
Kediaman keluarga Anggara...
Anggara terlihat sedang mondar mandir kesana kemari. Ia terlihat sedang kesal. Sebab, teleponnya diputuskan begitu saja oleh sang adik kesayangannya. Setelah, ia mencoba untuk menelepon kembali ponsel adiknya tersebut sudah tidak aktif.
Ia sungguh pusing dengan semua hal yang dilakukan oleh adiknya tersebut. Ditambah lagi tagihan kartu kreditnya yang semakin membengkak setiap harinya. Benar-benar membuatnya semakin pusing. Bukan masalah uang yang dipermasalahkan oleh Anggara. Akan tetapi, keselamatan adiknya yang lebih penting dari semua itu.
"Ck, bagaimana ini...dia benar-benar membuatku pusing!"
Ucap Anggara.
"Ditambah lagi masalah-masalah lain yang tidak kunjung selesai."
Ucap Anggara. Ketika, Anggara sedang memikirkan masalah tentang adiknya itu. Tiba-tiba, seseorang masuk ke dalam kediamannya.
"Lapor, bos!"
Ucap anak buahnya itu.
"Katakan!"
Ucap Anggara.
"Bos, kami tidak berhasil menghabisi Eagle Lady...dia menghilang, bos!"
Ucap anak buah tersebut.
"Stop, dulu urusan untuk menghabisi pembunuh bayaran tersebut, sekarang kalian fokus mencari adikku, Yuri...temukan dia...apa pun resikonya cari dia sampai dapat...setelah itu hubungi aku!"
Perintah Anggara.
"Baik, bos!"
Ucap anak buah tersebut segera berlalu dari hadapan Anggara.
"Yuri, keselamatanmu jauh lebih penting dibandingkan dengan apa pun...kembalilah, Yuri...aku sebagai kakak tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri...bila sesuatu terjadi kepada dirimu."
Ucap Anggara kemudian ia pun menelepon nyonya Ling Hao.
"Halo, nyonya Ling!"
Sapa Anggara.
"Iya, tuan?"
Balas nyonya Ling Hao di seberang telepon.
"Apakah, wanita cantik yang kemarin malam bermain denganku dia datang ke rumah hiburanmu?"
Tanya Anggara.
"Tidak ada, tuan? Wanita tersebut sangat misterius."
Balas nyonya Ling Hao.
"Ya, sudah...sediakan saja beberapa wanita yang paling memiliki sifat suka melawanku...aku tidak suka wanita agresif yang suka merayuku."
Ucap Anggara.
"Baik, tuan Anggara akan segera saya siapkan."
Ucap nyonya Ling Hao menyanggupi sambil memutuskan sambungan telepon.
Siapa, sebenarnya wanita tersebut...dia sangat misterius sekali...aku harus menyebar anak buahku untuk mencari wanita tersebut.
Ucap Anggara dalam bathin. Lalu, ia pun memanggil anak buahnya yang lain.
"Leo!"
__ADS_1
Panggilnya keras.
"Ya, bos!"
Balas Leo.
"Segera kau cari wanita cantik ini dan bawa dia kepadaku...ingat! Kau, jangan menyentuh dia...kalau tidak aku akan menghabisimu...paham!"
Ucap Anggara sambil memperlihatkan foto Stella kepada Leo yang Anggara ambil saat Stella dalam keadaan tidak berdaya.
"Paham, bos!"
Ucap Leo segera berlalu dari hadapan Anggara.
"Masalah ini harus segera selesai...agar aku juga dapat mengurus hal lainnya."
Ucap Anggara kemudian segera pergi dari kediamannya. Sedangkan, di sebuah markas mafia lain di Dragon Six. Tampak sekali Raymond sebagai ketua mafia Dragon Six sedang berbincang dengan anak buahnya.
"Jadi, bagaimana hasil perburuan tersebut?"
Ucap Raymond.
"Perburuan tersebut gagal, bos! Eagle Lady menghilang...tidak tahu kemana."
Ucap anak buah tersebut.
"Apa! Menghilang? Hahaha."
Ucap Raymond sambil tertawa.
"Rasakan, kau Anggara! Ini baru berita besar."
Ucap Raymond puas.
"Bos, sangat bahagia hari ini."
Ucap anak buah.
Ucap Raymond.
"Lalu, apakah ada berita lain lagi?"
Tanya Raymond.
"Ada, bos!"
Jawab anak buah.
"Katakan!"
Ucap Raymond tegas.
"Yuri, adik Anggara meninggalkan rumah!"
Ucap anak buah.
"Ini berita yang sangat bagus, segera sebar anak buah untuk mencarinya...setelah, mendapatkannya segera bawa kepadaku!"
Ucap Raymond.
"Baik, bos! Tetapi, Anggara juga sedang mencarinya juga bos!"
Ucap anak buah.
"Memangnya mengapa? Siapa, cepat dia dapat!"
Ucap Raymond.
__ADS_1
"Baik, bos! Segera, dilaksanakan!"
Ucap anak buah segera berlalu dari hadapan Raymond.
"Anggara! Kita lihat bagaimana kali ini aku akan menekanmu...setelah adikmu ada di tanganku!"
Ucap Raymond penuh dendam terhadap Anggara. Raymond memang memiliki dendam kesumat terhadap Anggara. Karena, Anggara pernah merebut lahan usaha miliknya alias Anggara pernah merebut kerjasama dengan mafia orang jepang yang bernama Tetzuya Takamoto.
Tetzuya Takamoto adalah seorang ketua mafia terkenal dan terbesar di Jepang. Tetzuya Takamoto memiliki hubungan dagang serta bisnis dengan pihak mafia manapun. Bukan hanya dari Jepang saja, ia juga memiliki hubungan bisnis dengan pihak mafia Korea Selatan juga. Oleh sebab itu, saat itu bersikeras agar ia dapat menjalin kerjasama dengan ketua mafia Jepang, Tetzuya Takamoto.
Anggara menggunakan berbagai cara untuk menarik simpati dari ketua mafia Jepang Tetzuya Takamoto. Sampai akhirnya, ia pun dapat menjalin kerjasama dengan ketua mafiaTetzuya Takamoto yang paling terkenal di Jepang. Karena, hal tersebutlah yang membuat Raymond sangat dendam terhadapnya.
Dan, sangat ingin membunuh Anggara dan menghancurkan kelompok mafia Kala Hitam agar Raymond dan klompoknya menjadi kelompok mafia nomor satu di dunia menggantikan Anggara. Akan tetapi, sampai saat ini Raymond pun belum berhasil menyaingi kelompok mafia milik Anggara. Sebab, Anggara bukanlah mudah untuk dihadapi. Jadi, Raymond melakukan satu tindakan untuk menundukkan Anggara.
......................
Apartemen Selasih kota...
Saat itu, Stella sedang sibuk mencari lowongan pekerjaan di koran-koran yang baru saja ia beli. Bel di pintu apartemen berbunyi nyaring sehingga membuatnya sedikit kesal.
"Siapa, pagi-pagi sudah berkunjung."
Ucapnya kesal. Mau tidak mau akhirnya Stella pun membukakan pintu untuk seseorang yang datang berkunjung tersebut. Wajahnya yang terlihat sedikit memberengut itu terukir jelas. Saat ia membuka pintu, ternyata Yuri sudah ada di depannya sambil membawa belanjaan sarapan pagi.
"Hai, kak Stella...selamat pagi."
Sapa Yuri.
Ck, ternyata gadis muda ini!
Ucapnya dalam hati.
"Pagi-pagi, sudah bangun...biasanya tuan putri tidak bangun pagi-pagi...mengapa?"
Oceh Stella panjang.
"Kakak! Aku tahu kau sedang sibuk, dengan tumpukan koran-koran ini ditambah dengan segelas kopi ini."
Ucap Yuri sambil menunjuk tumpukan koran dan segelas kopi yang ada di atas meja.
"Lalu?"
Ucap Stella sambil melipat tangan di dada.
"Lalu, aku membawakanmu sarapan pagi."
Ucap Yuri sambil tersenyum.
"Ayo, kakak? Kakak, sarapan pagi dulu nanti aku bawa kakak ke tempat bagus untuk melamar pekerjaan."
Ucap Yuri lagi sambil menarik tangan Stella dan membawanya duduk bersama di kursi tamu untuk sarapan pagi bersama. Stella sama sekali tidak dapat menolak Yuri. Karena, ia menganggap Yuri sama seperti adiknya yang ia titipkan di panti asuhan.
Haish, gadis muda ini...dia selalu memaksaku...dan anehnya aku tidak bisa menolak semua keinginannya...dia seperti adikku...kira-kira bagaimana sekarang keadaannya? Sudah lama aku tidak mengunjunginya.
Ucap Stella dalam hati.
"Kakak! Jangan melamun...ayo, dimakan kakak? Nanti, keburu dingin."
Ucap Yuri manja sambil mengoceh.
"Baiklah."
Ucap Stella dingin. Stella pun sarapan pagi bersama dengan Yuri. Setelahnya, Yuri membawa Stella pergi ke salah satu perusahaan milik keluarganya. Yuri menyamar agar tidak ketahuan oleh kakaknya.
Awalnya, Stella tidak mengerti mengapa Yuri menyamar. Ia baru tahu setelah Yuri menyogok seseorang untuk memasukkan Stella bekerja di perusahaan yang sejatinya dijalankan oleh Anggara menggantikan adiknya yang telah tewas karena dibunuh oleh Stella.
EAGLE LADY
__ADS_1