
Teriakan Albani membuyarkan lamunan Queen, mereka masih ada di depan rumah Queen di belakang masih ada mobil Albani dan Alvano yang menunggu mobil mereka bergerak.
"Bentaran napa," gerutu Alvarez menghidupkan mobilnya, secara perlahan mobil Alvarez mulai meninggalkan perakaran rumah.
Mobil Albani menyalip mobil Alvarez saat melewati mobil Alvarez laki-laki itu menatap dengan tajam pada Alvarez, Alvarez tidak merasa takut sedikitpun.
Alvarez yang tidak suka disalib melajukan mobilnya menyalip mobil Albani, Alvarez membuka kaca sedikit tersenyum setan saat melewati mobil Albani, Albani yang dipancing merasa tertantang.
Brum... brum....
Mobil keduanya memecah jalan, di mana Queen memegang sabuk pengaman dengan erat, dan tiba-tiba saja tarouma masa lalunya muncul, kisaran-kisaran setiap detik kecelakaan itu berputar-putar bagaikan kaset rusak di kepalanya.
Alvarez yang belum menyadari itu masih melajukan mobilnya kencang, saling salib menyalip. Lisa yang menumpang Albani cuma santai saat mobil itu melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, hal begini sudah biasa bagi Lisa. Bahkan dia sibuk membersihkan kuku-kuku jarinya tanpa menghiraukan keributan-keributan.
"Rasain lu! Makanya jangan nantang-nantang Albani," kata Albani penuh kemenangan saat mobil Alvarez tampak menepi.
Lisa juga melirik dari kaca spion sebentar.
Alvarez nampak sangat kuatir melihat wajah Queen yang memucat, Alvarez lupa kalau Queen memiliki tarouma saat tadi dia membalikkan kepalanya ingin berbicara dengan Queen, Alvarez malah mendapatkan wajah Queen yang pucat dan memegang sabuk begitu kuat.
"Maaf, gue lupa lu punya trauma," sesal Alvarez menenangkan Queen yang tampak bergetar di tempatnya duduk.
Queen hanya menganggukkan kepalanya, akan tetapi matanya sudah berair hendak menangis. Namun, sekuat tenaga ditahan Queen, dia tidak ingin dibilang cengeng oleh Alvarez.
"Gue baik-baik aja, Bang, ayok jalan lagi nanti kita telat," suruh Queen seperti orang yang tidak baik-baik saja.
Alvarez berdecak sedikit. "Jangan sok kuat! Gue tahu lu gemetar dan takut, lepasin aja kalau lu mau nangis," suruh Alvarez tidak suka dengan Queen yang berpura-pura kuat padahal kondisinya mengatakan sebaliknya.
"Gue baik-baik saja, Bang," tolak Queen dengan wajah yang dikuat-kuatkan.
"Degil bangat sih! Tinggal nangis aja selesai, jangan sok-sok kuat kalau sekarang wajah lu udah memerah begitu," ucap Alvarez dengan entengnya.
__ADS_1
"Gue benaran nggak papa, apa-apaan sih lu Bang bi–bilang hiks ....." Queen tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi, bibirnya terasa keluh. Queen terisak kecil pada tempatnya duduk.
'Gue cuma bercanda, njirr,' batin Alvarez merasa semakin cemas kerena Queen menangis semakin kencang.
Alvarez mengusap-usap pundak Queen berharap itu bisa membuat gadis ini tenang dan merasa lega, bukanya tenang Queen malah semakin menangis keras membuat Alvarez langsung panik melihat ke sana ke sini takut orang-orang berpikir kotor padanya.
"Eh, udah nangis dong cantik, nanti orang-orang pikirnya gue macam-macam sama lu lagi," bujuk Alvarez begitu lembut. Queen langsung menatap Alvarez setajam silet.
"Lu yang nyuruh gue buat nangis, lu juga yang ngelarang gue. Mau lu apa sih, Bang?!" kesal Queen, apa-apaan tadi cowok ini memaksanya buat menangis sekarang Queen sudah menangis tersedu-sedu Alvarez memintanya untuk berhenti menangis.
Alvarez hanya cengengesan. "Hehe, gue cuma bercanda. Sekarang berhenti nangisnya, yah cantik! Nanti gue beliin DVD bo'kep yang banyak buat lu," bujuk Alvarez sembarangan.
Plak!
Tangan Queen melayang ke arah Alvarez, membuat cowok itu mengadu kesakitan. Tamparan Queen memang tidak kencang, tetapi tetap saja terasa sakit mengenai kulitnya tangannya.
"Ini definisi ringan tangan sesungguhnya," gumam Alvarez mengadu kesakitan.
***
Jam pelajaran dimulai, Queen dan Alvarez sudah duduk di tempatnya. Queen dan Alvarez ini sekelas, namun Queen beberapa kali memangil Alvarez dengan sebutan Abang kerena Alvares lebih tua dua hari dari Queen. Sebenarnya Queen malas sekali menangis Alvarez Abang, ini juga dia terpaksa kerena desakan Alvarez dengan alibi dia lebih tua dua hari dibandingkan Queen.
"Bang bangun, nanti lu dimarahi," tegur Queen mengguncang tubuh Alvarez, cowok ini baru juga masuk tetapi sudah tidur saja.
"Gue gantuk, lu jagain aja kalau nanti ada guru yang datang ke belakang," bilang Alvarez masih dengan posisi tiduran.
"Lu semalam tidur jam berapa?" tanya Queen yang tidak dijawab Alvarez, tidak mau menyerah Queen diam-diam mencolek bahu cowok itu.
Alvarez yang awal-awalnya biasa saja dengan colekan Queen lama kelamaan merasa terganggu, dengan sedikit kesal Alvarez mengangkat membalik kepalanya pada Queen, menatap kesal Queen.
"Jangan ganggu gue!" kata Alvarez sedikit berat, padahal dia cuma ingin tidur sebentar.
__ADS_1
Suara Alvarez yang cukup besar membuat beberapa murid melihat kepadanya, termasuk Buk Anita yang sedang menulis di papan tulis sekarang. Buk Anita berbalik badan melihat siapa yang membuat suara, melihat Alvarez Buk Anita menarik napas dalam.
Bocah ini lagi, bocah ini lagi!
"Alvarez kalau kamu tidak suka dengan pelajaran saya, kamu bisa keluar!" tegur Buk Anita guru sosiologi pada Alvarez.
"Maaf, Bu," bilang Alvarez kembali duduk pada bangkunya, setelah semua tenang kerena kegaduhan yang Alvarez ciptakan semua kembali fokus dan Queen tidak menggangu acara tidur Alvarez lagi.
"Kak Varez bisa—"
"Apalagi sih, Queen!" Alvarez secara refleks bangkit dari duduknya, menghadap Queen berapi-api, sementara yang ditatap menatap Alvarez binggung dan polos.
Bukan Queen sang pelaku, melainkan teman bangku di samping Alvarez yang ingin minta tolong pada Alvarez untuk mengambilkan pulpennya yang jatuh, wanita ini menatap Alvarez cenggo.
Beberapa mata kembali menatap ke arah Alvarez, tentu saja Buk Anita juga menatap Alvarez. Alvarez yang mendapat isyarat dari Queen merasa binggung, sampai-sampai Queen berbicara kecil meminta Alvarez duduk kembali ke tempatnya.
Namun, Alvarez yang kurang konek tetap berdiri. Barulah beberapa menit kemudian dia sadar, bukanya duduk Alvarez malah menatap sekelilingnya.
"Alvarez keluar kamu dari kelas saya!" usir Buk Anita pada Alvarez, Alvarez yang tidak menanggapi dan melaksanakan perintahnya membuat Buk Anita semakin merah.
"Kamu yang keluar? apa saya yan—"
"Yaudah Ibuk sajak yang keluar," usir Alvarez memotong ucapan Buk Anita.
Sekarang lihatlah hasil perbuatan Alvarez, wajah Buk Anita sudah berapi-api. Kalau itu kompor sudah dipastikan akan ada api sungguhan yang bakal keluar, dan juga kalau itu banteng bakal tanduk sungguhan yang akan muncul di kepala Buk Anita sekarang.
"ALVAREZ K-E-L-U-A-R!" perintah Buk Anita mengeja setiap kata terakhirnya, Alvarez mengambil tas sebelum melangkah ia sempat menatap Queen mengancam, Queen hanya menatap kasihan temannya itu.
"Buk! Kalau gomong yang konsisten, saya, saya. Ibuk-ibuk, jangan plin plan," kata Alvarez sebelum melewati Buk Anita, setelah itu melangkah keluar dari ruangan.
Untung saja tubuh Alvarez sudah berada di luar kalau tidak sudah dipastikan tanda cinta dari Buk Anita bersarang di kepala atau punggungnya.
__ADS_1
Murid sialan!