FAKE NERD

FAKE NERD
Pembicaraan Alvarez,Vegas


__ADS_3

Tung!


Alvarez melihat sesuatu yang keluar dari kantong celana Vegas, dia mengambilnya dan memasukan ke dalam sakunya sendiri. Dan, Alvarez kembali berjalan mengikuti rombongan yang lain.


Akhirnya mereka saling membahu mencari petunjuk meskipun ada yang main-main saat sedang mencari, setelah semuanya terkumpul mereka menuju tempat di mana bendera itu berada dan setelah jalan beberapa jam lagi sampailah mereka di sana.


Namun, mereka tidak menemukan apa-apa di sana mungkin saja mereka keduluan. Ada rasa kekecewaan tapi mau bagaimana lagi mereka yang terlalu lambat apalagi regu Alvano yang hampir tersesat di setiap saat.


Mereka memutuskan untuk kembali lagi ke tenda dengan tangan kosong, sesampainya mereka di sana ternyata regu yang sudah menemukan bendera itu sudah sampai terlebih dahulu, tampak mereka sudah melepas penat. Mereka juga ikut bergabung berselonjoran kaki.


"H–haus ...," bilang Albani seperti orang sekarat, hal itu membuat perhatian semua orang tertuju padanya.


"Nih!" Bunga yang berada di sampingnya mengambilkan air yang ada dalam kardus dekat dengan dirinya.


Albani langsung mengambil air yang diberi oleh Bunga, kemudian melobangi dengan jari kelingkingnya setelah itu meminumnya sampai tidak tersisa lagi sedangkan yang lain sibuk dengan dirinya masing-masing. Begitu pula dengan cowok itu, Alvarez yang tampak mengeluarkan ponsel yang berada di dalam sakunya, saat ingin mengembalikan kepada Vegas tanpa sengaja dia membuka ponsel tersebut dan memeriksa. Anehnya ponsel itu tidak terkunci, emang tidak dikunci atau lupa?


Setelah itu Alvarez mengulurkan ponsel di tangannya pada Vegas, membuat cowok itu mengerutkan keningnya.


"Ponsel lu, 'kan?" bilang Alvarez menatap Vegas dengan alis yang naik satu.


Vegas tanpa menjawab mengambil ponsel tersebut dari tangan Alvarez kemudian membalikkan untuk memastikan kalau itu miliknya. Warnanya sama, ukurannya juga sama, foto wallpaper-nya juga berarti ...


"Yes, ini punya gue, lu nemu di mana?" tanyanya sambil memainkan ponsel yang berada di tangannya.

__ADS_1


"Tadi pas cari petunjuk terakhir gue lihat ponsel lu hampir jatuh dari kantung celana lu," jelas Alvarez sebenarnya.


Vegas tampak mengangguk-anggukan kepalanya mengerti apa yang cowok itu katakan, dia memasukan ponsel itu kembali pada saku celananya, dia bersyukur untung saja ponsel tersebut tidak jatuh pas tadi di sungai bisa-bisa ponselnya sudah jadi kenangan saat ini juga.


"Hem ... thanks, untung ada lu kalau tidak gue nggak tahu lagi apa yang terjadi sama ponsel gue," ucap Vegas berterima kasih pada Alvarez yang langsung mendapatkan tepukan bahu dari Alvarez.


Pung!


"Santai saja, jika itu orang lain dia pasti akan melakukan hal yang sama. Is ok, gue ke sana. Lu mau ikut?" ajak Alvarez menunjuk di mana Queen dan Lisa berada.


Vegas melihat arah tujuan cowok itu dan mendapatkan dua gadis itu, dia sempat bingung kerena tampaknya dua gadis itu sekarang sangat akur tidak seperti biasanya. Vegas berpikir mungkin itu niat jahat Lisa yang hanya ingin membuat Queen celaka, akan tetapi pemikiran itu dia tepis langsung.


Vegas tidak bisa begitu saja menuduh Lisa sembarangan. Tapi, sejak mengenal gadis itu Vegas tahu hal-hal jahat apa saja yang gadis itu lakukan pada Queen.


Alvarez yang sudah mengangkat pantatnya kembali mendaratkan pada tanah, dia kembali terduduk. Dengan kedua tangan memegangi lutut Alvarez menjawab. "Kami sudah lama berteman, bahkan dari kecil. Pacaran? Dari mana lu bisa berpikir begitu?" katanya masih setia menatap Vegas.


"Ya, kalian dekatnya sudah seperti orang pacaran, lu juga sering jahilin Queen sampai membuat gadis itu kadang tertawa kadang kesal. Nggak salah 'kan kalau gue berpikir begitu?" Vegas juga menatap Alvarez serius.


Bukanya menjawab Alvarez malah mengalihkan tatapannya pada Queen sekarang, dia juga berpikir kenapa dia tidak suka Queen. Maksudnya suka, cinta begitu! Mungkin kerena sudah lama bersama hingga tahu buruk dan baiknya Queen makanya cinta itu sulit tubuh antara keduanya, apalagi mereka sudah berkomitmen kalau mereka hanya sekedar Abang–Adek saja.


"Ini sama seperti lu dengan Lisa ...."


"Kami tidak pacaran," Vegas memotong ucapan Alvarez dia tahu apa yang ingin cowok itu ucapkan padanya.

__ADS_1


Alvarez mengalihkan pandangannya dari Queen dah Lisa pada Vegas. "Gue tahu," katanya begitu gampang senyum misterius muncul tiba-tiba.


Alvarez menguyar rambutnya ke kanan dan ke kirim membuat rambut yang tertata rapi itu berantakan. Namun, hal tersebut menambah ketampanan dari seorang Alvarez, memang tidak salah pilih bibit mamanya buktinya yang keluar cowok setampan ini.


Memang tampan, mata kecoklatan dan rambut hitam lebat, serta tinggi tubuh yang seimbang mendungkung ketampanan seorang Alvarez. Apalagi urat-urat yang mulai muncul di tangannya menambah kesan maco pada Alvarez, ini kerena bulan-bulan ini Alvarez rajin gym untuk memperbesar otot-ototnya dan hal itu juga berpengaruh pada tangannya.


Kembali lagi pada fokus utama.


"Tumben lu tanya-tanya hal begitu, biasanya kan lu mana mau tahu tentang yang bukan urusan lu. Jangan-jangan lu punya niat buruk sama Queen makanya lu kepo, awas aja lu berani macam-macam sama Queen, lu bakalan berhadapan dengan gue!" ancamnya sambil mengacungkan jarinya pada Vegas.


"Apaan sih lu, sana-sana deh! Lu kebanyakan duduk makanya gomong ngelantur," usir Vegas yang tidak terima akan tuduhan dari Alvarez. Alvarez limbung dan terjatuh.


Dengan kesal Alvarez membangunkan tubuhnya kerena terjatuh akibat didorong Vegas, dirinya cuma mengingatkan bukanya menuduh Vegas yang akan berbuat jahat kenapa juga tuh laki sensi.


Alvarez berdiri kemudian meningalkan Vegas bergabung dengan Lisa dan Queen yang tampak sedang berkerumunan berdua. Dia mengendap-endap agar duo gadis itu tidak melihat atau mendengar dirinya yang datang. Setelah sampai di belakang mereka Alvarez mengambil ranting di tanah.


Alvarez sudah siap mau melemparkan ranting di tangannya. Namun, Lisa dan Queen terlebih dahulu bangkit dan berbalik dengan sesuatu yang sedang mereka bawah berdua, Queen dan Lisa menatap Alvarez yang terlihat konyol di depannya. Bagiamana tidak tangan cowok itu terangkat setinggi dada dan tubuh yang condong ke depan


Mereka tahu kalau Alvarez akan mengerjai mereka kalau saja mereka tidak lebih dahulu berdiri. Terlihat Alvarez yang sudah sangat siap melempar ranting di tangannya.


"Awas-awas!" Queen dengan sembarang menggeser tubuh Alvarez dengan sebelah tangannya membuat cowok itu bergeser.


Setelah jalan terbuka mereka lewat tanpa ingin berbicara dengan Alvarez, Alvarez yang sempat gebug hanya melihat dou gadis itu yang terus berjalan semakin meninggalkan. Setelah beberapa menit akhirnya Alvarez sadar dengan setengah berlari dia menyusul Queen dan Lisa.

__ADS_1


"Heh! Dou unyu-unyu, tunguin gue."


__ADS_2