
Matahari sudah menampakkan sinarnya, Queen turun dengan pakaian rapi. Kemeja kebesaran membuat tubuh Queen terlihat mungil, serta kacamata yang bersenger menutupi matanya yang indah. Queen menuruni undukan tangan, hari ini dia akan dijemput oleh Alvarez.
Albani lewat dengan wajah songong, tidak menyapa Queen. Sedangkan menyapa menatap saja Albani engan, Queen hanya menatap miris punggung Abang keduanya itu.
'Segitu bencinya Abang sama Queen?' batin Queen menangis miris.
'Apa tak ada sedikit maaf untuk Queen? Queen kangen Abang yang dulu, Queen kangen waktu Abang jahilin Queen ... terus Queen lari waktu Bang Bani kejar,' batin Queen terasa sakit, sakit ini melebihi sakit waktu Queen jatuh dari sepeda.
'Pasti nggak 'kan?! Queen kan bukan yang terpenting lagi buat Abang,' sambung Queen lagi dalam hati.
'Heheh ... Queen lupa sekarang 'kan Bang Bani udah punya Lisa,' tambah Queen meratap miris.
"Queen selalu sayang Bang Bani kok, meski Bang Bani benci bangat sama Queen," kata Queen dengan suara yang sudah menghilang di tengkoraknya.
Sesampainya di meja makan, Queen menduduki tubuhnya agak jauh dari Albani. Queen tidak mau abangnya itu merasa tidak nyaman seperti kemarin, Queen mengambil nasi secukupnya, dan menarik beberapa lauk ke dalam piringnya.
Tidak jauh dari sana Lisa dan Alvano turun berbarengan di mana Lisa yang mengekori Alvano. Meski pemuda itu sudah menyuruh Lisa jalan terlebih dahulu Lisa tetap memilih jalan di belakang Alvano.
Sesampainya mereka di meja makan, Lisa melewati Alvano dengan tatapan sini. Gara-gara Alvano semalaman Lisa tidak bisa tidur, bagaimana tidak saat dirinya sudah hampir meningalkan kamar pemuda tersebut, Lisa mendengar benda jatuh yang cukup keras dari kamar Alvano, membuat Lisa berlari terbirit-birit ke dalam kamar Alvano.
Namun, Lisa benar-benar dibuat terperangah saat Alvano mengamuk-ngamuk sambil melemparkan benda, serta bantal ke sembarang arah. Kamar itu sudah seperti kapal pecah akibat ulah Alvano, terpaksalah Lisa menghentikan aksi menggila Alvano.
__ADS_1
Setelah beberapa lama akhirnya Alvano berhenti mengamuk, dan yang membuat Lisa tidak bisa berkata-kata lagi pemuda itu sedang mencari ponselnya yang hilang atau dia simpan entah di mana bukanya sedang mengamuk.
Muka, dan tubuh Lisa semalam dianiaya Alvano habis-habisan. Sekujur tubuhnya penuh cakaran dari kuku pemuda itu, bahkan lehernya pun ikutan terkena.
"Kenapa muka lu sepet bangat?! Kek eek tahu nggak sih," ucap Queen yang duduk di samping Lisa, Lisa membalik wajah menghadap Queen.
Lisa semakin bertambah kesal oleh perkatan Queen. "Wajah sepet begini banyak yang naksir asal lu tahu," balas Lisa sambil menancapkan garpu pada makanannya, sedangkan matanya menatap ke arah Alvano.
"Iya, tukang bakso sekolah 'kan?" kata Queen kemudian tertawa pelan, sedangkan Lisa sudah tidak ingin berbicara lagi dengan Queen, berbicara dengan Queen sama halnya berbicara dengan Alvano bikin puyeng.
Mata Queen tertuju pada leher Lisa, senyum jahat terbit begitu saja di kedua sudut bibirnya.
"Ganas juga lu yah, sampai-sampai leher merah-merah begitu, di cup'ang siapa lu?!" tanya Queen menggoda Lisa, Lisa yang mendengar cepat-cepat menutup lehernya dengan rambut yang di kedepankan.
Sang pelaku terlihat begitu santai mengunyah makanannya, tidak tahu kalau sedari tadi Lisa menatapnya kesal.
Queen tidak ingin lagi berbicara dengan Lisa, tampaknya gadis ini sedang tidak mood. Queen bangkit dari duduknya siap-siap untuk pergi ke sekolah.
"Bang Al, Bang Bani, Lis! Gue berangkat duluan," pamit Queen membenarkan tasnya.
Hanya mendapatkan anggukan kepala dari Alvano, dan tatapan dari Lisa, Albani tidak merespon sedikitpun laki-laki itu sibuk dengan makanannya. Queen mulai melangkah meninggalkan meja makan itu.
__ADS_1
Diam-diam Albani melirik Queen dari tempatnya duduk.
'Apa gue terlalu berlebihan?'
***
Queen sekarang berada di halaman rumah, di sana berdiri Alvarez dengan tampilan seragam lengkap, yang membuat Queen heran di leher laki-laki itu terdapat cervical collar. Tawa meledak begitu saja dari mulut Queen.
Cervical Collar adalah perangkat medis ortopedi biasa digunakan untuk menyangga atau menopang leher dan kepala pasien.
"Huahua ... as–astaga Bang, lu kenapa?" tanya Queen tertawa melihat tampilan baru Alvarez.
"Udah masuk, atau gue tinggal!" ancam Alvarez tidak mau melihat tawa Queen yang terdengar laknat.
Queen masuk ke dalam mobil, sambil menahan tawa yang ingin kembali keluar. Mengapa banyak bangat orang yang bad mood hari ini, apa sekarang hari besar memperingati hari bad mood?!
Mobil Alvarez sudah melaju meninggalkan rumah Queen.
"Lu kenapa sih Bang? Jangan bilang ketahuan habis gintipin orang mandi, terus lu dipukul. Makanya kalau mau gintip-gintip itu ajak-ajak gue, secarakan gue yang lebih pro dari lu, Bang," kata Queen cerosos tidak habis-habis.
"Lu kala ... anjirr!"
__ADS_1
Brak ...!
Mobil Alvarez dan mobil di depannya saling menghantam hebat ... napas Queen terasa sesak, kepalanya pusing, ini seperti dejavu yang seketika berputar-putar di benaknya. Sebelum benar-benar pingsan Queen bisa melihat Alvarez yang memanggil-mangil namanya.