EAGLE LADY

EAGLE LADY
Bab 9. Kau Dipecat!


__ADS_3

Beberapa jam kemudian...


Anggara kembali ke perusahaannya, setelah beberapa jam ia keluar dari perusahaannya. Ia memanggil sekretarisnya yang ia tugaskan untuk mewawancarai pelamar yang ingin bekerja di perusahaan miliknya. Anggara ingin tahu bagaimana hasil dari wawancara tersebut.


"Yuni! Datang ke ruanganku!"


Panggilnya melalui telepon kantor.


"Baik, pak!"


Ucap sekretaris yang bernama Yuni tersebut. Yuni pun segera memenuhi panggilan tersebut.


"Pasti, pak Anggara ingin mengetahui hasilnya.


Ucapnya pada diri sendiri.


"Tok...tok...tok."


Ketuknya di pintu.


"Masuk!"


Ucap Anggara mempersilahkan Yuni untuk masuk.


"Pak."


Ucap Yuni sambil tersenyum manis.


Sekretarisku ini mengapa tersenyum manis begitu? Tampaknya, dia ingin merayuku...haish, satu lagi wanita yang menyerahkan dirinya begitu saja...benar-benar tidak seru.


Ucap bathin Anggara.


"Duduklah, Yuni."


Ucap Anggara.


"Ya, pak."


Ucap Yuni.


"Bagaimana, dengan hasil wawancaranya?"


Tanya Anggara


"Pak, semuanya ada disini...silahkan, saja bapak periksa."


Balas Yuni sambil menyerahkan file yang ditinggalkan oleh Stella tadi sebelum meninggalkan perusahaan tersebut. Anggara pun memeriksa hasil wawancata tersebut. Dan, alangkah terkejutnya ia ketika melihat foto Stella disana.


Yang, ternyata adalah wanita misterius yang pernah bersamanya malam itu. Dan, yang lebih terkejut lagi ketika ia melihat hasil dari wawancara tersebut. Yang ternyata hasilnya adalah sungguh membuat Anggara menaikkan alis matanya.


Apa! GAGAL?


Ucap bathin Anggara.


Tulisan GAGAL yang tercetak tebal disana seketika membuat Anggara sakit kepala.


"Katakan padaku, mengapa bisa gagal."


Ucap Anggara meminta penjelasan Yuni.


"Iya, pak! Dia sama sekali tidak memenuhi kualifikasi untuk bekerja di perusahaan kita, pak!"


Ucap Yuni tanpa ragu.


"Oh, begitukah."


Ucap Anggara sambil tersenyum tipis.


"Yuni, sudah beberapa tahun kau bekerja di perusahaan ini?"


Tanya Anggara.


"Kira-kira, sudah hampir 10 tahun saya bekerja disini pak."


Jawab Yuni.


"Sudah hampir 10 tahun...lalu, mengapa kau tidak melihat kualifikasi dari pelamar ini?"


Tanya Anggara lagi serius dengan tatapan mata yang tajam menatap Yuni. Seketika, Yuni merasa takut melihat tatapan mata Anggara. Ia pun segera meminta maaf pada Anggara.


"Maafkan, saya pak!"


Ucap Yuni ketakutan.


"Maaf? Kau, benar-benar tidak becus bekerja!"


Ucap Anggara emosi.


"Pak? Saya memang tidak becus bekerja...tetapi, dia tidak memenuhi kualifikasi untuk bekerja disini pak?"


Ucap Yuni membela diri.

__ADS_1


"Diam!"


Anggara membentak Yuni. Yuni pun terdiam ketika Anggara membentak dirinya.


"Yang berhak menentukan dia memiliki kualifikasi atau tidak hanya aku yang menentukannya...kamu tidak berhak untuk mengatakan hal tersebut!"


Ucap Anggara.


"Lalu, apa yang harus saya lakukan pak?"


Tanya Yuni.


"Kau dipecat!"


Balas Anggara dengan tatapan tajam.


"Apa! Pak, jangan pecat saya pak."


Ucap Yuni memohon belas kasihan dari Anggara.


"Saya rela melakukan hal apa pun untuk, bapak."


Ucap Yuni sambil membuka dua kancing bajunya untuk memancing Anggara.


Trik kotor perempuan durjana, aku sangat muak melihatnya.


Ucap bathin Anggara.


"Hegh! Serahkan dirimu saja kepada para lelaki hidung belang di luar sana! Pergilah, aku muak melihatmu."


Ucap Anggara sambil mendorong tubuh Yuni hingga jatuh ke belakang.


"Pak, saya mohon pak?"


Ucap Yuni.


"Apa, kau tuli? Apa, perlu aku memanggil pihak keamanan untuk mengusirmu!"


Ucap Anggara semakin marah.


"Tidak, pak? Saya, akan pergi."


Ucap Yuni kemudian segera pergi dari hadapan Anggara. Hari itu juga, Yuni pun mengemasi semua barang-barang miliknya dan keluar dari perusahaan tersebut untuk selamanya.


Tinggallah, Anggara disana di dalam ruangan kantornya dengan pikiran yang kalut. Memikirkan, bagaimana ia harus mencari Stella. Wanita misterius yang sudah membuat dirinya benar-benar tertarik.


"Sialan! Andai tadi ku tahu itu adalah dia...tentu saja dia sudah ada dalam genggamanku! Dasar, sekretaris kurang ajar!"


"Leo!"


Sapanya.


"Ya, bos!"


Ucap Leo.


"Apa, kau sudah menemukannya?"


Tanya Anggara.


"Belum, bos!"


Ucap Leo.


"Ck, kau memang bodoh! Mencari, satu wanita saja tidak becus!"


Ucap Anggara kesal.


"Maaf, bos! Sangat susah untuk mencarinya! Apalagi, wanita tersebut sangat misterius...dan, ia juga tidak memiliki latar belakang yang mendukung bagi kami untuk mencarinya, bos!"


Ucap Leo memberi alasan.


"Alasan! Bilang saja kalau kau tidak mampu, Leo...jangan, memberiku alasan seperti ini."


Ucap Anggara semakin marah.


"Maaf, bos! Aku tidak berani memberikan alasan seperti itu, bos!"


Ucap Leo.


"Sudah! Kuberi kau waktu sampai seminggu...jika, dalam selama waktu itu kau tidak mendapatkannya juga...maka, aku akan meledakkan kepalamu!"


Ucap Anggara mengancam Leo.


"Ba...baik, bos!"


Ucap Leo ketakutan. Setelah, berbicara demikian Anggara memutuskan panggilan teleponnya.


"Haish! Beginilah, nasib jadi bawahan."


Ucap Leo sambil berdiri dengan kaki gemetaran. Leo harus menghadapi amarah Anggara yang sedang kesal karena kebodohannya sendiri. Sedangkan, Leo ia menjadi berkeringat dingin karena ancaman yang diberikan Anggara kepadanya.

__ADS_1


Dan, Anggara ia memeriksa kembali file milik Stella. Disana tidak tercantum alamat, akan tetapi hanya ada nomor ponsel yang tertera disana. Seakan, mendapat secercah cahaya terang. Anggara tersenyum senang sambil memencet nomor ponsel yang tertera di file tersebut. Lalu, ia pun mulai mencoba untuk menelepon Stella.


......................


Rumah Sakit Central Park...


Tampak sebuah tubuh terbaring lemah di atas pembaringan rumah sakit dengan bantuan banyak alat penunjang kehidupan yang melekat di tubuhnya. Di sisi kiri dan kanannya menunggu dua anak manusia pria dan wanita sedang, menunggu tubuh tersebut untuk bangun dari koma.


"Kapan, kiranya dia akan bangun."


Ucap seorang lelaki di sebelah tubuh tersebut.


"Tidak, tahu...lukanya cukup parah dan serius...bahkan, dokter pun tidak dapat berharap banyak kepadanya."


Ucap sang wanita.


"Ini semua karena ulah anak buahnya si Eagle Lady, keparat itu!"


Ucap pria tersebut sambil mengepalkan tinjunya.


"Tenang! Untuk apa, kau marah? Kita masih memiliki rencana, kan?"


Ucap sang wanita sambil tersenyum.


"Ya, kau benar sekali Angela."


Ucap pria tersebut.


"Rencana untuk menghabisi wanita sialan itu!"


Ucap pria tersebut.


"Ya, Simon...rencana yang akan membuatnya menangis darah dan memohon ampun kepada kita untuk mengampuni nyawanya."


Ucap sang Wanita yang bernama Angela tersebut.


"Aku sudah tidak sabar lagi menunggu hari itu tiba."


Ucap pria yang bernama Simon tersebut sambil tersenyum kepada Angela. Senyum kemenangan yang mengembang, yang terbungkus api dendam kesumat yang membara.


Simon dan Angela sudah memiliki rencana untuk menghabisi Eagle Lady atau Stella cepat atau lambat. Sebab, tinggal 70% lagi rencana mereka baru akan matang dengan sempurna.


Tidak tahu senjata apakah yang akan digunakan oleh Simon dan Angela untuk menghabisi Eagle Lady. Sehingga, mereka yakin dapat membuat Eagle Lady bertekuk lutut dan memohon ampun kepada mereka berdua.


Simon dan Angela adalah adik dari Peter. Peter adalah kakak pertama dari Simon dan Angela. Mereka berdua merupakan pilar utama keluarga organisasi pembunuh bayaran yang dibangun oleh Peter Fordxie.


Dan, saat ini mereka sudah berada di Indonesia. Setelah, lama mereka berkecimpung di dunia hitam di luar negeri di benua Eropa. Keduanya sangat terlatih, sebab mereka dilatih langsung oleh seorang ahli terkenal di benua Eropa.


Oleh sebab itu, mereka pun berani mengambil sikap untuk manangani masalah tentang Eagle Lady yang terkenal tersebut. Semenjak, Eagle Lady membunuh salah satu adik dari Anggara. Dan, menjadi buronan keluarga mafia tersebut.


Eagle Lady menjadi sorotan Internasional dunia hitam. Karena, keberaniannya membunuh salah seorang dari keluarga mafia kelas atas, Anggara. Bahkan, seorang mafia negara Jepang Tetzuya Takamoto pun tertarik untuk merekrutnya menjadi anggota.


"Dia sangat berani menyinggung, Anggara...bukan begitu Nata-Chan?"


Ucap Tetzuya Takamoto kepada kekasihnya Natasha.


"Ya, benar sekali...dia tidak takut kepada bos mafia tersebut."


Ucap Natasha.


"Aku tertarik untuk merekrutnya...menjadi salah satu senjata terkuatku?"


Ucap Tetzuya Takamoto.


"Itu adalah hak anda tuan, saya hanyalah pelayan anda."


Ucap Natasha.


"Tetapi, kau adalah jantungku Nata-Chan? Bukan pelayanku...kau milikku...kau sangat istimewa bagiku, oleh sebab itu aku meminta saran darimu, sayang?"


Ucap Tetzuya Takamoto sambil memeluk Natasha.


"Jika, begitu...apakah, tuan ingin saya selalu berada di sisi tuan?"


Ucap Natasha. Tetzuya Takamoto tersenyum manis.


"Kau tentu sudah tahu, hal tersebut...tidak perlu kau tanyakan lagi...bagaimana, jika kita menikah saja...dengan begitu posisimu disisiku akan semakin kuat...setelah, itu mari kita pergi ke Indonesia untuk bertemu dengan Eagle Lady."


Ucap Tetzuya Takamoto.


"Apa, kau besedia Nata-Chan?"


Tanya Tetzuya Takamoto.


"Ini suatu kehormatan bagi saya, saya bersedia tuan?"


Balas Natasha. Mendengar jawaban, Natasha. Tetzuya Takamoto gembira. Ia pun lalu mencium bibir merah nan ranum milik Natasha. Sampai akhirnya mereka tenggelam dalam kemesraan yang tiada tara. Natasha memberikan segalanya kepada Tetzuya Takamoto sebelum ia menikah dengannya. Sebab, ia yakin jika ia akan hidup bahagia di samping Tetzuya Takamoto.


Bersambung...


EAGLE LADY

__ADS_1



__ADS_2