EAGLE LADY

EAGLE LADY
Bab 15. Selidiki Kematiannya!


__ADS_3

Setelah, Stella tidak berdaya karena perjanjian kontrak kerja dengan Anggara. Stella sejak saat itu mulai bekerja dengan lelaki yang dibencinya. Sedangkan, Yuri saat itu sudah memulai dengan rencana barunya.


Ia keluar dari apartemen untuk menemui sang detektif di sebuah Coffee Shop. Detektif tersebut sedang menunggunya disana. Yuri cepat sampai karena ia menggunakan jasa ojek yang lebih leluasa menyelip di antara kemacetan yang sedang terjadi di jalanan kota.


"Paman Detektif?"


Sapanya.


"Oh, nona Yuri."


Balas Detektif tersebut.


"Saya mengira nona akan terjebak dalam kemacetan...tetapi, ternyata tidak."


Ucap Detektif tersebut.


"Aku naik ojek jalur cepat."


Ucap Yuri.


"Oh, begitu ya?"


Ucap Detektif.


"Bagaimana perkembangannya, paman."


Ucap Yuri.


"Memang sulit sekali, nona?"


Ucap Detektif.


"Sulit? Berarti, paman tidak berhasil."


Ucap Yuri.


"Bukan tidak berhasil, tidak mudah untuk mendapatkan informasi tentang kedekatan kakak nona dengan berbagai wanita di sisinya."


Ucap Detektif.


"Itu sudah pasti, paman...semua ini memang tidak mudah...dan, bukan berarti tidak ada jalan bukan?"


Ucap Yuri.


"Ya, nona...jalan selalu ada...dan, ini adalah file yang berisi mengenai informasi tentang kedekatan kakak nona dengan seorang wanita yang bernama Stella."


Ucap Detektif.


"Wah, bagus sekali! Apa, informasi ini akurat?"


Tanya Yuri.


"Sebab, aku tidak suka mengerjakan pekerjaan dua kali paman!"


Ucap Yuri tegas.


Gadis muda ini sifatnya tidak jauh beda dengan kakaknya...dia juga tampak sangat mengerikan jika dia sudah marah dan dia akan menggunakan kekuasaan kakaknya untuk menekan orang lain.


Ucap Detektif dalam hati.


"Nona Yuri, tenang saja...informasinya 100% akurat."


Balas Detektif.


"Paman berani jamin dengan apa? Apa, paman berani jamin dengan nyawa paman?"


Ucap Yuri. Dan, Detektif tersebut terdiam.


"Mengapa diam, paman?"


Ucap Yuri.


"Nona tolong mengertilah, saya hanya orang kecil nona...nona tidak perlu berkata seperti itu, nona?"


Ucap Detektif.


"Ck, sudahlah! Simpan saja, file itu untuk diri paman sendiri."


Ucap Yuri kemudian ia berdiri dan hendak pergi. Akan tetapi, Detektif mencegah kepergiannya.


"Tunggu, nona!"


Cegah Detektif.


"Apalagi, paman?"


Ucap Yuri.


"Saya jamin dengan nyawa saya, tentang informasi tersebut."


Ucap Detektif tersebut akhirnya.


"Oh, benarkah? Bukankah, paman orang kecil?"


Ucap Yuri menyindir.


"Nona, saya cukup mengatakannya sekali."


Ucap Detektif.


"Baiklah! Aku ambil filenya...sisa pembayaran aku akan mentransfernya ke rekeningmu."

__ADS_1


Ucap Yuri kemudian segera pergi meninggalkan Coffee Shop tersebut.


"Terima kasih, nona!"


Ucap Detektif.


Selamat...selamat...aku selamat dari gadis muda tersebut.


Ucapnya dalam hati.


"Sebaiknya, aku segera pergi dari sini...berbahaya kalau sampai berjumpa dengan anak buah pak Anggara...dia lebih mengerikan dibanding adiknya."


Ucap Detektif tersebut. Setelah, membayar pesanan kopinya ia pun segera berlari pulang dari tempat tersebut.


Yuri tersenyum senang setelah ia berhasil memperoleh informasi tentang kakaknya dan Stella. File yang baru saja ia dapatkan tersebut ia simpan di dalam tas mewahnya.


"Haha...ternyata orang tua itu mudah juga digertak...tidak disangka kekuasaan kakakku begitu kuat sampai para orang kecil pun takut kepadanya."


Ucap Yuri.


"Tentu saja, nona! Sebab, orang kecil memang sudah biasa takut kepada kekuatan orang besar...contohnya, kakak nona."


Ucap Leo yang tiba-tiba hadir disana dan sudah ada di hadapan Yuri.


Leo? Orang ini tahu darimana aku ada disini.


Ucap Yuri dalam hati.


"Ternyata kau, kakak Leo! Darimana, kau tahu aku ada disini."


Ucap Yuri.


"Oh, soal itu...tadi sedang berjalan-jalan di sekitar daerah sini untuk mencarimu...kebetulan sekali aku melihatmu baru saja keluar dari Coffee Shop tersebut."


Ucap Leo sambil menunjuk tempat Coffee Shop.


"Oh, begitu? Jadi, apa yang kau inginkan kakak Leo?"


Tanya Yuri.


"Pulanglah bersamaku."


Balas Leo.


"Tidak mau!"


Ucap Yuri.


"Nona? Sangat berbahaya sekali jika kau berada di luar rumah."


Ucap Leo.


Ucap Yuri.


"Nona, kakak nona menyuruhku untuk mencarimu...apa, jadinya jika aku tidak dapat membawamu pulang?"


Ucap Leo.


"Oh, begitu ya? Jadi, kau hanya takut kepada kakakku bukan kepadaku."


Ucap Yuri.


"Bukan begitu, nona?"


Ucap Leo.


"Jika, kau masih bersikeras...maka aku akan katakan kepada kakak, kalau sudah melakukan sesuatu kepadaku!"


Ucap Yuri mengancam Leo.


"Apa! Tidak, nona? Kumohon jangan lakukan hal tersebut, nona...dia akan membunuhku, nona?"


Ucap Leo berkeringat dingin.


"Jika, sudah tahu...maka, jangan memaksakan diri...huh!"


Ucap Yuri segera berlalu dari tempat tersebut.


Haish! Tidak kakak, tidak adik sama saja...tidak ada bedanya...dua-duanya sama-sama mengerikan.


Ucap Leo dalam hati.


"Sebaiknya, aku kembali menghubungi bos! Akan kukatakan kepadanya jika aku belum menemukan nona Yuri."


Ucap Leo. Lalu, Leo pun menghubungi Anggara. Untuk memberitahu hal tersebut kepadanya.


"Bos!"


Sapa Leo ketika panggilan sudah terhubung.


"Ya, bicara! Aku sedang sibuk."


Ucap Anggara.


"Bos! Aku belum menemukan nona."


Ucap Leo.


"Cari terus sampai dapat! Dan, bawa ia pulang ke kediaman."


Perintah Anggara.

__ADS_1


"Baik, bos!"


Ucap Leo segera memutuskan sambungan teleponnya.


"Ah, ini benar-benar sulit."


Ucap Leo sambil berjalan menyusuri tempat tersebut. Ia bergerak sendiri sebab ia ingin menemukan Yuri dengan mudah. Tetapi, setelah ia bertemu dengannya Leo menjadi dilema. Ibarat kata pepatah seperti makan buah simalakama.


Ia menjadi putus asa setelah kedua kakak beradik tersebut menekan dirinya. Keduanya sama-sama memiliki watak yang keras. Tidak mau saling mengalah satu dengan yang lainnya. Inilah yang membuat Leo menjadi serba salah.


......................


Suatu tempat di kediaman keluarga Lucky...


Suara isak tangis terdengar disana sini menyambut jenazah Lucky. Seorang remaja yang baru saja berusia 20 tahun. Ia tewas tertembak karena ulahnya sendiri.


"Huu...hiks...Lucky, putraku...begitu cepat engkau pergi."


Ucap ibu Lucky.


"Baru saja kau menginjak 20 tahun...pulang kau sudah menjadi mayat...huu...hiks."


Ucap ibunya lagi.


"Sudahlah, ibu? Relakan, kakak pergi."


Ucap adik perempuan Lucky.


"Huu...hiks...dia adalah permataku...kini dia pergi dari sisiku...bagaimana, kau bisa menyuruhku untuk merelakannya."


Ucap ibu Lucky.


"Kakak sudah tiada, ibu...siapa suruh dia terjun ke dunia hitam?"


Ucap adik perempuan Lucky.


"Siapa yang mengatakan hal tersebut? Mereka semua bohong! Putraku tidak mungkin seperti itu...dia anak baik."


Ucap ibunya Lucky.


"Tetapi, ibu...


Ucap adik perempuan Lucky tidak meneruskan kata-katanya.


"Diam! Awas, kau jika kau berani mengatakan hal tersebut lagi!"


Ucap ibu Lucky.


Hiks...ibu sudah dibutakan oleh rasa cintanya kepada putra yang sangat disayanginya...sehingga, ia tidak mau mendengarkan kata-kataku."


Ucap adik perempuan Lucky.


"Bibi."


Sapa seorang lelaki menyapa ibu Lucky.


"Huu...Raymond...sepupumu sudah meninggal."


Ucap ibu Lucky. Ternyata seorang pria yang menyapa ibu Lucky adalah Raymond.


"Sabar, bibi."


Ucap Raymond.


"Apa, kau tahu? Dia mati dibunuh."


Ucap ibu Lucky.


"Ibu sudah diam! Jangan, berkata yang tidak-tidak."


Ucap adik perempuan Lucky.


"Diam, kau! Kau tidak tahu apa pun."


Ucap ibu Lucky.


"Sudah, bibi...bibi harus sabar...ini ada sedikit santunan dariku...maaf, bibi aku tidak bisa lama-lama."


Ucap Raymond yang kemudian memberikan santunan uang yang diletakkan di dalam amplop.


"Terima kasih, Raymond!"


Ucap ibu Lucky. Lalu, Raymond pun segera pergi dari sana. Tetapi, sebelum kembali ke markasnya. Ia memberi tugas kepada salah satu anak buahnya yang sangat dekat dengannya.


"Selidiki, tentang kematian Lucky sepupuku! Aku ingin tahu siapa yang telah membunuhnya."


Ucap Raymond.


"Baik, bos!"


Ucap anak buah tersebut.


"Siapa yang telah berani mengusikku, maka dia harus mati!"


Ucap Raymond sambil mengisap rokok yang sudah tersulut api. Setelahnya, ia pun segera meninggalkan kediaman duka bersama dengan para anak buah kepercayaannya."


Bersambung...


EAGLE LADY


__ADS_1


__ADS_2