EAGLE LADY

EAGLE LADY
Bab 39. Stella, siapa dirimu?


__ADS_3

Malam hari, kediaman keluarga Anggara...


Yuri sudah pulang ke rumah dengan wajah yang memberengut kesal. Anggara yang melihatnya, segera saja menegur adiknya itu.


"Yuri!"


Panggil Anggara.


"Ya, kakak."


Ucap Yuri sambil mendekati kakaknya dan duduk di sisi Anggara.


"Mengapa, dengan wajahmu itu?"


Tanya Anggara.


"Kakak bertanya padaku? Lalu, aku harus jawab apa? Tidakkah, kakak tahu...kak Stella dia sudah menindasku kakak?"


Balas Yuri.


"Oh, ya? Dia sudah menindasmu...apa yang sudah si kucing liar itu lakukan terhadapmu."


Ucap Anggara.


"Dia memberiku syarat...dia ingin agar aku menjemputnya untuk pergi bekerja setiap hari...coba, kakak pikir...apa, kak Stella tidak keterlaluan?"


Ucap Yuri.


"Sebentar dulu...ini apa yang sesungguhnya yang terjadi? Mengapa, kucing liar meminta syarat darimu."


Ucap Anggara.


"Kakak? Hu...hiks...kak Stella...mengetahui kalau aku ikut berakting membantu kakak."


Ucap Yuri.


"Apa! Dia mengetahuinya?"


Ucap Anggara.


"Iya, kakak? Hu...hiks...aku tidak ingin menjadi supir pribadi kak Stella...tetapi, jika tidak maka dia akan marah kepadaku dan tidak akan memaafkanku."


Ucap Yuri sambil terisak. Anggara terhenyak mendengar kata-kata Yuri. Tetapi, dalam hati ia mengagumi kepintaran Stella.


Wow...si kucing liar sangat pintar...ia dapat mengetahui aktingku dengan wanita-wanita bayaranku itu.


Ucap Anggara dalam hati.


"Ya, sudah kalau begitu...nanti, kakak yang akan berbicara dengannya."


Ucap Anggara.


"Sungguh?"


Ucap Yuri.


"Kapan, kakakmu ini pernah berbohong kepadamu?"


Ucap Anggara.


"Kakak, tidak pernah berbohong kepadaku...tidak sekalipun."


Ucap Yuri.


"Bagus! Sekarang, pergilah beristirahat."


Ucap Anggara.


"Baik, bos!"


Ucap Yuri. Yuri segera berlalu meninggalkan Anggara yang masih duduk di ruang tamu. Sedangkan, Stella ia baru sampai di apartemennya. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk. Tatapan matanya melihat langit-langit kamar. Tidak lama ia pun jatuh dalam mimpi yang indah.


Pagi harinya...


Sinar matahari masuk melalui jendela kamar apartemen yang terbuka sedikit. Stella terbangun dari tidurnya. Namun, rasa kantuk masih menyerangnya.


"Hoam."


Ia menguap.


"Sudah pagi rupanya."


Ucap Stella.


"Aku harus segera bangun dan mandi...aku tidak ingin terlambat pergi ke kantor...jika, tidak maka si pelit Anggara itu pasti akan berargumen yang tidak-tidak denganku."


Ucap Stella lagi. Stella segera melakukan aktivitas rutinnya seperti biasa. Lalu, berangkat ke kantor. Sampai disana ia bertemu dengan Anggara di dalam lift. Stella tidak mau melihat dan menatap Anggara. Anggara tersenyum melihat tingkah laku Stella.


Wow...dia sebenarnya cemburu atau marah?


Ucap Anggara dalam hati. Stella memberengut dan tidak mau berbicara dengan Anggara. Anggara mengetahui kalau Stella tidak ingin berbicara dengannya.


"Kau tidak ingin berbicara denganku."


Ucap Anggara. Stella diam tidak menggubris kata-kata Anggara.

__ADS_1


"Kau diam? Sebenarnya, kau itu cemburu atau marah?"


Ucap Anggara.


"Cih! Menurutmu memangnya, aku itu terlihat seperti orang yang seperti itu."


Ucap Stella kesal.


"Kalau menurutku kau itu sedang cemburu dan marah kepadaku."


Ucap Anggara sambil tersenyum mendekati Stella.


"Jangan dekat-dekat denganku! Kau sangat menyebalkan."


Ucap Stella.


Aduh, masih berapa lama lagi aku disini dengannya? Aku benar-benar sudah tidak tahan satu lift dengannya.


Ucap Stella dalam hati.


"Mengapa aku tidak boleh dekat denganmu?"


Tanya Anggara.


"Sebab, jika kau mendekat denganku...aku akan menggigitmu sampai mati."


Balas Stella.


"Oh, menakutkan sekali...sampai membuatku ingin pipis di celana."


Ucap Anggara.


"Hei, ini lift...kau tidak boleh membuangnya disini."


Ucap Stella mengingatkan.


"Aku tahu ini lift...tetapi, apa kau tahu? Lift ini adalah bagian dari kantorku...memangnya siapa yang bisa melarangku untuk membuangnya disini."


Ucap Anggara.


"Kau benar-benar tidak tahu malu."


Ucap Stella.


"Hahaha...Stella, sayang? Aku memang tidak tahu malu."


Ucap Anggara menariknya dalam pelukan.


"Tetapi, bukankah pria tidak tahu malu ini...yang memberimu surga dunia?"


Ucap Anggara.


Ucapan Stella terpotong.


"Sstt...kira-kira, sudah berapa kali kau mengatakannya...akan tetapi, bukankah kau juga...


Anggara menjilat daun telinga Stella. Sehingga, membuat Stella menjadi panas dingin karenanya.


"Hentikan! Jangan!"


Ucap Stella.


"Mengapa, harus berhenti? Bukankah kau juga menyukainya."


Ucap Anggara.


"Apa, kau pikir aku benar-benar menyukainya?"


Ucap Stella bertanya.


"Tentu saja! Jika, tidak kau tidak akan menjerit dengan kencang di saat itu."


Ucap Anggara menjawab. Dan, wajah Stella dalam sekejap berubah menjadi merah.


"Bukan aku yang menjerit di saat itu...tetapi kau yang menjerit....kau menjerit karena kau tidak bisa mencapai puncaknya."


Ucap Stella tersenyum.


"Sialan!"


Ucap Anggara sambil melepaskan Stella dari pelukannya.


"Mengapa, pak Anggara? Mengapa, sudah melepasku?"


Ucap Stella.


"Jika, kau ingin lagi...nanti, aku akan membuatmu tidak berdaya."


Ucap Anggara yang segera keluar dari lift sebab mereka berdua sudah sampai di lantai 40.


"Oh, benarkah? Aku akan sangat menantikannya."


Ucap Stella sambil terkekeh geli.


Dasar, kucing liar sialan!

__ADS_1


Ucap Anggara dalam hati. Anggara melangkah masuk ke dalam ruangan kerjanya. Tidak lama ponselnya berdering.


🎵🎵🎵


Setelah ia melihat siapa yang telah menelepon dirinya. Ia pun segera menerimanya.


"Halo!"


Sapanya.


"Halo, bos!"


Balas Leo.


"Katakan, apa hasil dari penyelidikanmu."


Ucap Anggara.


"Bos, aku sudah mengetahui kemana saja nona Stella pergi selama dua hari."


Lapor Leo.


"Lalu, kemana dia pergi selama dua hari kemarin itu."


Ucap Anggara penasaran.


"Bos! Apa, kau yakin ingin mendengarnya."


Ucap Leo.


"Tidak perlu bertele-tele, Leo! Apa, kau ingin aku merebusmu hidup-hidup?"


Ucap Anggara marah.


"Tidak, bos!"


Ucap Leo.


"Jadi, katakanlah kepadaku hal yang sebenarnya."


Ucap Anggara.


"Nona Stella selama dua hari itu ia pergi ke suatu tempat."


Ucap Leo.


"Pergi kemana! Apa, ke gunung seperti yang dikatakannya?"


Ucap Anggara.


"Tidak, bos! Dia tidak pernah pergi ke gunung...melainkan ia pergi untuk menghancurkan sarang eksklusif milik dua nama."


Ucap Leo.


"Apa! Pergi menghancurkan sarang?"


Ucap Anggara terkejut.


"Iya, bos!"


Ucap Leo.


"Lalu, apa kau tahu...siapa dua nama tersebut?"


Tanya Anggara.


"Tidak, tahu bos! Tetapi, aku akan menyelidikinya lagi."


Ucap Leo.


"Leo! Lakukan, penyelidikan secara keseluruhan...cari tahu tentang dua nama tersebut...serta keterlibatan Stella dengan mereka."


Perintah Anggara.


"Baik, bos! Akan, segera kulaksanakan."


Ucap Leo dan memutuskan komunikasi antar mereka berdua.


Kucing Liarku...ternyata tidak sesederhana yang terlihat...dia bukanlah wanita biasa...tidak tahu berapa banyak yang ia sembunyikan dariku.


Ucap Anggara dalam hati.


Aku tidak sabar untuk mengetahui hal yang sebenarnya yang terjadi...apa, yang membuat Stella bisa terlibat dengan urusan dunia hitam.


Ucapnya lagi dalam hati.


Stella siapa dirimu!


Ucap Anggara penasaran ingin sekali mengetahui tentang Stella yang sebenarnya. Sebab, Stella banyak menyimpan teka teki tentang dirinya sendiri. Dan, Stella juga terlibat dengan urusan dunia hitam. Siapakah, Stella yang sebenarnya? Apakah, Anggara dapat mengungkap identitas aslinya? Kita tunggu kelanjutannya ya?


Bersambung...


Eagle Lady


__ADS_1


__ADS_2