
Pagi ini Queen dijemput oleh Alvarez, cowok itu sudah ada di depan rumahnya sembari memainkan game di ponsel. Queen mengendap-endap melangkah semakin dekat, Alvarez yang terlalu fokus tidak menyadari kehadiran Queen.
Tiba-tiba ....
Dorr!
Cowok itu berusaha menangkap ponsel yang terpelanting dari gengammannya, setelah berhasil Alvarez memeluk ponselnya terharu. Untung dia sigap kalau tidak sudah dipastikan nih ponsel tinggal sebagai kenangan terindah bagi Alvarez, memang terdengar lebay!
Asal kalian tahu saja ponsel ini sudah lama menemani Alvarez jadi wajar saja dia takut kehilangannya seperti kehilangan nyawa. Alvarez memasuki ponsel dalam tas, lalu menyisir rambut pada spion mobilnya, sedangkan Queen sudah duduk di samping.
Cuih ... cuih!
Alvarez meludah pada tangan kemudian menyisirnya pada belahan rambu berkilau yang dimilikinya, Queen yang melihat itu menatap jijik Alvarado, cowok ini benar-benar jorok bagaimana bisa air liurnya sendiri dia pakai sebagai minyak rambut.
"Lu kehabisan minyak rambut, Bang? Sampai-sampai air liur sendiri lu jadiin minyak rambut," kata Queen menyisir rambutnya juga pakai jari, Alvarez mengulurkan sisiran akan tetapi ditolak mentah-mentah oleh Queen.
"Nggak, takut air liur lu bikin rabies," tolak Queen selesai dengan acara menyisirnya.
Alvarez menatap Queen dengan dagu terangkat. "Cih, macam ke-bersih aja kamu, Queen. Biasanya aja bekas gue lu telan," imbuh Alvarez dengan raut menyebalkan dilihat Queen.
"Coba gomong sekali lagi!" marah Queen sambil menodongkan tangannya pada Alvarez, yang langsung diturunkan olehnya.
"Ampun Mbak jago," pasrah Alvarez membentuk tangan seperti huruf V tanda menyerah secara damai.
"Cepat jalan!" perintah Queen sambil kepala menunjuk jalanan.
"Gue bukan supir ya, cantik!"
Akhirnya mobil melaju meninggalkan perkarangan, Queen membuka WhatsApp kemudian menekan nomor tidak di kenal itu. Queen mengamati vidio yang dikirim, Queen tidak berani untuk membuka takut-takut sesuatu mengerikan yang ada di dalam vidio.
Sedangkan Alvarez cowok itu curi-curi pandang pada ponsel Queen, seketika dia menjadi geregetan kerena Queen yang tampak ragu-ragu untuk menekan Vidio tersebut, Alvarez sudah berkomat kamit di dalam hatinya.
'Ayok tekan!'
__ADS_1
'Lama amat tinggal tekan aja apa susahnya sih, Queen!'
'Astaga! Gue balikin juga nih bumi!'
Agaknya begitulah isi hati Alvarez saat melihat Queen yang ragu-ragu, dengan lancang Alvarez menekan vidio itu memakai tangan kiri. Dan, seketika vidio berputar, Queen menutup matanya dengan tangan, tapi tetapi melihat dari sela-sela jarinya.
Queen langsung mengerutkan dahi pelan namun pasti tangannya mulai turun, Queen menyaksikan vidio tersebut tanpa halangan lagi. Itu mamanya Valen? Ya, Queen tidak salah lihat itu mamanya yang sedang berada di atap gedung, entah Queen tidak tahu itu gedung apaan. Di sana juga ada Edgar papanya yang mencoba untuk melarang mamanya meloncat.
Mamanya mau bunuh diri? Tapi kenapa? Apa alasannya sampai Mama nekat melakukan hal bahaya itu?! Queen benar-benar binggung, ia tetap melihat Vidio itu dengan serius. Sampai pada saat papanya berucap Queen memasang telinga tajam agar tidak kelewatan satu katapun.
"Please! Jangan lakukan itu Sayang, kita bisa membicarakannya dengan kepala dingin. Aku mohon ayok ke sini, Sayang!" bilang Edgar panik saat Valen semakin memundurkan tubuh kebelakang.
Laki-laki kepala tiga itu merentangkan tangan berjaga-jaga, apabila Valen akan melakukan hal gegabah maka dia siap untuk memegang tangan istrinya itu, berhubungan jarak mereka tidak terlalu jauh bisalah Edgar mencapai kalau seandainya Valen loncat, meskipun dia akan tertarik juga nantinya.
"Nggak, Mas! Aku benci diriku, aku jijik, aku kotor, Mas!" teriak Valen mengebu-gebu sambil memukul-mukul dadanya.
"Nggak, kamu nggak kotor. Kamu nggak salah, ayo ke sini," minta Edgar semakin memanjakan tangannya berharap Valen menggapainya.
"Aku benci diriku, Mas! Aku juga benci an—" Ucapan Valen terhenti saat Alvarez menekan dan mengambil ponsel Queen dari tangan gadis itu paksa.
"Emak sama Bapak lu belajar akting dari mana, Queen?! Hebat bangat ekting-nya, bisa nih jadi bintang film," celutuk Alvarez tanpa dosa sedikitpun.
"Balikin Bang, gue belum selesai nonton!" kesal Queen hendak merebut kembali ponselnya.
Alvarez cowok itu memindahkan ponsel Queen pada tangan kirinya, membuat gadis itu harus mengangkat tubuh untuk menggapai tangan kanan Alvarez. Posisi Alvarez masih sama, untung saja dia jago dalam menyetir terlihat tanpa kesulitan ia menghindari mobil lain meskipun Queen mengganggunya.
Kerena terlalu menaikan tubuh, tubuh Queen terjatuh tepat di selang'kangan Alvarez, Queen sempat kaget dengan mata melotot melihat ke bawah sana. Sedetik kemudian dia mengangkat kepala dengan senyum yang sudah merekat di bibir pink-nya.
Alvarez, cowok itu langsung konek dengan senyum manis di bibir Queen. Seketika dia langsung memasang wajah memelas, dengan sorot mata mengatakan jangan lakukan itu! Namun, Queen sudah mengangkat satu siku cukup tinggi. Kemudian menurunkan agak cepat, dan ....
Bung!
"Akkhh ...!" teriak Alvarez histeris saat kebanggaannya dihantam siku oleh Queen, gadis itu kembali bangun dengan wajah tersenyum dan mengambil ponsel.
__ADS_1
"Pecah telur gue lu buat," keluh Alvarez dengan tangan kiri mengusap kebanggaan.
Queen, gadis itu acuh tak acuh, dia malah sibuk memasuki ponselnya ke dalam tas tanpa menghiraukan ringisan Alvarez. Queen hanya melirik sekilas melihat Alvarez memegang miliknya dengan tangan kiri. Apakah Queen kurang kuat tadi menghantamnya? Coba aja waktu bisa diulang akan Queen hantam dengan sepenuh tenaga yang dimilikinya.
30 menit sampailah mereka pada parkir sekolah, baru juga mereka akan turun akan tetapi bel telah berbunyi. Bel berbunyi sebanyak empat kali itu pertanda ada pengumuman, Queen dan Alvarez langsung menuju lapangan. Sesampainya mereka di sana ternyata sudah banyak yang kumpul.
"Ada apa?" tanya Alvarez pada cowok yang berada di sampingnya.
"Ada pengumuman, Kak," balas cowok itu dengan polosnya.
Queen yang mendengar jawaban dari cowok itu menutup mulutnya menahan tawa, sedangkan Alvarez menatap malas sang cowok yang ternyata Adek kelasnya.
"Iya, gue juga tahu, yang gue tanyain itu pengumuman atau isi pengumumannya apa?" tanya Alvarez memperlambat ucapan pada akhir kalimat supaya cowok itu mudah memahami.
"Mana saya tahu, Kak, saya 'kan baru datang," bilang cowok itu santai.
Alvarez sudah tidak bertanya lagi, dia menjauhkan diri dari cowok tersebut. Sedangkan Queen sudah tertawa kecil di tempatnya sambil menahan pinggang kerena tidak kuat lagi.
"Puas bangat kayaknya lu nge-nertawain gue!" sinis Alvarez menatap Queen.
Queen berusaha menahan tawa, dirinya berdiri dengan benar. Sampai seorang guru wanita muncul sambil membawa mic dan mengetuk-ngetuk mic-nya.
"Selamat pagi anak-anak!"
"Pagi, Buk!" jawab semuanya serempak.
"Baiklah tanpa kata mukadimah, langsung saja Ibu sampaikan bawah sahnya dua hari lagi kita akan mengadakan kema bersama, yang mengikuti ini kelas 11 dan kelas 12 semuanya ...."
"Yah ...," sorak anak kelas 10 kecewa berat atas pengumuman yang Ibuk itu berikan.
"Dan, untuk anak kelas 10 akan belajar di rumah, kerena beberapa guru akan ikut dalam kegiatan kemah ini. Belajar di rumah, bukan diliburkan, yah!"
"Yeeeey!" sorak lagi anak kelas sepuluh begitu kompak dan semangat.
__ADS_1