EAGLE LADY

EAGLE LADY
Bab 13. Peter Tewas


__ADS_3

Pertarungan pun usai setelah Anggara menyuruh anak buahnya untuk menghabisi seluruh anak buah Lucky yang masih tersisa. Stella yang masih berada disana ingin mengucapkan terima kasih kepada Anggara. Akan tetapi, ia urung untuk mengucapkannya sebab kejadian di malam itu.


"Sepertinya, aku harus berterima kasih kepada mereka yang telah membantuku."


Ucap Stella.


"Eh? Bukankah, dia lelaki malam itu?"


Ucap Stella. Dan, Anggara sedang berdiri mematung sambil tersenyum nakal.


"Sepertinya, tidak perlu berterima kasih kepadanya."


Ucap Stella kemudian ia pun berjalan menuju Anggara dan melewatinya. Anggara heran mengapa Stella sama sekali tidak mempedulikannya.


Mengapa, sikapnya demikian dingin? Dia tidak mengucapkan terima kasih kepadaku...apakah, karena peristiwa malam itu?"


Ucap Anggara dalam hati. Lalu, Anggara pun menghentikan langkah Stella.


"Berhenti!"


Ucap Anggara dan Stella pun menghentikan langkahnya. Tubuh mereka saling membelakangi.


"Ada apa!"


Ucap Stella dingin.


"Aku sudah menolongmu, lalu mengapa kau tidak mengucapkan terima kasih kepadaku?"


Ucap Anggara.


"Perlukah, aku mengucapkan terima kasih kepadamu?"


Ucap Stella.


"Tentu saja, perlu."


Ucap Anggara.


"Oh, lalu bagaimana dengan peristiwa malam itu? Bukankah kau memaksaku?"


Ucap Stella.


"Mengapa, kau masih marah? Padahal kau juga menikmatinya kan?"


Ucap Anggara yang membuat wajah Stella berubah menjadi merah.


"Siapa bilang aku menikmatinya? Yang menikmati hal tersebut hanya dirimu."


Ucap Stella menuding Anggara.


"Oh, benarkah? Lalu, suara indahmu malam itu? Bagaimana?"


Ucap Anggara semakin memojokkan Stella.


"Kau!"


Ucap Stella yang kemudian membalikkan badan dan ingin sekali memukul Anggara. Namun, tidak jadi ia lakukan mengingat Anggara baru saja menyelamatkan dirinya.


"Mengapa, tidak jadi memukulku?"


Tanya Anggara yang kemudian segera berbalik badan dan melihat Stella di hadapannya.


"Sudahlah! Tidak perlu berurusan denganmu...tetapi, aku akan tetap memperhitungkan apa yang telah kau lakukan kepadaku malam itu!"


Ucap Stella segera berlalu dari sana.


"Pasti! Akan aku tunggu!"


Ucap Anggara sambil tersenyum.


Ingin sekali mendengar suara indahnya lagi...akan tetapi, akan aku ikuti saja irama permainan ini.


Ucap Anggara dalam hati. Anggara pun segera berlalu dari sana meninggalkan Night Club yang sudah berantakan disana sini.


Tadinya ia ingin sekali bersenang-senang disana. Namun, sesuatu hal yang tidak terduga terjadi disana. Ia bertemu dengan wanita yang ia sukai sedang berkelahi. Dan, berakhir dengan membantunya.

__ADS_1


Tetapi, apa yang ia lakukan untuknya tidak berarti apa-apa. Stella membencinya karena peristiwa malam itu yang telah menyakiti harga dirinya sebagai wanita. Oleh sebab itu, Stella meneruskan langkah dan kembali ke apartemen untuk menemui Yuri yang saat itu sedang menangis tersedu-sedu.


Yuri shock karena lelaki yang bernama Lucky hendak berbuat jahat kepadanya. Dan, ia sangat takut dengan tipe lelaki seperti Lucky. Dalam hati Yuri berjanji tidak akan lagi mengikuti langkah Sonya. Yang dinilai telah menjerumuskan dirinya. Dan, ingin menghancurkan masa depannya.


"Huu...hiks...tidak lagi aku mendengarkan kata-kata Sonya...dia temanku...tetapi, dia ingin menjerumuskanku."


Ucap Yuri di sela tangisnya. Lalu, terdengar bunyi bel di depan pintu apartemennya.


"Tet."


"Ah, apa itu kak Stella?"


Ucap Yuri. Segera saja Yuri membuka pintu apartemennya. Dan, benar saja Stella sudah berada di depan pintu apartemennya.


"Kakak!"


Ucapnya sambil memeluk Stella. Stella menyambut Yuri dalam pelukannya.


Haish! Gadis muda ini memelukku...sepertinya, dia sudah menganggapku sebagai kakaknya.


Ucap Stella dalam hati.


"Bagaimana, keadaanmu."


Tanya Stella.


"Aku baik-baik saja, kak?"


Balas Yuri.


"Dia tidak melakukan apa pun kepadamu, bukan?"


Ucap Stella.


"Tidak, kak!"


Ucap Yuri.


"Baguslah, aku sempat khawatir tadi...mari kita masuk!"


"Kakak? Aku heran dengan, kakak!"


Ucap Yuri.


"Heran apanya?"


Tanya Stella sambil membuatkan minuman panas untuk Yuri.


"Ting...ting...ting."


"Bagaimana, kau bisa berada di sana? Bukankah, aku tidak memberitahumu dimana lokasi aku bersama Sonya di Night Club."


Balas Yuri.


"Sebelum kau pergi bersama Sonya...secara diam-diam aku menyelipkan alat pelacak di dalam tasmu!"


Ucap Stella sambil meletakkan minuman panas untuk Yuri.


"Oh, aku ingat kakak! Saat itu aku minta izin pergi darimu bukan, kakak?"


Ucap Yuri.


"Ya."


Ucap Stella.


"Minumlah minuman panas ini dan beristirahatlah."


Ucap Stella yang kemudian segera pergi dari apartemen Yuri dan membiarkannya beristirahat.


"Baik, kakak! Terima kasih!"


Ucap Yuri.


Alangkah bahagianya jika dia adalah kakak perempuanku...dia sangat baik kepadaku...aku ingin menjodohkannya dengan kakak...kira-kira apakah kakak mau tidak, ya?

__ADS_1


Ucap Yuri dalam hati.


Kakak memiliki banyak wanita dimana pun ia berada...apalagi nyonya Ling Hao...si germo itu selalu saja menghubunginya.


Ucapnya lagi dalam hati.


"Ah, sudahlah! Tidak perlu memikirkannya sekarang."


Ucap Yuri.


"Oh, ya? Aku jadi lupa dengan si detektif saat itu...aku ingin tahu bagaimana perkembangannya...apakah ia sudah mendapatkan informasi?"


Ucap Yuri yang kemudian meraih ponselnya untuk menelepon sang detektif. Akan tetapi, gagal. Sebab, ponsel sang detektif sedang berada di luar jangkauan.


"Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan! Cobalah beberapa saat lagi."


Bunyi dari pesan suara.


"Ck, kemana si detektif tersebut...ponselnya tidak bisa dihubungi sama sekali."


Ucap Yuri sambil melempar ponselnya asal sehingga mengakibatkan ponsel tersebut rusak.


"Brakk."


Yuri tidak mempedulikan apa pun ketika ia sedang marah. Barang apa saja yang ada di tangannya pasti akan bernasib sial. Sebab, ia akan melempar atau membuang sesuatu barang untuk melampiaskan emosinya.


......................


Rumah sakit Central Park...


Tampak sebuah tubuh tertutupi kain putih sampai ke wajah. Menandakan kalau orang tersebut sudah meninggal dunia. Pihak keluarga dari orang yang telah meninggal dunia tersebut sudah datang dan semuanya sedang menangis sesenggukan.


"Huu...kakak, mengapa kau cepat pergi."


Ucap Angela menangis pilu.


"Aku tidak terima!"


Ucap Angela dan saudaranya Simon yang ada disisinya memegang bahunya untuk memberinya kekuatan. Angela menoleh dan melihat Simon.


"Kakak?"


Ucap Angela dengan mata basah.


"Bersabarlah sedikit lagi...dendam ini pasti akan terbalas."


Ucap Simon.


"Baik, kakak?"


Ucap Angela.


"Hapus airmatamu...kak Peter tidak membutuhkan airmata kita...tetapi, pembalasan dendam kita."


Ucap Simon kepada Angela.


"Kalau itu yang kau mau, kakak? Aku akan menurutimu!"


Ucap Angela dan menghapus duka di wajahnya. Lalu, kedua kakak beradik itu pun segera mengurus administrasi serta biaya rumah sakit yang harus dibayar oleh pihak keluarga.


Setelahnya, mereka pun segera membawa jenazah Peter kembali ke rumah duka yang baru saja dibeli oleh Angela dan Simon. Karena, rumah lama milik Peter sudah dihancurkan oleh Eagle Lady atau Stella.


Banyak sekali karangan bunga yang terpajang di sepanjang jalanan menuju kediaman Angela dan Simon. Ingin sekali Angela menitikkan airmatanya. Namun, ia tahan agar tidak menimbulkan keresahan di hati Simon.


Para pelayat yang berdatangan memenuhi kediaman Angela dan Simon. Mereka adalah para kolega terdahulu Peter. Orang-orang penting yang menggunakan jasa Peter untuk mengerjakan pekerjaan kotor mereka.


Tidak lama, jenazah tersebut berada di kediaman Angela dan Simon. Lalu, acara pemakaman pun dilakukan lebih cepat dari biasanya. Karena, Angela dan Simon tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan yang mendalam.


Kemudian, setelah semua prosesi telah selesai. Para pelayat pulang setelah mengucapkan duka cita yang mendalam kepada almarhum Peter. Dan, berharap keluarga yang ditinggalkan dapat tabah dan ikhlas menerimanya.


Bersambung...


EAGLE LADY


__ADS_1


__ADS_2