EAGLE LADY

EAGLE LADY
Bab 16. Sampai Akhir Nafasku!


__ADS_3

Raymond menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki kematian sepupunya, Lucky. Ia menjadi sangat penasaran dengan misteri kematian Lucky. Padahal yang ia tahu Lucky hanyalah anak remaja yang masih dalam masa puber.


Raymond tidak mengetahui kalau sepak terjang Lucky di dunia hitam dan berbagai tindak aksi kejahatannya pun setara dengan apa yang sudah dilakukannya selama ini.


Sampai Lucky memiliki catatan kriminal di setiap wilayah kepolisian. Namun, Lucky berhasil menutupi semua itu dari keuarga besarnya. Agar keluarganya tidak ikut terlibat dalam setiap tindak kejahatan yang dilakukan olehnya.


Dan, Raymond saat ini sedang menunggu hasil penyelidikan yang dilakukan oleh anak buahnya tersebut. Ternyata hasilnya sangat mengejutkan dirinya.


"Sial! Lagi-lagi, Anggara!"


Ucap Raymond sambil mengepalkan tinjunya.


"Bos! Kabarnya, Lucky terbunuh karena dipicu oleh seorang wanita bos!"


Ucap anak buah tersebut.


"Siapa wanita tersebut!"


Tanya Raymond.


"Stella, bos!"


Jawab anak buah tersebut.


"Stella? Kalau begitu, selidiki Stella...siapa dia...dan, darimana asalnya...siapa keluarganya."


Perintah Raymond.


"Baik, bos!"


Ucap anak buah tersebut segera pergi dari hadapan Raymond.


"Masalah ini semakin pelik saja...dan, Anggara telah berani menyentuh keluargaku...hanya demi seorang wanita...Anggara! Aku pastikan kau akan membayar semuanya."


Ucap Raymond dengan dendam membara di hatinya. Sedangkan, saat ini di dalam perusahaan Cipta Prima. Stella pergi ke ruangan Anggara untuk mengantar file.


Anggara yang saat itu sedang memegang pena dan sedang menghitung sesuatu disana. Stella mengetuk pintu, dan Anggara mempersilahkan dirinya masuk.


"Tok...tok...tok."


"Masuk!"


Ucapnya.


"Pak, aku...


Ucap Stella terpotong.


"Tunggu sebentar, dan duduklah."


Perintah Anggara. Stella menarik nafas lelah. Dan, ia duduk di hadapan Anggara. Anggara terdiam dan ia masih sibuk dengan pena dan beberapa kertas penting di mejanya.


Stella sudah bosan menunggu. Dan, ia sangat membencinya. Jadi, ia pun bermaksud hendak pergi dari ruangan tersebut. Akan tetapi, dengan gerakan reflek Anggara berdiri dan menarik tangan Stella sehingga membentur tubuhnya lalu Anggara memeluk pinggang Stella sambil tersenyum. Stella pun terkejut.


"Lepaskan!"


Ucap Stella.


"Kau baru saja datang, mengapa sudah ingin pergi?"


Ucap Anggara.


"Hmph! Bukankah kau sibuk? Jadi, apakah harus menunggumu sampai rambutku memutih?"


Ucap Stella.


"Itu? Bagus juga jika, kau bisa menungguku sampai rambutmu memutih...karena, aku pasti akan datang dan menemui dirimu, sayangku?"


Ucap Anggara sambil memainkan sebelah matanya.


"Pak Anggara! Sepertinya, pembahasan anda sudah keluar dari jalur."


Ucap Stella.


"Oh, benarkah? Aku tidak merasa seperti itu."


Ucap Anggara.


"Kau memang seperti itu, pak Anggara? Sekarang, sudah puas memelukku...lepaskan, aku!"


Ucap Stella.


"Oh, Stella...kuharap kau tidak kecewa, sayang? Aku belum puas memelukmu."


Ucap Anggara.


"Dasar, sialan! Menjijikkan! Kau benar-benar tidak bermoral, pak Anggara!"

__ADS_1


Ucap Stella.


"Silahkan, saja jika ingin memakiku sayang? Aku akan mendengarkannya."


Ucap Anggara.


"Kau memang...


Tiba-tiba ucapan Stella terpotong karena ketukan di pintu.


"Tok...tok...tok."


"Masuk!"


Ucap Anggara.


"Bos! Eh?"


Ucap Leo yang masuk dan ia terkejut sedang melihat bosnya sedang memeluk wanita.


"Bos! Sepertinya, aku tidak tahu situasi dan kondisi."


Ucap Leo.


"Sudah, tahu? Pergi sana!"


Ucap Anggara mengusir Leo sambil menatap tajam.


"Baik, bos!"


Ucap Leo segera pergi dari hadapan Anggara. Ia menelan ludah ketika, Anggara menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.


Sialan sekali, Leo...! Dia merusak kemesraanku dengan kucing liarku...dasar, Leo tidak tahu situasi dan kondisi.


Ucapnya dalam hati kesal.


"Pak Anggara? Bukankah, ada masalah yang lebih penting dibandingkan diriku...bolehkah anda melepasku? Aku ingin kembali bekerja."


Ucap Stella sambil berusaha melepaskan pelukan Anggara.


Kurang ajar sekali si Leo ini...sekarang karena dia Stella ingin lepas dari pelukanku! Awas, kau Leo! Aku akan memberikanmu misi dan hari yang sulit karena mengganggu kesenanganku.


Ucap Anggara semakin kesal.


"Apa, kau pikir aku sudah boleh melepasmu?"


Ucap Anggara.


Ucap Stella.


"Percaya tidak? Sampai akhir nafasku."


Ucap Anggara dan Stella pun tertegun mendengar kata-kata Anggara. Lalu, Anggara melepaskan pelukannya.


"Mengapa, kau bengong?"


Ucap Anggara.


"Tidak apa-apa, pak!"


Ucap Stella.


"Sekarang pergi dan lanjutkan pekerjaanmu! Dan, file tadi tinggalkan di mejaku."


Ucap Anggara.


"Baik, pak!"


Ucap Stella kemudian pergi dari hadapan Anggara. Dan, Anggara tersenyum saja melihatnya.


"Saatnya mengurus, Leo!"


Ucap Anggara sambil mengambil ponselnya dan menelepon Leo. Leo yang menerima panggilan Anggara menjadi berkeringat dingin.


"Mampuslah, bosku pasti marah."


Ucap Leo sambil menganggkat telepon dari Anggara.


"Ya, bos!"


Sapa Leo.


"Kau kembalilah ke markas dan tunggu aku disana!"


Ucap Anggara dengan nada penuh dengan penekanan.


"Baik, bos!"

__ADS_1


Ucap Leo yang kemudian segera meninggalkan perusahaan Cipta Prima dan kembali ke markas mafia milik Anggara.


Dan, Stella yang kembali ke ruang kerjanya. Seketika, hatinya menjadi berdebar tidak menentu. Saat Anggara mengatakan "Sampai akhir nafasku." Ia menjadi tidak habis fikir dengan pemikiran lelaki seperti Anggara. Yang, dinilainya terlihat hanya menggoda dirinya dan terlihat hanya bermain-main saja dengannya.


"Itu tidak mungkin, bukan?"


Ucap Stella.


"Dia mengisengiku saja."


Ucap Stella.


"Akh, sudahlah tidak perlu memikirkannya...lagipula, dia tidak serius mengatakannya kepadaku."


Ucap Stella akhirnya menarik kesimpulan tentang yang dikatakan oleh Anggara. Stella tidak pernah menganggap serius Anggara. Karena, ia menganggap Anggara adalah lelaki yang tidak dapat dipegang kata-katanya. Terlebih lagi, Anggara sering sekali menggodanya dan menekan dirinya. Sehingga, membuat Stella menjadi tidak nyaman.


......................


Markas Kala Hitam...


Leo sudah sampai di markas dan Anggara menyusulnya ke markas setelah jam pulang kantor selesai. Lama juga Leo menunggu kedatangan bosnya. Hampir beberapa jam, akhirnya Anggara datang dan darah Leo pun berdesir.


Bos sudah sampai!


Ucap hatinya.


"Apalagi, yang akan dilakukan bos kepadaku?"


Ucap Leo sambil mengintip Anggara yang baru saja datang dengan wajah kesal. Leo sekali lagi menelan air ludahya sendiri.


"Kali ini habislah aku."


Ucap Leo lagi. Anggara menghampiri Leo dan membawa Leo ke sebuah ruang khusus. Leo semakin ketakutan tidak menentu.


"Bos! Mau dibawa kemana aku, bos!"


Ucap Leo.


"Kau tenang saja, Leo?"


Ucap Anggara dengan wajah masam.


"Ugh! Iya, bos! Tetapi, bos."


Ucap Leo.


"Ada apa, Leo? Ada yang mau kau katakan?"


Ucap Anggara.


"Iya, bos!"


Ucap Leo.


"Sebaiknya, itu hal yang dapat membuat amarahku mereda!"


Ucap Anggara.


"Um, bos! Raymond menyuruh anak buahnya menyelidiki kematian seorang remaja yang baru berusia 20 tahun tersebut."


Ucap Leo berani bicara.


"Apa! Raymond?"


Ucap Anggara.


"Ya, bos! Sepertinya, remaja yang kita habisi saat itu adalah keluarganya, bos!"


Ucap Leo.


"Oh, jadi begitu...kalau begitu, kau kutugaskan untuk memata-matai mereka...beritahu aku perkembangannya...kita akan bermain-main sekali lagi dengan Raymond yang bodoh itu!"


Perintah Anggara.


"Baik, bos!"


Ucap Leo kemudian pergi dari hadapan Anggara dengan mengucapkan syukur.


Aku sangat bersyukur sekali...aku lepas dari siksaan bosku...dia sangat mengerikan sekali...aku tidak akan menganggunya lagi saat ia bersama dengan kucing peliharaannya itu.


Ucap Leo dalam hati. Leo sangat mengenal bagaimana sifat dari Anggara. Anggara sama sekali tidak dapat diusik disaat ia sedang bersenang-senang. Kalau, diusik maka akibatnya tidak akan baik bagi seseorang yang menganggu kesenangannya.


Memang, begitulah Anggara. Ia memang memiliki sifat yang sangat mengerikan dan sulit untuk diprediksi. Ia tidak akan mendengarkan siapa pun bahkan Yuri adiknya sekali pun. Oleh sebab itu, Yuri pergi meninggalkan kediaman ksemua karena dia.


Yuri selalu dikekang dan tidak boleh keluar dari kediaman. Sebab, Anggara takut akan keselamatan Yuri. Karena, kasus pembunuhan yang dialami oleh adik lelakinya belum kunjung selesai. Tetapi, apa daya ternyata Yuri pun meninggalkan kediaman tersebut. Agar dapat hidup bebas tanpa kekangan dari Anggara.


Bersambung...

__ADS_1


EAGLE LADY



__ADS_2