
"Gimana tadi malam? Kasur lu nggak lu bikin robohkan?" Alvin datang, lalu merangkul bahu lebar Albani, mereka tampak sangat akrab.
Albani menarik satu alisnya ke atas, tidak mengerti apa yang Alvin katakan. Ah, memang laki-laki satu ini tidak jelas. Albani menurunkan tangan Alvin dari bahunya, dia tidak suka diintimidasi oleh siapapun.
Sepanjang perjalanan berbagai pasang mata menatap ke mereka dengan tatapan geli, dan aja juga yang menahan tawa. Albani bukannya tidak tahu itu, dia memang tidak peduli mereka menertawakan apa, yang jelas sekarang dia harus sampai kelas cepat kerena mengantuk.
Namun, seseorang berlari ke arah mereka. Sosok tersebut berdiri di hadapan mereka, Bunga wanita yang kemarin komen di postingan yang Queen bagikan. Yah, wanita itulah yang sekarang berdiri di hadapan Alvin dan Albani.
"Pagi Kak Bani," sapa Bunga dengan senyum mereka di sudut bibirnya.
"Hem ...." Cowok itu hanya membalas dengan gumaman, langkah kakinya terus saja melangkah hal itu membuat Bunga kesusahan untuk mengimbangi langkahnya.
'Huhu! Kenapa sih Kak Bani nggak memperdulikan ku,' kesalahannya kerena Albani terlalu cuek.
"Kak Bani nanti siang ada acara nggak?" Bunga mencoba untuk berbicara lagi pada cowok tersebut.
Cowok itu tidak menjawab ia terus melangkah. Namun, begitu Bunga masih setia mengikutinya sampai di depan kelas cowok tersebut, saat Albani berbalik Bunga mengerem tubuhnya secara mendadak hampa saja dia menabrak tubuh Albani.
"Berhenti gintilin gue, gue nggak suka diikutin!" Setelah mengatakan itu Albani masuk ke dalam kelas, sedangkan Bunga masih berdiri di depan pintu masuk.
Bunga gadis itu memutar tubuhnya, dia tidak akan merendahkan harga dirinya hanya untuk seorang cowok angkuh seperti Albani. Banyak di luar sana cowok yang akan menyukainya, nggak harus Albani bukan?
Albani duduk di kursinya, Alvin juga ikut duduk di kursinya juga. Semua mata memandang ke arah Albani geli, awal-awalnya Albani tidak terganggu. Namun, semakin ke sini dia mulai risi dipandang sedemikian rupa oleh anak-anak sekolah.
Brak!
Albani mengebrak meja dengan kuat, cowok itu sudah berdiri dengan raut sangat marah. Padahal dia hanya ingin ketenangan saja, orang-orang ini malah mengganggu Albani.
__ADS_1
Albani menatap semuanya dengan tajam. "Udah puas ketawanya? Kenapa berhenti? Lanjutin aja," bilang Albani dengan geraman yang amat menakutkan.
Beberapa orang-orang yang tadi menahan tawa, dan ada yang sudah tertawa menatap Albani takut-takut, siapa sih yang nggak kenal Albani. Berurusan dengan cowok itu tidak akan mudah lepas, Albani akan memburu sampai ke lubang semut sekalian.
Tidak ada satupun yang menjawab, mereka sudah tidak tertawa atau menatap Albani lagi. Setelah semua kondisi tenang Albani kembali pada duduknya, Albani bersyukur bangat kerena anak-anak tersebut takut padanya. Padahal kalau mereka melawan sudah pasti Albani akan babak belur.
Dasar lemah!
***
Queen dibuat gelang-gelang kepala oleh Alvarez yang sekarang memainkan gamenya, padahal guru yang sedang mengajar sudah mengajar di depan. Bahkan dengan sedikit mengangkat ponselnya Alvarez tidak merasa takut sama sekali.
"Udah napa Bang, nanti lu dimarahin sama guru," peringat Queen mencoba menjadi sahabat yang baik.
Alvarez tidak menghiraukan teguran dari Queen, dia malah semakin lancang dengan semakin menaikan tangannya yang memegang ponsel ke atas.
"Bang!" pangil Queen mengoyang-goyangkan tangan Alvarez, hal itu membuat konsentrasi Alvarez pecah. "Udahan mainnya," tambah Queen setengah merengek.
Queen yang melihat Alvarez berhenti main akan segera insyaf ternyata semakin parah, Queen kembali mengoyang-goyangkan kencang lengan Alvarez membuat cowok itu terganggu akannya.
"Apa sih Queen?! Gue mau tidur bentaran aja, dengan rasa hormat yang ada pada diri gue, gue mohon beri gue waktu tidur 30 menit saja. Lu tahu gue nggak tidur semalaman," ucap Alvarez panjang lebar, membuat Queen terperangah di tempatnya.
"Yang berdua di belakang silakan keluar dari ruangan saya!" usir guru yang sedang mengajar, membuat Alvarez dan Queen menatap guru itu yang masih setia menulis di papan tulis tanpa melihat ke mereka.
"Ini gara-gara lu nih Queen!" Alvarez menyalahkan Queen.
"Salah lu Bang, coba aja tadi lu dengarin ucapan gue kita nggak bakal diusir," balas Queen tidak mau kalah.
__ADS_1
"Belum pergi juga? Kalian tidak mendengar apa yang saya katakan?" Guru tersebut kembali berbicara, sekarang dia sudah berbalik menghadap ke arah murid-muridnya.
Queen dan Alvarez bangun dari duduk, lalu melangkah keluar kelas. Sebelum keluar Queen sempat berpamitan pada guru yang mengajar tadi, walaupun sedikit kesal.
***
Dua orang manusia sedang berada di sebuah tempat tersembunyi, di mana sang wanita sedang duduk tenang sambil meminum alkohol yang pemuda di depannya berikan. Sedangkan pemuda di depannya sedang menghisap rokok yang berada di jarinya.
"Sih Queen udah mulai bikin Valen mamanya kembali luluh, apa yang selanjutnya yang harus kita lakukan agar Valen kembali membencinya?" tanya wanita itu pada pemuda tersebut.
Pemuda itu tampak berpikir sejenak, lalu mengeluarkan sesuatu meja kerjanya, dan melemparkannya tepat di hadapan sang wanita. Sebuah flashdisk yang berisikan sesuatu yang sangat penting.
"Lu bisa kirim itu ke dia! Gue udah lakuin bagian gue dengan mulus, gue harap lu Lis tidak menghancurkan rencana yang udah kita bikin sejak lama," bilang pemuda itu pada Lisa yang sedang duduk dan memegang minum.
"Lu tenang aja, gue nggak bakal lupa dengan dendam gue! Gue harap lu juga jangan sampai jatuh hati atau merasa kasihan sama dia," kata Lisa mengingatkan pemuda itu juga, pemuda itu mengangguk mantap.
"Seharusnya gue yang bilang begitu, lu jangan sampai jatuh hati sama anak pertama keluarga mereka, gue pantau lu sering berinteraksi dengan dia." Pemuda membalas ucapan Lisa padanya, dialah yang pertama mempunyai ambisi jadi tidak mungkin dia berkhianat.
Lisa tampak terdiam cukup lama, lalu menganguk kan kepalanya mantap.
"Lu tenang aja! Gue sama lu sama-sama punya dendam ke orang yang sama, jadi jangan kuatir gue bakal mudah terpedasnya hanya kerena cinta," jawab Lisa begitu dengan begitu mantap.
"Bagus!"
Dendam!
Semua berawal dari dendam, dan tentu itu tidak akan pernah ada kata putusnya. Andaikan mereka bisa mengiklaskan tidak perlu ada permusuhan, tidak perlu ada yang bakal terluka nantinya.
__ADS_1
Namun, tidak mudah juga bagi mereka untuk memaafkan orang penyebab rasa sakit yang mereka rasakan sampai saat ini. Minimal mereka juga harus merasakan rasa yang Lisa dan pemuda itu rasakan.
"Nyawa harus dibayar nyawa! Impas bukan?"