
"Bapak percaya sama saya 'kan? Nggak mungkin saya berani melakukan hal-hal yang membuat nama baik sekolah tercemar."
Vegas berusaha menjelaskan pada guru BK tersebut, Vegas tahu pengaruhnya sangat besar di sekolah ini, makanya Vegas tidak pernah melakukan hal-hal aneh seperti bolos. Kerena dia sebagai telan bagi murid-murid lain, jadi Vegas harus bisa mencerminkan sikap yang terpuji.
"Tapi itu jelas-jelas kamu, Nak," kata Bapak BK tersebut semakin menekan Vegas.
"Bapak 'kan tahu saya penanggung jawab kelas, itupun foto-fotonya dari arah belakang. Makanya kayak lagi pelukan, sebenarnya bukan seperti itu kejadiannya," jelas Vegas lagi berusaha menyakinkan Bapak BK.
Vegas tidak tahu siapa orang iseng yang menfoto dirinya dan Queen kemarin, jelas-jelas yang tinggal cuma mereka di sekolah waktu itu. Vegas mengepalkan tangannya marah, siapa kah orang yang ingin menjebak dirinya?!
Posisi yang tertera di foto memang seperti orang yang lagi pelukan, di mana tangan Vegas menyentuh kepala wajah gadis itu sedangkan tangan satunya menahan pinggang Queen.
Queen gadis itu hanya menunduk diam di samping Vegas, dirinya takut menatap guru BK tersebut. Meskipun guru BK itu tidak terlihat galak tetap saja membuat Queen takut, Queen meremas tangan yang ia sembunyikan di sela-sela pahanya sendiri.
"Bapak percaya dengan ucapan kamu, kali ini kalian Bapak maafkan, jangan diulangi lagi. Meskipun foto-foto itu tidak benar, seorang wanita dan laki-laki tidak boleh berdua dalam kelas yang sepi ... kamu Vegas sebagai panutan bagi Adek dan teman-temanmu berikan contoh yang baik," ucap Bapak BK itu panjang lebar, kemudian meloloskan Vegas dan Queen dari skor.
Vegas mengangguk sejenak. "Baik Pak, saya tidak akan mengulangi lagi. Terima kasih kerena sudah percaya sama Vegas," bilang Vegas pada Bapak BK tersebut.
"Kalian sudah boleh keluar," persilakan Bapak BK pada Vegas den Queen.
Mereka keluar dengan Vegas yang mengikuti dari belakang, saat akan berpisah jalan Vegas bahkan tidak melirik Queen sedikitpun. Queen hanya terus menatap punggung laki-laki itu yang sudah mulai menjauh merasa sangat bersalah, gara-gara Queen Vegas harus terkena masalah.
__ADS_1
'Maaafin Queen, Kak,' cicit Queen dalam batinnya merasa bersalah sekali.
Queen melangkah berlawanan arah dengan Vegas, gadis itu masih binggung siapa yang sudah memfoto mereka diam-diam dan melaporkan pada BK. Apakah Lisa? Ah, tidak mungkin. Bahkan Queen lihat dengan mata kepala sendiri saat gadis ular itu masuk ke dalam mobil Albani.
Kalau bukan Lisa siapa? Albani? Tentu tidak masuk akal, kalau Lisa masuk ke mobil abangnya tentu Albani juga ada di dalam. Kalau Alvano? Tidak mungkin juga, Queen tahu se-benci apapun Alvano padanya dia tidak akan berani melakukan hal sekotor itu.
Ah, Alvin! Bukanya kemarin dia juga bertemu laki-laki itu sebelum Vegas datang. Apa mungkin Alvin? Tapi buat apaan dia melakukan itu pada Queen dan Vegas?!
"Astaga, gue hampir lupa dia 'kan cowok yang dulu bicara dengan Lisa di kelas waktu istirahat. Fiks, Alvin lah pelakunya! Awas aja akan aku kasih pelajaran sama tuh cowok," tekat Queen sambil terus melangkah, dia tidak akan melepaskan Alvin.
Alvani sibiang kerok, gara-gara dia calon suaminya itu marah sama Queen. Ternyata cowok itu sangat licik, Alvin adalah rival Vegas dalam berbagai pertandingan. Alvin selalu di bawah Vegas, meskipun sering melakukan kecurangan ia tidak pernah bisa mengalahkan Vegas.
Vegas bukan saja pintar dia juga memiliki banyak bakat, makanya tidak heran kalau Alvin iri pada Vegas. Memang cocok jadi Ayah dari anak-anaknya kelas, slebaww!
"Anjng!" kaget Queen saat Alvarez keluar dari balik-balik tembok, cowok itu datang dengan posisi tangan hendak mengepung Queen dan kedua lututnya agak jongkok.
Queen hampir lupa kalau dia tadi keruang BK bersama Alvarez, memang sahabatnya ini bikin darah tinggi saja.
"Kaget 'kan lu, kaget 'kan lu," ucap Alvarez mengulang-ulang ucapannya sambil menunjuk-nunjuk Queen dengan wajah sumringah.
Anggap ini cobaan, Queen!
__ADS_1
Queen menarik napas panjang dan mengeluarkan kasar, berusaha untuk tidak menghantam tinju pada Alvarez. Queen melanjutkan langkah tidak mau menghiraukan Alvarez.
"Queen lu nggak asik bangat!" protes Alvarez mengikuti langkah Queen.
"Diam deh Bang, nggak capek ngereong Mulu? Coba sekali-kali jadi cowok cool," minta Queen agar Alvarez tidak mengganggunya lagi, Queen butuh ketenangan.
"Oke."
Alvarez langsung menuruti kemauan Queen, ia berjalan dengan wajah datar dan tangan masuk ke dalam saku celananya. Queen melirik sedikit! Nah, kalau begini Alvarez terlihat seperti manusia pada umumnya.
Brung ...!
"Aduh ...," ringgis sosok yang Queen tabrak, Queen yang merasa menabrak sesuatu cepat-cepat membantu orang yang tadi dia tabrak dengan cepat.
"Lihat-lihat dong kalau jalan, mata jangan buat dipajang doang," ucap sosok tersebut dengan kesalnya pada Queen.
"Sorry, gue nggak lihat lu tadi," kata Queen meminta maaf, ia benar-benar tidak melihat ada orang dan ini juga gara-gara Alvarez.
"Sudahlah gue nggakak butuh!" Sosok itu menghempaskan tangan Queen kasar yang hendak membantunya berdiri.
Queen memundurkan tubuhnya kebelakang membiarkan orang itu berdiri dengan sendirinya, padahal Queen punya niat baik untuk membantu.
__ADS_1
Queen yang terlampau panik tidak melihat jelas siapa yang dia tabrak, sosok itu berdiri dengan sendirinya. Membuat Alvarez yang mencondongkan kepala untuk melihat siapa sosok yang Queen tabrak langsung terkejut saat melihat dengan jelas wajah sosok tersebut.
"Lu?! Albani, Abang Queen?!"