
Apartemen Selasih kota...
"Ting...tong."
Bunyi bel dipencet berulangkali oleh Leo. Stella yang masih duduk di ruang tamu segera bangkit dari duduknya. Ia membuka pintu apartemen, berharap kalau Yuri akan datang kembali kepadanya dan memaafkan dirinya. Akan tetapi, ia terkejut ketika yang datang bukanlah Yuri melainkan Leo.
"Leo? Kau..."
Ucap Stella terputus ketika ia melihat Leo yang ada di hadapannya bukan Yuri.
"Ya, nona...ini aku."
Ucap Leo.
"Um? Kau bersama siapa datang kesini."
Ucap Stella.
"Sendiri."
Ucap Leo.
"Ku kira kau datang bersamanya."
Ucap Stella.
"Tidak, nona? Pak bos, dia sedang sibuk mengurusi hal yang lain."
Ucap Leo.
"Oh, begitu? Syurkurlah."
Ucap Stella.
"Syukur? Syukur mengapa, nona?"
Ucap Leo.
"Ah tidak...tidak apa-apa...lalu kau, ada urusan apa kau datang kesini."
Tanya Stella.
"Nona, apa nona Yuri tadi datang kesini?"
Tanya Leo.
Yuri? Apa, Yuri belum pulang? Dia pergi kemana setelah tadi dia berada disini.
Ucap Stella dalam hati.
"Ya, tadi dia datang kesini."
Balas Stella.
"Lalu, sekarang apakah nona Yuri masih ada disini?"
Tanya Leo.
"Tidak, dia tidak ada disini...dia sudah pulang."
Balas Stella.
"Oh, jadi nona Yuri sudah pulang?"
Ucap Leo.
"Ya, mengapa? Apa, dia belum sampai di rumah?"
Ucap Stella.
"Belum, pak bos pun juga mengkhawatirkan dirinya."
Ucap Leo.
"Kalau begitu...mari kita cari dia bersama-sama."
Ucap Stella.
"Apakah, tidak merepotkan nona?"
Tanya Leo yang merasa sungkan.
"Tidak! Bagaimana pun, dia adik dari atasanku...ayo, mumpung belum tengah malam."
Balas Stella.
"Baiklah."
Ucap Leo yang kemudian segera pergi bersama Stella untuk mencari Yuri. Sudah dua jam mereka mengitari setiap sudut kota serta tempat yang pernah dikunjungi oleh Yuri. Akan tetapi, mereka berdua tetap tidak menemukannya.
Dimana Yuri? Aku tidak menemukannya dimanapun...apakah, dia pergi ke suatu tempat?
Ucap Stella dalam hati.
"Nona? Kita sudah dua jam mencarinya...tetapi, belum juga menemukannya...aku tidak tahu kira-kira dimana nona Yuri berada."
__ADS_1
Ucap Leo.
"Apakah, kau mengetahui satu tempat...untuknya menyendiri?"
Tanya Stella.
"Satu tempat? Untuk menyendiri?"
Balas Leo.
"Ya, apa kau tahu?"
Ucap Stella.
"Aku tidak tahu, nona?"
Ucap Leo.
"Apa, dia pergi ke tempat itu?"
Ucap Stella bergumam.
"Ya, nona? Nona, bergumam apa?"
Tanya Leo.
"Aku hanya berpikir satu tempat...untuknya menyendiri."
Balas Stella.
"Tempat apa itu."
Ucap Leo.
"Kuburan!"
Ucap Stella dan Leo pun seketika menghentikan laju kendaraannya.
"Kuburan?"
Ucap Leo.
"Ya, kuburan orang yang paling ia sayang...keluarganya yang paling cinta."
Ucap Stella.
"Aku tahu...itu kuburan kakak kedua nona Yuri...dahulu semasa hidupnya...dia merupakan orang yang paling dekat dengannya."
Ucap Leo.
Ucap Stella.
"Baiklah, nona."
Ucap Leo segera menjalankan mobilnya dan memulai perjalanan kembali menuju pekuburan. Dimana tempat tersebut begitu sunyi mencekam dan tidak ada orang yang enggan menginjakkan kakinya disana. Kecuali, disaat hari istimewa.
Yuri sedang menangis sesenggukkan di dekat makam kakak keduanya. Ia terlihat begitu menderita karena ia sudah mengetahui siapa orang yang telah membunuh kakak keduanya.
"Kakak? Apakah, kau tahu siapa orang yang telah membunuhmu? Dia tidak lain adalah orang yang sangat kukagumi."
Ucap Yuri.
"Dia adalah kak Stella, kekasih kak Anggara."
Ucap Yuri.
"Dia sosok orang yang sangat aku sukai dan sayangi...tetapi, ternyata dia memiliki sisi lain kakak? Dia seorang pembunuh bayaran."
Ucap Yuri dan tepat saat itu, Stella dan Leo pun tiba di pekuburan.
"Lihat, disana."
Ucap Stella.
"Nona Yuri? Itu, nona Yuri...ayo, nona."
Ucap Leo terkejut sambil mengajak Stella menyusuri areal pekuburan.
"Yuri?"
Panggil Stella. Yuri terkejut ketika ia mendengar suara Stella disana. Dan, ia pun menoleh.
"Kak Stella? Mengapa, kakak...
Ucapan Yuri terputus ketika ia menyadari Stella disana bersama Leo. Maka, ia pun berhenti berbicara dan memojokkan Stella. Ia tidak ingin Leo mengetahui hal yang sebenarnya. Sebab, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia tidak ingin membuat Stella celaka di tangan kakaknya.
"Leo? Kau disini juga?"
Ucapnya.
"Iya, nona...aku disuruh pak bos...untuk mencari nona serta membawa nona pulang."
Ucap Leo.
"Baiklah, ayo kita pulang."
__ADS_1
Ucap Yuri. Lalu, tiba-tiba Yuri menggandeng tangan Stella.
"Ayo, kakak...kita pulang."
Ucapnya sambil tersenyum manis. Akan tetapi, Stella merasa kalau senyum Yuri itu palsu untuknya. Dan, ia merasa sangat yakin sebab tiba-tiba Yuri berbisik di telinganya...
"Aku hanya bersandiwara...jadi, jangan harap kau bisa memasuki kediaman milik keluargaku selamanya!
Ucap Yuri sambil tetap tersenyum manis. Stella pun tersenyum manis juga sambil berbisik di telinga Yuri.
"Dan, aku dengan senang hati akan menemanimu bermain.
Bisiknya. Leo tidak mengetahui perihal masalah yang terjadi diantara Stella dan Yuri. Stella dan Yuri menyembunyikan masalah yang sesungguhnya dari Leo. Sebab, mereka berdua tidak ingin masalah tersebut diketahui oleh Anggara.
Yuri masih menghargai perasaan Anggara untuk Stella. Dia tidak ingin menjadi penghalang antara hubungan Anggara dan Stella. Meski, hatinya terasa sangat sakit sekali mengetahui segalanya tentang Stella.
......................
Kediaman Anggara...
Anggara terlihat berjalan kesana kemari. Ia tampak tidak sabar menunggu Leo kembali ke rumah bersama dengan Yuri. Ia lalu menelepon ponsel Leo. Di tengah perjalanan saat itu, ponsel Leo berdering dengan nyaring.
🎵🎵🎵
"Bos!"
Sapa Leo.
"Leo, apa kau sudah menemukan adikku?"
Tanya Anggara.
"Sudah, bos!"
Balas Leo.
"Dimana kau menemukannya? Apa, di rumah Stella?"
Tanya Anggara lagi.
"Tidak, bos!"
Jawab Leo.
"Lalu, dimana."
Ucap Anggara.
"Um? Di pekuburan, bos."
Ucap Leo.
"Apa! Di pekuburan?"
Ucap Anggara terkejut.
"Untuk apa dia pergi kesana."
Ucap Anggara.
"Sepertinya, nona mengunjungi kuburan adik kedua bos."
Ucap Leo.
"Oh."
Ucap Anggara pendek.
"Kalau begitu...cepat pulang!"
Ucap Anggara.
"Baik, bos."
Ucap Leo dan ia segera memutuskan hubungan komunikasinya dengan Anggara. Anggara menarik nafas lelah dan ia duduk di kursi. Masih terekam diingatannya saat peristiwa itu yang membuat Yuri histeris sampai mengalami trauma yang dalam atas kematian kakak keduanya yang dinilai tidak wajar.
Ia sampai harus masuk rumah sakit dan dirawat inap selama dua minggu. Setelah keluar dari rumah sakit Yuri masih membutuhkan waktu untuk memulihkan trauma yang dialaminya. Untuk itu ia membutuhkan waktu satu tahun agar traumanya benar-benar menghilang.
"Saat itu benar-benar melelahkan bagiku dan Yuri...lalu, mengapa hal itu mengusiknya lagi?"
Ucap Anggara.
"Yuri paling lemah diantara kami berdua...sekarang yang dia miliki hanya aku saja...sebab, kedua orang tua kami juga sudah lama meninggalkan kami untuk selamanya."
Ucap Anggara.
"Untuk itu aku akan menjaganya dengan baik...tak akan kuizinkan siapa pun menyakiti adikku...meski, ia orang yang paling dekat denganku sekali pun."
Ucap Anggara sambil menancapkan pisau di atas meja yang terbuat dari kayu jati.
Bersambung...
EAGLE LADY
__ADS_1