cerewet? Katakan saja, apakah aku diterima menjadi anggota...atau, tidak sama sekali?


Ucap Stella sambil memegang kerah baju ketua organisasi. Melihat hal tersebut, membuat ketua organisasi tersebut menjadi ciut nyalinya.


"Eh? Ja...jangan...berbuat kasar kepadaku...baiklah, aku menerimamu menjadi anggota."


Ucap ketua organisasi.


"Nah, begitu lebih baik! Sedari tadi kau hanya berputar-putar saja tidak jelas...menyebalkan!"


Ucap Stella.


"Bukan begitu, akhir-akhir ini terlalu banyak masalah yang terjadi di sini...oleh sebab itu, aku tidak ingin...dipusingkan lagi dengan masalah lainnya."


Ucap ketua organisasi.


"Kau tenang saja, bos! Aku tidak akan menambahkan masalahmu."


Ucap Stella sambil melirik kertas berisi misi di hadapan ketua organisasi.


"Eh? Itu kertas apa?"


Ucap Stella.


"Itu bukan kertas penting...hanya berisi misi penyelamatan seorang bocah perempuan saja."


Ucap ketua organisasi. Stella meraih kertas berisi misi tentang penyelamatan bocah perrmpuan tersebut dan membacanya.


"Ditolak?"


Ucap Stella.


"Ya, disini adalah organisasi pembunuh bayaran bukan organisasi penyelamatan bocah perempuan."


Ucap ketua organisasi.


"Hubungi orang tua bocah itu...aku menerima misinya."


Ucap Stella.


"Apa!"


Ucap ketua organisasi terkejut.


"Hei, kau baru saja menjadi anggota...kau tidak bisa sembarangan bertindak."


Ucap ketua organisasi.


"Bos, apa kau tidak mencium bau uang?"


Tanya Stella.


"Bau uang? Dimana?"


Ucap ketua organisasi.


"Dasar! Kau memang bos yang payah...pantas saja organisasimu ini seperti organisasi abal-abal."


Ucap Stella.


"Apa katamu! Tarik kembali ucapanmu."


Ucap ketua organisasi.


"Yang meminta misi ini adalah kerabat dari tuan Wijaya...apa kau tahu siapa itu tuan Wijaya?"


Ucap Stella.


"Cih, aku tidak peduli...memang siapa dia?"

__ADS_1


Ucap ketua organisasi.


"Dia adalah orang nomor satu di Jawa...dia orang yang penting dan sangat kaya di daerahnya...ia memiliki banyak sekali properti serta aset berharga lainnya."


Ucap Stella.


"Wow, kau pintar...bagaimana kau tahu?"


Ucap ketua organisasi.


"Di dunia ini tidak ada satu pun yang tidak mengetahui dirinya...kecuali hanya kau saja seorang...cepat, hubungi sebelum pihak lain yang mengambil misinya."


Ucap Stella.


"Ah, baiklah...bau uang...aku sudah menciumnya."


Ucap ketua organisasi.


Dia ini tampak seperti orang bodoh...aku tidak tahu mengapa dia bisa menjadi ketua dari organisasi ini...benar-benar tidak masuk akal.


Ucap Stella dalam hati.


Informasi Rubella berharga sangat mahal...tampaknya orang yang berada di balik hilangnya adikku itu...mereka bukan orang sembarangan...aku harus waspada serta hati-hati.


Ucap Stella dalam hati lagi. Tidak lama ponsel Stella berbunyi.


🎶🎶🎶


Ia melihat layar ponselnya dan melihat nomor Anggara tertera disana. Sejenak, Stella menarik nafas lelah.


"Dia lagi."


Ucap Stella.


"Aku benar-benar tidak bisa menghindar darinya."


Ucap Stella lagi.


Stella pun menerima panggilan tersebut.


"Halo."


Sapanya.


"Halo, sayang? Dimana, kau berada saat ini."


Ucap Anggara.


"Aku sedang berada di luar...ada urusan sebentar."


Ucap Stella.


Ucap Anggara.


"Oh, tentu saja pak Anggara? Bukankah, pak Anggara sudah menyetujuinya?"


Ucap Stella.


"Aku menyetujuinya...tetapi, bukan berarti kau bisa pergi kemana pun sendirian...setidaknya, kau bisa membawaku pergi bersamamu."


Ucap Anggara kesal.


"Oh, maaf sekali pak Anggara...apakah, kau sedang kesal?"


Ucap Stella.


"Sudah tahu masih saja bertanya."


Ucap Anggara. Dan, Stelle terkekeh geli karena sikap Anggara yang ia anggap terlalu manja kepada dirinya.


"Kau menertawaiku?"


Ucap Anggara semakin kesal.


"Hahaha, pak Anggara tampaknya amarahmu semakin tinggi saja...coba kau turunkan saja sedikit amarahmu."


Ucap Stella tertawa geli.


"Lihat saja! Setelah, aku menemukanmu...aku akan memberi hukuman kepadamu."


Ucap Anggara sambil memutuskan sambungan teleponnya. Dan, Stella semakin tertawa terpingkal-pingkal karenanya.


"Hoi, Stella! Ini dia misinya...malam ini juga kau beraksi...selamatkan bocah perempuan tersebut...dan, ini adalah uang muka dari misi ini...sisanya akan mereka kirim setelah bocah itu selamat."


Ucap ketua organisasi.


"Baiklah...oh, ya? Simpan saja dulu uang mukanya...nanti akan aku ambil begitu tugasku selesai."


Ucap Stella.


"Apa, kau percaya kepadaku? Bagaimana, jika aku menggunakan uangmu."

__ADS_1


Ucap ketua organisasi.


"Tentu aku tahu aku haruas berbuat apa kepadamu, bos!"


Ucap Stella sambil berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Glek!"


Ketua organisasi menelan air liurnya sendiri.


Dia sangat menakutkan! Siapa, sebenarnya dia?


Ucap ketua organisasi dalam hati.


......................


Malam harinya...


Stella berdiri di atas sebuah gedung pencakar langit. Di atas sana dengan teropong khusus miliknya ia dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan pandangan mata biasa.


"Base camp ini, tampak hanya base camp kecil biasa...yang mengartikan mereka hanyalah penculik amatiran."


Ucap Stella yang sudah berubah menjadi Eagle Lady dengan stelan hitam-hitam nan ketat menghiasi tubuhnya. Serta rambut pendek khasnya.


"Mereka tidak termasuk dalam organisasi besar para penculik profesional."


Ucap Stella.


"Pantas saja! Ketua organisasi tersebut tidak menerima misi ini...tetapi, dikarenakan uang dari misi ini bisa membayar informasi Rubella...maka sedikitpun aku tidak akan ragu."


Ucap Stella.


"Saatnya beraksi. MEMBUNUH ATAU DIBUNUH."


Ucap Stella akhirnya menerjang basis pertahanan dari para kelompok penculik bocah perempuan yang bernama Icha tersebut. Stella menghancurkan dan menembak para anggota penculik yang ternyata anggotanya sebagian besar adalah remaja.


"


D


O


R


.


.


.


"


Sungguh sangat disayangkan remaja sekarang. Tingkat kenakalan mereka melebihi tingkat kenakalan orang dewasa. Seakan, tidak ada yang membimbing mereka dan mereka terjatuh di dalam jurang yang dalam.


"Para remaja yang malang...mati hanya demi memperjuangkan hal yang tidak perlu diperjuangkan."


Ucap Stella.


"Sekarang, cari ketuanya."


Ucap Stella. Dan, ia menemukan sang ketua penculik bocah perempuan itu sedang bersembunyi. Turut serta disana ada bocah perempuan dengan kondisi tangan dan kaki terikat serta mulut disumpal kain.


Dan, bocah perempuan tersebut tampak ketakutan serta tidak ingin melihat wajah Stella. Segera, Stella membebaskan bocah perempuan tersebut. Setelahnya, Stella membawa bocah perempuan tersebut keluar dari tempat tersebut.


Sebelum keluar ia menatap ketua dari penculik tersebut sambil berkata...


"Hiduplah dengan baik...masa depanmu masih panjang...tentukan pilihanmu...aku mengampunimu."


Ucap Stella lalu ia keluar bersama dengan bocah perempuan yang bernama Icha tersebut. Dan, menyerahkannya langsung kepada keluarga tuan Wijaya.


Tuan Wijaya berterima kasih kepada Stella karena sudah membebaskan putrinya dari para penculik. Sesuai janji tuan Wijaya menyerahkan sisa pembayaran atas misi yang dikerjakan oleh Stella.


Stella menerimanya, di hadapan ketua organisasi sebagai saksi dari upaya penyelamatan tersebut. Stella mengambil bagiannya dan sisanya ia berikan kepada ketua organisasi.


"Sebanyak ini?"


Ucap ketua organisasi.


"Ya, bukankah kau juga sudah berusaha?"


Ucap Stella.


"Baiklah, haha...sebagai ucapan terima kasihku...mari kita rayakan dengan makan bersama."


Ucap ketua organisasi.


"Aku setuju...mari."


Ucap Stella menyetujui ajakan ketua organisasi. Sementara, itu ada sepasang mata yang telah mengawasinya sejak beberapa hari yang lalu sampai saat ini.


Bersambung...

__ADS_1


EAGLE LADY



__ADS_2