EAGLE LADY

EAGLE LADY
Bab 45. Keputusan Stella


__ADS_3

Satu Minggu kemudian...


Setelah memikirkan permintaan Yuri selama satu minggu. Akhirnya, Stella menerima permintaan Yuri untuk menjaga jarak dengan Anggara. Meskipun, ia merasa berat hati untuk melakukannya. Sebab, hubungannya dengan Anggara baru saja berjalan.


Bagaimana pun, itu adalah konsekuensi atas perbuatannya sendiri di masa lalu. Dan, ia tahu ia telah cukup membuat Yuri menderita. Ia tidak ingin melihat Yuri semakin menderita dengan tetap melanjutkan hubungannya dengan Anggara. Walaupun perasaan tersebut begitu menggunung di dalam hatinya.


Stella harus tetap memendamnya dan menjaga jarak dengan Anggara. Dan, hal tersebutlah yang membuat Anggara menjadi heran dengan semua sikap perubahan Stella. Sehingga ia mencoba untuk berbicara dengan Stella. Dan, mencegahnya untuk pulang sendirian.


"Tunggu, Stella!"


Cegah Anggara di sore hari sepulang kerja. Stella menoleh dan sekilas ia mengulas senyum di bibirnya.


"Ya, pak Anggara?"


Ucap Stella dengan jelas. Dan, ucapan tersebut cukup memberi jarak dengan hubungan mereka berdua.


Lagi...ia memberiku jarak seperti sebelum-sebelumnya...apa yang sesungguhnya sedang terjadi?


Ucap hati Anggara.


"Aku ingin berbicara berdua denganmu."


Ucap Anggara.


"Berbicara? Tentang apa, pak?"


Tanya Stella.


Dia berkata begitu dengan terang-terangan...sekaligus senyum itu juga terlihat jelas...apa ini, Stella?


Ucapnya lagi dalam hati.


"Sepertinya, pak Anggara sedang berpikir...apakah, pak Anggara sedang memikirkan sesuatu?"


Ucap Stella lagi.


"Ya, kau benar? Sayang, tidak bisakah kau berhenti bersikap seperti ini terhadapku?"


Ucap Anggara memohon.


"Maaf, pak Anggara...ini masih di lingkungan kantor...apakah, bisa kau tidak berkata demikian denganku."


Ucap Stella.


"Stella, sayang? Apa, maksud ucapanmu...aku tidak mengerti."


Ucap Anggara.


"Pak Anggara, kau sepenuhnya mengerti...hanya saja kau pura-pura tidak mengerti."


Ucap Stella.


"Lalu? Apa ini? Mengapa, kau bersikap demikian kepadaku?"


Tanya Anggara sudah mulai tidak sabar.


Sial, aku sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaannya...kalau kuberitahu...itu akan membongkar segalanya...dan itu akan lebih menyakitkan.


Ucap Stella dalam hati.


"Pak Anggara, dengar...akhir-akhir ini aku sangat stres dengan pekerjaan...jadi, untuk sementara waktu jangan ganggu aku dulu."


Balas Stella dengan tegas.


"Apakah, pekerjaan yang kuberikan itu sangat membebanimu?"


Tanya Anggara.


"Ya."


Balas Stella pendek.


"Baiklah, aku akan mengurangi beban pekerjaanmu...agar kau bisa tenang dan bersikap manis lagi denganku."


Ucap Anggara.


"Sejujurnya, pak Anggara...aku lebih suka jika kau memecatku...agar aku bisa tenang dan santai."


Ucap Stella berusaha untuk membuat jarak yang besar di antara hubungan mereka berdua. Sedang, Anggara ia merasa terkejut dengan kata-kata Stella yang didengarnya baru saja.


"Apa! Apa, kau sudah gila? Sayang, mengapa kau berkata seperti itu."

__ADS_1


Ucap Anggara.


"Aku bosan bekerja denganmu...dan aku ingin berhenti."


Ucap Stella.


"Tidak, sayang? Jangan, tinggalkan aku."


Ucapnya sambil menarik Stella dalam pelukannya. Disana, dalam pelukan Anggara. Stella merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh Anggara setelah mendengar kata-katanya. Ada isak tangis yang tertahan oleh kelelakian Anggara yang pantang menangis di depan wanita.


Sesaat, Stella merasa ragu dengan hal tersebut dan dari kejauhan Yuri melihat segalanya. Tiba-tiba saja, air mata menetes dengan deras dari pelupuk matanya. Ia merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh Anggara.


Namun, ia merasa jauh lebih baik jika Stella tidak berada di tengah-tengah mereka. Dengan, rahasia besar yang bisa saja meledak sewaktu-waktu. Dan, mungkin saja bisa menghancurkan segalanya.


"Maaf, kakak...aku terpaksa melakukan semua ini...demi keluarga kita dan demi kebaikan kalian berdua."


Ucap Yuri.


"Sungguh, aku tidak bisa membayangkan...jika seandainya kau mengetahui rahasia besar kak Stella...bagaimana, kau akan menghadapinya?"


Ucap Yuri.


"Apakah, aku egois demi mempertahankan sesuatu yang indah bagi kalian berdua."


Ucap Yuri sambil memandang langit berhiaskan awan kelabu. Yang sebentar lagi akan meneteskan air hujan. Disana, Stella pergi dari sisi Anggara dengan rasa sakit yang tidak tertahankan di hatinya. Dan, Anggara merasa kacau dengan semuanya.


Ia merasa hampa di hatinya tanpa Stella. Dan, kehidupan tetap berjalan seperti biasanya. Akan tetapi, ada kehampaan yang tersisa setiap hari di dalam ruang kantor Anggara. Masih ada bayangan Stella membayangi setiap langkah dalam kehidupannya.


......................


Dua puluh tahun kemudian...


Tokyo...


"Arga...."


Teriak suara seorang wanita menggema di sebuah rumah mewah. Dan, terdengar suara bisikan disana sini.


"Aish...nyonya, marah lagi...tuan Arga sangat malas bangun pagi...dan dia akan melewatkan waktu untuk bekerja."


Ucap suara-suara bising tersebut.


"Arga...., percaya tidak aku akan menendang pintu kamarmu...jika, kau tidak segera bangun."


"Aduh, mami? Mengapa, membangunkanku di waktu indahku untuk tidur."


Ucap lelaki berusia dua puluh tahun dari balik selimut. Sungguh ia mendengar suara teriakan ibunya dari luar pintu kamarnya. Kebetulan, saat itu seorang wanita muda sudah berada di sisi wanita tersebut.


"Dia belum bangun lagi?"


Tanya wanita muda tersebut.


"Yah, kau tahu bagaimana dia...dia sangat susah dibangunkan."


Balas wanita yang usianya sudah tidak muda lagi itu. Akan tetapi, gurat kecantikan di masa muda masih terlukis di wajahnya.


"Serahkan kepadaku...aku akan membuatnya menyesal."


Ucap wanita muda itu lagi.


"Baiklah, Tamomi...kuserahkan anak lelakiku kepadamu."


Ucap wanita tersebut akhirnya dan ia pun segera berlalu dari sana.


"Arga! Cepat, bangun! Atau, percayalah...ayahku akan memotong kau menjadi empat bagian nanti."


Ucap Tamomi.


Apa! Ayah Tamomi, akan memotongku menjadi empat bagian...aku harus bangun.


Ucap Arga dalam hati, kemudian dengan langkah berat ia pun melangkah dan membuka pintu kamarnya.


"Krieettt."


Dan, sesosok wajah tampan menyembul dari sana.


"Apa, kau tidak bosan...setiap hari mengancamku...dengan menggunakan ayahmu."


Ucap Arga.


"Aku bosan? Tentu saja, tidak...kau adalah pengawal terpilih ayahku...jadi, sudah seharusnya kau bersikap baik denganku."

__ADS_1


Ucap Tamomi.


"Oh,ya? Kalau bukan, karena ayahmu seorang mafia terkenal kejam...tidak mungkin aku mau melakukan segala perintahmu!"


Ucap Arga.


"Syukurlah, karena ayahku mafia...sebab jika ayahku seorang Jenderal...mungkin kau tidak akan mau menjadi pengawalku."


Balas Tamomi.


"Sungguh menjengkelkan...pergi sana!"


Ucap Arga marah.


"Jangan marah? Aku akan menunggumu di bawah."


Ucap Tamomi sambil berlalu dari hadapan Arga.


"Putri mafia memang keterlaluan...dia benar-benar wanita manja...setiap hari menyuruhku melakukan ini dan itu."


Ucap Arga.


"Bahkan, waktu tidurku pun ia sita...benar-benar kejam...sama seperti ayahnya...tuan Tetzuya Takamoto."


Ucap Arga sambil bergegas pergi ke kamar mandi. Setelah, ia selesai mandi dan berdandan rapi seperti anak muda Jepang lainnya. Ia pun segera turun ke bawah untuk menemui Tamomi.


"Ayo, berangkat!"


Ucap Arga tidak mempedulikan lagi arah langkahnya.


"Arga! Kau tidak sarapan pagi dahulu?"


Ucap wanita tersebut.


"Tidak, mam...aku bisa makan di luar."


Ucap Arga tanpa menoleh. Dan, Tamomi mengikuti langkahnya dari belakang. Tamomi mengambil langkah terlebih dahulu untuk menyetir mobil. Arga terkejut melihatnya.


"Hei...Tamomi, nona manja! Jangan, ambil alih pekerjaanku "


Ucap Arga.


"Hmph! Terakhir kali, kau menghancurkan mobilku...hanya demi berhadapan dengan anak berandalan tersebut."


Balas Tamomi.


"Tetapi, itu adalah tugasku...aku melindungimu...bukankah ayahmu akan memotongku...jika, aku mengabaikanmu?"


Ucap Arga.


"Bagus! Jika, kau ingat itu...tetapi bukan dengan cara menghancurkan barang milikku."


Ucap Tamomi marah.


"Hei, nona manja...putrinya tuan mafia...dengarkan aku...itu adalah salah satu cara untuk menyelamatkanmu."


Ucap Arga.


"Dengan, menggunakan barang milikku? Wow, kau arogan sekali?"


Ucap Tamomi.


"Baiklah, terserah kau saja...jika, mereka mengganggumu lagi...aku tidak akan menyelamatkanmu lagi."


Ucap Arga sambil melipat tangan di dada.


"Wow, suatu kemajuan besar...kau berani berkata begitu terhadapku? Kau ini benar-benar picik sekali."


Ucap Tamomi.


"Aku tidak peduli dengan semua anggapanmu...sudah, jalankan saja mobilnya."


Ucap Arga menyerah.


Huh...benar-benar menyebalkan! Setiap hari aku harus bertengkar dahulu dengannya...ayahku benar-benar tidak dapat melihat...sosok pengawal yang cocok untukku...malah menyuruh dia untuk menjagaku.


Ucap Tamomi dalam hati. Dan, mobil itu pun meluncur di jalanan kota Tokyo. Tamomi mengarahkan mobilnya ke suatu tempat perbelanjaan terbesar di Tokyo. Arga menghela nafas lelah, menghadapi Tamomi. Kali ini tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Tamomi kepada dirinya.


Dia pasti akan menyuruhku bekerja berat lagi hari ini...ck, benar-benar si anak manja menyebalkan!


Bersambung...

__ADS_1


EAGLE LADY 2, DARAH MUDA


__ADS_2