
Anggara menemui nyonya Ling Hao di rumah hiburan miliknya. Anggara bermaksud untuk menggunakan jasa wanita milik nyonya Ling Hao untuk membuat Stella cemburu.
"Oh, tuan Anggara? Saya pikir anda tidak berminat lagi dengan anak-anak perempuan saya."
Ucap nyonya Ling Hao.
"Siapa bilang, nyonya? Anak-anak perempuanmu memang yang terbaik."
Ucap Anggara.
"Lalu, apakah tuan ingin saya menyiapkan...seperti yang biasa?"
Tanya nyonya Ling Hao.
"Tidak perlu! Lagi pula, bukan untuk itu."
Balas Anggara.
"Jadi, untuk apa tuan?"
Ucap nyonya Ling Hao.
"Untuk berakting...bersamaku dan dapat membuat seorang wanita menangis untukku."
Ucap Anggara.
"Wah, anda kejam sekali tuan? Kalau begitu, siapa wanita yang bernasib sial itu."
Ucap nyonya Ling Hao.
"Nyonya Ling Hao, bisakah anda sopan bila menyangkut seseorang yang spesial bagiku...sebab, jika dibandingkan dengan anak-anak perempuanmu...mereka sama sekali tidak dapat dibandingkan dengannya."
Ucap Anggara menusuk hati.
"Oh, maafkan saya kalau begitu tuan...sepertinya saya salah sangka."
Ucap nyonya Ling Hao.
"Jadi, kapan tuan akan menggunakannya?"
Ucap nyonya Ling Hao lagi.
"Mulai besok sampai satu minggu ke depan."
Ucap Anggara.
"Baiklah, saya akan segera menyiapkannya untuk berakting dengan anda tuan."
Ucap nyonya Ling Hao segera pergi menjalankan tugasnya. Sedangkan, Anggara hanya tersenyum saja. Ia membayangkan raut wajah Stella yang melihatnya bermesraan dengan wanita lain selain dirinya.
Keesokan harinya...
Pagi menyapa dengan sinar matahari yang cerah. Stella sudah sampai di kantor. Tetapi, ia tidak melihat Anggara di kantor. Biasanya, Anggara sudah sampai di kantor terlebih dahulu di kantor dibandingkan dirinya. Anggara memang selalu disiplin waktu, bila sudah menyangkut pekerjaan. Akan tetapi, kedisiplinan kali ini dilanggar olehnya.
"Kemana dia? Tidak seperti biasanya...dia masih belum tiba di kantor...padahal ini sudah pukul 9 pagi...apa yang diakukannya...sehingga, dia masih belum tiba?"
Ucap Stella.
"Apa, kutanyakan pada Yuri saja ya?"
Ucap Stella.
"Bagaimana nanti, jika dia menyampaikan kepada kakaknya...kalau aku meneleponnya hanya untuk bertanya dimana keberadaan kakaknya."
Ucap Stella.
"Aku bisa malu, nanti."
Ucap Stella. Saat Stella sedang berperang dengan dirinya sendiri. Tiba-tiba, saja ponselnya berbunyi nyaring.
🎵🎵🎵
Stella segera menerima telepon tersebut, sebab Yuri yang menelepon dirinya. Stella segera menerima telepon tersebut.
"Halo?"
Sapa Stella.
"Halo, kak Stella."
Balas Yuri.
"Yuri, ada apa kau meneleponku."
Tanya Stella.
"Kakak? Maaf, jika aku mengganggu pekerjaan kakak."
Jawab Yuri.
"Iya, Yuri...ada apa?"
Ucap Stella.
"Kakak? Apakah, kak Anggara sudah tiba di kantor?"
__ADS_1
Ucap Yuri.
"Belum...dia belum tiba di kantor...mengapa?"
Ucap Stella.
"Kakak? Setelah, kak Anggara selesai mengantarkan aku pulang...dia pergi lagi dari rumah dan sampai hari ini dia belum juga kembali."
Ucap Yuri menjelaskan.
"Apa! Maksudmu, kakakmu dari kemarin malam tidak pulang ke rumah?"
Ucap Stella terkejut.
"Iya, kakak? Aku takut sekali kakak...takut terjadi sesuatu dengan dirinya."
Ucap Yuri.
"Jadi, apakah kau tahu kakakmu pergi kemana?"
Ucap Stella.
"Aku tidak tahu, kakak?"
Ucap Yuri.
"Ya, sudah kau duduk tenang saja disana...nanti, kakak bantu untuk mencari dia."
Ucap Stella.
"Iya, terima kasih ya kak atas bantuannya."
Ucap Yuri.
"Ya, sama-sama."
Ucap Stella segera memutuskan panggilan telepon tersebut.
"Dasar, pria yang menyebalkan...satu malam tidak pulang kerumah...sampai hari ini pun...batang hidungnya tidak kelihatan juga."
Ucap Stella.
"Sebenarnya, dia mau apa sih? Sampai, membuat Yuri begitu khawatir."
Ucap Stella.
"Atau, jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya...aku harus pergi mencarinya."
Ucap Stella. Tetapi, baru saja ia hendak berangkat pergi mencari Anggara. Tiba-tiba, saja ia mendengar suara Anggara bersama dengan seorang wanita. Stella terkejut lalu ia pun membuka daun pintu ruang kerjanya. Dan, ia melihat Anggara sedang bersama dengan seorang wanita sexy di sisinya.
Ucap Stella kesal dalam hati.
"Stella? Kebetulan kau muncul di hadapanku."
Ucap Anggara.
Apa! Dia memanggilku dengan namaku? Biasanya dia memanggilku dengan panggilan mesra.
Ucap Stella dalam hati.
"Ya, pak Anggara...tadinya aku bermaksud untuk mencarimu... Sebab, Yuri khawatir kepadamu...rupanya sudah tidak perlu."
Ucap Stella.
Oh, rupanya iblis kecil sudah meneleponnya...benar-benar adik yang pandai bermain-main.
Ucap Anggara dalam hati.
"Ya, Stella aku pergi sebentar tadi malam...hanya untuk rileks...ternyata, aku malah bertemu dengan bidadari cantik ini tadi malam."
Ucap Anggara sambil memanas-manasi Stella dengan cara memeluk pinggang ramping wanita sexy yang ada di sampingnya.
Cih! Dasar, laki-laki busuk! Mencoba bermain api denganku...kita lihat siapa yang akan terbakar.
Ucap Stella dalam hati.
"Oh, begitu ya? Tampaknya, pak Anggara benar-benar rileks...sampai-sampai membawa pulang bidadari cantik ke kantor."
Ucap Stella.
"Tentu saja, benar begitu sayang?"
Ucap Anggara sambil memegang dagu wanita cantik tersebut.
"Benar, sayang?"
Balas wanita cantik tersebut dengan manja.
Eh? Wanita ini benar-benar seekor rubah...lihat bagaimana nanti aku akan mengatasimu.
Ucap Stella dalam hati mulai dibakar api cemburu.
"Stella, buatkan dua gelas kopi untuk kami berdua...kami haus dan butuh sesuatu untuk menghilangkan dahaga."
Ucap Anggara.
__ADS_1
"Baiklah, pak Anggara."
Ucap Stella sambil berlalu dari hadapan Anggara menuju dapur kantor. Disana ia mengumpat Anggara dan wanita cantik yang baru saja dibawa pulang oleh Anggara.
"Brengsek! Menyuruhku membuat kopi untuknya dan rubah itu...lihat saja akan kuberikan kopi beracun untuk kalian."
Ucap Stella sambil menambahkan garam dua sendok makan ke dalam kopi Anggara dan teman wanitanya lalu mengaduknya berulangkali.
"Ting...ting...ting."
"Nah, beres! Kopi beracun ala Stella telah selesai dibuat...aku ingin melihat raut wajah Anggara ketika meminum kopi beracun buatanku."
Ucap Stella sambil tersenyum. Kemudian, Stella mengantar kopi pesanan Anggara tersebut ke ruangan kantor Anggara. Saat Stella masuk ke dalam ruangan tersebut ia melihat Anggara bersama dengan teman wanitanya sedang bermesraan disana.
Hampir saja, kopi yang dibawanya tumpah karena pemandangan yang membuatnya terkejut dan membuat panas hatinya. Anggara yang melihat hal tersebut hanya tersenyum saja. Stella meletakkan kopi tersebut di hadapan keduanya.
"Cepat juga, kau membuatnya Stella...apa kau sudah tidak sabar ingin melihat adegan dewasa?"
Ucap Stella.
"Pak Anggara, maaf anda salah paham...saya tidak berminat dengan urusan anda...saya memang membuat kopi dengan cepat...agar tuan dan nona itu tidak kehausan lagi."
Ucap Stella.
"Oh, begitu ya?"
Ucap Anggara.
"Iya, ayo diminum kopinya...kopinya enak sekali, loh?"
Ucap Stella.
Ada apa dengan Stella, menyuruh orang meminum kopi...apa jangan-jangan ada sesuatu dalam kopinya.
Ucap Anggara dalam hati.
"Nanti kopinya kami minum, kau pergilah dahulu Stella."
Ucap Anggara.
"Mengapa, pak Anggara menyuruhku pergi...ayolah pak Anggara, apa kopi buatanku tidak enak...sehingga, kau tidak ingin meminumnya di hadapanku?"
Ucap Stella memancing Anggara.
"Baiklah, aku akan meminum kopinya di hadapanmu!"
Ucap Anggara. Anggara pun meminum kopi buatan Stella. Betapa, terkejutnya Anggara ketika ia merasakan rasa kopi tersebut. Bukan, rasa manis yang ia rasakan tetapi rasa asin. Mau tidak mau Anggara pun menelan kopi tersebut meskipun rasanya begitu membuatnya ingin muntah.
"Bagaimana, pak Anggara...kopinya enak bukan."
Ucap Stella mengejek.
"Ya, kopinya memang enak."
Ucap Anggara sambil berjalan menuju ke arah Stella lalu Anggara meminum kopi tersebut lagi. Lalu, ia pun membaginya bersama Stella dengan cara mencium bibir Stella.
Stella terkejut sekali, namun ia tidak dapat menghindar dari Anggara. Stella meronta dan ingin melepaskan bibri Anggara dari bibirnya. Tetapi, tidak bisa sebab tenaga Anggara lebih kuat dari dirinya.
"Ah...umm."
Anggara cukup lama melakukan hal tersebut dengan Stella. Sampai Stella ingin muntah merasakan kopi asin tersebut. Anggara baru melepaskan ciumannya setelah ia puas membaginya dengan Stella.
"Hoek...hoek...ah...asin! Dasar, laki-laki sialan."
Ucap Stella memaki Anggara.
"Bagaimana, apa rasanya enak?"
Ucap Anggara ganti mengejek Stella.
"Pak Anggara, kau benar-benar menyebalkan...bisa-bisanya kau melakukan hal ini."
Ucap Stella marah.
"Oh, bukankah kopi ini buatanmu? Stella sayang, janganlah kau mencoba mengelak."
Ucap Anggara.
"Iya, memang kopinya aku yang buat."
Ucap Stella.
"Kalau begitu, buatkan kopi yang baru tanpa garam."
Ucap Anggara lagi.
"Ck, baiklah aku akan membuatnya lagi."
Ucap Stella kesal sambil segera berlalu dari sana. Ia bersungut-sungut penuh kekesalan terhadap Anggara sebab Anggara telah memaksanya meminum kopi asin tersebut melalui bibirnya.
Bersambung...
EAGLE LADY
__ADS_1