Evil Spirit Hunter

Evil Spirit Hunter
Chapter 49 Sebelum pameran dimulai


__ADS_3

Ini cerita sampingan yang sedikit terkait dengan kasus organisasi ESH. berlokasi di distrik Edogawa, beberapa hari sebelum Izami dan Yon di tugaskan ke distrik ini, orang yang akan menjadi pemeran utamanya adalah Miori Futaka atau biasa dipanggil dengan Futaka ataupun Futa


♦️


Beberapa hari lalu di SMP Edochukasei atau SMP khusus perempuan, di kelas 8, suasananya sangat ramai dan gaduh karena tidak ada gurunya


*Huh… seperti hari-hari biasa, tidak ada guru atau ada guru pun kelas ini selalu ramai dan berisik, mereka tidak sadar jika mereka menganggu kelas lain* ujar Futaka sambil melihat kearah langit melalui jendela kelas dan tidak memperdulikan suasana kelasnya


*Yah ini menyenangkan sih karena jam bebas, tapi meskipun ini jam bebas tapi mereka menganggu kelas lain saja dengan suara mereka yang keras, mereka seperti kekanak-kanakan* sambung Futaka dengan posisi yang sama


Lalu ada seorang perempuan berkacamata menghampirinya


"Emm… anu…" kata perempuan itu dengan gugup dan malu-malu


Lalu Futaka mengarahkan pandangannya ke perempuan itu


"Apa?" tanya Futaka


"Em… namamu Miori Futaka kan?" tanya perempuan itu


"Iya, lalu kenapa?" tanya balik Futaka


*Tunggu, aku belum pernah melihatnya sebelumnya, apa dia murid baru? jika benar sepertinya aku ketinggalan informasi dan kelupaan* ujar Futaka dihatinya yang mempertanyakan tentang perempuan itu


"Anu… apakah kau mau berteman dengan ku? aku murid baru disini, jadi aku hanya kenal beberapa saja, belum semuanya" tanya perempuan itu lagi dengan gugup dan malu-malu


*Ternyata benar, dia murid baru disini, sepertinya aku yang kurang informasi dan kelupaan* ujar Futaka dihatinya


"Tentu saja, aku ingin kenal dengan mu lebih lagi" jawab Futaka


"Ah… syukurlah" ujarnya dengan lega


"Namaku adalah Emi Tsukasa panggil saja aku Emi, senang berkenalan dengan mu, mohon bantuannya!" sambung kata Emi dengan penuh semangat sambil memperkenalkan dirinya


"Begitu, kalau begitu mohon bantuannya juga ya, Emi" balas Futaka dengan senyumannya


"Anu… apa aku boleh memanggilmu Futa-chan?" tanya Emi


"Boleh, yah terserah mu sih" jawab Futaka


"Horeeee! Futa-chan memperbolehkannya" ujar Emi dengan penuh semangat dan tersenyum


"Emi, karena kau murid baru pasti belum tau tentang sekolah ini kan?" tanya Futaka


"Hanya sedikit saja sih" jawab Emi


"Baiklah, aku akan bercerita sedikit tentang sekolah ini ke dirimu" kata Futaka


"Eh… benarkah?"


"Iya, benar"


Lalu Futaka menceritakan sedikit tentang sekolah itu dan Emi mendengarnya dengan seksama, tidak lama kemudian, gurunya datang ke kelasnya dan semua murid langsung duduk ditempatnya masing-masing, gurunya wanita dan memiliki rambut panjang berwarna kecokelatan


"Buka halaman 55 lalu baca hingga halaman 105! ibu tunggu selama satu setengah jam, pada saat itu kalian harus sudah selesai membacanya" perintah gurunya dengan suara keras dan tegas


"Eh??? kenapa? itu banyak sekali"


"Iya benar, kenapa kami harus baca 50 halaman yang panjang begini dalam waktu 90 menit saja?"


"Ini penyiksaan, kenapa kami harus baca 50 halaman yang sangat panjang begitu? satu halaman saja sudah panjang apalagi 50"


Keluh semua murid sambil menanyakannya


"Ini adalah hukuman bagi kalian, apa kalian tau? jam bebas kalian itu 2 jam sedangkan itu hanya satu setengah jam, jika kalian sanggup ribut dua jam, maka kenapa disuruh baca satu setengah jam saja tidak mau?" tanya balik gurunya


*Ah, dia seperti biasa. setiap kelas kami ribut pasti akan dikasih hukuman begitu, fiuhhh… ini memang bayarannya sih* ujar Futaka dihatinya yang menghembuskan nafas sambil memasang wajah pasrah


"Jika ada yang belum selesai selama satu setengah jam, maka kalian akan dihukum berdiri di lorong sambil membawa 2 ember air hingga pelajaran selesai!" sambung kata gurunya dengan suara yang sama


Mereka pun terpaksa membacanya sementara gurunya sedang duduk di kursinya sambil melihat-lihat semua murid, satu setengah jam kemudian, waktu habis dan rata-rata banyak murid yang belum selesai membacanya hingga selesai sementara hanya sedikit saja murid yang selesai membaca. Futaka selesai membacanya hingga akhir sementara Emi belum selesai, yang belum selesai memasang wajah pasrah dan langsung menuju ke luar kelas dan berdiri sambil membawa ember di lorong, kelas pun berlanjut meskipun banyak murid yang kena hukumannya


*Fiuhhh… untung saja aku selesai membacanya, jika tidak aku akan bernasib seperti mereka* ujar Futaka dihatinya yang memasang wajah lega


"Bagi yang selesai membaca, kalian kerjakan halaman 106 dari atas sampai bawah! waktunya hanya 30 menit!" perintah gurunya lagi dengan nada suara yang sama


"Eh?? kenapa kami diberi siksaan lagi?!"


"Iya, tadi saja sudah lelah meskipun hanya membaca"


"Bu, berilah kami waktu untuk istirahat sejenak"


Keluh semua murid


"Eh…?? yang benar saja? kenapa harus 30 menit lagi?! sepertinya ini totalnya 2 jam, seperti jam bebas kami" ujar Futaka yang tidak terima dengan nada lirih


"Cepat kerjakan! jika tidak nasib kalian akan seperti mereka semua!" perintah gurunya dengan nada suara yang masih sama


"Baik!" jawab mereka semua


"Sepertinya lebih baik aku ikut berdiri di lorong daripada mengerjakan semua ini" ujar Futaka yang merasa menyesal


Mereka langsung mengerjakannya, setelah 30 menit, semua murid yang tersisa selesai semua. gurunya pun melanjutkan pelajarannya dan menerangkan pelajaran lain, setelah beberapa jam pelajaran selesai dan itu waktu senja, semua murid yang dihukum di lorong di perbolehkan pulang. di lorong, Futaka sedang jalan sendirian untuk pulang, lalu Emi menghampirinya dari belakang


"Yo, Futa-chan!" sapa Emi


Lalu Futaka menoleh kebelakang


"Oh Emi, ada apa?" tanya Futaka


"Pulang bareng yuk" ajak Emi


"Boleh" jawab Futaka


"Hore! kau memang yang terbaik Futa-chan!" puji Emi ke Futaka dengan semangat


Mereka pun akhirnya pulang bersama, saat berjalan pulang mereka bercerita tentang kehidupannya masing-masing dan ada yang membuat mereka tertawa, ditengah perjalanan Emi berhenti sejenak begitu juga Futaka yang ada didepannya, mereka berhenti di pertigaan jalan


"Hei Futa-chan" panggil Emi


"Kenapa?" tanya Futaka


"Bagaimana bisa kau baca 50 halaman dengan cepat sementara waktunya hanya satu setengah jam?" tanya Emi


"Aku tidak tau bagaimana caranya, tapi aku saat kecil terbiasa membaca buku yang setiap halaman sangat panjang dan itu pun berkali-kali" jawab Futaka


"Begitu ya… sepertinya aku tidak bisa melakukan hal sehebat dirimu itu" ujar Emi dengan wajah murung


"Bicara apa kau ini? apa hanya kau yang tidak bisa melakukan itu? ada banyak murid disekolah kita yang tidak bisa begitu juga, kau tidak sendirian. meskipun kau bodoh, tapi aku masih mau berteman dengan mu" balas Futaka sambil menyemangati Emi

__ADS_1


"Oh begitu ya, syukurlah kalau begitu" ujar Emi dengan wajah senyum


"Kalau begitu, sepertinya sampai disini saja, karena rumahku berada di sebelah kanan" sambung kata Emi yang menunjukkan jalannya dengan jari telunjuknya


"Oke, rumah ku ada di kiri" balas Futaka


"Sampai jumpa besok lagi!" ujar Emi sambil melambaikan tangannya


Mereka berpisah disana lalu pulang kerumahnya masing-masing


Keesokan harinya


Mereka bertemu di pertigaan jalan lalu memutuskan untuk berangkat ke sekolah bersama-sama, mereka berjalan sambil mengobrol dan tertawa. beberapa menit mereka sampai didepan sekolah, banyak murid yang berjalan sambil mengobrol dengan temannya dan ada yang berlarian,


"Oi Futaka! beri kami 230 Yen (sekitar Rp.30.000) dong!" pinta seorang perempuan yang menunggunya di pintu gerbang


Seorang perempuan memanggilnya dari pintu gerbang bersama dua teman lainnya


*Aduh… mereka lagi, mereka lagi, sampai kapan mereka akan meminta uang ku? lain kali aku harus beri mereka pelajaran!* ujar Futaka dihatinya yang kesal


Futaka pun menghampiri mereka lalu memberikan uangnya


"Nah begitu, makasih!" ucap perempuan tadi


Lalu mereka pergi, Emi menghampiri Futaka dan menanyakannya


"Anu… mereka tadi itu siapa?" tanya Emi


"Ah, mereka itu kenalan ku yang mempunyai sifat meminta-minta, aku ingin menghajar mereka tapi nanti malah didatangi para guru dan mengajaknya keruangan mereka, itu merepotkan bagi ku, jadi aku pasrah saja. mereka melakukan itu setiap hari" jawab Futaka


"Eh… mereka kurang ajar ya" ujar Emi


"Benar, tapi Emi…" kata Futaka yang menghentikan perkataannya


"Apa?" tanya Emi


"Jangan sekali-kali kau berurusan dengan mereka, mereka itu preman sekolah dan juga kadang mereka akan menggunakan kekerasan jika orang yang mereka perintah tidak nurut sama mereka" sambung kata Futaka


"Ah, baiklah" balas Emi yang mengerti


"Yang tadi meminta uang itu namanya Fumiya, lalu kanannya yang berambut biru namanya Sakura, lalu yang kiri berambut putih pendek namanya Mikukaze, ingat itu Emi!" ujar Futaka sambil menjelaskan indentitas mereka


"Baik!" balas Emi dengan nada tinggi


Bel pun berbunyi, mereka berlari cepat menuju ke kelas. pelajaran pun dimulai


"Baiklah semuanya, sekolah kita akan mengadakan pameran lukisan!" ujar gurunya dengan suara keras


"Ha?" tanya semua murid dengan terkejut dan bingung


"Kenapa kalian malah kebingungan? sudah lama sekolah ini tidak mengadakan pameran lukisan!" tanya gurunya


"Tidak, maksud kami kenapa begitu cepatnya? padahal katanya diadakan dua tahun sekali, tapi ini kenapa malah satu tahun sekali?" tanya salah satu murid perempuan


"Baiklah semuanya, pamerannya akan diadakan dua hari lagi dari sekarang!" ujar gurunya dengan penuh semangat dan keras


*Eh… dia malah menyampingkan pembicaraan* ujar murid tadi dihatinya dengan rasa sedikit kesal


"Mulai sekarang dan dua hari kedepannya, kalian akan belajar melukis di ruangan melukis, meskipun waktu kalian singkat tapi gunakanlah waktu kalian untuk melukis! bukan untuk ribut dan gaduh!!" sambung kata gurunya


"Baik!" jawan semua murid dengan nada lantang


"Baiklah, sekarang kalian akan keruangan melukis no.17" ujar gurunya


*Sekolah Edochukasei adalah sekolah khusus perempuan, kebanyakan murid sekolah ini bisa melukis jadi dibuatkan ruangan untuk melukis yang banyak, sekolah ini pernah menjadi juara satu dalam distrik Edogawa, lalu lanjut menjadi juara satu dalam kota Tokyo, dan menjadi juara dua dalam wilayah Kanto. sekolah ini sangat hebat dan luar biasa!* ujar Futaka dihatinya sambil berjalan


Lalu mereka sampai di ruangan melukis dan memulai pembelajarannya, mereka belajar melukis lagi sambil diajari oleh guru melukisnya


♦️


Di ruangan para guru dan kepsek


"Jadi bagaimana keputusan anda? apakah pamerannya akan dilakukan di halaman sekolah atau aula yang tidak terpakai atau mungkin kelas para murid?" tanya salah satu guru wanita


"Jika di halaman sekolah maka 2 hari dari sekarang akan turun hujan jika berdasarkan perkiraan cuaca, sementara di aula yang tidak terpakai mungkin ide bagus namun ruangan itu cukup sempit untuk didatangi banyak orang" ujar Bu kepsek


"Jadi…?'


"Kita akan melakukannya di semua kelas para murid, meskipun ini hanya pameran lukisan saja. setiap kelas akan memamerkan 7 lukisan yang paling bagus dari masing-masing kelas, meskipun itu sedikit tapi tidak semua murid bisa melukis dengan bagus, sekolah ini tidak hanya memfokuskan pada kegiatan melukis, tapi kegiatan yang lainnya juga harus dilakukan" sambung kata Bu kepsek


"Baiklah, akan saya beritahukan ke guru lainnya" balas guru tadi


♦️


Di aula yang tidak terpakai


"Hei, Fumiya… kau yakin bisa menemukan sebuah lukisan di tempat gelap seperti ini dan berantakan?" tanya Sakura sambil berjalan mengikuti Fumiya dengan tubuh ketakutan dan gemetar


"Tenang saja Sakura! ini bukan apa-apa, lagipula tidak ada yang perlu ditakutkan!" ujar Fumiya dengan wajah tenang dan percaya diri


"Fumiya, apa kau yakin tentang rumor itu? kenapa kau bisa cepat begitu mempercayai sebuah rumor" tanya Mikukaze


"Aku selalu tertarik dengan semua rumor, baik itu nyata ataupun tidak nyata" jawab Fumiya


"Baiklah aku mengerti" balas Mikukaze


"Daripada membuat lukisan lebih baik membelinya atau meminjamnya dari seseorang" ujar Fumiya


"Intinya kau tidak bisa melukis kan? pantas saja setiap ujian melukis nilai mu selalu D" kata Mikukaze yang sedikit mengejek Fumiya


"Diam lah, tidak semua orang itu bisa melukis" ujar Fumiya


Setelah mereka berjalan-jalan di aula gelap itu Sakura melihat sebuah lukisan meskipun samar-samar


"Hei Fumiya, sepertinya aku melihat lukisan didepan kita" ujar Sakura memberitahunya


"Eh serius?!" tanya Fumiya dengan penuh semangat


Fumiya berlari kedepan dengan penuh semangat dan gembira


"Woah… jadi ini lukisannya ya" kata Fumiya yabg kagum-kagum


"Tunggu sebentar, kenapa lukisannya hanya bergambarkan sebuah kelereng kecil besi lalu di sekitarnya ada logam cair?" tanya Fumiya


Lalu dua temannya menghampirinya


"Benar, apa ini benar-benar lukisannya?" tanya Mikukaze


"Kenapa lukisannya hanya begitu saja?" tanya Sakura

__ADS_1


"Aghh! ku hancurkan saja lah!" ujar Fumiya


Fumiya mengangkat lukisannya keatas lalu hendak membantingnya kebawah, sebelum dibanting, gambar yang ada di lukisan itu keluar lalu membentuk wujud manusia dan mencekik leher mereka lalu mengangkatnya keatas dengan logam cair yang berbentuk tentakel


"Aghh, kenapa ini?!" tanya Fumiya


"Dasar manusia sialan, berani-beraninya kau mau menghancurkan diri ku!" ujar logam cair yang berbentuk manusia dan bersuara perempuan


"Grrrhh, siapa kau?" tanya Sakura


"Aku bukan siapa-siapa" jawabnya


"Gggghhh, tolong lepaskan kami!" pinta Mikukaze sambil berusaha membebaskan diri


"Sayangnya itu tidak bisa" jawabnya


"Apa kau pemimpin mereka berdua?" tanya si logam cair


"Benar, memangnya kenapa?" tanya balik Fumiya


"Kalau begitu, kau harus ku bunuh duluan!" ujar si manusia logam cair


Logam cair itu mencekik leher Fumiya dengan amat kuat daripada mereka, Fumiya hampir kehabisan nafas dan mati, namun dia membebaskan mereka


"Uhuk, uhuk" suara batuk Fumiya


"Fumiya, apa kau baik-baik saja?" tanya dua temannya


"Ya ampun, jika mau menghancurkan sebuah barang sebaiknya kau melihatnya dengan teliti dulu, jangan asal menghancurkannya" ujar si manusia logam cair


"S-Siapa kau?" tanya Fumiya


"Sudah ku bilang, aku bukan siapa-siapa, aku hanya sebuah logam cair yang berwujud manusia" jawabnya


"Bagaimana bisa kau keluar dari lukisan itu? dan juga apa-apaan tubuh mu itu? kenapa semuanya adalah logam cair?" tanya Fumiya


"Aku dilukis oleh seorang pelukis yang memiliki sebuah kemampuan, kemampuannya bisa membuat semua lukisan yang ia lukis menjadi keluar semua. aku salah satu lukisannya, ia melukis ku dengan tubuh seperti ini, tapi aku tidak menyesalinya" ujar si manusia logam cair


"Ah begitu"


Di luar aula, ada Futaka yang tidak sengaja lewat dan mendengar sebuah pembicaraan dan pintunya yang terbuka sedikit, karena penasaran, Futaka membukanya dan melihat mereka bertiga sedang berbicara dengan sebuah manusia logam cair


"Eh? kenapa kalian bertiga ada disini?" tanya Futaka


"Dan juga, siapa dia?" lanjutnya


Mereka semua terkejut setelah melihat Futaka yang masuk


"Futaka, kenapa kau ada disini?" tanya Fumiya yang memasang wajah datar


"Aku istirahat sejenak dari pembelajaran melukis, karena ruangan kami dekat dengan aula ini dan tidak sengaja mendengar suara kalian sedang bicara" jawab Futaka


"Tutup pintunya Futaka" pinta Fumiya


"Eh? kenapa?"


"Cepat tutup!"


"Eh, baiklah"


Futaka pun menutup pintunya


"Futaka, tolong jaga rahasia ini dari semua murid dan guru juga Bu kepsek" pinta Fumiya dengan sangat memohon


"Eh?? tumben kalian meminta tolong pada ku?" tanya Futaka sambil memasang wajah ngeselin


Fumiya pun memukul kepalanya Futaka


"Akan ku pukul lagi kau jika berwajah seperti itu" ujar Fumiya


"Eh baik, baik" balas Futaka


"Kami minta tolong untuk menjaga rahasia ini" pinta Sakura


"Kenapa memangnya?" tanya Futaka


"Kami menemukan sebuah lukisan yang gambarnya bisa keluar seperti ini, kami tidak ingin para guru dan murid lain mengetahui tentang lukisan ini" jelas Fumiya


"Ah begitu, jadi dia bukan manusia, melainkan sebuah lukisan" ujar Futaka yang paham


"Ya, kira-kira seperti itulah"


"Kenapa kau tidak terkejut Futaka? bukankah ini hal yang aneh bagi mu?" tanya Sakura yang heran


"Ini memang aneh, tapi aku sudah melihat hal yang lebih aneh lagi" jawab Futaka


"Lalu apa itu?" tanya Sakura lagi


"Yaitu tiga preman yang sering meminta uangku meminta tolong pada ku" jawab Futaka


Mereka bertiga merasa kesal lalu memukul Futaka bersamaan


"Aduh-duh… padahal ini hanya bercanda saja, tapi kenapa kalian malah serius?" tanya Futaka


"Meskipun kau bercanda tapi kau mengejek kami" jawab Fumiya


"Jika kalian meminta tolong kepada ku, maka ada syaratnya" ujar Futaka


"Kenapa harus ada syaratnya untuk meminta tolong?" tanya Sakura


"Baiklah, apapun yang kau mau" jawab Fumiya yang menurutinya


"Eh? kenapa kau malah menurutinya?!" tanya Sakura


"Baiklah, syaratnya cukup mudah, jangan menganggu kehidupan ku disekolah ini seperti meminta-minta uang pada ku setiap hari, mengerjai diri ku saat bertemu kalian dan lain-lain" ujar Futaka


"Baiklah, kami terima" balas Fumiya dan Mikukaze sambil menundukkan kepalanya


"Ah! kalian ini!" ujar Sakura yang kesal lalu melakukan hal yang sama seperti mereka


"Yosh! kita sepakat" kata Futaka dengan penuh semangat


Lalu Futaka pergi dari sana dan melanjutkan belajar melukisnya sementara mereka bertiga masih tetap ada disana


2 Hari kemudian, ini adalah hari dimana sekolah Edochukasei mengadakan pameran lukisan yang di buka kepada banyak orang. semua murid memajang lukisan yang bagus di masing-masing kelas, Futaka mampir di kelas mereka tiga preman itu dan lukisan yang ingin di rahasiakan malah di pajang di kelas


"Eh? kenapa lukisannya malah di pajang?" tanya Futaka


"Eh… dua hari lalu saat kami mau membawanya pulang ke rumah, Bu kepsek malah datang dan mengira ini adalah lukisan kami bertiga lalu mengambilnya dengan paksa dan jadilah begini" jawab Fumiya

__ADS_1


"Ya ampun…" kata Futaka


Bersambung…


__ADS_2