
Yuri sudah pulang ke rumah. Anggara segera menyambutnya di depan rumah. Tetapi, sambutan Anggara tidak dipedulikan oleh Yuri. Anggara melihat Stella disana, ia pun segera menghampirinya.
"Stella."
Sapa Anggara.
"Oh, pak Anggara? Belum tidur."
Ucap Stella tersenyum.
"Belum, terima kasih kau telah mengantarkannya pulang."
Ucap Anggara.
"Sama-sama, pak Anggara."
Ucap Stella. Seketika, keduanya menjadi kikuk.
Dia memanggilku, pak Anggara? Apa ini."
Ucap Anggara dalam hati.
"Tidak bisakah, kau memanggilku sayang? Kau membuat batasan yang cukup jelas untuk kita berdua."
Ucap Anggara.
"Apa, pak Anggara tidak tahu? Disini masih ada bawahanmu...apakah, pak Anggara yakin ingin bermesraan di hadapannya."
Ucap Stella.
"Hei, Leo!"
Teriak Anggara.
"Ya, bos!"
Ucap Leo.
"Apa, kau ingin melihat drama? Sehingga, kau masih tetap disini?"
Ucap Anggara.
"Tidak, bos...aku hanya sedang menunggu nona Stela saja...apakah, ia mau diantarkan pulang atau tidak."
Ucap Leo.
"Berani menjawab kau rupanya."
Ucap Anggara.
"Tidak, bos!"
Ucap Leo.
"Kalau begitu, menyingkir dari hadapanku."
Perintah Anggara.
"Baik, bos."
Ucap Leo segera pergi dari tempat tersebut. Meninggalkan Anggara dan Stella disana. Stella berniat pergi dari sana. Akan tetapi, Anggara mencegahnya pergi.
"Tunggu dulu, kau mau kemana?"
Tanya Anggara.
"Apalagi, tentu saja...aku ingin pulang ke apartemen."
Balas Stella.
"Ya sudah, aku akan mengantarmu."
Ucap Anggara sambil menggandeng tangan Stella. Stella hanya dapat mengikuti kata-kata Anggara saja.
"Apa, kau tidak ingin menemani Yuri."
Ucap Stella.
"Aku mengantarmu dulu...setelahnya, aku kembali dan berbicara dengannya."
Ucap Anggara.
Kalau nanti, Yuri sampai membuka rahasiaku...maka aku tidak tahu harus berbuat apalagi.
Ucap Stella dalam hati.
Kemungkinan besar, aku harus pergi meninggalkanmu...sebab, tidak mungkin adikmu menerimaku...karena akulah yang telah membunuh adik keduamu.
Ucap Stella dalam hati.
Dan, mungkin kau pun akan membenciku seperti adikmu yang membenciku.
Ucap Stella dalam hati lagi. Lalu, satu patah kata dari Anggara membuyarkan lamunannya.
"Apa, yang sedang kau pikirkan?"
Tanya Anggara.
"Tidak ada."
Balas Stella.
"Oh, kupikir kau sedang memikirkan sesuatu."
Ucap Anggara.
"Apakah, aku terlihat seperti itu?"
__ADS_1
Ucap Stella.
"Ya, kau terlihat seperti itu."
Ucap Anggara.
"Pak Anggara? Sepertinya ada yang salah dengan penglihatanmu?"
Ucap Stella.
"Oh, benarkah? Sepertinya, tidak ada yang salah dengan penglihatanku."
Balas Anggara.
"Oh, ya? Pak Anggara, memang suka meninggikan diri sendiri."
Ucap Stella.
"Begitukah?"
Ucap Anggara dan Stella menganggukkan kepalanya saja. Anggara pun tersenyum dan perbincangan tersebut terus berlanjut sampai di apartemen. Stella mengucapkan terima kasih kepada Anggara.
"Terima kasih, sudah mengantarku."
Ucap Stella.
"Ya."
Ucap Anggara pendek dan ia bermaksud untuk mencium bibir Stella namun Stella mencegahnya.
"Sebaiknya, kau urus Yuri...daripada kau menciumku dan melakukan hal lainnya denganku."
Ucap Stella mengingatkan.
"Oh, baiklah...tidur lebih awal."
Ucap Anggara sambil mengecup kening Stella lembut.
"Oke."
Balas Stella. Lalu, Anggara segera bergegas kembali ke kediamannya untuk melihat Yuri. Sampai disana, ia segera menemui Yuri di kamarnya. Anggara mengetuk pintu kamar Yuri berkali-kali. Akan tetapi, Yuri tidak menggubrisnya.
"Tok...tok...tok."
"Yuri...."
Panggil Anggara dari balik pintu.
"Itu kakak...dia pasti ingin bertanya tentang perubahan sikapku ini."
Ucap Yuri.
"Apa, kuceritakan saja hal yang sebenarnya kepada kakak? Tetapi, jika kuceritakan bukankah hubungannya dengan kak Stella akan berakhir?"
Ucap Yuri bingung.
Ucap Yuri.
"Sudahlah, lebih baik kusimpan saja semua ini sendiri...siapa tahu, luka ini akan sembuh...seiring dengan berjalannya waktu."
Ucap Yuri akhirnya mengambil keputusan. Sedangkan, diluar kamar Anggara masih saja mengetuk pintu kamar adiknya tersebut.
"Yuri...."
Panggilnya lagi.
"Apa, dia sudah tidur?"
Ucap Anggara.
"Sepertinya dia sudah tidur...sudahlah, besok saja aku berbicara dengannya."
Ucap Anggara akhirnya segera berlalu dari sana. Ia menyerah dan tidak ingin mengganggu Yuri saat ini. Lebih baik bagi dirinya untuk segera beristirahat.
......................
Pagi harinya...
Kegelisahan melanda hati Stella. Ia bingung apakah ia harus masuk kantor atau mengundurkan diri dari tempatnya bekerja sesuai permintaan Yuri. Ia merasa dilema pada diri Yuri dan Anggara. Ia merasa sulit memenuhi permintaan Yuri sebab ia sendiri tidak bisa jauh dari Anggara. Ia sudah jatuh cinta kepada Anggara.
"Bagaimana ini, haruskah aku memenuhinya atau tidak?"
Ucapnya sambil duduk di ruang tamu.
"Jika, kupenuhi maka Yuri akan sangat senang sekali...tetapi, bagaimana denganku...aku tidak bisa jauh darinya dan menghilang begitu saja."
Ucap Stella. Ketika, Stella sedang memikirkan dilemanya. Tiba-tiba saja, ia merasa mual dan ingin muntah. Segera saja ia lari ke dapur dan membuangnya disana.
"Hoek."
"Sudah seminggu ini...aku merasa mual dan tidak enak badan...apa yang sesungguhnya terjadi kepadaku?"
Ucap Stella.
"Ingin pergi ke dokter...tetapi, aku belum memiliki waktu...waktuku habis untuk bekerja dan mengurus masalah dengan Yuri."
Ucap Stella lagi.
"Sudahlah, nanti saja aku mengurus hal tersebut...sekarang, lebih baik aku pergi bekerja saja...tentang Yuri aku akan berbicara baik-baik dengannya."
Ucap Stella akhirnya. Ia pun segera pergi ke kantor untuk bekerja. Lalu, sepulang bekerja Stella singgah di sebuah supermarket untuk membeli persediaan bahan-bahan makanan. Yang sudah hampir habis di apartemennya. Dan, secara tidak sengaja ia malah bertemu dengan Yuri disana.
"Yuri?"
Sapanya.
"Kak Stella?"
__ADS_1
Balas Yuri.
"Kau disini? Sendiri? Tidak bersama dengan, Leo?"
Ucap Stella.
"Iya, mengapa kakak? Tidak bolehkah, aku pergi sendiri?"
Ucap Yuri sedikit kesal.
"Tidak? Tentu saja, kau boleh pergi kemana pun sendiri."
Ucap Stella dan Yuri hanya menatapnya sejenak kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tampaknya, Yuri sedang mencari tempat untuk sekedar duduk dan minum kopi di supermarket tersebut.
"Kakak?"
Panggil Yuri.
"Ya, Yuri? Ada apa?"
Ucap Yuri.
"Bisakah, aku berbicara berdua dengan kakak?"
Ucap Yuri sudah tidak kesal lagi kepada Stella. Yuri mencoba menekan rasa amarah di hatinya. Mengingat hubungan kakaknya dengan Stella.
"Tentu saja, bisa...lalu kita berbicara dimana?"
Tanya Stella.
"Disana...di luar supermarket ini ada kursi dan meja yang sudah disediakan."
Ucap Yuri.
"Baiklah, mari."
Ajak Stella. Yuri menarik nafas lelah dan mengikuti langkah kaki Stella. Dan, mereka pun duduk disana. Yuri membeli dua kopi panas siap saji untuk mereka minum berdua lalu memberinya kepada Stella.
"Terima kasih."
Ucap Stella sambil tersenyum. Yuri hanya menatapnya saja. Stella menyeruput kopi panas tersebut pelan-pelan begitu juga Yuri. Setelah, minuman tersebut tinggal setengah barulah Stella membuka pembicaraan dengan Yuri.
"Kau bilang ingin berbicara denganku...berbicaralah! Aku akan mendengarkanmu."
Ucap Stella.
"Kakak? Setelah, kupikirkan aku akhirnya mengambil keputusan."
Ucap Yuri.
"Keputusan? Apa itu?"
Ucap Stella.
"Aku akan mengizinkan kakak tetap bekerja di kantor kakakku...dan menjaga rahasia kakak tetap aman...tetapi...
Ucapan Yuri terputus.
"Tetapi, apa?"
Ucap Stella.
"Tetapi, bisakah kakak memutuskan hubungan kakak dengan kakakku?"
Ucap Yuri.
"Apa!"
Ucap Stella terkejut.
"Aku tidak ingin kakakku semakin terikat denganmu, kakak...aku tidak ingin ia terluka bila ia mengetahui rahasiamu sebenarnya."
Ucap Yuri.
"Yuri? Sadarkah kau dengan permintaanmu ini?"
Tanya Stella.
"Aku sadar, kakak?"
Balas Yuri.
"Kau tahu hubungan kami baru saja berjalan...dan kau ingin aku menjaga jarak dengannya.
Ucap Stella.
"Kakak? Please...tolong aku dan kakakku...hanya itu saja permintaanku tidak lebih."
Ucap Yuri.
"Tidak tahu, Yuri...apakah aku bisa memenuhi permintaanmu...tetapi, bisakah aku memikirkannya dahulu?"
Ucap Stella.
"Satu minggu kemudian...aku akan memberikan jawabannya."
Ucap Stella lagi.
"Baiklah, kakak? Aku akan menunggu...satu minggu."
Ucap Yuri kemudian menyeruput habis kopinya lalu pergi meninggalkan Stella disana dengan beban pikiran yang semakin menambah uban di kepalanya.
Bersambung...
EAGLE LADY
__ADS_1