EAGLE LADY

EAGLE LADY
Bab 6. Memutuskan Mundur


__ADS_3

"Mereka terus menerus mengejarku! Bahkan, mereka tidak membiarkanku untuk sekedar mengganti amunisku yang habis."


Ucap Eagle Lady.


"Sepertinya, tidak ada cara lain...aku harus mengundurkan diri sementara waktu dari dunia hitam ini."


Ucap Eagle Lady berpikir.


"Maka, aku harus menyamar jadi orang biasa...bekerja disebuah perkantoran...ini yang terbaik untukku."


Ucap Eagle Lady akhirnya, ia mengundurkan diri dari dunia hitam untuk sementara waktu. Bersembunyi diantara masyarakat luas sembari melamar kerja di perusahaan-perusahaan yang dianggapnya bonafid.


Sesungguhnya dengan uang dimilikinya saat ini ia tidak perlu bekerja untuk menghasilkan uang namun, tidak mungkin jika ia tidak bekerja. Sebab, itu akan menimbulkan kecurigaan orang banyak tentang dirinya.


Oleh sebab itu, ia pun menyewa sebuah apartemen mewah di jantung kota Medan yang penuh sesak. Baru satu hari ia pindah, seorang tetangga sebelah apartemennya pun datang menghampirinya. Akhirnya mereka pun berkenalan dan akhirnya sang Eagle Lady memutuskan untuk menggunakan nama aslinya, Stella.


"Hai."


Sapa seorang perempuan muda itu.


"Hai, juga."


Balasnya dingin.


"Apa, kau baru disini."


Tanya perempuan muda itu.


"Ya."


Balas Stella pendek.


"Oh, ya siapa namamu...aku Yuri.


Ucap perempuan muda tersebut sambil mengulurkan tangannya.


"Aku Stella."


Ucap Stella tetapi tidak menjabat tangan perempuan muda yang bernama Yuri tersebut. Yuri pun menarik uluran tangannya.


Wanita ini dingin sekali...dia sangat berbeda dengan tetanggaku yang dahulu...bahkan satu senyuman pun tidak terlukis di bibirnya...tetapi, harus aku akui dia memang cantik dan sexy sekali.


Ucap Yuri dalam bathin.


"Apakah, kau memerlukan bantuan berberes-beres?"


Tanya Yuri.


"Tidak!"


Jawab Stella.


"Apakah, kau...


Belum lagi Yuri menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja Stella menutup pintu apartemennya setelah ia memasukkan semua barang bawaannya. Yuri menghela nafas lelah.


"Huft! Orang yang aneh."


Ucap Yuri kemudian ia pun kembali masuk ke dalam apartemennya. Sedangkan, Stella di dalam apartemennya ia sangat sibuk mengatur barang-barangnya. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi dirinya untuk berberes.


Akhirnya, pun semuanya telah selesai dan ia pun beristirahat sejenak. Sebelum, ia pergi berbelanja ke supermarket terdekat di sekitar apartemen tersebut. Di luar apartemen ia kembali bertemu dengan Yuri. Tetangga sebelah apartemennya.


"Hai, kak Stella!"


Sapanya. Dan, Stella hanya diam saja.


"Kak Stella, kau mau kemana?"


Tanya Yuri.

__ADS_1


"Belanja."


Jawab Stella sekenanya.


"Ow, kalau begitu sama...aku juga ingin berbelanja...Kak Stella kita pergi bersama, ya?"


Ucap Yuri sambil menggandeng tangannya. Akan tetapi, Stella yang dingin tidak ingin digandeng oleh Yuri. Dan, sikap dingin Stella inilah yang disukai oleh Yuri.


Wow, kakak cantik ini benar-benar dingin sekali...aku ingin tahu sampai kapan ia bersikap dingin denganku.


Ucap Yuri dalam bathin sambil berjalan di sisi Stella. Stella memperhatikan Yuri dengan seksama.


Gadis muda ini...tidak tahu sampai kapan akan menggangguku...ck, dia benar-benar menyebalkan sekali...suaranya terdengar nyaring...dan, menyakiti pendengaranku.


Ucap bathin Stella.


"Kak Stella, kita naik taksi saja kak? Biar aku yang bayar ongkos taksinya."


Ucap Yuri.


"Tidak perlu, aku bisa membayarnya sendiri."


Ucap Stella menolak.


"Kakak Stella? Kakak kan baru pindah...kakak belum tentu kakak punya uang banyak untuk bayar ongkos taksi dan belanja-belanja...jadi, kakak cukup jadi tuan putri yang manis dan duduk dengan tenang."


Ucap Yuri.


Apa! Gadis muda ini!


Ucap Stella dalam hati.


Haish! Sudahlah, tidak ada gunanya aku marah kepada seorang gadis muda...dia kan hanya mencoba menarik simpatiku saja, huh!


Ucapnya lagi dalam hati. Ketika, Stella tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tiba-tiba, ponsel Yuri berbunyi nyaring.


🎶🎶🎶


"Halo?"


Sapa seseorang di seberang sana.


"Ya, halo Yuri...ini aku."


Ucap seseorang tersebut.


"Ck, ya aku tahu...jika, kakak meneleponku hanya untuk menyuruh aku pulang...aku tidak mau!"


Ucap Yuri


"Yuri, kakak mohon? Kau segera pulang! Sangat berbahaya jika kau di luar sana sendirian."


Ucap seseorang yang dipanggil kakak tersebut.


"Tidak! Aku tidak mau pulang! Titik! Jangan meneleponku lagi."


Ucapnya marah lalu Yuri pun membuang ponselnya keluar jendela taksi begitu saja.


"Prakk."


Hal itu tentu saja membuat pak supir taksi menjadi terkejut terkecuali Stella. Ia tetap dingin dan tidak peduli dengan urusan gadis muda di sebelahnya. Ia hanya duduk diam dan tetap menatap ke depan.


Sedangkan, gadis muda di sebelahnya tampak memberengut dan memajukan bibirnya. Melihat ekspresi wajah Yuri semakin membuat Stella tidak nyaman.


Haish, gadis muda ini.


Bathin Stella.


"Kau akan cepat tua jika kau tetap mempertahankan ekspresi wajahmu yang seperti itu."

__ADS_1


Ucap Stella.


"Huh! Itu tidak mungkin kak Stella."


Ucap Yuri.


"Oh ya? Tidak percaya? Silahkan saja, kau pertahankan ekspresimu tetap seperti itu sepanjang hari...maka kulit wajahmu akan cepat menua."


Ucap Stella.


"Benarkah?"


Tanya Yuri tidak percaya sambil memandang wajah Stella. Dan, Stella pun mengangguk.


"Haish! Kakak sukses membujukku."


Ucap Yuri.


"Kakak? Kalau kulihat-lihat, kau sangat cocok menjadi kakakku...hehe...bagaimana, jika kau menjadi kakakku."


Usul Yuri. Stella sambil mengangkat tangan ia berkata...


"Tidak!"


Balasnya.


"Apa! Kakak menolakku?"


Ucap Yuri. Stella menganggukjan kepalanya.


"Mengapa, kakak menolakku...apa, aku tidak pantas menjadi adik angkatmu?"


Ucap Yuri. Stella sekali lagi mengganggukkan kepalanya.


"Aku ini seorang gadis muda yang kaya, kakak? Aku juga tidak kalah cantik denganmu, juga aku berwibawa sepertimu...mengapa, kau tidak tertarik denganku?"


Ucap Yuri bertubi-tubi.


"Sudah sampai."


Ucap Stella menghentikan Yuri yang saat itu sedang membanggakan dirinya sendiri.


"Eh, sudah sampai?"


Tanya Yuri dan Stella mengangukkan kepalanya. Yuri dan Stella segera turun dari taksi setelah Yuri membayar ongkos taksi. Yuri mengikuti langkah kaki Stella dan berjalan di sampingnya.


Hal yang sempat tadi ia bicarakan di dalam taksi masih saja tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari Stella. Yuri sangat penasaran sekali, sehingga ia pun mencoba menanyakan hal yang sama untuk kedua kali.


"Kakak? Katakan, alasan mengapa kau tidak menerimaku sebagai adik angkatmu."


Ucap Yuri.


"Kau tidak memiliki kualifikasi menjadi adikku."


Ucap Stella dingin sambil berlalu pergi dari hadapan Yuri. Yuri pun mematung disana mendengar kata-kata Stella.


Apa? Tidak memenuhi kualifikasi? Dia bercanda, kan?


Ucap Yuri dalam hati. Yuri pun segera mengejar Stella dan dia ingin kembali bertanya kepada Stella. Namun, Stella mengangkat tangannya dan tidak ingin membicarakannya lagi. Yuri mengerti dan paham.


Lalu, ia pun mengajak Stella berkeliling pusat perbelanjaan tersebut. Mereka membeli banyak barang dan kesemuanya ditanggung oleh Yuri. Yuri menggunakan kartu kredit milik kakaknya yaitu kartu yang hanya digunakan oleh keluarga berpengaruh di Indonesia.


Ck...ck...gadis muda ini sangat royal...dan ia menggunakan kartu kredit platinum dan gold...dimana semuanya itu hanya keluarga berpengaruh yang memilikinya...siapa sebenarnya gadis muda ini...kalau seperti ini dia akan mudah menjadi target...apalagi ia jauh dari rumah.


Ucap Stella dalam bathin sambil menggelengkan kepalanya. Lalu, Setelah puas berbelanja keduanya pun segera kembali ke apartemen mereka. Yuri sangat senang dapat menghabiskan uang yang ada di dalam kartu kredit milik kakaknya itu. Ia tersenyum-senyum kecil dan bersiul-siul.


Setelah ini kakak, akan membayar tagihan kartu kredit hampir 200 juta...ah senangnya...itulah akibat dia tidak mengizinkanku pergi keluar rumah...memang pembalasan itu sangat indah.


Ucap Yuri dalam bathin. Stella menangkap gelagat yang tidak beres pada diri Yuri. Tetapi, dia tidak mempedulikan hal tersebut.

__ADS_1


EAGLE LADY



__ADS_2