Evil Spirit Hunter

Evil Spirit Hunter
Chapter 50 Pameran lukisan


__ADS_3

Satu hari setelah hari pameran lukisan diadakan, tepatnya saat Izami dan Yon ditugaskan ke Edogawa


"Hei Izami, kita mau mencarinya dimana?" tanya Yon


"Entahlah, kita perlu mencarinya sendiri" jawab Izami sambil pandangannya lurus kedepan


"Huh, kenapa setiap misi kali ini kita tidak dapat informasi dimana tempatnya berada?" tanya Yon sambil menghela nafas


"Jangan tanyakan itu padaku, aku hanya anggota, bukan kapten" balas Izami yang pandangannya masih tetap


Ditengah mereka berjalan, ada beberapa orang yang lewat di samping mereka dan berbicara tentang sebuah lukisan, Izami dan Yon mendengar pembicaraan mereka sekilas


"Tadi itu lukisannya bagus-bagus ya" ujar salah satu dari mereka yang merasa takjub


"Benar, pantas saja mereka menjadi juara dua di wilayah Kanto" sambung salah satunya lagi


"Sekolah Edochukasei memang berbakat siswanya ya dalam hal melukis" kata salah satunya lagi


Ujar mereka saat melewati Izami dan Yon sambil berjalan


"Yon, apa kau mendengar apa yang mereka bicarakan?" tanya Izami sambil menguping sedikit pembicaraan mereka saat mereka lewat


"Ya, mereka mengatakan 'lukisan'." jawab Yon


"Ayo kita tanyakan saja pada mereka" ajak Izami


Mereka berdua menghampiri beberapa orang tadi yang berjalan tidak jauh dari mereka


"Hei kalian, aku ingin bertanya sesuatu" panggil dan mohon Izami


Lalu mereka berbalik kebelakang


"Kami?" tanya salah satu dari mereka


"Ya, aku ingin bertanya ke kalian semua" jawab Izami


"Aku saja yang menjawabnya" balas yang tadi


Lalu dia maju kedepan menghadap Izami


"Apa yang anda ingin bicarakan?" tanyanya


"Apa yang tadi kalian bicarakan?" tanya Izami


"Emm… kami hanya membahas tentang pameran lukisan yang ada di sekolah Edochukasei" jawabnya


"Pameran lukisan?" tanya Izami lagi


"Ya, saat ini sekolah Edochukasei atau sekolah khusus perempuan sedang mengadakan pameran lukisan, semua orang luar di perbolehkan mengunjunginya" jawabnya


"Oh begitu, lalu apakah kau mau memberitahukan dimana itu?" tanya Izami lagi dan lagi


"Anda tinggal lurus saja lalu ada perempatan jalan lalu belok kanan lalu lurus lagi nanti ketemu dengan pertigaan jalan lalu anda tinggal belok kiri dan terus lurus lalu sampai" jawabnya sambil menunjukkan arahnya


*Entah mengapa aku bingung dengan arah yang ia katakan* ujar Izami dihatinya dengan perasaan bingung


"Apa begitu saja?" tanyanya


"Iya, terima kasih sudah memberitahukan arahnya" balas Izami


"Baiklah kalau begitu kami pergi dulu" ujarnya


Lalu dia pergi bersama beberapa teman lainnya, Izami dan Yon langsung berjalan mengikuti arah yang diberitahukan ke mereka berdua, setelah berjalan di arah yang di tunjukkan, mereka menemukan sebuah sekolah yang ramai orangnya


"Apa ini sekolah yang mereka maksud?" tanya Izami


"Kemungkinan iya, kan katanya sekolahnya sedang mengadakan pameran lukisan, jadi mungkin ini yang ramai orangnya" jawab Yon


"Benar juga, ya sudah ayo kita kesana" ajak Izami


Izami dan Yon berjalan ke sekolah itu, saat mereka akan melewati gerbangnya, ada dua perempuan yang memberikan sebuah peta letak masing-masing ruangan di sekolah kepada Yon dan Izami lalu mereka masuk kedalam halaman. di halamannya saja sudah ramai orangnya


"Yon, sekolahnya besar juga ya" ujar Izami yang terkejut saat melihat sekolahnya yang amat besar


"Iya, kita juga dikasih peta letak masing-masing ruangannya" balas Yon


"Pasti kita dikasih ini agar tidak tersesat" ujar Izami


"Mungkin saja" kata Yon


"Tapi, walaupun semua muridnya perempuan tapi mereka ada banyak dan juga saking banyaknya sekolahnya harus sampai bertingkat dua dan dibuatkan ruangannya yang banyak" sambung Yon


"Kau benar, ini adalah sekolah khusus perempuan" ujar Izami


"Jika dilihat dari petanya sih… total ada 12 ruangan kelas, di lantai satu ada empat kelas dan tiga ruang melukis dan empat ruang klub lalu ada satu kantin dan juga tiga toilet lalu ada dua aula. di lantai dua ada delapan kelas dan dua ruang melukis lalu tiga ruang klub, tiga toilet dan ruang guru lalu satu aula" ujar Yon sambil melihat petanya


"Buset… ini sekolah atau gedung? banyak sekali ruangannya" kata Izami yang terkejut mendengarnya


"Namanya saja sekolah elit atau khusus untuk perempuan pintar dan berbakat saja, sekolahnya tuan putri jangan di remehkan lagi tentang semua ruangannya" ujar Yon


"Kita akan memulainya darimana? ruangannya ada banyak begini" tanya Izami


"Aku tidak tau, jika dilihat dari orang-orangnya sih mereka berkunjung di kelas para murid" balas Yon


"Bagaimana jika kita kelilingi semua kelas dilantai satu lalu lanjut ke lantai dua?" tanya Izami yang mengajaknya


"Boleh" balas Yon


Mereka berjalan masuk ke sekolah dan melihat banyak orang-orang berlalu-lalang dan para murid juga, mereka berjalan ke kelas yang ada di kanan


"Tidak ada"


"Tidak ada"


Ujar Izami dan Yon yang kecewa saat melihat lukisan masing-masing kelas dilantai satu


"Selanjutnya" ujar Izami


Mereka berjalan ke kelas yang ada di kiri, mereka melewati aula yang tidak terpakai dan Izami tidak sengaja menyenggol bahu seorang perempuan berkacamata yang tidak sengaja lewat disampingnya tapi mereka tidak menyadarinya


"Hmmm? sepertinya aku menyenggol sesuatu" ujar Izami yang menengok kebelakang dan berhenti sejenak


"Ada apa Izami?" tanya Yon yang menengok kebelakang dan berhenti sejenak


"Tidak ada" jawab Izami yang menengok ke depan kembali


Mereka lanjut kembali berjalan, lalu masuk ke kelas sebelah ruang melukis


"Tidak ada" ujar Izami


"Tunggu Izami, lihat ada lukisan yang aneh" kata Yon sambil menghentikan Izami

__ADS_1


"Mana?" tanya Izami


"Itu" jawab Yon sambil menunjuk pada sebuah lukisan bergambarkan sebuah kelereng kecil besi dan logam cair disekitarnya


"Oh itu, memang benar cukup aneh. tapi apa memang benar itu lukisannya?" ujar Izami sambil menanyakannya


"Mungkin…" jawab Yon yang tidak tau


"Ku dengar semua lukisan yang di pajang itu hanya lukisan yang bagus, dan itu agak bagus menurut ku" ujar Izami


"Bagus darimana? lukisan begitu kau bilang bagus?" tanya Yon yang cukup kesal


"Tidak juga sih…" jawab Izami


♦️


Di tempat Fumiya dan dua temannya dan Futaka, mereka sedang berkeliling di lantai dua untuk melihat lukisan-lukisan kelas lain. saat ini mereka sedang di kelas 9B


"Indah semua ya lukisan kelas 9B" ujar Sakura yang kagum melihatnya


"Tentu saja, kami membuat semua lukisan ini tiga hari tiga malam" balas salah satu murid kelas 9B dengan perasaan bangga


Mereka berdua mengobrol satu sama lain, sementara Mikukaze sedang melihat-lihat semua lukisan di kelas itu sementara Futaka mendekati Fumiya lalu bertanya secara bisik-bisik


"Hei Fumiya, apakah lukisan mu itu akan baik-baik saja jika kita tidak mengawasinya?" tanya Futaka


"Tentu saja akan baik-baik saja, ia sudah berjanji kepada ku agar tidak muncul sembarangan disaat dirinya dilihat oleh banyak orang" jawab Fumiya dengan percaya diri


"Begitu…" ujar Futaka yang paham


"Untuk sementara ini, kita jalan-jalan dulu mengelilingi seluruh ruangan dilantai dua, dilantai dua lebih luas daripada lantai satu" ujar Fumiya sambil mengajaknya


"Oh baiklah" jawab Futaka


"Teman-teman ku sekalian, sebaiknya kita cepat-cepat berkeliling dilantai dua, kita tidak boleh menghabiskan waktu kita dalam satu tempat" ujar Fumiya dengan nada sopan dan perkataannya terdengar oleh para pengunjung


Para pengunjung pandangannya melihat Fumiya


"Eh?? apa?" tanya Fumiya yang panik


"Perkataan mu tadi lumayan keras sehingga terdengar oleh mereka" jawab Futaka


"Ehh?? benarkah?" tanya Futaka lagi


"Iya"


"Aku merasa malu dilihat banyak orang begitu" ujar Fumiya yang merasa malu


"Ternyata kau punya rasa malu ya, ku kira kau hanya preman yang keras" ujar Futaka


Fumiya memukul kepalanya


"Aduh-duh… itu cuma bercanda" ujar Futaka yang kesakitan sambil mengelus-elus kepalanya


"Memang aku peduli? kau sudah mengejek ku walaupun itu cuma bercanda" tanya Fumiya yang marah


"Sudah lah kalian berdua, ayo kita ke kelas lain" ajak Sakura sambil menenangkan mereka


"Ayo Mikaze" ajak Sakura ke Mikukaze


"Baik" jawabnya


"Kami pergi dulu ya senpai!" pamit Sakura


Mereka pergi dari kelas itu lalu lanjut berkeliling ke kelas lain, di kelas lain mereka melihat banyak lukisan-lukisan yang lebih bagus dan menarik


"Hei Fumiya, apa kau melihat Emi?" tanya Futaka yang berhenti sejenak


"Emi? siapa Emi?" tanya Fumiya balik


"Kemarin yang ku kenalin loh" balas Futaka


"Oh si perempuan berkacamata, aku tidak tau, dari tadi kita tidak bersamanya kan?" jawab Fumiya sambil menanyakan balik


"Benar juga sih…" ujar Futaka


"Aku cari dia dulu ya" kata Futaka sambil pergi dari mereka bertiga


"Baiklah, hati-hati dalam keramaian ini!" ujar Fumiya sambil memperingatinya


"Iya"


Lalu Futaka pergi meninggalkan mereka dan turun tangga ke lantai satu, sementara mereka bertiga tetap lanjut berjalan


♦️


Emi yang melewati Izami dan Yon berjalan menuju ke aula yang tidak terpakai, saat sampai pintunya tertutup lalu ia membukanya


"Jadi ini aula yang tidak terpakai ya" ujar Emi yang langsung masuk


Emi lalu menutup pintunya dan dia gelap-gelapan disana


"Ini sangat gelap, lagipula kenapa aku ada disini?" tanya Emi


"Sebenarnya apa sih yang ku lakukan ke sini itu?" tanya Emi lagi kepada dirinya sendiri


Karena gelap, Emi tidak bisa melihat apapun dan dia hanya asal jalan, saat dirinya berjalan, ia tidak sengaja menginjak sebuah logam cair


"Aku menginjak apa?" tanya dirinya


Emi hendak mengangkat kakinya namun tiba-tiba saja sebuah duri panjang keatas lalu menusuk telapak kaki Emi dari bawah hinga menembus keatas


"Cshhh…"


"Akhh!" Emi kesakitan


Lalu Emi menyingkir dari situ dengan keadaan salah satu kakinya terluka


"K-Kenapa kaki ku seperti tertusuk?" tanya dirinya


Lalu ia jongkok dan melihat keadaan salah satu kakinya dari dekat dan kakinya berdarah hingga berlubang


"Sial, ini berlubang dan berdarah" ujarnya


"Apa lagi ini kaki kanan" sambungnya


"Sial, apa sih yang menusuk kaki ku?!" sambung dirinya lagi sambil menanyakan dengan wajah kesal


♦️


Futaka mencari Emi dilantai satu sambil meneriakkan namanya dan berlari

__ADS_1


"Emi!! dimana kau?!"


"Emi, jika kau mendengar ku, jawab lah!"


Futaka terus berlari sambil meneriakkan namanya kesana kemari namun ia tidak menemukannya, saat ia melewati kelas 8B atau kelasnya Fumiya dan dua temannya, ia tidak sengaja melihat kelasnya sangat ramai dan banyak orang-orang yang melihatnya, karena penasaran, ia masuk ke kerumunan lalu melihat dua orang yang di tegur oleh Bu kepsek


♦️


"Kenapa kau membawa pedang katana di sekolahan?" tanya Bu kepsek


"Aku membawa pedang ini bukan untuk bermaksud jahat" jawab Izami sambil meyakinkan Bu kepsek


"Lalu kenapa kau tadi mau menusuk lukisan ini dengan pedangmu?" tanya Bu kepsek lagi


"Karena lukisan ini sangat berbahaya bagi semua orang yang ada disini!" jawab Izami dengan nada tegas


"Berbahaya? apa yang kau maksud?" tanyanya lagi


"Aku tidak tau akan menjelaskannya darimana, tapi yang penting, lukisan ini berbahaya dan jika saja dibiarkan, maka akan muncul korban jiwa" jawab Izami


"Hahaha… meskipun kau sudah dekat dengan dewasa tapi pikiran mu itu masih kekanak-kanakan" ujar Bu kepsek menertawai Izami dan mengejeknya


"Cih…!!" ujar Izami yang kesal dengan nada lirih


"Kalian berdua cepat keluar, daripada disini menganggu para pengunjung saja" kata Bu kepsek sambil mengusir mereka


Mereka berjalan keluar dan kerumunan itu membukakan jalan untuk mereka


"Maaf ya soal tadi, sekarang kalian boleh melanjutkannya" kata Bu kepsek lalu keluar dari kelas itu dan menuju ke lantai dua


Lalu para pengunjung melanjutkan pengunjungan mereka di pameran lukisan itu, Futaka yang merasa kasihan kepada mereka berdua menghampirinya sebelum mereka pergi jauh


♦️


"Cih… kepala sekolah sialan, mereka mengusir kita hanya karena kita memberikan alasan seperti itu!" ujar Izami dengan amat kesal


"Tenang lah, kita akan menyelesaikannya saat malam hari" balas Yon sambil berusaha menenangkan Izami


Lalu Futaka menghampiri mereka dan bertanya


"Anu…"


"Hmm?" tanya mereka sambil menoleh kebelakang secara bersamaan


"Ada apa dengan kalian tadi? kenapa bisa-bisanya dimarahi oleh Bu kepsek?" tanya Futaka


"Ah, itu karena aku membawa pedang katana ini, dia mengira ku akan melakukan kejahatan disini, tapi aku tidak mungkin melakukan itu" jawab Izami


"Siapapun pasti akan mengira begitu jika membawa pedang katana di depan umum dan dilihat banyak orang" balas Futaka


"Kau juga sama ya…" ujar Izami yang putus asa


"Lalu, ada apa kau kesini? tidak mungkin kau hanya menanyakan itu kan?" tanya Yon


"Kau mengetahuinya ya" kata Futaka yang tidak menyangka


"Tentu saja, aku cukup pintar dibandingkan dia" ujar Yon yang membanggakan dirinya


"Diam lah kau!" kata Izami dengan perasaan kesal


"Aku ingin bertanya, apa yang kalian maksud dengan 'lukisan ini sangat berbahaya'? memangnya ada apa dengan lukisan itu?" tanya Futaka


"Lukisan itu bisa mengeluarkan makhluk aneh dan juga dapat membahayakan banyak orang" jawab Yon


"Begitu… lukisan itu punya teman ku sih, tapi katanya dia tidak berbahaya sama sekali jika diajak bicara baik-baik" ujar Futaka


"Punya teman mu katamu?!" tanya mereka berdua dengan amat terkejut


"Iya, kenapa memangnya?" tanya Futaka


"Pasti dia memiliki niat tersembunyi jika dia sudah bergaul dengan manusia, jika lukisan itu milik teman mu yang berarti kau sudah melihatnya bukan?" ujar Yon sambil mengira-ngira dan bertanya balik


"Iya" jawab Futaka


"Lalu bagaimana wujudnya?" tanya Yon lagi


"Dia berwujud manusia namun seluruh tubuhnya adalah logam cair" jawab Futaka


Pembicaraan mereka berhenti lalu terdengar suara teriakan yang amat keras hingga halaman sekolah yang berasal dari aula yang tidak terpakai, semua orang langsung terkejut


"Aaaaaaaaaaaa…!!!!!!"


"Teriakan siapa itu?" tanya Izami


"Ini sangat keras sekali terdengar di telinga ku" ujar Yon


"Teriakan ini… ini suaranya Emi!!" ujar Futaka yang terkejut


"Ini teriakan teman ku! pasti ada sesuatu yang terjadi padanya!" sambung Futaka


Futaka langsung berlari ke arah suara itu berasal, mereka berdua pun mengikutinya, Futaka berlari ke aula yang tidak terpakai. ia langsung membuka pintunya dan melihat Emi yang terikat oleh tali logam cair diatas dinding oleh sebuah manusia yang tubuhnya logam cair


Lalu dia menengok ke mereka bertiga


"Oh? kalian sudah datang ya" ujar dirinya


"Kau… kenapa kau mengikatnya diatas dinding?!" tanya Futaka


"Dia menginjak menghalangi rencana ku saja" jawabnya


"Rencana?" tanya Futaka lagi yang tidak paham


"Aku lupa memberitahu mu dan juga mereka bertiga ya"


"Rencana ku adalah menghancurkan sekolah ini serta membunuh semua murid yang ada, karena ini sedang pameran lukisan, ini kesempatan yang bagus bagi ku, karena banyak orang ini akan semakin menarik!" jawab dirinya


"Jadi selama ini itu niat asli mu?!" tanya Futaka


"Benar, kalau begitu matilah!" ujar dirinya sambil memasukkan serangannya kedalam tanah


Dia memasukkan serangannya kedalam tanah lalu saat lengah dia mengeluarkannya yang berupa tali cairan logam yang ujungnya berduri menyerang kearah wajahnya, Izami devan cepat langsung menahan serangannya dengan pedangnya


"Kau tidak akan pernah menyentuh dirinya!" ujar Izami sambil melindungi Futaka


"Mundur lah ke tempat teman ku" pinta Izami sambil menoleh kebelakang


Lalu Futaka melakukan apa yang Izami minta


"Apa kau adalah pangeran yang melindungi tuan putri?" tanya si manusia logam cair


"Entah lah, aku tidak paham apa yang kau maksud" balas Izami dengan menyeringai

__ADS_1


Bersambung………


__ADS_2