EAGLE LADY

EAGLE LADY
Bab 41. Kesedihan Yuri


__ADS_3

Yuri sedang berada di dalam kamarnya. Ia sedang berdiri di atas balkon. Pikirannya menerawang jauh. Ia mengalami dilema yang tidak dapat disampaikannya kepada kakaknya. Sekali lagi ia melihat isi file tersebut.


Hatinya semakin hancur ketika ia membaca sekali lagi isi file tersebut. Yuri menangis. Anggara hendak berangkat ke kantor, tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring.


🎵🎵🎵


Ia pun segera menerima telepon tersebut.


"Halo!"


Sapanya tidak ramah. Anggara terlihat kesal sebab Yuri masih marah kepadanya.


"Ah, bos!"


Balas Leo sambil berkeringat dingin.


"Bicara! Aku tidak ingin berbasa basi denganmu, Leo!"


Ucapnya lagi dengan nada marah.


"I...iya bos, aku sudah mendapatkan informasinya."


Ucap Leo.


"Kirimkan saja informasinya kepadaku."


Ucap Anggara.


"Baik, bos!"


Ucap Leo.


"Tetapi, bos...


Ucapan Leo terputus manakala Anggara memutuskan jalinan komunikasi mereka.


"Ah, si bos tampak terburu-buru sekali...dan, dari nadanya tampaknya ia sedang kesal...kira-kira, hal apa yang membuatnya kesal ya?"


Ucap Leo.


"Sudahlah, untuk apa aku peduli urusan si bos! Lebih baik cari sarapan pagi terlebih dahulu."


Ucap Leo kemudian ia pergi menuju warung sarapan pagi di sekitar tempat itu. Sedangkan, Anggara ia masih merasa khawatir terhadap Yuri. Sebab, Yuri sedang marah kepadanya. Anggara segera mengetuk pintu kamar Yuri.


"Tok...tok...tok."


Suara ketukan di pintu meredakan tangisannya.


"Ah, itu kakak! Dia tidak boleh melihatku seperti ini...nanti kakak akan mencurigaiku."


Ucap Yuri kemudian menghapus air matanya. Lalu, kemudian ia membuka pintu kamarnya. Sebelumnya, ia menyimpan file tersebut di kotak meja riasnya.


"Yuri?"


Ucap Anggara sambil memeluknya.


"Kakak?"


Ucap Yuri.

__ADS_1


"Maafkan, kakak...atas keteledoran kakak! Kakak janji nanti kakak akan mengatakannya kepadanya serta membujuknya ya?"


Ucap Anggara.


"Baiklah, kakak! Kali ini aku akan mempercayai kakak sekali lagi."


Ucap Yuri.


"Bagus! Kakak, berangkat dahulu ya?"


Ucap Anggara sambil mengecup lembut kening Yuri. Dan, Yuri hanya menganggukkan kepalanya saja. Setelahnya, ia pun menutup pintu kamarnya. Anggara yang masih berada di hadapan kamarnya pun seketika merasa kalau ada yang aneh dengan adiknya. Akan tetapi, ia tidak mampu bertanya kepada Yuri. Sebab, Yuri segera menutup pintu kamarnya.


"Ada yang aneh dengan, Yuri...tidak biasanya ia bersikap seperti itu kepadaku...dan, matanya tadi terlihat sembab."


Ucap Anggara.


"Ingin kubertanya...perihal apa yang terjadi kepadanya...akan tetapi, aku pun harus berangkat kerja dahulu...aku sudah telat."


Ucap Anggara.


"Nanti, aku bisa berbicara dengannya...sepulang kerja."


Ucap Anggara. Selama perjalanan menuju kantor, Anggara terlihat gelisah. Ia sama sekali tidak bisa fokus bahkan untuk melihat file yang baru saja dikirimkan oleh Leo. Ia merasa enggan untuk melihatnya.


Bahkan, setelah sampai di kantor sekali pun. Ia juga masih tetap tidak mempedulikannya. Ia teringat Yuri yang terlihat tidak seperti biasanya. Ia merasa kalau ada sesuatu yang disembunyikan Yuri dari dirinya.


"Sebenarnya, ada apa ini? Mengapa, Yuri hari ini terlihat berbeda?"


Ucap Anggara sambil melamun dan memijat-mijat kepalanya yang terasa pusing. Stella masuk ke dalam ruangannya.


"Pak Anggara?"


Panggil Stella.


Ucap Anggara terkejut dan Stella tersenyum karenanya.


"Ada apa dengan bapak? Sampai aku masuk pun bapak tidak sadar?"


Ucap Stella sambil melipat tangan di dada.


"Heh! Kata siapa aku tidak sadar...aku sadar...bahkan sangat sadar...saking sadarnya aku jadi ingin makan kucing liar pagi ini."


Ucap Anggara mulai menggoda Stella.


"Oh, pak Anggara ini? Ingin makan, kucing liar ya? Tidak takut dengan cakarnya?"


Ucap Stella gantian menggoda Anggara.


"Itu mudah saja, tinggal potong saja cakarnya...nanti kucingnya tidak liar lagi dan nakal."


Ucap Anggara.


"Benarkah? Tetapi, aku bukan jenis kucing liar yang mudah lho? Aku ini sangat nakal dan sangat pintar."


Ucap Stella.


"Di dunia ini tidak ada jenis kucing yang tidak bisa kutaklukkan, Stella...apalagi dirimu!"


Ucap Anggara sambil berdiri lalu ia pun memeluk tubuh indah Stella. Stella diam tidak berontak, ia hanya tersenyum saja.

__ADS_1


"Wah, kau ini...diam saja dan tidak berontak? Sepertinya, kau sudah sangat pasrah terhadapku."


Ucap Anggara.


"Oh, benarkah? Aku sudah pasrah terhadap, pak Anggara?"


Ucap Stella sambil mengacungkan pulpen yang dipegangnya mengarah ke perut Anggara. Anggara melirik pulpen yang diarahkan Stella ke perutnya.


"Apa, kau yakin? Ingin mengarahkannya kesitu? Tidak takut kalau kau akan kehilangan pemandangan indah setiap malam?"


Ucap Anggara.


"Aku malah lebih takut menjadi janda...daripada kehilangan pemandangan indah setiap malam."


Ucap Stella mesra sambil membuang pulpennya dan ia mengalungkan kedua lengannya di leher Anggara. Anggara tidak menolaknya.


"Sikap manjamu ini? Kau belajar dari mana?"


Tanya Anggara.


"Tebak saja, sayang?"


Ucap Stella. Mendengar, kata sayang meluncur dari bibir merah Stella seketika membuat jantung Anggara berdebar kencang. Ia sudah tidak peduli dengan apa pun lagi. Bahkan kekhawatirannya tentang Yuri pun hilang saat itu juga.


"Hei, ini ruangan kantor...memangnya kau tidak malu kalau...


Ucapan Stella terputus.


"Aku tidak peduli, yang penting kau bantu aku untuk meredakan stres."


Ucap Anggara mulai melakukannya di dalam ruangan kantornya. Tidak lama terdengar suara rintihan saling bersahutan terdengar dari ruangan tersebut. Suasana semakin panas kala keduanya akan mencapai puncaknya masing-masing. Lalu, kemudian terkulai lemas bersamaan dengan mengendurnya deru nafas mereka menjadi normal kembali.


......................


Kediaman Anggara...


Yuri tampak bersiap-siap di depan cermin. Ia berencana untuk keluar rumah sebelum Anggara kembali dari kantor. Ia tidak ingin kepergok oleh Anggara. Sebab, ia sudah mengira kalau Anggara akan bertanya perihal sikapnya yang tampak berbeda dari biasanya.


Yuri keluar dari rumah dan mengendarai motor milik Leo. Sedangkan, mobil milik Yuri sedang dipakai oleh Leo. Yuri segera bergerak di jalanan yang mulai macet sebab jam pulang kantor. Yuri berdebar-debar ia takut jika ia berpapasan dengan Anggara di jalan raya.


Akan tetapi, perasaan itu sirna manakala sepanjang perjalanan ia tidak berpapasan dengan Anggara. Detik berikutnya ia pun sampai di apartemen tempat tinggal Stella. Yuri memarkirkan motornya dan ia pun berdiri di depan pintu masuk menuju apartemen tersebut.


Maafkan, aku kak Stella...sesungguhnya aku tidak ingin melakukan ini kepadamu...akan tetapi, ini semua benar-benar menggangguku...bagaimana mungkin hiks...


Ucap Yuri dalam hati sambil meneteskan air mata.


Kau tega melakukannya...membunuh kakak keduaku? Dengan kedua tanganmu yang selalu memeluk dan menyayangiku...bagaimana kau bisa sekejam itu, kak Stella?


Ucap Yuri dalam hati.


"Sekarang, aku ingin penjelasan darimu...aku ingin kau mengatakan yang sebenarnya...tentang siapa dirimu yang sebenarnya."


Ucap Yuri.


"Dan, mengapa kau sampai tega menghabisi kakak keduaku."


Ucap Yuri kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen tempat tinggal Stella. Yang merupakan tempat tinggalnya dahulu bersama dengan Stella bertetangga bersebelahan.


Bersambung...

__ADS_1


EAGLE LADY



__ADS_2